
Melukis bukanlah hal yang baru bagi Amber. Walaupun ia lebih suka dan mahir menggambar sketsa hitam putih, bukan berarti ia tak bisa melukis. Bukan berarti pula lukisan Amber tidaklah bagus.
Tarachandra tentu adalah orang pertama yang menjadi panutan serta guru bagi Amber dalam hal melukis. Ia yang pertama kali mengajarkan teknik-teknik dasar melukis kepada Amber, hingga seiring berjalannya waktu, Amber mulai mampu untuk menemukan sendiri cara melukis, tipe gambar dan lukisan seperti apa yang lebih sesuai dengan hati dan jiwanya. Semua itu sudah ia alami bahkan sebelum ia menyandang status sebagai mahasiswa.
Hasil sketsa beraliran realis yang Amber buat patut diacungi jempol. Saat ia masih berstatus sebagai pelajar pun sketsa-sketsa itu sudah membuatnya berhasil menyabet beberapa piala dari berbagai kompetisi menggambar.
"Suatu saat aku akan menjadi pelukis besar tanpa harus bernaung dulu di bawah nama Ayah."
Itulah yang selalu Amber katakan kepada dirinya sendiri. Itu jugalah yang menjadi alasan mengapa Amber tak sembarangan memperkenalkan Tarachandra sebagai ayahnya kepada orang-orang di sekitarnya. Ia ingin berusaha semaksimal mungkin terlebih dulu supaya suatu saat namanya akan lebih dulu dikenal lewat karyanya, bukan lewat nama sang ayah.
Menimba ilmu di jurusan seni murni juga merupakan salah satu cara Amber untuk bisa keluar dari zona nyamannya. Ia ingin mendapatkan pengetahuan serta mengasah lagi kemampuannya dalam bidang seni lukis supaya bisa menjadi lebih dari yang sudah ada dan tidak hanya berkutat pada dunia sketsa yang sudah ia kuasai sejak lama.
Layaknya orang dengan kemampuan di bidang seni lukis, Amber pun bisa melukis kapanpun dan di manapun. Hanya saja, lukisannya selalu terkesan lebih hidup saat ia melukisnya dalam suasana hati yang penuh dengan perasaan, seperti sekarang ini.
Tentu, peristiwa yang menimpanya kala itu belum bisa ia lupakan begitu saja. Hanya saja, Amber lebih terbiasa untuk tidak menyimpan perasaan negatif terlalu lama karena itu hanya akan berakibat buruk pada hari-harinya, juga kondisi mentalnya.
"Kita sendiri yang bisa memilah mana yang harus kita rasain dan pikirin, mana yang nggak. Inget itu ya, Amber sayang." Inilah pesan yang sering Ria sampaikan kepada Amber selama ini, dan itu jugalah yang membuatnya mampu melewati masa-masa remaja dengan baik tanpa sering berlarut dalam kegalauan seperti teman-teman sebayanya.
Saat ini, Amber masih penasaran akan siapa yang tega mengunci dan menyiramnya hingga basah kuyub di toilet. Hanya saja, Amber lebih memilih untuk tak melulu memikirkan hal itu. Terlebih ada banyak tugas yang harus ia selesaikan. Pikiran dan perasaannya pun kini justru lebih banyak tertuju kepada Gian.
***
Amber sudah meminta ijin kepada Tarachandra untuk menggunakan studio kecil yang ada di halaman belakang rumah selama beberapa hari ini untuk menyelesaikan tugasnya. Semenjak Amber mulai intens mengeksplorasi bakat melukisnya lebih dalam lagi, Tarachandra mengijinkannya untuk juga menggunakan ruang tersebut beserta semua peralatan yang ada di sana kapanpun Amber mau.
Amber adalah tipe pelukis yang bisa berkarya dengan lebih baik saat ia sendirian. Karena hal itulah, Tarachandra paham untuk tak mengganggu waktu Amber saat ia sedang berada di studio. Ia juga tak akan memberikan pendapat atau koreksi jika karya yang sedang Amber kerjakan belum selesai atau jika Amber terlihat enggan untuk membahasnya. Ia cenderung memberikan Amber ruang untuk mengeksplorasi bakatnya sendiri. Begitulah biasanya seorang seniman yang berkarakter terlahir.
