AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 66 - Kesiangan!



"Kak Gian care banget ya sama lo," Charemon mencoba memancing obrolan dengan suara yang sudah sedikit serak, pertanda ia mulai mengantuk.


Ia dan Amber sudah merebahkan diri di kasur masing-masing dan bersiap untuk tidur di kamar Charemon yang mungil namun tertata dengan rapi dan cantik. Tempat tidur yang ada di kamar tersebut adalah sebuah spring bed dengan dua kasur yang tertumpuk. Salah satu kasurnya ada di bagian bawah dan bisa ditarik atau disembunyikan lagi sesuai kebutuhan.


Setiap kali Amber menginap di sana, ia lebih memilih untuk tidur di kasur yang ada di bawah. Bukan semata-mata karena ia menghormati Charemon sebagai pemilik rumah, namun juga karena ia terkadang bergerak sesukanya saat sedang tertidur. Jika Charemon yang tidur di kasur bawah, Amber khawatir kalau-kalau ia tak sengaja jatuh menimpa sahabatnya itu, mengingat ukuran kasur yang cukup kecil.


"Iya kah?" gumam Amber pelan.


"Hoahm … Dia kan yang paling khawatir juga waktu tau soal rekaman ancaman itu," jawab Charemon sembari menguap.


"Iya kah?" Amber masih menjawab dengan gumaman pelan sambil menatap ke langit-langit kamar.


"Hmmm," kali ini, terdengar Charemon sudah benar-benar mengantuk.


Sementara Amber, masih belum bisa terlelap. Harusnya, jika ia ingin bisa terlelap, tubuh dan pikirannya haruslah rileks. Tapi ini tidak Pikirannya jauh tertuju pada Gian dan itu memacu detak jantungnya.


"Terus aku harus gimana dong, Mon?" tanya Amber pelan.


Tak terdengar jawaban dari Charemon. Pelan-pelan Amber bangkit. Dilihatnya Charemon yang ternyata sudah berada di alam mimpi. Mungkin ia kelelahan.


Amber hanya menghela napas pelan.Ia lalu meraih ponselnya.


"Hah?! Udah jam segini?" batinnya saat melihat jam di ponsel sudah menunjukkan angka 00:12.


"Kalau nggak buru-buru tidur kamu bisa kesiangan besok, Ambeeeer," kata hatinya pada dirinya sendiri.


Ia pun kembali merebahkan diri di atas kasur dan memejamkan kedua matanya. Sayangnya, semakin ia memejamkan mata, semakin gambaran Gian muncul dalam pikirannya. Ia bahkan merasakan lagi sensasi menggelitik pada tangan kanannya yang tadi tiba-tiba digenggam oleh Gian entah karena alasan apa.


"Sudah gila kamu, Amber!" ucapnya dalam hati.


Malam ini terasa begitu panjang bagi Amber yang terus saja berusaha keras untuk bisa terlelap.


***


"Amber! Kok lo masih belom bangun juga sih?! Gue udah kelar mandi sama dandan tauk," Charemon yang akhirnya merasa gemas pun menepuk keras bokong Amber yang masih tertutup selimut itu.


"Au!" pekik Amber yang merasakan sensasi panas pada bokongnya akibat tepukan Charemon.


"Iya … iya, Moooon. Aku bangun nih. Baru juga jam berapa," kata Amber sambil duduk namun masih dengan mata yang terpejam. Rambutnya pun masih acak-acakan.


"Jam berapa gimana?! Kita mau dijemput jam 5 ya. Sekarang udah jam 5 kurang 20 menit tauk!" jawab Charemon.


Ia duduk di depan meja rias mungil, menyisir rambutnya lalu menyemprotkan parfum beraroma bunga yang lembut. Cocok sekali dengan penampilan Charemon yang manis dengan rambut panjangnya.


"Yaaah! Kok kamu nggak bangunin aku sih, Mooon!" protes Amber yang langsung sibuk mencari-cari peralatan mandinya, lalu berlari ke lantai 1 untuk segera mandi.


