
"Jadi apakah Mas Gian akan merilis lagu baru dalam waktu dekat ini?" tanya salah satu dari kerumunan wartawan yang mewawancarai Gian seusai ia mengisi acara di siaran langsung program musik yang di adakan oleh salah satu stasiun TV swasta di sebuah mall.
"Oh, enggak. Selama masih kuliah aku enggak akan ada projek musik sama sekali. Cuma kalau ada waktu luang kayak sekarang aja aku ambil tawaran manggung. Itu juga enggak banyak. Emang pengen fokus sama kuliah dulu," ujar Gian sambil terus berjalan menuju ke mobil bersama timnya.
"Gosip yang beredar sekarang Mas Gian sudah punya kekasih baru. Bisa kasih komentar sedikit, Mas?" tanya wartawan yang lain lagi.
Sejak Gian resmi menjadi kekasih Amber dan mereka sering terlihat bersama di kampus, gosip tentangnya yang sudah punya kekasih baru setelah sekian bulan putus dengan Zefanya memang mulai berhembus. Apalagi, ia dan Amber juga sempat tertangkap kamera amatir penggemar ketika mereka sedang hunting foto di pasar tradisional kala itu. Kemunculan sosok Amber itu masih saja menyisakan pertanyaan di benak khalayak umum tentang kehidupan cinta seorang Giandra.
"Denger-denger kekasih baru Mas Gian adalah putri dari orang yang cukup ternama di tanah air. Bener apa enggak ya, Mas Gian?" tanya yang lain lagi.
"Berarti kisah cinta Mas Gian dengan Mbak Zefanya memang sudah selesai? Bisa tolong beri konfirmasi, Mas?"
Berbagai macam pertanyaan terus saja dilontarkan. Gian hanya menyunggingkan senyum di wajah tampannya lalu berkata, "duluan ya temen-temen." Ia masuk ke mobil lalu melambaikan tangannya pada para pencari berita yang masih memburu mengharapkan sedikit penjelasan darinya. Seperti yang sudah-sudah, Gian tak pernah banyak menanggapi pertanyaan wartawan jika itu berhubungan dengan kehidupan pribadinya, apalagi soal percintaan. Ia lebih suka jika yang ditanyakan berhubungan dengan karirnya sebagai seorang penyayi.
Raut wajah Amber sedikit berubah mendengar nama Zefanya mencuat ke permukaan dalam penggalan wawancara singkat Gian dengan para wartawan tersebut. Melihat putrinya menghela napas, Tarachandra yang juga duduk bersamanya di ruang tengah itu pun akhirnya berkomentar, "lambat laun nama kamu akan dikenal sebagai kekasih Giandra, Nak. Memang sudah konsekuensinya. Kamu sudah siap?"
Amber menoleh pada ayahnya. Sesungguhnya ia tak begitu tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan sang ayah barusan. Ia tahu betul bagaimana berita bisa dengan mudah dan cepat beredar di berbagai media saat ini. Belum lagi soal pembelokan fakta yang sering terjadi.
"Apa yang kamu khawatirkan, Sayang?" Tarachandra kembali bertanya setelah tak mendapatkan tanggapan dari putrinya.
"Entahlah, Yah," jawabnya ragu.
"Tak ada yang perlu kamu khawatirkan. Tak ada yang salah juga jika pada akhirnya kedekatan kalian diketahui oleh publik," ujarnya, "hanya saja, kalian memang harus pintar-pintar bertindak dan berperilaku, harus pintar memilih mana yang boleh dan tak boleh ditunjukkan di muka umum. Kalian sudah dewasa. Ayah yakin kalau kalian bisa menentukan sendiri."
"Iya, Yah," nada jawaban Amber seolah masih menyisakan pertanyaan dalam benaknya. "Bagaimana soal statusku sebagai anak ayah?"
"Apa yang salah dengan itu memangnya? Kamu kan memang anak kebanggaan Ayah," kata Tarachandra. "Kamu enggak perlu khawatir kalau-kalau orang akan mencibir bahwa kamu mendompleng nama Ayah. Ayah bahkan sama sekali tidak mengkhawatirkan soal itu. Kamu tahu kenapa?"
