AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 64 - Rencana Akhir Pekan



"Ampun deeeeh … Panas banget," keluh Egidia.


"Kencengan dikit napa ngipasinnya," omelnya kepada Bimo yang sedari tadi sibuk mengipasi Egidia dengan kipas tangan bergambar tokoh film kartun favorit Egidia


"Iye … iye, bawel banget sih ni bocah," Bimo menggerutu sambil mengacak-acak rambut Egidia. Walaupun begitu, setelahnya ia tetap lanjut mengipasi teman dekatnya itu.


"Duh, maaf banget ya, Kak Egi. Di sini nggak pake AC jadinya panas," ujar Charemon yang datang dari lantai bawah rumahnya sambil membawa beberapa gelas es sirup rasa jeruk dan kue buatan ibunya.


Ya, siang ini, Egidia, Bimo, Amber, dan juga Gian berkunjung ke rumah Charemon untuk melepas penat. Kini mereka semua menghabiskan waktu di ruang keluarga yang terletak di lantai dua.


Bau harum kue menyeruak ke seluruh penjuru rumah tersebut. Suasana di lantai satu memang sedang sedikit sibuk karena ibu Charemon sedang membuat kue pesanan toko Tante Danik bersama beberapa orang yang kini sudah ia pekerjakan. Rasa kue yang memang lezat, akhirnya membuat Tante Danik berulang kali memesan berbagai jenis kue kering kepada ibu Charemon. Saat ini, mereka sudah seperti rekan bisnis yang saling menguntungkan satu sama lain.


Semenjak misi menyelamatkan Amber kala itu, pertemanan kelima mahasiswa fakultas seni ini memang menjadi semakin dekat. Amber pun kini juga sudah dimasukkan ke dalam group chat SAVAM yang awalnya dirahasiakan darinya. Ia tergelitik geli ketika mengetahui apa arti dari nama group chat tersebut.


"Ish … santuy aja, Dek. Ni gue punya AC portable yang ngikut ke mana-mana," kata Egidia sambil menggoda Bimo yang kini bibirnya mengerucut karena diberi gelar 'AC portable' oleh Egidia.


Melihat hal tersebut, Egi pun lalu merauk wajah Bimo dan berkata, "sok imut banget sih lo, curut."


"Ahaha … Kak Egi sama Kak Bim ni lucu ya," celetuk Charemon sambil membagikan minuman yang ia bawa. Celetukannya ini akhirnya membuat Egidia dan Bimo saling lirik lalu terkekeh bersama. Mereka berdua memang sering bercanda sesukanya. Walaupun begitu, candaannya tak pernah menimbulkan amarah diantara keduanya


Amber meraih dua minuman lalu memberikan salah satunya kepada Gian yang duduk tepat di sampingnya. Dinginnya es sirup yang Charemon buatkan bak kesegaran yang turun dari surga bagi mereka berlima. Ya, siang ini memang cukup terik.


Bimo yang akhirnya kelelahan karena terus mengipasi Egidia pun memilih untuk membiarkan tubuhnya tergoler di lantai sambil berkata, "penat banget nggak sih akhir-akhir ini? Tugas banyak, udah gitu ketemu para cecunguk yang bikin kezel waktu itu. Hamba butuh refreshing, ya Lord."


"Ish! Refreshing ya tinggal refreshing aja. Ngapain pake bawa-bawa nama Tuhan," Egidia berkata sambil menggelitik pinggang Bimo dengan ujung jari kakinya yang masih mengenakan kaos kaki bermotif polkadot itu.


"Iyuuuh … Kaos kaki jijique!" celetuk Bimo yang kemudian malah memicu Egidia semakin menjadi-jadi menempel-nempelkan kakinya di banyak bagian tubuh Bimo. Hal itu sontak membuat semua kembali terbahak.


"Besok kan weekend tuh, Kak Bim. Main lah sana," kata Amber yang masih asik dengan es sirupnya.


Mendengar kata-kata Amber, Bimo langsung bangkit dan duduk bersila, "gimana kalau kita main sama-sama besok? Lo pada belum ada rencana apa-apa, kan kan kan?"


