
"Gian … Gian!" Egidia sedikit berlari sambil memanggil sahabatnya yang sudah menjauh itu.
Gian pun berhenti lalu menoleh ke belakang. Dilihatnya Egidia yang nampaknya sedari tadi berusaha mengejarnya.
"Ngobrol bentar yuk," ajaknya.
"Ogah. Pengen balik gue," Gian menolak.
"Ya udah lo anterin gue balik sekalian aja," Egidia tak semudah itu menyerah.
"Ih, maksa banget sih lo," Gian pun kembali melangkah tanpa menolak permintaan Egidia.
Egidia pun tersenyum dan melangkah bersama Gian. Ia lalu mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Bimo.
Bim, gue balik bareng Gian. Lo nggak usah nyariin.
"Lo mau ngobrol apaan sih?" tanya Gian setelah ia dan Egidia masuk ke dalam mobilnya.
Gian sudah hapal betul dengan tabiat sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Egidia ikut pulang bersamanya tak sekedar butuh tumpangan semata.
"Tau aja lo," Egidia menimpali ucapan Gian sembari terkekeh.
"Ngobrol apa lo sama Amber tadi?" lanjutnya.
Gian tak langsung menjawab pertanyaan Egidia. Ia sebenarnya merasa malas untuk membahas hal tersebut karena ia sendiri masih merasa kesal karenanya.
"Tadi waktu gue baru ngobrol ama temen gue Amber nyamperin terus nanya lo di mana. Ya gue kasih tau aja kalau lo ada di kantin 1. Dia keliatan lain tadi. Udah gitu tadi gue liat kalian dari jauh kaya marah-marah gitu. Makanya gue nanya barusan sama lo, kalian tadi ngobrolin apaan emangnya," Egidia mencoba menjelaskan kepada Gian.
"Kesel banget gue tadi," Gian akhirnya mulai bercerita sambil tetap mencoba fokus pada mobil yang sedang ia kendarai.
"Lo kan tau beberapa hari ini gue ada acara manggung di luar kota. Gue juga baru tadi ke kampus lagi. Dia dateng-dateng marah-marah nuduh gue," Gian bercerita dengan nada kesal.
"Hah? Nuduh lo apaan?" Egidia bingung mendengarkan cerita Gian.
"Dia nuduh gue udah masukin kertas sama sampah ke loker dia. Gila apa? Ngapain coba juga gue ngelakuin hal kaya gitu? Kaya gue nggak ada nama untuk dijaga aja,"
"Bentar … bentar. Kertas dan sampah?" Egidia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Gian.
"Iya. Dia bilang kemaren ada yang masukin potongan-potongan kertas ke loker dia. Hari ini sampah yang dimasukin ke sana," jelas Gian.
"Ya ampun. Kok bisa gitu?" kata Egidia yang kaget mendengar penjelasan dari Gian.
"Mana gue tau. Dia tadi dateng-dateng nuduh gue sambil marah-marah. Ya kesel lah gue," ujar Gian.
"Kayanya gue tau deh kenapa Amber sampe nuduh lo gitu," Egidia terlihat seolah ia ingat akan sesuatu.
"Lah, tapi kan gue udah agak lama nggak ngusilin dia? Lagian nggak setiap saat juga kali gue isengnya. Gue kalau iseng tuh langsung ke dia, ga maen belakang kaya gitu. Cemen."
"Salah lo sendiri. Kenapa sejak awal ngusilin anak orang gitu?"
Egidia memang sudah menaruh curiga akan keusilah sahabatnya itu. Namun, ia tetap tak sepenuhnya mengerti kenapa Gian selalu tersulut untuk usil setiap kali ia bertemu dengan Amber.
"Nggak tau juga gue. Awalnya gue kesel waktu itu mau parkirin Si Item eh spot kesayangan gue udah dipake sama dia. Udah gitu hampir aja gue kena masalah pas inisiasi gara-gara bantuin dia yang telat dateng. Lama-lama gue jadi keterusan. Tiap liat dia pengen usil. Apalagi kalau liat muka dia yang was-was tiap kali ketemu gue."
