AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 21 - Titisan Sang Legenda



"Charemon?! Duh! Kenapa bisa lupa kalau Momon masih di sana?" batin Amber yang sudah berjalan cukup jauh menuju ke dekat lapangan utama universitas, di mana teman-teman kelompoknya sepakat untuk berkumpul sebelum acara malam ini dimulai.


Akhirnya ia menghentikan langkahnya, mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu mengirim pesan kepada Charemon, yang isinya:


Mon, maaf banget aku duluan. Kalau kamu udah selesai kita ketemu di spot kumpul aja ya.


Amber lalu melanjutkan langkahnya. Tidak secepat tadi memang. Setelah mengirim pesan pada Charemon, kekesalannya lumayan teralihkan.


Hanya saja, tiba-tiba Gian muncul lagi. Ia berdiri di depan Amber dan menghalangi langkahnya. Amber hanya diam mematung di posisinya. Rasa kesalnya mulai muncul lagi setelah tadi sempat mereda. Tak heran jika perasaan itu tergambar cukup jelas di wajah manisnya.


Gian tak beranjak. Amber pun tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sedangkan kedua teman Gian, Bimo dan Egidia hanya terlihat heran dengan ulah temannya itu yang memang sedikit tak seperti biasanya akhir-akhir ini.


Gian lalu membungkuknya sedikit badannya supaya bisa menyesuaikan dengan tinggi badan Amber. Wajahnya sejajar dengan wajah Amber. Jaraknya hanya sekitar 20 cm saja. Hal itu tentu saja membuat Amber terkejut dan tanpa sadar mengambil satu langkah kecil ke belakang.


"Kesel ya?" kata Gian kepada Amber. Amber tak menanggapinya.


Senyum yang menurut Amber menyebalkan itu terlihat lagi di wajah Gian. Ia pun berlalu bersama kedua temannya. Meninggalkan Amber dalam perasaan yang campur aduk. Salah satu temannya yang bernama Egidia, melambaikan tangan pada Amber seolah berpamitan. Ia tampak ramah, tapi hal itu tidak bisa mengurangi rasa kesal Amber saat itu.


Jika saja yang berada di posisinya saat ini adalah wanita lain dan bukan Amber, mungkin ia akan terpesona hingga tergila-gila bisa sedekat itu dengan wajah Gian. Tapi ini Amber. Ia tak merasakan apapun kecuali kekesalan. Hatinya bertanya-tanya, kenapa semakin ia berharap supaya tak berurusan lagi dengan Gian malah semakin sering ia berinteraksi dengan lelaki yang sangat menyebalkan itu.


Lamunannya dibuyarkan oleh suara samar Charemon yang memanggilnya sambil sedikit berlari dari kejauhan.


"Gue kok ditinggal sih?" kata Charemon sambil menyubit kesal pipi Amber dengan kedua tangannya.


"Iya, maaf," Amber tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Charemon. Walaupun seumuran, sifat ceria dan juga tingkahnya yang kadang kekanakan, membuat Amber sering merasa bahwa Charemon adalah seorang adik.


"Barusan Gian nyium lo?!" Charemon heboh sendiri menanyakan hal tersebut pada Amber sambil mengatur napasnya yang masih tersenggal.


"Enggak lah! Gila kamu!" Amber menjitak pelan kepala Charemon lalu celingukan untuk memastikan bahwa tak ada yang mendengar ocehan ngawur sahabatnya itu.


"Auw! Abisnya tadi keliatannya gitu kok," ujarnya sambil mengelus kepalanya sendiri yang sakit karena terkena jitakan Amber.


Memang sih. Posisi Amber dan juga Gian yang sedikit membungkuk tadi, membuat seolah-olah Gian sedang mencium Amber jika dilihat dari belakang.


"Charemomon, mulai sekarang kamu dilarang ngomong sembarangan lagi. Dari tadi siang ngaco terus ngomongnya." Mengingat lagi kata-kata momon barusan membuat Amber merasa kesal sendiri.


"Eh, tapi kan omongan gue tadi siang bisa jadi bener. Kalau nggak, ngapain Gian nyamperin lo lagi pas makan tadi?" Charemon lagi-lagi berubah layaknya detektif yang tahu segalanya.


"Baru juga dikasih tau udah mulai lagi. Udah ayok," Amber lalu merangkul lengan Charemon untuk mengajaknya menuju ke dekat lapangan utama.


Sesampainya di sana, suasana belum cukup ramai. Seluruh anggota kelompok 21 juga sudah ada di sana.


"Amber, Momon, ayok cepetan. Kita akan cari spot yang pas buat duduk di lapangan," ajak Angga yang tak lain adalah pendamping kelompok 21.


Malam itu acara malam kesenian dan inagurasi dilaksanakan di lapangan utama universitas yang sudah dihiasi dengan banyak lampu warna-warni yang membuat suasana semakin meriah saja.


Di bagian paling depan, ada sebuah panggung yang sudah berdiri kokoh sejak pagi tadi. Di sana ada berbagai alat musik, speaker, dan banyak perlengkapan penunjang lainnya. Semua memang sudah dipersiapkan dengan baik oleh seluruh panitia bidang acara.


Untuk peserta, mereka semua dibebaskan untuk memilih spot yang paling nyaman untuk menikmati seluruh acara malam ini bersama kelompoknya masing-masing. Tak ada tenda atau pun kursi yang disiapkan di sana.