Berbeda dengan gadis lain, Amber tak pernah menghabiskan waktu lama di kamar mandi. Walaupun begitu, ia merasa bahwa waktu 20 menit tidaklah cukup untuk mandi dan bersiap dengan benar. Bagaimanapun, Amber ingin terlihat sempurna dihadapan Gian.


Mau bagaimana lagi. Amber kini hanya bisa mandi sekenanya dan cepat-cepat berganti pakaian. Karena ini bukanlah acara resmi dan karena perjalanan yang akan mereka tempuh cukuplah jauh, Amber memilih untuk mengenakan celana pendek berwarna cokelat muda dan kaos putih yang nantinya akan ia padukan dengan sneakers berwarna merah menyala dan juga bucket hat.


Walaupun sudah berusaha bergegas, tetap saja, waktu yang tersisa tak banyak. Untung saja, Amber bukanlah tipe gadis yang tak bisa keluar jika tidak menggunakan makeup. Justru, ia memang tak pernah merasa nyaman jika harus mengaplikasikan makeup di wajahnya setiap hari. Jadilah, kali ini pun ia juga hanya menggunakan produk skin care yang sudah menjadi bagian dan rutinitasnya sebelum beraktifitas.


Tak lama setelah Amber selesai bersiap, mobil Gian pun datang. Amber dan Charemon pun bergegas supaya mereka tak berangkat kesiangan.


"Kakak, tunggu dulu!" Ibu Charemon memanggil dengan sebutan yang biasa ia gunakan untuk memangil anak sulungnya tersebut.


"Apa, Ma?" tanya Charemon pada ibunya.


"Nih dibawa. Kalian kan belum sarapan. Ada sandwich sama kastengel. Mama bikin banyak buat kalian," ujar ibu Charemon.


"Makasih, Ma. Kami berangkat ya," Charemon menjawab sembari memberikan kecupan di pipi sang ibu. Ia lalu bergegas menyusul Amber yang sudah duluan menyapa Gian, Bimo dan Egidia di mobil.


Terlihat Bimo duduk di balik kemudi dan Egidia ada di sebelahnya. Sedangkan Gian, Amber dan Charemon duduk di bagian kabin penumpang dengan Gian di sebelah kanan,Amber di tengah, dan Charemon di kiri. Untung saja interior mobil Gian cukuplah luas sehingga mereka bertiga bisa duduk dengan nyaman.


"Muka lo kenapa ditutupin pake topi gitu, Dek?" tanya Egidia yang heran mengapa Amber sedikit menurunkan topinya sehingga matanya tak terlihat dengan jelas. Selain itu, sebagian rambutnya juga ia majukan.


"Sssttt …" dengan singkat Amber menyuruh Charemon untuk menghentikan cerita yang membuatnya merasa malu itu.


Gian yang penasaran pada 'mata panda' Amber pun berkata, "mana sini liat."


Ia meraih wajah Amber dengan kedua tangannya yang sontak membuat Amber kaget dan langsung melepaskan tangannya yang membungkam mulut Charemon. Gian lalu menyelipkan rambut Amber ke telinganya supaya ia bisa menatap wajah gadis pujaannya itu.


"Nggak terlalu panda kok," kata Gian.


Seketika, wajah Amber kembali terasa memanas. Ia tersipu karena Gian menatapnya lekat dengan sangat dekat. Tiba-tiba …


Kruuuuuuuk! Suara perut Amber yang cukup keras memecah keheningan di dalam mobil yang sudah melaju dengan kecepatan sedang itu.


Hal tersebut tentu sontak membuat semua terbahak. Sedangkan Amber cepat-cepat membenamkan wajahnya kembali di balik bucket hat merah yang ia kenakan.


"Kamu laper ya?" tanya Gian sambil masih terkekeh.


"Hmm," Amber hanya menjawab dengan singkat saking malunya.


"Mampir cari sarapan dulu aap, Bim?" kata Gian kepada Bimo yang memegang kemudi.


"Eh … eh … Ngaak usah, Kak. Tadi Mama udah bikinin sandwich banyak nih. Aku jamin sandwich bikinan Mama rasanya ciamik," ujar Charemon sambil mengeluarkan container plastik yang tadi ibunya bawakan.


