AMBERLEY

AMBERLEY
Episode Terakhir



Hari pertunangan Amber dan Gian akhirnya tiba juga. Kedua sejoli itu awalnya tak mau jika momen bersejarah mereka harus dirayakan secara besar-besaran. Hanya saja, ini adalah permintaan Tarachandra. Ia ingin mengumpulkan semua keluarga dan teman dekatnya sebagai wujud rasa bahagianya karena Ayu telah kembali dan Amber telah menemukan jodohnya. Akhirnya, keputusan tengah pun diambil. Perayaan dilaksanakan secara tertutup bersama orang-orang terdekat saja. Halaman belakang rumah Tarachandra yang cukup luas disulap menjadi lokasi outdoor engagement party untuk Amber dan Gian. Ayu sendirilah yang mengatur segala hal yang dibutuhkan dengan dibantu oleh sebuah event organizer ternama yang pemiliknya adalah salah satu rekan Adipramana. Kepergian Adipramana ke kantor event organizer itu bersama dengan Gian dan Amber beberapa saat yang lalu sempat menghembuskan kabar bahwa Gian akan segera menikah. Tak heran jika kedua ayah dan anak penyanyi itu sempat menjadi target pencarian para pemburu berita. Hanya saja, mereka memilih untuk tidak memberikan informasi apapun karena menghargai keputusan bersama bahwa pesta pertunangan akan diadakan secara tertutup.


Pagi itu, disaat semua orang sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing, Amber terbangun dan menemukan sesuatu yang mengejutkannya.


"Aaaa …!" teriak Amber. Sebuah jerawat kecil bertengger di tengah-tengah dahinya dan membuatnya panik.


Semalaman gadis berparas manis ini kesulitan memejamkan matanya. Saat Charemon dan Egidia yang menginap di rumahnya sudah jauh berpetualang ke alam mimpi, Amber masih saja terjaga karena perasaan gugup yang ia rasakan. Mungkin karena itulah jerawat kecil berwarna merah muda itu muncul di dahinya tanpa permisi pagi ini.


Suara teriakan Amber tentu saja mengagetkan Charemon dan Egidia yang tadinya masih tertidur lelap. Mereka berdua sontak bangun tanpa tahu apa yang terjadi.


"Apaan?" kata keduanya bersamaan.


"Coba liat ini! Ada jerawat!" kata Amber. Ia sedari tadi memegang sebuah cermin kecil untuk melihat jerawat di dahinya.


Dengan kesal Egidia melempar bantal dan mengenai punggung Amber, "ngagetin lo, Dek."


"Iya nih. Masih ngantuk juga," kata Charemon sembari merebahkan tubuhnya kembali.


Dengan cepat Amber menarik tangan Charemon supaya ia bangun. "Moooon, jangan tidur lagi. Ini gimana coba?" kata Amber sambil menunjuk-nunjuk dahinya.


"Cuma kecil banget, Amber. Enggak bakalan keliatan. Entar gue yang makeupin, jadi lo tenang aja," kata Charemon dengan santainya. Kalau soal makeup, Charemon memang lebih jago dibandingkan Amber. "Itu jangan lo pegang-pegang terus. Tambah gede baru tau rasa lo."


Seketika Amber berhenti menyentuh jerawatnya karena takut apa yang dikatakan Charemon akan menjadi kenyataan. Charemon dan Egidia terkekeh melihat tingkah Amber yang tak seperti biasanya. Di situlah mereka sadar bahwa secuek apapun, Amber tetaplah seorang gadis yang ingin terlihat sempurna di hadapan pemuda yang ia cintai. Apalagi ini adalah hari pertunangan mereka berdua.


"Mending sekarang gantian mandi gih, Dek. Udah jam segini. Biar nanti kamu punya cukup waktu untuk siap-siap," kata Egidia.


Satu per satu ketiga sahabat itu pun bersiap. Egidia yang terakhir mendapatkan giliran mandi melihat Charemon sedang sibuk memberikan pulasan makeup tipis bernuansa natural di wajah Amber. Walau ia bukanlah seorang makeup artist, hasil karyanya cukup membuat Egidia tercengang. "Lo yakin mau jadi pelukis, Dek? Enggak mau jadi makeup artist aja?" ujar Egidia.


