
Amber menggandeng manja lengan Tarachandra. Sementara Gian masih larut dalam kagetnya.
"Ayah kok nggak bilang kalau mau ke sini?" tanya Amber pada Tarachandra.
"Kalau bilang pasti kamu nggak jadi ke sini hari ini." Tarachandra paham betul akan sifat putri tercintanya yang jarang ingin terlihat bersama sang ayah saat ia sedang dengan teman-temannya.
"Hehehehe," Amber hanya menanggapi dengan tawa kecil.
"Ayah kenal sama Gian?" lanjutnya.
"Kenal dong. Dia kan anak dari salah satu teman Ayah," jawab Tarachandra.
"Ayah nggak pernah cerita," sungut Amber.
"Jadi Om pindah ke kota ini?" Gian yang akhirnya selesai memproses apa yang terjadi, merasa penasaran akan keberadaan Tarachandra di kota tempat tinggalnya itu.
Terlebih lagi, Gian tadi juga menjemput Amber di sebuah rumah dan itu berarti bahwa Tarachancra memang sudah menetap di sini.
"Iya. Amber minta kuliah di sini jadi Om pindah aja, sekalian nemenin dia. Maaf Om malah belum ngabarin kalian kalau kami sudah pindah ke sini," jawabnya sambil mengusap lembut kepala Amber.
“Nggak papa, Om. Kalau gitu kapan-kapan main ke rumah Ayah, Om. Ayah pasti seneng kalau tau Om ada di sini, kata Gian lagi.
"Boleh. Nanti biar Om yang hubungi ayah kamu," jawab Tarachandra.
"Udah siang lho ini. Kalian udah makan?" lanjutnya sambil menatap ke arah Amber.
"Belum, Yah. Rencananya abis dari sini aku mau ajak Gian makan," jelas Amber.
Dalam hati, Gian merasa sedikit ciut. Kenapa ia malah tak terpikir sebelumnya untuk mengajak Amber makan siang atau mencari info terlebih dahulu tentang tempat makan yang menyajikan hidangan lezat juga suasana yang menarik. Sejak kapan ia lupa caranya berkencan?
"Nggak usah jauh-jauh. Kalau kena macet, kalian malah telat makan siang nanti," saran Tarachandra.
Sejak merawat Amber seorang diri, Tarachandra memang berubah menjadi orang yang lebih perhatian, terutama kepada anak semata wayang yang harus ia jaga dengan baik sesuai wasiat yang diberikan oleh Ayu, istrinya.
"Kalau kata ayah sih, kalian makan di sini aja. Tuh ada cafe di lantai atas," kata Tarachandra sambil menunjuk sebuah plakat nama cafe yang bisa dilihat dari dinding kaca galeri.
"Enak nggak, Yah, makanannya?" tanya Amber.
"Enak kok. Ayah sesekali makan di sana kalau pas kebetulan dateng ke galeri ini atau pas ada janji sama rekan sesama seniman," jelas Tarachandra.
"Ke situ aja nanti mau nggak, Gian?" pinta Amber yang tak pernah meragukan rekomendasi sang Ayah.
"Boleh. Om Tara nggak ikut sekalian aja?" tanya Gian, yang diam-diam berharap supaya ia bisa makan siang berdua saja dengan Amber.
"Nggak, Gian, makasih. Om masih ada perlu sama rekan Om," Tarachandra menolak secara halus.
Tarachandra tahu pasti, momen Amber berdua saja dengan teman lelakinya adalah suatu hal yang sangat langka terjadi. Ia hanya tak ingin Amber sama sekali tak mengalami bagaimana rasanya tertarik dengan lawan jenis di masa mudanya, yang mungkin diakibatkan oleh rasa traumanya akan kepergian sang ibu.
Selain itu, hati Tarachandra juga merasa tenang karena yang bersama Amber adalah Gian, yang tak lain adalah putra dari salah satu sahabatnya, Adipramana. Ia yakin, Gian adalah lelaki baik-baik yang akan menjaga Amber walaupun sebenarnya Tarachandra juga tak ingin terlalu dini menyimpulkan bahwa kebersamaan mereka berdua ini akan berakhir pada sebuah kisah percintaan atau tidak.
"Ya udah. Kalian lanjut lagi lihat lukisannya, terus buruan makan siang. Om mau ke rekan Om lagi. Bye, Sayang. Ketemu lagi di rumah nanti," kata Tarachandra sambil mengecup kepal putrinya.
"Bye, Ayah," kata Amber.
"Okay, Om," Gian pun ikut menyahut. Hatinya merasa senang karena nanti ia bisa makan siang berdua dengan Amber.
Setelah selesai meilhat-lihat semua karya hyper-realist yang ada di galeri, Amber dan Gian pun beranjak ke lantai atas menuju ke cafe yang tadi sudah direkomendasikan oleh Tarachandra. Sekejap melihat tampilannya, Gian sama sekali tak menyesal untuk makan siang di sana bersama Amber.
Kecuali area dapur yang memang terletak di area belakang, seluruh bagian cafe itu ditutupi oleh dinding kaca yang membuat seluruh pengunjung bisa menikmati pemandangan pegunungan di kejauhan. Jika itu masih dirasa belum cukup, masih ada bebapa set kursi dan meja yang sengaja ditata di area balkon sehingga udara segar pun bisa dirasakan langsung dari sana.
