AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 63 - Akhir Dari Samantra



Samantha berjalan dengan langkah yang terasa ringan sekali menuju ke taman di dekat kolam bagian belakang kampus. Kemarin, ia sudah menerima pesan dari Rara yang mengatakan bahwa Gian mengajaknya untuk bertemu jam 11 siang ini.


Tentu saja, Rara tak berani sedikit pun untuk mengatakan kepada Samantha tentang apa yang sudah terjadi kemarin. Ia bahkan sampai mengancam kedua temannya agar mereka juga bungkam. Bayangan tentang penjara benar-benar membuatnya ketakutan. Ia bahkan sampai memutuskan untuk tak berangkat kuliah hari ini.


Sementara kini, hati Samantha berdegup kencang. Ia tak tahu hal apa yang akan Gian bicarakan dengannya sehingga Gian sampai mengajaknya bertemu di taman seperti ini.


"Jangan-jangan Rara emang bantuin gue? Jangan-jangan dia emang berhasil bikin gue makin deket sama Gian? Jangan-jangan … Kyaa!!" Samantha kegirangan sendiri di dalam hatinya.


Saat ia sudah hampir dekat dengan taman, dilihatnya Gian yang ternyata sudah duduk di kursi yang sebenarnya adalah tempat di mana Amber dan Gian pertama kali berdamai dulu. Tentu Samantha tidak mengetahui hal tersebut. Hanya saja, bagi Gian itu adalah salah satu tempat yang menyimpan kenangan manis bersama gadis yang sangat ia sukai.


Samantha merapikan sedikit rambut juga pakaiannya. Samantha memang cantik, namun ia ingin lebih terlihat cantik di mata Gian. Setelah yakin bahwa penampilannya sudah sempurna, ia pun bergegas menghampiri Gian.


"Hey, Gian," Samantha menyapa Gian dengan suara yang ia manis-manis kan.


"Kata Rara lo nyariin gue? Ada apa?" tanyanya.


"Iya. Duduk sini, Kak Sam," Gian meminta Samantha untuk duduk di sampingnya. Tentu saja, hal ini membuat jantung Samantha berdegup sedikit lebih kencang.


"Waktu gue nggak banyak, Kak, jadi gue bakal langsung ngomong aja. Kata Rara, Kak Sam suka sama gue. Bener?" tanya Gian.


Deg!


"Apa ini? Jangan-jangan Gian benerin mau nyatain perasaannya ke gue?" batin Samantha yang diliputi perasaan senang bukan kepayang. Jantungnya berdegup semakin kencang.


"Mmm … iya. Sebenernya udah lama. Tapi pas tau lo udah ga ada pacar dan kita juga lumayan sering kongkow bareng di kantin, kok gue makin suka sama lo," dengan percaya diri Samantha menjawab pertanyaan Gian.


"Ayo, cepet bilang kalau lo juga suka sama gue, bilang kalau lo mau jadi cowok gue, Gian," Samantha membatin di dalam hatinya.


Masih sama seperti tadi, Gian masih tak menunjukkan ekspresi yang berarti di wajahnya. Ia terdiam mendengar pernyataan Samantha, lalu menghela napas panjang.


Setelahnya, ia mengeluarkan ponselnya dan menyentuh-nyentuh layarnya, seperti sedang mencari sesuatu di sana. Ternyata ia mencari video yang kemarin sudah direkam diam-diam oleh Charemon dan telah ia bagikan untuk disimpan oleh semua anggota yang tergabung dalam group chat SAVAM.


"Coba Kak Sam liat ini," kata Gian dengan nada datar.


"Kenapa Gian malah ngasi liat video ke gue?" tanya Samantha dalam hati. Ia sungguh merasa heran namun juga penasaran, video apa yang ingin diperlihatkan oleh Gian.


Ia lalu memutar video tersebut. Tak lupa Gian menaikkan volume video itu supaya Samantha bisa mendengar dengan jelas isi percakapan di dalamnya.


Betapa terkejutnya Samantha saat akhirnya mengetahui bahwa itu adalah video saat Rara sedang merundung Amber kemarin. Ia sungguh tak menyangka bahwa Rara benar-benar melakukan hal tersebut, terlebih itu dilakukan tanpa sepengetahuannya. Yang lebih membuat Samantha geram, namanya cukup jelas terdengar dalam salah satu teriakan Rara.


Seketika, Samantha sadar dan sangat malu. Ia akhirnya tahu bahwa Gian mengajaknya bertemu bukan karena ia ingin menyatakan perasaannya, melainkan karena video ini. Tangannya bergetar seketika.


"Rara sialan!!" batinnya penuh kemarahan.


"Liat sampe selesai, Kak," walau geram, Gian masih menggunakan panggilan tersebut karena sebenarnya ia menghormati Samantha sebagai kakak kelas yang selama ini memang sering kali membantu adik kelasnya, termasuk Gian, dalam hal perkuliahan.


