AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 114 - Kemelut di Hati Ayu (Bagian 2)



Walau sudah pensiun, berbekal pengetahuan dan pengalamannya sebagai seorang psikolog ternama, Cornelia menghabiskan hari-harinya untuk membantu Ayu mengurai benang kusut di dalam kepalanya. Seperti yang ia duga, Ayu menderita sebuah masalah kejiwaan yang dikenal dengan sebutan postpartum depression atau depresi pasca melahirkan. Yang membuat Cornelia merasa sangat kebingungan adalah fakta bahwa Ayu baru 'meledak' saat ini, setelah bertahun-tahun melahirkan Amber di saat biasanya ini dimulai antara 1 bulan hingga 6 bulan setelah persalinan. Beberapa kasus menunjukkan ada pula wanita yang merasakan timbulnya gejala depresi sekitar 4 tahun setelah melahirkan. Tapi Ayu? Kasus yang dialaminya sangatlah langka. "Bagaimana bisa dia menahannya selama itu?" batin Cornelia sungguh tak percaya.


Membantu Ayu dengan kondisi yang seperti ini bukanlah perkara mudah. Di satu sisi Ayu sangat mencintai suami dan anaknya. Di sisi lain, Ayu seolah kehilangan identitas dan lupa caranya mencintai dirinya sendiri. Jika dirunut lagi, semua berawal ketika ia harus menyerahkan mimpi menjadi seorang wartawan yang sudah dengan susah payah ia dapatkan sedangkan di saat yang sama ia melihat Tarachandra masih berkecimpung dengan penuh semangat di bidang seni. Ia berkata iklas, tetapi alam bawah sadarnya tidak bekerja demikian. Semakin hari ia semakin larut dalam kesedihan. Di saat yang sama ia sekuat mungkin menjadi istri dan ibu yang baik.


Tak satu orang pun yang tahu kemelut yang terjadi di dalam hati Ayu hingga perlahan ia mulai kehilangan daya tanpa ia mampu menyadari ada apa sebenarnya. Batinnya mengalami rasa lelah yang luar biasa. Ia tak lagi bisa tidur nyenyak atau memiliki nafsu untuk menyantap makanannya. Rasa gelisah selalu menghantuinya. Rasa rindunya pada Tarachandra yang sibuk berjuang atas nama kesenian seakan tak pernah terbalas hingga ia ragu apakah dirinya masih berharga. Semua ia rasakan sendiri hingga ia menyerah dan memilih untuk pergi.


***


"Terapi, konsultasi, dan obat, semua harus dilakukan dengan tepat. Walau Ayu sangat kesepian saat itu, sangat tidak mungkin untuk memintanya kembali dalam waktu cepat. Jika itu dilakukan, kondisinya malah akan memburuk," Cornelia menjelaskan kepada Amber. "Baru sekitar setahun yang lalu ia benar-benar merasa siap untuk kembali. Ia sudah bisa mencintai dirinya sendiri agar bisa kembali mencintai kamu dan ayahmu, Amber."


"Jadi Bunda kembali setahun yang lalu?" tanya Amber.


"Iya, tapi ternyata rumah itu sudah kosong. Bunda enggak tahu kalian kemana sedangkan Bunda juga sudah tidak punya satu pun nomor telepon yang bisa dihubungi karena Bunda sudah membuangnya saat sedang dalam keadaan terpuruk," ujar Ayu. "Bunda juga sempat mendatangi rumah Tante Ria, tapi ternyata Tante Ria dan Om Panca pun sudah tidak di sana."


"Andai saja Amber enggak kuliah di sini mungkin kita udah ketemu dari dulu, Bunda," kata Amber dengan penuh penyesalan.


"Bunda yang salah, Sayang. Bukan kamu. Bunda pikir itu adalah hukuman Tuhan untuk Bunda. Bunda pikir enggak akan ketemu lagi sama kamu," suara Ayu bergetar.