"Kak Egi mau bilang gue keren aja susat amat, pake acara muter-muter," dengan congkaknya Charemon berkata.


"Iya deh iya. Lo keren, Dedek Momooon," goda Egidia. Ia lalu mengambil dan mengenakan gaun yang sudah secara khusus Amber siapkan untuknya dan Charemon. "Bagus enggak gue pake ginian?" tanya Egidia.


Charemon dan Amber menoleh bersamaan. Mereka cukup tercengang melihat penampilan gadis yang biasanya bergaya tomboi itu.


"Kak Egi cantik banget," celetuk Amber.


"Iya bener banget. Entar rambutnya gue tatain ya, Kak biar makin cantik," kata Charemon.


"Demi Amber gue pake gaun," kata Egidia. Ia sebenarnya juga tak menyangka bahwa ia akan terlihat bagus memakai pakaian semacam ini.


Sekitar satu setengah jam kemudian ketiga gadis itu sudah siap. Amber telihat begitu spesial dengan gaun putih keemasan selutut yang ia padukan dengan sepatu boots warna hitam. Walau ia setuju mengenakan gaun di hari pertunangannya, ia tak mau kompromi soal alas kaki. Lagi pula, Amber memang tak suka mengenakan heels karena itu hanya akan membuat tubuhnya yang tinggi semakin menjulang.


"Sayang kamu sudah siap?" tanya Ayu yang tiba-tiba membuka pintu kamar Amber.


"Udah Bunda," jawab Amber.


"Anak Bunda cantik sekali," kata Ayu sembari mengusap pelan pipi putrinya. Matanya berkaca-kaca.


"Makasih, Bunda. Amber dapet cantiknya dari Bunda," kata Amber. Senyumnya merekah.


"Ayo keluar. Gian sebentar lagi datang," Ayu berkata dan mengulurkan tangannya kepada Amber.


Mereka pun bersama-sama keluar dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Beberapa teman dan keluarga dekat yang sudah datang menyempatkan diri untuk menyapa Amber dan kedua orang tuanya. Mereka semua turut berbahagia.


Tak lama kemudian, rombongan Gian datang dan mulai memasuki tempat pesta. Mata Gian menyebarkan pandangan ke arah depan mencari keberadaan Amber. Tentu tak sulit untuk menemukannya. Di mata Gian, Amberlah yang paling mencuri perhatiannya.


Begitu pun dengan Amber. Hatinya berdebar melihat penampilan Gian yang jauh lebih rapi dari biasanya dengan kemeja batik lengan panjang, celana hitam, dan sepatu hitam dengan desain senada seperti yang ia kenakan membuatnya kembali jatuh hati. Rambut Gian pun ditata lebih rapi. "Bagaimana bisa Gian terlihat begitu berbeda," kata hati Amber. Debar ia rasakan semakin kuat saat akhirnya ia duduk berhadapan dengan kekasihnya itu.


Acara pertunangan keduanya berjalan dengan lancar. Kedua keluarga telah dipertemukan dan pada saatnya nanti akan menyatu menjadi sebuah keluarga besar. Siapapun yang hadir di sana berbahagia, tak cuma untuk Amber dan Gian, tetapi juga untuk Ayu dan Tarachandra.


"Ehm," Bimo berdehem sambil mendekati Egidia yang sedang mengambil minuman. "Cantik banget, Neng," godanya.


"Lo mau alasan apa lagi, Gi?" kata Bimo. Ia pun ikut mengambil segelas minuman dan menyesapnya sedikit demi sedikit.


"Maksud lo apa?" tanya Egidia. Wajahnya menunjukkan gelagat bahwa ia hanya pura-pura tak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Bimo.


"Gian udah bahagia lho. Dia serius sama Amber. Palingan juga nanti kalau udah kelar kuliah mereka bakal nikah," kata Bimo. "Dulu alesan lo nolak gue karena enggak mau ganggu persahabatan kita bertiga, Kan? Kayaknya Gian sama sekali enggak merasa terganggu tuh. Kita bahkan bisa bertemen deket sama Amber. Jadi apa lagi?"