Setelah selesai melihat dan mencermati isi dari video itu, sambil terdiam ia mengembalikan ponsel milik Gian. Pandangannya tak lagi berani menatap wajah lelaki tampan yang mencuri hatinya tersebut karena ia merasa sangat malu.


"Kalau bukan karena Amber yang bilang jangan, gue pasti udah bawa kasus ini ke polisi. Gue nggak tau sejauh mana lo terlibat, Kak, tapi gue yakin lo pasti ada andil di situ," tambahnya.


Gian lalu berdiri dari duduknya dan berkata dengan nada yang jauh berbeda dengan saat berbicara tadi. Kali ini, Gian terdengar mengancam.


"Kalau lo atau siapapun temen lo berani nyentuh Amber lagi, percayalah, Kak Sam, gue nggak akan tinggal diem!" pungkasnya.


Gian lalu pergi tanpa berpamitan. Ia menahan amarah yang sudah meletup-letup di ujung kepalanya mengingat kejadian yang sudah menimpa Amber kemarin. Gian memang bisa saja menggunakan kekuatan fisiknya jika ia sudah dilanda amarah. Namun satu hal yang selalu ia pegang teguh, ia pantang main tangan kepada wanita.


Sementara, Samantha kini diliputi perasaan yang tak menentu. Sedih, kecewa, marah, semua berkecamuk di dalam dirinya.


"Pantes, abis ngasih kabar kalau Gian ngajak ketemuan, Rara ngilang. Sial!!!" ucap Samantha dalam hati.


Ia menoleh dan melihat Gian sudah tak nampak di pandangan. Ia sadar bahwa rasa sukanya untuk Gian sudah tak mungkin untuk diperjuangkan lagi.


Ia lalu berdiri dan berjalan dengan cepat. Yang ada di pikirannya saat ini adalah ia harus membuat perhitungan dengan Rara yang sudah mencoreng namanya di hadapan Gian, lelaki yang sangat ia sukai.


Saat ia akan keluar dari area kampus, ia tak sengaja melihat dengan Nadine di area parkir. Ia sepertinya hendak pulang bersama dengan Saskia.


Tanpa pikir panjang, Samantha yang masih dalam keadaan emosi pun menghampirinya. Dengan kasar ia mencengkeram kerah baju Nadine dan mendorongnya hingga ia tersandar pada mobil yang belum sempat ia masuki.


"Heh! Apa-apaan ni?!" Nadine yang terkejut akan perlakuan Samantha yang tiba-tiba pun merasa tak terima.


"Gara-gara adu domba lo, gue jadi dipermaluin di depan Gian! Semua gara-gara lo!" Samantha yang sudah dalam keadaan kalut pun menumpahkan kekesalannya pada Nadine yang sebenarnya tak paham akan apa yang terjadi.


"Ngomong apaan sih lo, Kak Sam? Dipermaluin gimana? Gue nggak tau apa-apa ya!" Nadine yang tak terima diperlakukan sekasar itu mulai membela dirinya.


Saskia yang ada di sana pun mencoba melerai namun ia malah tak sengaja terdorong oleh Samantha dan jatuh tersungkur ke tanah.


"Nggak usah ikut campur lo!" teriak Samantha yang sudah cukup membuat nyali Saskia menciut.


"Jangan main kasar ya lo sama temen gue!" Nadine yang sebenarnya tak tahu menahu soal bela diri itu akhirnya balik mencengkeram Samantha di bagian kerah bajunya.


"Berani lo ama gue?!" teriak Samantha.


"Harusnya gue yang tanya ke lo! Berani lo ama gue?! Lo lupa bokap gue siapa?!" Di saat genting seperti ini, nama besar ayah Nadine di kampus tersebut biasanya bisa menyelamatkannya.


Deg!


Sesaat Samantha teringat bahwa Nadine adalah putri tunggal salah satu orang penting di kampus ini. Jika dibandingkan dengan Nadine, Samantha memang bukanlah siapa-siapa. Ia lalu menggeram karena kesal dan melepaskan cengkeramannya pada baju Nadine.


"Nah! Baru sadar kan lo! Sekali gue ngomong sama bokap, kelar lo jadi mahasiswa!" ancam Nadine.


Lagi-lagi dewi keberuntungan tak mau berpihak apda Samantha. Hari ini ia sungguh sial.


Ia lalu pergi tanpa mengucapkan apapun kepada Nadine. Setelah hari itu pun, baik Samantha maupun Rara jarang sekali terlihat di sekitaran kampus atau kantin. Mereka hanya sesekali terlihat saja dan itu pun untuk urusan perkuliahan. Dalam hati masing-masing dari Samantha dan Rara, yang sebenarnya juga merupakan mahasiswa tingkat akhir di jurusan desain komunikasi visual, mereka hanya ingin segera lulus dan angkat kaki dari kampus yang kini selalu membuat mereka merasa terancam itu.