"Lo pengen duduk di mana, Amber?" tanya Gian supaya Amber bisa makan siang degan lebih nyaman.
"Di balkon aja yok," jawab Amber dengan cepat.
Hal itu menarik perhatian Gian. Ada cukup banyak gadis yang seringkali berkata 'terserah' jika diberi pilihan seperti barusan. Amber ternyata tidak begitu dan itu adalah nilai plus di mata Gian.
Mereka pun lalu berjalan ke area balkon, diikuti oleh seorang pelayang yang siap memberikan dua buah buku menu kepada mereka berdua. Setelahnya, sang pelayan kembali ke tempatnya semula, memberi waktu dan ruang untuk Amber dan Gian untuk melihat-lihat menu dan menentukan pilihan mereka dengan nyaman.
"Pesen aja yang lo mau, gue yang traktir," kata Gian pada Amber yang duduk tepat di depannya dan hanya terhalang sebuah meja bundar yang ukurannya tak terlalu besar.
"I will," jawab Amber sambil tetap melihat-lihat buku menu yang ia pegang.
Poin plus lain yang Gian lihat dari Amber. Ia tidak basa-basi dan sepertinya tahu apa yang ia mau. Ia pun tidak berpura-pura menjaga imagenya. Hanya karena ia adalah seorang gadis, bukan berarti ia harus menderita menahan lapar saat sedang bersama teman lelaki seperti ini.
Gian pun tersenyum lalu kembali memilih makanan yang akan ia pesan. Setelah keduanya selesai memilih, gian mengangkat satu tangannya, pertanda ia memanggil pelayan untuk mendekat. Ia pun lalu mempersilahkan pelayan untuk mencatat pesanan Amber terlebih dahulu.
"Fruit salad, lasagna beef roll, sama hot lemon tea," kata Amber dengan lugas.
"Crisp platter, classic tenderloin steak, sama iced lemon tea," Gian gantian mengatakan pesanannya setelah Amber.
"Baik, ditunggu sebentar ya, Kak," kata sang pelayan sambil mengambil buku menu milik Amber.
Saat ia hendak mengambil buku menu Gian, Gian pun berkata, "eh bentar, mbak. Sama pesen strawberry ice creamnya satu. Dianternya nanti aja pas kami udah selesai makan biar nggak meleleh." Gian teringat bahwa Amber suka energy bar rasa stroberi. Mungkin ia juga akan menyukai es krim stroberi sebgaai hidangan penutup.
"Baik, Kak. Tambah strawberry ice creamnya satu ya. Mohon tunggu sebentar," kata sang pelayan yang kemudian pergi menyerahkan semua daftar pesanan kepada koki yang bertugas di dapur.
Sejenak suasana hening, tak ada pembicaraan antara Gian dan Amber. Gian pun tiba-tiba teringat tadi pagi ia sempat menanyakan tentang ibu Amber waktu menjemputnya.
Ia juga teringat beberapa tahun yang lalu Tarachandra sempat bertandang ke rumah ayahnya, menceritakan tentang apa yang terjadi antara dia dan Ayu, juga menitipkan pesan supaya ayahnya mengabari Tarachandra siapa tahu suatu saat ia melihat Ayu di suatu tempat.
"Sorry," walau Gian sedikit ragu untuk membicarakan ini, kata maaf meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Kenapa?" Amber yang sedang menyerap indahnya suasana penuh nuansa hijau pegunungan malah heran mendengar maaf dari Gian.
"Tentang ibumu," kata Gian dengan raut wajah menyesal yang tertuju tepat kepada Amber.
Amber sedikit kaget dan langsung mengalihkan pandangannya kepada Gian. Tak pernah terpikir olehnya Gian mengetahui apa yang ia alami, bahkan tanpa ia bercerita terlebih dahulu. Anehnya, seolah tak ada penolakan atau sangkalan dalam diri Amber. Seolah batinnya berkata pada dirinya sendiri, "tak apa, Amber. Tak apa."
"Dont worry. Aku udah baik-baik aja sekarang," kata Amber sambil melemparkan senyuman pada Gian yang masih menatap dalam ke arah kedua bola matanya.
Amber pun lalu kembali menatap pemandangan hutan dan gunung yang terhampar luas dikejauhan. Menghirup dalam-dalam udara segar yang mungkin akan menyegarkan kembali pikirannya yang sedikit terbawa ke masa lalu.
Gian masih menatap wajah gadis manis itu. Ia seolah melihat masih ada luka di sana.
Gian pun teringat kembali akan pengalamannya sendiri, terpaksa berpisah dengan gadis yang pernah sangat ia cintai.
Mungkin itu memang hal yang berbeda. Hanya saja kehilangan adalah satu hal yang selalu meninggalkan luka, entah kecil dan tak berbekas atau besar hingga tak akan pernah bisa sembuh seutuhnya.
Satu keinginan muncul dengan sendirinya di dalam benak Gian. Ia ingin, Amber tak akan mengalami luka yang mendalam lagi seperti yang sudah-sudah. Ia ingin Amber bahagia.