AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 43 - Tiba Juga



Hari yang sudah dinanti-nantikan oleh Gian akhirnya tiba juga. Seharian kemarin Gian menjalankan pekerjaannya sebagai seorang musisi di luar kota. Walau ia pulang cukup larut, ia bisa bangun lebih awal pagi ini. Batinnya penasaran, ingin segera melewati waktu bersama Amber.


Ia tak tahu apakah setelah hari ini berlalu perasaannya terhadap Amber akan tetap sama atau malah akan berubah. Yang ia tahu, saat ini rasa tertariknya kepada gadis berambut hitam lurus itu seolah semakin besar.


Kemarin sore di sela-sela kesibukannya, Gian sempat berkirim pesan dengan Amber walau hanya sebentar saja. Amber pun sudah mengirimkan lokasi rumahnya melalui aplikasi dan Gian pun langsung menandainya.


Rencana hari ini masih sama seperti semula. Mereka berdua akan pergi ke sebuah pameran lukisan terlebih dahulu. Setelahnya, mereka akan pergi ke suatu tempat untuk hunting foto. Gian masih belum tahu tempat apakah itu, ia percaya saja pada pilihan Amber. Toh ini juga untuk kepentingan tugas kuliah gadis itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7:30 pagi. Gian sudah siap untuk berangkat ke rumah Amber. Ia tadi juga sudah sempat sarapan walau hanya dengan roti tawar dengan selai serta segelas susu plain.


Kemarin Amber berpesan kepada Gian untuk mengirimkan pesan padanya terlebih dahulu sebelum menuju ke rumahnya. Maka Gian pun melakukan apa yang Amber pinta.


Gue berangkat sekarang


Gian pun lalu melajukan mobilnya menuju ke lokasi yang sudah diberitahukan oleh Amber. Ia sengaja berangkat lebih awal supaya tak membuat Amber menunggu terlalu lama.


Jalanan masih cukup lengang pagi ini. Biasanya, di pagi akhir pekan seperti ini masih banyak orang yang terlelap setelah selama 5 hari penuh menjalankan tugas dan kewajiban mereka sebagai pekerja 9 to 5. Wajar saja, jika tanpa mengebut pun perjalanan Gian cukup lancar.


Sekitar 45 menit, Gian sudah tiba di lokasi yang dimaksud oleh Amber. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah hunian berpagar yang bangunannya tak begitu bisa dilihat dari luar.


Karena tak yakin apakah itu rumah yang tepat, akhirnya Gian memutuskan untuk menelpon Amber.


"Hei, gue udah sampe. Rumah lo yang mana?" tanya Gian.


"Bentar, aku keluar," jawab Amber tanpa menutup sambungan telepon.


Amber pun keluar dari gerbang rumahnya dan melihat mobil Gian. Ia lalu mematikan telepon dan berjalan menghampiri Gian.


Melihat Amber yang berjalan ke arahnya, Gian pun lalu turun dari mobilnya.


"Loh, kita langsung berangkat? Nggak pamit dulu sama bonyok?" Tanya Gian yang sebenarnya ingin secara sopan berpamitan pada kedua orang tua Amber terlebih dahulu.


"Nggak. Ayah pagi-pagi udah berangkat tadi. Nggak tau ke mana," jawab Amber yang sebenarnya sudah menduga sebelumnya bahwa Gian akan minta berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Ya udah pamit sama nyokap lo aja. Ada kan?" tanya Gian yang masih mencoba untuk menjadi lelaki sejati di hadapan orang tua Amber.


"Nggak ada. Ayok buruan," Amber manjawab dengan malas.


Walau Gian merasa penasaran kenapa raut wajah Amber berubah drastis saat ia menanyakan sola ibunya, Gian memutuskan untuk tak lagi bertanya. Ia tak ingin merusak mood Amber sehingga kebersamaan mereka hari ini menjadi tak menyenangkan.


"Lho, kamu bawa kamera juga?" tanya Amber setelah melihat tas kamera Gian tergelatak di kursi belakang saat Amber meletakkan beberapa bawaannya di sana.


"Katanya mau hunting?" sahut Gian sembari melajukan mobilnya menuju ke galeri tempat pameran lukisan diadakan.


Amber hanya tersenyum mendengar jawaban Gian. Ia merasa senang karena ternyata Gian tak hanya akan mengantar dan menemaninya, tetapi juga ikut berkegiatan dengannya.


Sepanjang perjalanan pun mereka banyak mengobrol. Semua terasa lebih mengalir seiring dengan berlalunya waktu. Sesekali Amber tertawa mendengar cerita atau candaan Gian. Sialnya, pipi Gian merona setiap kali membuat wajah ceria Amber. Ia pun berusaha berpaling ke arah lain supaya ia tak ketahuan.


Sekitar setengah jam lamanya, akhirnya mereka sampai di sebuah galeri yang memang letaknya tak jauh dari rumah Amber. Galeri itu tidak terlalu besar namun terlihat begitu artistik. Pas sekali untuk mengadakan pameran seni lukis seperti ini.


"Aku belum mau take photos di sini. Cuma mau liat-liat aja. Nggak papa kan kamera aku tinggal aja?" Tanya Amber yang hanya mengambil tas kecilnya dari kursi belakang.