"Ayu kembali ke sini setelah gagal menemukan kalian. Ia sempat terpuruk lagi namun kembali bangkit. Katanya, ini saatnya ia yang berjuang melakukan apa yang ia mampu supaya bisa bertemu dengan kalian lagi. Rupanya memang sudah jalan Tuhan. Melalui Nak Gian kalian bisa bertemu kembali," ucap Cornelia dengan perasaan haru yang membuncah di dalam hatinya. Ia tahu betul segala kesulitan yang Ayu alami.


"Terima kasih ya, Nak Gian. Semua berkat kamu," ucap Ayu.


"Bukan, Tante. Yang dikatakan Oma Cornel bener. Gian cuma perantara jalan Tuhan aja," kata Gian.


"Tapi kenapa kamu enggak langsung bilang aja ke Tante, Nak?" tanya Ayu heran.


"Gian cuma pengen kasih kejutan untuk orang yang Gian cintai, Tante," Gian sama sekali tidak merasa malu mengatakan hal semacam ini karena memang perasaannya jujur mencintai Amber.


"Maksud kamu Amber?" Ayu kembali bertanya.


"Iya, Tante. Gian kekasih Amber," kata pemuda itu. "Tante enggak usah susah-susah ngejodohin Gian sama Amber karena kami emang udah bareng sejak lama." Gian terkekeh mengingat perkataan Ayu pagi tadi saat ia kembali membeli kuenya.


***


Sementara itu, Tarachandra pulang dan mendapati Amber tidak ada di rumah.


"Amber ke mana, Bik?" tanyanya kepada Bik Nem yang sedang menyiapkan makan malam untuk Tuannya.


"Non Amber tadi siang pergi sama Den Gian sampe sekarang belum kembali, Tuan," katanya. "Mmm … Maaf, Tuan. Bibik pengen nanya sesuatu."


"Lho, ya tanya aja, Bik. Kok pakai minta ijin segala," jawab Tarachandra sambil terkekeh.


Bukannya segera bertanya, Bik Nem malah bergegas menuju ke dapur dan kembali dengan membawa kotak kue yang tadi Gian berikan. "Tadi Den Gian ngasih ini, Tuan. Bibik kaget pas buka karena langsung keinget sama Nyonya, Tuan."


Tarachandra yang belum paham dengan maksud Bik Nem langsung membuka kotak bertuliskan 'Langit Senja' itu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya sesaat ketika mengenali bentuk dan aroma kue tersebut. Dengan cepat ia mencoba menghubungi Amber namun gadis itu tidak segera menjawab. Ia kemudian mencoba menghubungi Gian dan terhubung.


"Halo, Gian. Kamu masih sama Amber, Nak?" tanyanya dengan nada tergesa.


"Masih, Om. Tapi kayaknya kami enggak bisa pulang cepat," jawab Gian di seberang sana.


"Iya, Om paham. Di mana kalian?" tanyanya lagi.


"Om, sebaiknya Om segera ke sini. Agak jauh memang, tapi Om harus ke sini," ucap Gian.


Mendengar perkataan Gian barusan, batin Tarachandra semakin yakin bahwa apa yang ia pikirkan memang benar adanya. "Iya, Om akan segera ke sana. Kamu kirim lokasinya ke Om ya," pungkasnya.


Ia segera bangkit tanpa menywntuh makanannya dan bersiap untuk pergi, padahal ia baru saja sampai di rumah. "Bik, jaga rumah ya. Kunci aja semua pintu. Saya dan Pak No harus pergi. Mungkin besok kami baru kembali," kata pria itu. Ia menghentikan langkahnya ketika menyadari bahwa Bik Nem seolah masih menunggu penjelasan ke mana ia akan pergi. "Ayu sudah ketemu, Bik," ucapnya dengan penuh keyakinan.


Mendengar perkataan Tarachandra, Bik Nem tidak bisa menahan air matanya. Selama ini, ia juga membawa Ayu dalam setiap doanya.


Tarachandra pun bergegas mengajak Pak No menembus malam menuju ke lokasi yang sudah diberitahukan oleh Gian. Walau ia masih belum tahu bagaimana kondisi Ayu, hatinya sudah sangat bersyukur istrinya akhirnya sudah diketemukan. "Semoga kamu baik-baik saja, Sayang. Tunggu Mas akan segera datang," ucapnya di dalam hati.