"Kenapa memangnya, Yah?" Amber dengan sungguh-sungguh bertanya sambil menatap wajah Tarachandra.
"Karena gaya lukisan kita jauh berbeda. Kekuatan gambar realis kamu cukup kental, Nak. Bahkan Ayah lihat setelah kuliah kemampuan kamu memang meningkat, padahal Ayah sama sekali enggak ngajarin kan?"
"Tidak semua yang ditanyakan harus kamu jawab, Nak. Kamu punya hak untuk tidak menjawab jika kamu tidak mau. Bagaimanapun, hal semacam itu adalah bagian dari kehidupan pribadi kamu. Orang lain tidak punya hak memaksamu untuk menceritakannya," Tarachandra menjabarkan sembari mengelus kepala putrinya.
"Mmm … Ayah masih merindukan Bunda?" dengan ragu Amber bertanya. Ia memang jarang sekali menanyakan hal semacam ini kepada Tarachandra, takut jika itu malah akan mengusik ketenangan hati ayahnya.
"Of course," dengan cepat dan mantap Tarachandra menjawab, "bagaimana bisa Ayah tidak merindukan belahan jiwa Ayah?" lanjutnya sambil tersenyum.
"Apa suatu saat kita akan bertemu lagi dengan Bunda, Yah?" Ambil bertanya setelah sebelumnya ia melayangkan pelukan pada sang Ayah, seolah berusaha saling menguatkan.
"Cuma Tuhan yang tahu, Nak. Yang terpenting, kita jalani hidup kita dengan baik dan jangan lupa untuk terus mendoakan Bunda." Tarachandra lalu mengecup kepala Amber. Diam-diam hatinya getir. Ia tahu Amber sedang merindukan ibunya.
***
Gian membukakan pintu gerbang saat mobil Amber tiba di depan rumahnya. Petang ini, mereka memang berjanji bertemu di rumah Gian untuk makan malam bersama dengan Dhika. Awalnya Gian menawarkan untuk makan di luar saja, hanya saja Amber merasa belum siap untuk go public. Pada akhirnya, Gian lah yang mengalah dan mencoba mengerti.
"Hei," Gian menyapa, memeluk Amber di pinggangnya dan mencium bibir kekasihnya. Sejak ciuman pertama kala itu, Gian jadi terbiasa memberikan kecupan pada Amber kala mereka bertemu atau hendak berpisah. Tentu ia juga tak sembarangan melakukannya di muka umum.
"Dhika mana?" tanya Amber.
"Hih! Yang langsung ditanyain malah Dhika," Gian yang sedikit merasa kesal langsung melepaskan pelukannya.
"Ahahaha … Ngambek?" dengan usil Amber bertanya. "Ya udah kalau ngambek aku makan sama Dhika aja. Padahal aku bawain makanan kesukaan kamu lho," Amber sengaja melewatkan makanan yang ia bawa di depan wajah Gian hingga aroma sedapnya pun langsung masuk ke kedua lubang hidungnya.
"Hiiiih … Mulai berani ya sekarang?" dengan gemas Gian menggelitik pinggang Amber dan membuat kekasihnya itu tertawa terbahak-bahak.
"Ehem!" Dhika yang mendengar suara Amber dari dalam rumah pun akhirnya keluar dan sengaja berdehem keras. Sejak Amber sering main ke rumah Gian, Dhika semakin dekat dengan kekasih kakaknya itu. Ia bahkan sudah nyaman memanggil Amber dengan sebutan 'Kak'. "Kak, laper!"
Amber meloloskan diri dari kelitikan Gian lalu naik ke teras dan masuk ke rumah bersama Dhika, meninggalkan Gian yang masih sibuk menutup gerbang. Amber dan Dhika memang sering kali bersekongkol untuk mengerjai Gian. Umur yang hanya terpaut 1 tahun saja membuat mereka lebih mudah akrab.
Walau sering dibuat kesal dengan persekongkolan mereka berdua, jauh di dalam lubuk hatinya, Gian merasa sangat bersyukur Amber mampu membaur tanpa canggung dengan Dhika. Itulah juga yang membuatnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua orang yang ia sayangi itu.