"Mmm …" Egidia masih mencoba mengelak. Sebenarnya ia hanya takut jika ia menerima Bimo suatu saat mereka akan berpisah dan tak lagi bisa dekat seperti sekarang ini.


"Gue tau yang lo pikirin," kata Bimo tiba-tiba. "Lo tau sendiri. Sejak gue bilang suka sama lo, gue sama sekali enggak pernah deket sama cewek lain. Seserius itu gue sama lo," ujar Bimo. "Lo ragu sama gue?"


"Enggak sih, Bim. Tapi-"


"Baguslah kalau lo enggak ragu. Mulai saat ini lo cewek gue," kata Bimo tanpa memberikan kesempatan kepada Egidia untuk mengutarakan apa yang ia pikirkan. Ia lalu menggenggam tangan Egidia erat dan mengajaknya duduk menikmasi suasana perta yang masih berlangsung.


Egidia mengeratkan pegangan tangannya. Sudah terlalu lama ia menahan rasa sukanya pada Bimo.


"Ish … Jadian juga kan akhirnya," gumam Charemon pelan. Ia melihat wajah bahagia Egidia yang terlihat begitu jelas dari kejauhan.


"Apa?" Seorang pemuda yang begitu tinggi tiba-tiba bertanya karena mendengar gumaman Charemon.


"Eh?" Charemon malah kaget mendengar pertanyaan itu.


"Lo tadi bilang apa?" tanya pemuda itu lagi.


Betapa malunya Charemon saat menyadari bahwa ternyata gumamannya tadi terdengar oleh pemuda itu. "Enggak bilang apa-apa," jawabnya. Ia lalu mengambil makanan kecil untuk mengalihkan perhatian.


Pemuda itu malah tersenyum geli dan mengulurkan tangannya kepada Charemon. "Gue Rafa, sepupunya Gian. Lo siapa?"


"Gue Charemon, temen Amber sama Kak Gian," jawab Charemon sembari menyambut jabatan tangan Rafa.


"Ngobrol ama gue yuk. Gue bosen," kata Rafa dengan santainya.


"Boleh lah. Gue juga baru enggak ada temen ngobrol," jawab Charemon. Ia tak mau mengganggu Egidia dan Bimo yang nampaknya sedang ingin berdua saja.


"My Amber, liat deh Momon," Gian menunjukkan pemandangan yang baru saja ia lihat kepada Amber. "Jangan-jangan kita bakal saudaraan sama Momon ini," canda Gian.


"Hah? Maksudnya?" tanya Amber tak mengerti.


"Itu yang baru ngobrol sama Momon namanya Rafa. Dia sepupuku," Gian menjelaskan.


"Waaaah. Kita jodohin yuk," Amber tiba-tiba menjadi antusias.


"Seneng banget tunangan aku ini," kata Gian yang lalu memegang tangan Amber.


Amber yang masih belum terbiasa dengan sebutan 'tunangan Gian' jadi tersipu. "Makasih ya, My Gian," ucap gadis itu pelan. Tak pernah terpikirkan oleh Amber sebelumnya bahwa ia akan sebahagia ini. Semua orang yang ia cintai ada di depan matanya.


"Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu, My Amber," ucap Gian. Ia tak menyangka bahwa Amber yang awalnya sempat membuatnya kesal berulang kali malah berakhir menjadi seseorang yang akan menghabiskan sisa hidup bersamanya.


Kehilangan yang Amber dan Gian alami di kehidupan masing-masing malah membuat mereka menemukan satu sama lain. Bahkan lebih dari itu, begitu banyak hal baik lainnya yang datang seiring dengan kebersamaan mereka. Takdir sudah berjalan sesuai dengan ketentuannya. Kehilangan tak melulu berakhir duka.


"Gian," kata Amber.


"Hmm?" kata Gian.


"Always be My Gian, okay?" Amber menatap Gian tepat di kedua matanya.


Betapa tenang Gian mendengar semua itu. Ia mengecup kening Amber dan berkata, "okay. I promise."


-TAMAT-