"Nggak papa, cuma ditutupin gini aja biar lebih aman," Gian menutupi tas kamera Amber dengan jaket hitamnya.


Kaca mobil Gian sebenarnya cukup gelap sehingga tak akan mudah bagi orang di luar untuk bisa melihat ke bagian dalam kabin. Gian hanya berpikir tak ada salahnya hati-hati. Selain itu, kepada orang yang ia sukai, Gian memang cenderung lebih protektif.


Amber langsung menoleh saat mendengar suara shutter kamera Gian.


"Apa sih, Gian," kata Amber.


"Ssstttt … tar gue bagi hasilnya kalau lo mau," sahut Gian sambil tersenyum lalu membimbing Amber di pundak, mengajaknya untuk segera masuk ke area pameran.


Setelah menerima katalog dari seorang petugas yang berjaga di sana, Gian terlihat heran melihat nama pelukisnya yang sepertinya tidak terlalu terkenal tertera pada bagian depan lembaran kertas itu.


"Baru tahu nama pelukisnya," katanya katanya sambil masih membolak-balik katalog tersebut.


Amber hanya tersenyum lalu berkata, "ayah yang rekomendasiin aku dateng ke sini. Nama pelukisnya memang belum besar, tapi setelah melihat langsung karyanya kamu pasti bakal bilang kalau suatu saat dia pasti terkenal."


Bahkan hanya dengan melihat beberapa gambar karya yang tertera di katalog saja Gian sudah merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Amber benar adanya. Karya-karya beraliran hyper-realistic itu terlihat begitu memukau di lembaran kertas katalog, membuat Gian tak sabar untuk melihat karya aslinya.


"Kayanya ayah lo tau banget soal seni lukis ya," celetuk Gian sambil beranjak masuk ke dalam ruang pameran bersama Amber.


Amber tak mengatakan apapun. Ia hanya menyunggingkan senyum karena belum ingin Gian tahu bahwa sebenarnya nama ayahnya juga tak kalah besar dengan nama ayah Gian, walaupun ranah keduanya cukup berbeda.


Sedikit banyak, Amber paham akan apa yang dialami Gian di kampus. Tentang betapa menjadi terkenal, baik itu karena ayahnya atau karena dirinya sendiri, membuatnya sering merasa tak nyaman. Tentang bagaimana banyak orang di kampus lebih sering berlaku sebagai penggemar dan pengagum ketimbang sebagai teman. Tentang bagaimana banyak orang yang menggunakan namanya sebagai tameng untuk kepentingan mereka sendiri.


Amber belum siap mengalami semua itu jika lebih banyak orang tahu bahwa ia adalah anak tunggal dari Tarachandra, salah satu pelukis besar tanah air. Ia juga tak ingin jika orang-orang disekitarnya, termasuk Gian, berubah sikap setelah mengetahui siapa ayahnya. Ia hanya ingin kuliah dengan nyaman dan lekas lulus. Itu saja.


Sesampainya di dalam, perhatian Amber langsung tertuju pada deretan lukisan hyper-realist yang berjejer dengan rapi di dinding galeri. Sungguh mengagumkan. Jika tidak disertai dengan keterangan, mungkin mata beberapa orang akan tertipu dan mengira bahwa itu adalah foto bukan lukisan.


Gian pun memberi Amber waktu untuk mengamati karya lukisan di dalam galeri itu setelah memergoki wajah Amber yang cukup serius. Ia pun lalu memilih untuk berkeliling dan mengambil beberapa foto.


Di tengah kegiatannya, tiba-tiba Gian melihat sosok yang sepertinya ia kenal baru saja memasuki galeri bersama beberapa orang lain yang ia tak tahu siapa. Gian pun memutuskan untuk mendekat dan menghampiri orang itu.


"Om Tara?" sapa Gian setelah memastikan bahwa orang yang ia lihat itu benarlah Tarachandra.


"Lho, Gian, kamu di sini?" Tarachandra sedikit kaget lalu menyambut jabatan tangan Gian.


"Iya, Om. Aku ke sini sama temen. Om mau nggak ketemu dia sebentar? Dia pasti seneng ketemu pelukis kawakan seperti Om," ujar Gian.


Tarachandra yang tak menaruh curiga sedikit pun berpamitan kepada rekan-rekannya untuk menemui teman Gian sejenak. Gian berjalan duluan menghampiri Amber dengan maksud untuk mengenalkannya kepada Tarachandra.


"Situasi macam apa ini?" Tarachandra terkekeh dalam hati saat mengenal sosok yang akan Gian perkenalkan padanya.


Amber pun juga mengalami hal yang serupa. Saat ia menoleh ke belakang dengan maksud berkenalan dengan orang yang Gian bilang sebagai pelukis terkenal, yang ia lihat berdiri di sana malah sang ayah.


"Jadi tadi ayah pergi mau ke sini," batin Amber yang memang tak tahu bahwa Tarachandra akan pergi ke tempat yang sama.


"Mau gimana lagi," lanjutnya dalam hati.


Keduanya saling pandang dan melempar senyum seolah sepakat tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Keduanya pun berjabat tangan dan saling menyapa.


"Hai, Ayah," kata Amber.


"Hai, Nak," Kata Tarachandra.


Keduanya lalu tertawa menyaksikan reaksi Gian yang melongo.


"Ayah?" gumam lelaki muda itu.