AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 98 - Kekasih Giandra



Unggahan foto Adipramana tentu menimbulkan kehebohan di dunia maya. Bukan soal Gian dan karyanya, melainkan kehadiran sosok Amber yang identitasnya masih belum diketahui oleh khalayak ramai. Wajar jika foto tersebut mendapatkan banyak sekali komentar warganet yang mempertanyakan siapa Amber sebenarnya. Terlebih, Adipramana juga memberikan keterangan yang seperti itu dalam foto tersebut.


"Mas Adi, bisa tanya sedikit soal foto yang kemarin lusa mas unggah?" tanya seorang pencari berita bersama dengan seorang kamerawan yang dengan sengaja menunggu Adipramana selesai melaksanakan gladi bersih untuk mini konser yang akan ia selenggarakan bersama dengan beberapa musisi ternama lainnya dalam waktu dekat.


Semenjak foto tersebut diunggah, Adipramana memang menjadi sasaran para wartawan yang ingin mengulik lebih lanjut tentang siapa sosok gadis yang ikut berfoto bersama dengannya dan Giandra. Giandra pun juga sebenarnya banyak dicari. Namun, kesibukan pamerannya sementara ini membuatnya tak bisa menerima tawaran untuk tampil dan sehari-hari waktunya dihabiskan hanya di seputaran rumah dan kampusnya saja. Untuk sementara waktu ia bisa terhindar dari kejaran wartawan.


"Oh, itu foto waktu saya datang ke pameran akhir semester jurusan Gian. Karya dia ada di sana, makanya saya datang untuk melihat," pemusik yang masih nampak tampan di usianya yang beranjak senja itu memberikan jawaban.


"Kalau gadis yang ikut berfoto itu siapa, Mas Adi?" pertanyaan wartawan itu langsung pada intinya. Ia sadar bahwa mungkin wawancara ini tidak akan berlangsung lama, mengingat hari sudah cukup malam dan Adipramana nampak bergegas menuju ke kendaraan pribadinya.


"Oh. Itu temen deketnya Gian sekarang," jawab Adipramana dengan santai.


"Maksudnya mas Adi pacar?"


"Ya bisa dibilang begitu," Adipramana memang selalu ceplas-ceplos soal apapun.


"Bisa kasih informasi lagi enggak, Mas?" tanya pria muda itu dengan gigih, berharap bisa mendapatkan lebih banyak informasi yang nantinya akan ditampilkan di dalam liputannya.


"Saya kenal kok sama orangnya. Dia anak sahabat saya yang seorang seniman juga," jawabnya tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai Amber dan ayahnya.


"Boleh kasih tahu namanya dong, Mas Adi," wartawan itu mencoba mencari kesempatan setelah mengetahui bahwa Adipramana mengenal baik sosok gadis itu.


"Wah, tanya sendiri sama Gian aja ya. Yuk, temen-temen. Saya duluan."


"Ditanyain soal Gian lagi, Mas?" tanya Iwan, asisten pribadi Adipramana yang juga berada satu mobil dengannya.


"Iya. Hahaha. Berhasil juga kan pancingan kemarin," Adipramana terbahak sendiri melihat betapa hebohnya jagad maya akhir-akhir ini.


Adipramana memang bukanlah seorang ayah yang bisa bertatap muka dengan putra-putranya setiap hari. Walaupun demikian, tak berarti ia tak mengetahui apa saja yang sedang dialami oleh kedua anaknya dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka.


Kali ini pun begitu. Ia tahu bahwa Zefanya sedang berulah. Jika saja Zefanya dulu tidak berkhianat di belakang Gian, mungkin Adipramana tidak sampai turun tangan seperti ini. Dengan sengaja ia mengunggah fotonya bersama Gian dan Amber untuk memberitahukan kepada Zefanya dan dunia bahwa Gian sudah mempunyai kekasih dan ia percaya bahwa Amber adalah gadis yang berbeda dengan Zefanya dalam banyak hal. Ia hanya ingin melindungi putra sulungnya. Ia tak ingin Gian mengalami kehancuran yang pernah ia alami.


"Kalau Zefanya emang masih suka sama Gian gimana, Mas?" tanya Iwan lagi.


"Ya enggak papa to? Enggak ada yang bisa ngelarang perasaan suka seseorang. Itu soal hati," jawab Adipramana. "Tapi aku yakin, Gian sudah memilih yang terbaik."


"Amber maksudnya, Mas?"