Gian cengengesan sendiri saat menceritakan itu kepada Egidia. Hal itu membuat Egidia semakin curiga. Entah kenapa, ia semakin yakin kalau dugaannya selama ini memang benar.
"Bukannya lo biasanya risih kalau dideketin sama cewek, apalagi yang lo belum kenal?"
Egidia kembali bertanya. Ia ingin mencari tahu lebih dalam lagi akan kebenaran dari dugaan yang sudah ada di kepalanya sejak saat Gian mengajaknya mencari tahu keberadaan kelompok inisiasi Amber hanya demi mengetahui namanya.
"Entahlah. Amber beda, Gi. Dia nggak kaya yang lain. Dia nggak ngedeketin gue malah sebenernya. Jadi gue nggak ngerasa risih," jawabnya sambil tersenyum.
"Beda gimana?" Egidia terus memburu Gian dengan pertanyaan.
"Lo kan tau sendiri gimana cewek-cewek pada heboh kalau ketemu gue. Bahkan ada yang tengil kepedean deketin gue. Gue nggak ngomongin soal fisik ini ya. Gue juga sama sekali nggak sok-sokan karna kebetulan gue terkenal. Gue ngomongin soal tingkah mereka yang malah bikin gue ilfeel dan risih. Amber nggak kaya gitu, Gi. Lo liat sendiri, kan? Dia kaya males banget kalau ada gue," Gian kembali tertawa, lupa akan kesalnya tadi.
Egidia paham betul, tak mudah untuk menjadi Gian. Di pundaknya ada nama besar sang ayah, juga namanya sendiri yang semakin hari seolah semakin melejit karena prestasi yang berhasil ia ukir sendiri.
Sering kali ia tak bisa bebas menjalani hari-harinya. Bahkan saat ia sudah menyandang status sebagai mahasiswa pun ia tidak bisa sepenuhnya menikmati masa studinya dengan tenang dan menyenangkan layaknya mahasiswa lain.
Ke mana pun ia pergi, selalu ada orang yang minta bersalaman, berfoto, bahkan meminta tanda tangannya. Belum lagi jika ia harus berhadapan para gadis yang tergila-gila dengan paras tampannya atau para pria yang mencoba untuk dekat dengannya hanya demi menyandang gelar sebagai teman Giandra Putra Adipramana.
Semua itu sungguh membuatnya jengah. Karena itu juga lah, Gian saat ini lebih memilih untuk membatasi diri. Beruntung ia juga memiliki teman dekat seperti Egidia dan Bimo yang paham akan situasinya dan siap membantunya di saat yang diperlukan.
"Ya, omongan lo emang ada benernya sih, Gian."
Di dalam hatinya, Egidia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari ini. Ia ingin bertanya mungkinkah sebenarnya Gian tertarik pada Amber.
Hanya saja, Egidia seolah membaca bahwa Gian masih belum sampai di sana. Kalaupun sudah, ia belum menyadari hal itu.
Karena itulah, Egidia lebih memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat supaya pertanyaan semacam itu tak keluar dari sana. Saat ini, ia lebih memilih untuk mengamati terlebih dahulu tanpa terlalu turut campur terlalu jauh.
Satu hal yang pasti, Egidia merasa tenang saat ini. Sejak berpisah dengan Fanya, Gian enggan berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan percintaan. Ia sangat enggan bahkan hingga merasa sangat risih jika ada gadis yang mencoba mendekatinya.
Saat Gian tiba-tiba secara tak sengaja bertemu dengan Amber, Egidia mulai melihat warna lain di hari-hari sahabat baiknya itu. Ia pun mulai sering melihat Gian lebih ceria, terutama saat ia usil kepada Amber.
Walaupun kadang Egidia khawatir jika keusilan Gian akan berujung pada suatu masalah, seperti saat masalah yang saat ini terjadi contohnya, ia yakin kalau itu bukanlah keusilan biasa. Jika Gian yang tadinya enggan jika ada gadis yang mendekatinya, kini malah bisa usil pada Amber. Ia bahkan tak menolak saat Amber ajak bicara empat mata tadi. Bukankah ini menandakan sesuatu?