Setiap kali melukis, Amber selalu menggunakan kaos berwarna putih yang masih bagus namun sudah tak lagi polos karena terkena cat di sana-sini. Tak lupa ia mengucir rambut hitam lurusnya supaya tak mengganggu konsentrasinya.
Sketsa seorang anak laki-laki berbaju merah dan celana pendek biru yang sedang berjongkok di hadapan sebuah lapak penjual jeruk sudah selesai Amber buat di atas sebuah kanvas berukuran sedang. Ekspresi wajah anak itu yang begitu polos membuat Amber memilihnya sebagai objek dibandingkan dengan yang lain yang juga sudah ia tangkap di dalam foto-foto hasil hunting kala itu.
Amber kini akan melanjutkan ke proses pewarnaan. Dengan pelan dan teliti, Amber memoleskan setiap warna yang sudah ia tuangkan ke atas palet mengikuti alur sketsa yang sudah ia buat. Seiring setiap goresan kuas yang beradu dengan permukaan kanvas, wajah Gian terus saja muncul mengundang degup jantungnya untuk melaju dengan lebih cepat.
Amber memang belum pernah memiliki kekasih sebelumnya. Walaupun begitu, ini tak berarti bahwa ia sama sekali belum pernah merasa tertarik kepada lawan jenisnya. Ia pernah mengalaminya. Hanya saja, ia belum pernah membiarkan rasa itu tumbuh lebih dari sekedar sebuah ketertarikan.
"Perasaan ini datang lagi tanpa permisi setiap kali aku inget sama Gian," Amber bergumam.
Sejenak tangan Amber berhenti memulaskan warna kepada lukisannya. Ia menggengam kuas di tangannya lebih erat ketika ingat Gian pernah menggenggam erat tangan itu.
Setelahnya, tangannya kembali bergerak menambahkan warna-warni cat ke dalam lukisan itu dengan lebih berirama. Sensasi yang ia rasakan di dalam hatinya kali ini seolah menyalurkan kehidupan ke dalam lukisan realis yang sedang ia kerjakan.
"Aku tau rasa ini …" ia terus saja bergumam, namun tak mengusik apa yang sedang ia kerjakan. Sebaliknya, perasaan yang ia rasakan saat ini membawanya mampu untuk mengerjakan lukisannya dengan lebih baik.
Mungkin Amber tak menyadarinya. Kenyataan bahwa Gian adalah seseorang yang sudah dikenal oleh ayahnya, terlebih lagi ayahnya juga bersahabat dengan ayah Gian telah membuka celah di hati Amber supaya perasaan yang ia rasakan bisa sedikit demi sedikit menyusup masuk dan seperti berkata, "Gian bukanlah orang asing yang harus terus-menerus kamu waspadai. Put your guard down, Amber. Put it down."
Benteng yang selama ini menutupi hati Amber, menjauhkannya dari perasaan suka kepada lawan jenisnya, perlahan mulai runtuh. Pelan namun pasti, setiap batu yang melekat erat di dinding benteng itu jatuh satu per satu dan hilang.
"Boleh kah seperti ini? Sungguh kah tak apa-apa?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Aku ama Zefanya udah berakhir." Kata-kata Gian tersebut tengiang-ngiang terus di dalam kepala Amber.
Wajah Gian yang sangat dekat dengan wajahnya pun ikut muncul dalam ingatan. Kali ini Amber tak bisa mengelak lagi. Wajahnya memerah. Ia duduk terdiam dan tak lagi memoleskan warna-warni indah pada lukisan realisnya.
"Ini sudah sekian hari sejak saat itu. Kenapa masih juga inget? Sukakah aku sama Gian?"
Deg … deg … deg …
Irama jantung Amber menyepat sekian kali. Ini pertama kalinya ia tak mampu menahan perasaannya, tak mampu menolak rasa sukanya pada seseorang. Hatinya tak mau menuruti perintahnya untuk berhenti.
Kedekatannya dengan Gian yang tak sengaja terjalin sejak awal, Gian yang terus saja mendekat padahal ia tak mengacuhkannya, hingga sifat baik dan protektif Gian padanya meruntuhkan tembok besar yang mengelilingi hatinya. Satu persatu batu di tembok itu jatuh semakin cepat. Di balik sana, ada hati yang menyebut nama Gian. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya, Amber jatuh hati.