Lima buah sandwich berbentuk segitiga berjajar dengan cantik di dalam sana. Perpaduan antara daging asap, selada, tomat, keju, mayonaise rumahan, serta saus tomat menciptakan aroma yang menggugah selera.


Masing-masing dari mereka pun dengan senang hati melahap sandwich tersebut yang ternyata memang sangat lezat. Bimo yang sedang menyetir pun disuapi oleh Egidia yang duduk di sampingnya supaya bisa merasakan kelezatan yang sama.


Setelah selesai sarapan di dalam mobil yang terus melaju, mereka semua pun larut dalam obrolan dan candaan. Semua orang cukup riuh, kecuali Amber yang terlihat berusaha keras menahan kantuknya yang semakin menjadi-jadi setelah perutnya kenyang terisi.


Gian yang menyadari hal itu pun lalu meraih sesuatu dari kursi belakang yang sedikit penuh dengan barang bawaan. Ternyata ia mengambil sebuah neck pillow yang kemudian ia berikan kepada Amber.


"Tidur aja. Perlajanannya masih jauh," katanya dengan penuh perhatian.


"Iya deh. Ngantuuuuuk," kata Amber sambil mengenakan neck pillow yang Gian berikan lalu mengatur posisi bersandar supaya ia bisa tidur dengan nyaman.


Tak butuh waktu lama, Amber pun terlelap. Amber memanglah orang yang bisa tidur di mana saja tanpa terganggu dengan hal yang ada di sekitarnya. Terlebih lagi, saat ini ia memang merasa sangat mengantuk setelah semalam ia baru berhasil tidur sekitar jam 3 dini hari.


"Psstt … Kak Gian," panggil Charemon dengan suara setengah bebisik, takut kalau Amber mendengarnya.


"Apaan?" kata Gian yang menoleh ke arah Charemon.


"Ati-ati. Amber kalau tidur rusuh," kata Charemon sambil terkekeh pelan.


"Iya kah?" tanya Gian tak percaya.


"Liat aja nanti," Charemon menjawab, lalu menutupi mulutnya dengan tangan karena ia terus saja terkekeh.


Tak berselang lama, Amber terlihat semakin lelap dalam tidurnya, padahal suasana di dalam mobil juga cukup riuh dengan obrolan Gian bersama yang lain. Sesekali Amber tampak menggeser posisi tidurnya tanpa membuka matanya sama sekali.


"She really sleeps like a log," kata Gian di dalam hati.


Posisi Amber yang tadinya miring menghadap ke arah Charemon tiba-tiba berbalik ke arah Gian. Parahnya, Amber tanpa sadar memeluk Gian seolah dia adalah guling yang bisa membuatnya tidur semakin nyaman.


Charemon yang akhirnya puas karena apa yang ia ucapkan tadi hanya bisa terkekeh sambil menatap ke arah Gian yang nampak kikuk. Ia lalu menepuk pelan pundak Egidia supaya ia juga menyaksikan hal yang sungguh lucu itu. Egidia yang ikutan terkekeh kecil pun malah mengeluarkan kameranya dan mengabadikan momen tersebut. Wajah Gian nampak mengerat kesal di dalam foto yang baru sama Egidia ambil.


"Apa-apaan kamu, Amber," batin Gian yang kini jantungnya berdebar sangat kencang. Di satu sisi ia merasa senang mendapatkan pelukan dari Amber. Di sisi lain ia sungguh merasa kikuk karena Amber tak sadar melakukan ini.


Gian bergerak pelan, berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Amber, namun tak berhasil. Sedangkan Amber yang seolah merasa terusik malah semakin mengeratkan pelukannya. Jauh di alam bawah sadarnya, aroma tubuh Gian seolah memberikan kenyamanan yang membuatnya semakin lelap.


"Bim, kayaknya gue nggak bisa gantiin lo nyetir deh," ucap Gian yang akhirnya membuat Bimo berdehem pelan menggodanya.


Gian hanya bisa diam menerima godaan Bimo. Ia lalu menatap wajah manis Amber yang nampak begitu damai dalam tidurnya dan berkata dalam hatinya, "Tanggung jawab! Kamu udah bikin aku benar-benar gila."