"Ya siapa lagi? Aku paham betul soal Giandra. Aku enggak pernah ngeliat dia sesemangat ini," Adipramana menjawab dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya.


Keesokan harinya, saat sedang beraktivitas di studio bersama dengan timnya, Adipramana dikejutkan dengan kabar yang dibawa oleh Tisna, sang asisten rumah tangga. "Iya, Tuan. Ada Tuan Tjokro datang."


"Sama siapa?"


"Kayaknya sendiri, Tuan. Dianter sama supir aja," Tisna menjawab.


"Ya udah. Suruh tunggu sebentar," kata Adipramana dengan malas. "Ah! Ada-ada saja! Kenapa Si Tua Bangka itu datang kemari tiba-tiba? Enggak mungkin enggak ada maksudnya," Adipramana membatin dengan menaruh curiga atas kehadiran tamunya.


Ia memang tak pernah menaruh simpati kepada Tjokroatmodjo, yang tak lain adalah ayah dari Zefanya. Jika dilihat sepintas saja, pria yang usianya jauh lebih tua dibandingkan Adipramana itu hanya nampak sebagai seorang pengusaha sukses yang membawahi berbagai jenis mega bisnis di tanah air, termasuk juga bisnis pertambangan yang banyak menarik perhatian para investor asing. Yang membuat Adipramana kehilangan simpatinya adalah karena ia tahu bahwa dibalik kesuksesannya, Tjokroatmodjo sering kali menggunakan cara kotor untuk memenuhi ambisinya dalam berbisnis. Jika bukan karena dulu Gian sudah jatuh hati pada putri Tjokroatmodjo satu-satunya, mungkin seumur hidup Adipramana lebih memilih untuk tidak berurusan dengan orang bertangan kotor seperti ini.


"Ada apa gerangan Tuan Tjokro sudi mampir ke gubuk hamba," sapa Adipramana dengan nada sarkastis dan kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat.


"Ei, jangan seperti itu Adipramana." Aura keangkuhan selalu saja terasa di tiap kehadiran Tjokroatmodjo. Ia bahkan tak berdiri untuk menyambut kedatangan Adipramana, Sang Tuan Rumah.


"Tapi aku serius bertanya. Ada keperluan apa hingga kau datang ke sini, Bung?" Begitulah sapaan yang biasa Adipramana gunakan untuk memanggil Tjokroatmodjo.


"Apa kabar industri musik yang kau bangun, Adi?" Bukannya menanyakan kabar Adipramana, Tjokroatmodjo malah menanyakan hal ini.


"Apa maksud Tua Bangka ini?" kata Adipramana di dalam hati.


"Aku dengar kau sedang mengumpulkan uang untuk menggelar konser tunggal spektakuler tahun depan?" lanjut Tjokroatmodjo.


"Dari mana kau tahu tentang itu?" Adipramana akui, ia memang cukup terkejut. Tak banyak pihak yang mengetahui rencananya untuk mengadakan sebuah konser besar yang sudah ia impikan sejak cukup lama itu. Bagaimana Tjokroatmodjo bisa tahu?


"Sudahlah. Itu bukan hal yang harus kau khawatirkan, Adi. Aku datang ke sini karena ingin menawarkan sesuatu," pria tua itu tak lagi berbasa-basi.


"Maksudmu?"


"Kau tak perlu menunggu hingga tahun depan untuk menyelenggarakan konser tunggalmu. Jika kau mau, kau bisa sesegera mungkin melaksanakannya. Aku yang akan menanggung semua biayanya. Tak perlu kau anggap sebagai utang, aku akan memberikan berapapun jumlah uang yang kau butuhkan untuk konser itu," kata Tjokroatmodjo dengan penuh percaya diri.


"Kau pasti sudah menyiapkan syarat yang harus kupenuhi," Adipramana hapal betul bahwa Tjokroatmodjo bukanlah orang yang sedermawan itu.


"Hahahahaha … Kau sungguh mengenalku dengan baik, Adi," Tjokroatmodjo tergelak puas. "Kau tenang saja, Adi. Syaratnya sama sekali tidak sulit."


"Apa?"


Raut wajah tua Tjokroatmodjo seketika berubah serius, pertanda ia tak main-main. Dengan sorot mata yang bersungguh-sungguh ia mengajukan syarat yang harus Adipramana penuhi agar bisa mendapatkan sejumlah besar uang yang baru saja ia tawarkan. "Bantu Zefanya agar bisa kembali menjadi kekasih Giandra."