Bagi kelompok yang kurang persiapan, seluruh anggota dan pendampingnya mungkin akan sedikit kebingungan. Berbeda dengan kelompok yang memang sudah siap, seperti kelompok Amber. Masing-masing anggotanya sudah menyiapkan alas sehingga mereka bisa duduk dengan nyaman di atas tanah lapangan.


Malam ini cukup cerah. Beberapa bintang di langit bisa dilihat kerlipnya. Nampaknya tak akan turun hujan. Kalaupun ternyata air langit itu turun, panitia sudah terlebih dahulu menyiapkan aula sebagai tempat cadangan.


Saat Amber dan teman-temannya sampai di sana, sebenarnya sudah ada beberapa kelompok yang tiba duluan. Mereka pun sudah memilih spot duduk sesuai kesepakatan kelompoknya. Walaupun begitu, tampak masih ada satu spot kosong tepat di depan panggung. Entah kenapa tak ada yang mengisi spot tersebut.


"Ayo, Kak Angga. Buruan kita duduknya di sana aja. Masih kosong tuh," pintanya.


"Tapi, Mon. Itu spot dari tadi nggak ada yang milih pasti ada alasannya," kata Amber yang merasa curiga, kenapa spot itu masih kosong padahal sudah ada beberapa kelompok maba yang duluan sampai di sana.


"Halah, palingan juga pada takut silau atau berisik aja. Asik tau kalau di depan. Kan jadi berasa liat konser," tak hentinya Charemon memberikan alasan.


Karena tak ada yang benar-benar menolak ajakan Charemon, maka mereka semua pun setuju untuk duduk di sana saja. Tak lama setelahnya, semua spot yang tersedia sedikit demi sedikit mulai terisi, pertanda waktu sudah semakin dekat dengan pembukaan malam kesenian dan inagurasi.


Benar saja, sekitar 10 menit setelahnya sepasang lelaki dan perempuan yang menjadi pembawa acara sudah naik ke panggung. Mereka menggiring semua orang untuk masuk ke dalam riuhnya atmosfer perayaan yang bahkan bisa didengar dari luar area kampus.


Semua orang tumpah dalam kemeriahan malam itu. Menikmati satu per satu penampilan yang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Mulai dari tarian, lagu, paduan suara, hingga drama komedi singkat yang membuat semua orang terbahak menyaksikan tingkah konyol pemerannya.


Salah satu yang mendapat sambutan paling meriah terutama dari kaum hawa adalah penampilan Giandra yang memang sengaja dijadwalkan tepat sebelum puncak acara. Wajar jika demikian. Gian bukan hanya putra sulung dari seorang penyanyi legendaris tanah air. Dirinya sendiri pun sudah dikenal sebagai salah satu penyanyi dengan suara khas yang sering kali membawakan versi remake dari lagu-lagu sang ayah.


Malam ini pun begitu. Berbekal gitar listrik berdesain unik yang sudah menjadi ciri khasnya, Gian membawakan 3 lagu yang membawa ayahnya ke puncak ketenaran di era 90an. Semua lagu tersebut bertemakan tentang cinta. Wajar saja jika banyak wanita yang terlena mendengarnya, membayangkan bahwa lagu itu ditujukan secara spesial untuk mereka.


"Okay, sebelum lanjut ke lagu yang terakhir, gue mau ngucapin selamat datang buat temen-temen maba yang ada di sini. Selamat berpetualang di dunia perkuliahan. Semoga kalian betah dan selamat sampai tujuan." Sapaan Gian yang nyeleneh itu membangkitkan semangat semua orang yang ada di sana.


Hanya saja, entah itu cuma perasaan Amber saja atau memang ia tadi melihat Gian seolah sedang menujukan sapaan itu padanya yang kebetulan ada di barisan depan. Hatinya merinding karena sapaan tadi malah terdengar seperti ancaman di telinganya.


"Kapan ini akan berakhir?" tanya Amber dalam hati lalu menghela napas.


Ia sedikit menyesali insiden spot parkir kala itu. Bukan karena ia memang bersalah, tapi karena hal itu membuatnya harus berurusan dengan Gian terus menerus.


★★★


Dentingan gitar Gian yang kembali menenangkan riuhnya suasana. Semua kembali tenang, mungkin bersiap untuk ikut menyanyikan lagu yang akan ia bawakan.


Dari intronya saja, banyak orang dari berbagai usia langsung tahu judul lagu tersebut. Termasuk Amber yang memang adalah penggemar setia lagu-lagu Adipramana.


*Sesaat ku terpana


Pada pesona indahnya


Dalam hati ku bertanya


Apakah kau kiriman Sang dewa?


Ku mendekat kau tak terpikat


Ku menjauh kau pun tetap acuh


Sungguh, kau tak mudah ku baca


Tak mengapa, suatu saat ku pasti bisa*


Begitulah kira-kira penggalan lagu terakhir yang Gian bawakan. Untuk pertama kalinya, Amber melihat sisi lain dari Gian. Ia tampak begitu berbeda saat sedang bernyanyi dan memainkan gitarnya seperti ini.


Tak bisa Amber pungkiri, Gian ternyata memang berbakat dalam bidang musik. Ia tak hanya mendompleng ketenaran sang ayah yang memang sudah melegenda. Buktinya, ia bisa membawakan karya ayahnya dengan nuansa yang sangat berbeda tanpa merusak lagu tersebut.


Dan suaranya. Amber tak menyangka jika ia memiliki suara yang seunik itu saat bernyanyi. Tentu berbeda dengan suara sang ayah, namun sama-sama berkharisma. Pantas saja, banyak wanita yang terbius dibuatnya.