"Gue nggak ada," jawab Egidia dengan cepat. Nampaknya ia cukup antusias dengan usulan yang diberikan oleh Bimo.


"Gue juga nggak ada, Kak," jawab Charemon tak kalah antusias.


Amber hanya menjawab dengan gelengan kepala, pertanda bahwa ia juga belum ada rencana apa-apa untuk menghabiskan akhir pekannya. Satu hal yang pasti, ia memang merasa penat akhir-akhir ini karena masalah teror yang disebabkan oleh Rara dan teman-temannya.


Gian yang sedari tadi diam saja, akhirnya menjawab, "iya, gue juga free kok."


Satu hal yang mereka semua tidak tahu adalah kenyataannya tak seperti itu. Sebenarnya Gian sudah ada jadwal latihan bersama dengan pelatih kick boxingnya. Hanya saja, saat mengetahui bahwa sepertinya Amber akan ikut serta dalam rencana Bimo, akhirnya Gian lebih memilih untuk membatalkan saja jadwal latihannya.


"Enaknya ngapain ya?" Egidia berpikir.


"Nginep di villa Ayah mau?" Gian tiba-tiba menyeletuk dengan santainya.


Jantung Amber yang akhir-akhir ini sering berlaku sesukanya sendiri terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Gian kembali berulah. Degupnya menjadi kencang mendengar tawaran Gian untuk menginap di villa milik ayahnya.


"Nginep?" kata hatinya ini malah membuat Amber malu sediri dan salah tingkah. Membayangkan menghabiskan waktu selama itu bersama Gian membuat Amber merasa gugup.


Sedangkan Gian, ia sama sekali tak ada pikiran macam-macam. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Amber dan teman-temannya sembari melepas kepenatan. Selain itu, ia juga berpikir bahwa Amber mungkin akan menyukai pemandangan laut yang bisa dilihat langsung dari villa tersebut.


"Wah … boleh tuh, udah lama kita nggak ke sana," kata Egidia yang disambut dengan anggukan Bimo. Nampaknya mereka berdua sudah pernah ke sana sebelumnya.


"Kak Egi pernah ke sana?" tanya Charemon dengan mata yang berbinar-binar. Diam-diam, dirinya juga merasa butuh sesuatu untuk menyegarkan kembali pikirannya yang akhir-akhir ini penuh akan berbagai masalah.


"Pernah, Dek. Asik lho di sana deket laut," jawab Egidia sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Aaaaa … aku mauk! Yuk yuk yuk besok." Rengekan Charemon membuat Egidia terkekeh gemas dan mencubit pipinya.


"Dasar, dedek emesh," katanya.


"Kamu mau kan ikut?" tanya Gian kepada Amber. Gian tahu sedari tadi Amber belum benar-benar menanggapi tawarannya. Ia khawatir kalau Amber tak setuju.


"Mmm … Pengen sih. Tapi nanti aku coba minta ijin sama Ayah dulu boleh apa nggak," jawab Amber yang memang selalu meminta ijin kepada Tarachandra dalam hal semacam ini.


"Ayolah ikut aja. It's gonna be fun. Nanti pas pulang biar aku sekalian mintain ijin sama Om Tara, pasti boleh," kata Gian sambil tersenyum pada Amber.


Hari ini Amber memang tak membawa mobilnya seperti biasa. Kemarin malam Gian menawarkan untuk menjemputnya dan Amber pun setuju.


"Okay," jawab Amber sambil membalas senyuman Gian. Menurutnya, Gian bersikap sebagai seorang gentleman dengan berniat untuk meminta ijin langsung kepada ayahnya.


"Cieee … yang udah aku kamu aku kamu," Bimo yang memang suka menyeletuk sesukanya, menggoda Amber dan Gian dengan mulut yang dimonyong-monyongkan.


Sebelum tingkahnya semakin menjadi, Egidia dengan cepat mengunci kepala Bimo dengan lengannya, lalu membungkam mulutnya dengan tangan satunya.


"Diem aja nape sih lu! Bolehnye sirik! Dasar, toa pengumuman RT RW!" kata Egidia.


Kembali, tingkah laku keduanya yang bak kucing dan tikus itu mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana.