
Amber membuka matanya. Di lihatnya hanya ada Egidia di sana. Mungkin, Charemon sudah lebih dulu terbangun dan turun ke bawah. Gadis itu memang terbiasa bangun pagi.
Sebelum turun ke bawah, Amber menyempatkan diri untuk keluar ke area balkon. Cerahnya pagi ini menyajikan pemandangan laut yang sungguh luar biasa. Semuanya semakin terasa sempurna dengan kehadiran udara segar yang Amber hirup dalam-dalam untuk mengembalikan kesadarannya seutuhnya setelah bangun tidur.
Ia lalu bergegas ke lantai satu. Dilihatnya Charemon sudah sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Yang lain masih belum nampak batang hidungnya.
"Pagi, Mooon," sapa Amber sambil melingkarkan lengannya di lengan Charemon.
"Ih … Sono-sono. Kena wajan panas baru rasa lo," bukannya membalas sapaan Amber, Charemon malah memintanya menyingkir. Hal itu membuat Amber cemberut.
Charemon melirik pada sahabatnya yang bibirnya masih mengerucut itu. "Udah nggak usah cemberut. Nih cobain," kata Charemon sambil menjejalkan sepotong pancake yang masih hangat ke dalam mulut Amber. "Enak nggak?"
Amber mengunyahnya sambil tersenyum, "hehehe … Enak." Bagi Amber, tak ada yang lebih membahagiakan dari pada makanan enak yang mampu meredam riuh di perutnya saat bangun tidur.
"Tumben semalem tidur lo anteng? Pules banget juga," Charemon yang selalu perhatian pada sahabatnya itu penasaran.
Amber hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan Charemon dengan kata-kata. Ia malah sibuk mengambil piring lalu mengisi piring tersebut dengan beberapa buah pancake yang sudah selesai Charemon buat. Setelahnya, ia duduk di meja makan.
"Pake ini nih biar tambah enak," Charemon menuangkan sedikit madu ke atas pancake yang ada di piring Amber.
Amber yang selalu percaya pada kemampuan memasak serta selera makanan Charemon tak memprotes tindakan sahabatnya itu. Amber lalu mulai melahap pancake tersebut. Benar saja, rasanya lebih lezat jika dinikmati dengan madu.
Tak lama kemudian, tampak Gian dan Bimo yang baru saja bangun tidur turun dari lantai atas. "Pacarku udah bangun," Amber tersipu sendiri saat membatin kalimat itu. "Rambut acak-acakan abis bangun tidur gitu kenapa masih aja cakep?" kata Amber lagi di dalam hatinya yang kini berdebar.
Bimo langsung menuju ke area dapur untuk membuat kopi. "Siapa yang mau nitip?" celotehnya.
"Gue mau Kak Bim," sahut Charemon yang masih sibuk dengan pancake yang dimasaknya. Ia juga nampak menyiapkan beberapa buah segar sebagai tambahan menu sarapan.
"Hmm ... Hmm," Amber yang mulutnya masih penuh dengan pancake begumam sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri, pertanda ia juga mau dibuatkan kopi oleh Bimo.
Akhirnya, Bimo memutuskan untuk membuat lima cangkir kopi sekaligus. Ia tahu bahwa Gian dan Egidia juga suka menikmati kopi di pagi hari.
"Ish … ish, bangun tidur langsung ngunyah," kata Gian sambil menepuk lembut kepala Amber. Ia gemas melihat tingkah gadis ini yang selalu terlihat bahagia saat menikmati makanan yang lezat.
Tanpa menanggapi Gian, Amber malah menepuk-nepuk kursi makan yang ada di sebelahnya, menyuruh Gian untuk duduk di situ. Ia lalu memotong pancake dan mencocolkannya pada madu. Setelahnya ia menyodorkan dan menyuapkan pancake tersebut pada Gian dengan menggunakan garpu yang sama dengan yang sedari tadi ia gunakan.
Mungkin Amber tidak melakukannya dengan sengaja namun refleks. Tapi bagi Gian, hal ini terasa manis sekali. Itu membuatnya merasa semakin dekat dengan Amber.
"Enak kan bikinan Momon?" tanya Amber sambil melihat wajah Gian. Ia tersenyum lebar sekali karena akhirnya bertemu lagi dengan Gian. Padahal juga baru semalam mereka berpisah dan yang menjadi pemisah hanyalah kamar masing-masing.
Sungguh, nampaknya Amber sedang benar-benar jatuh cinta. Ia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Cuma gara-gara status yang udah beda rasanya bisa beda banget gini? Kenapa ya seneng banget liat Gian lagi?" gumamnya di dalam hati. Senyumnya semakin merekah.
"Aku ambilin lagi ya? Makan bareng," Amber menawarkan.
Kedekatannya dengan Gian yang sebenarnya sudah terjalin dari sejak awal Amber kuliah membuatnya sudah tak canggung lagi. Semua berjalan begitu saja tanpa perlu dibuat-buat. Amber is just being Amber.
Dia juga sudah cukup dewasa untuk paham seperti apa jika dua orang sudah menjadi sepasang kekasih. Yang ia belum tahu adalah bahwa sensasi yang ia rasakan bisa membuatnya sebahagia ini. Bahkan hanya dengan melihat Gian di awal hari seperti ini saja rasanya hatinya sangat senang.
"Boleh. Aku mau strawberrynya juga," Gian menjawab dengan menunjuk pada sepiring besar buah-buahan segar yang sudah dibersihkan dan dipotong rapi oleh Charemon.
Egidia turun dari lantai atas di saat Amber dan Gian sedang menikmati sepiring pancake berdua. Tangga yang memang berhadapan dengan meja makan membuat pandangannya tertuju kepada dua sejoli itu dan langsung menaruh curiga.
Egidia pun lalu ikut duduk di meja makan dan tiba-tiba berdehem, "kayaknya kita kekurangan piring nih."
Celetukannya itu tentu saja membuat Charemon dan Bimo yang tadinya masih fokus dengan kegiatan masing-masing langsung menoleh ke arah Egidia untuk mencari tahu maksud dari ucapannya barusan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk akhirnya menyadari bahwa Amber dan Gian sedang makan sepiring berdua.
Bimo berjalan menuju ke meja makan sambil membawa nampan berisi lima cangkir kopi. Ia pun dengan sengaja terbatuk-batuk mengimbangi permainan yang sudah Egidia mulai.
"Yaaaah … Harusnya tadi gue bikin empat aja ya kopinya, biar bisa secangkir berdua juga," ia pura-pura menunjukkan wajah kecewa sembari ikut duduk di sana.
Charemon yang sejak celetukan Egidia tadi sudah gemas ingin bergabung di meja makan, cepat-cepat menyelesaikan kegiatan memasaknya. Ia lalu membawa dua piring berisi tumpukan pancake lezat yang siap mengisi kelima perut yang mulai keroncongan, kecuali Amber dan Gian yang sudah makan duluan.
"Sejak kapan?!" Badai Charemon baru saja dimulai, padahal hari masih pagi. Selain Amber dan Gian, bisa jadi saat ini Charemon adalah orang yang paling bahagia atas kebersamaan Amber dan Gian. Bagaimana pun ia adalah pendukung pertama Ambergian Couple.
Gian diam saja sambil tersenyum dengan menyebalkan ke arah Charemon. sedangkan Amber, malah sengaja menggoda sahabatnya itu dengan bertanya sambil memasang tampang polos, "apanya yang sejak kapan, Mon?"
Hal itu tentu saja menyulut Badai Charemon untuk semakin tumbuh membesar. Ia lalu menghampiri Amber lalu mencubit gemas kedua pipinya bersamaan. "Seeejaaak kapaaan Amberley?!"
"Hiiiiih! Jangan cubit-cubit sembarangan," Gian ikut menggoda Charemon dengan menepuk pelan kedua tangannya.
Amber terkekeh pelan melihat kelakuan Gian. Ia lalu memberikan jawaban yang nampaknya masih ditunggu-tunggu oleh Charemon, "semalem, Moooon."
"Hah?! Kok nggak ada yang tau? Kalian begadang ya berdua?! Pantes semalem lo anteng tidurnya," Badai Charemon nampaknya masih belum mau mereda.
"Ahahaha … Udah, Mon. Ayok sarapan dulu. Entar juga cerita sendiri itu Dedek Amber," ucap Egidia yang diam-diam sebenarnya ingin tahu juga bagaimana akhirnya Amber dan Gian bisa bersama.
"Aaaa," Gian membuka mulutnya lebar-lebar, minta disuapi lagi oleh Amber. Tangan kanannya kini menggenggam erat tangan kiri Amber yang sedari tadi berada di atas meja.
"Iyuuuuuh! Cringe moments bakal balik lagi ini, Gi!" Bimo yang paham betul dengan gaya berpacaran Gian yang tak pernah ragu memperlihatkan kedekatannya dengan kekasihnya pun berkata pada Egidia, diikuti oleh gelak tawa Charemon dan Egidia.