AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 102 - Pesta Ulang Tahun Gian



Akhirnya hari ulang tahun Gian tiba juga. Biasanya, di saat seperti ini ayahnya akan mengirimkan hadiah mewah kepada Gian, tapi kali ini Gian menolak karena tahu ayahnya sedang mengumpulkan uang untuk konser besarnya tahun depan. Walaupun begitu, Adipramana tak tinggal diam. Ia malah sembunyi-sembunyi menyewa sebuah bar kecil namun berkelas yang letaknya tak jauh dari kampus supaya Gian bisa merayakan awal usia kedewasaannya bersama teman-teman terdekatnya. Ia baru memberitahukan semuanya kepada Gian pagi ini sebagai sebuah kejutan.


"Udah Ayah bayar lho itu, jadi kamu enggak boleh nolak. Semua udah lengkap, dari makanan, minuman, sampai musik udah beres. Kamu tinggal seneng-seneng kumpul-kumpul aja sama temen kamu. Udah lama juga kamu enggak bikin party," ujar Adipramana melalui sambungan telepon. "Itu bar cukup untuk menampung sampai 100 orang aja. Ayah tahu kamu enggak suka party besar-besaran. Suka-suka kamu aja mau ajak siapa ke sana. Kecil memang tempatnya, tapi keren. Percaya sama Ayah."


"Mau gimana lagi." Gian menghela napas namun sambil tersenyum. "Tempatnya Ayah sewa dari jam berapa sampai jam berapa, Yah?"


"Ayah sewa seharian sebenernya. Tapi terserah kamu mau gimana aturnya," jawab Adipramana.


"Ya udah. Nanti biar aku yang urus, Yah. Nanti Ayah ke sana juga enggak?"


"Sorry, Nak. Ayah beneran enggak bisa dateng. Ada urusan. Kamu have fun aja ya sama temen-temen kamu."


"Okay, Ayah. Thanks anyway," bagaimanapun Gian tahu bahwa ayahnya hanya ingin membuatnya senang di hari ulang tahunnya ini.


"You are welcome, Nak. Selamat ulang tahun lagi untukmu." Adipramana lalu menutup teleponnya.


***


"Maaf ya, aku jadi enggak bisa jemput kamu," kata Gian saat menelepon Amber.


Seharian Gian disibukkan dengan mengundang beberapa temannya. Tentu saja, semua yang tergabung di dalam group chat SAVAM juga tak terkecuali. Mereka semua adalah yang paling dekat dengan Gian.


"Enggak papa, Gian. Nanti ketemu di sana aja. Jam setengah 8 malem, kan?" tanya Amber.


"Iya," jawab Gian. "Kalau mau kamu berangkat bareng SAVAM aja."


"Gampang nanti biar aku coba janjian sama mereka. Tapi ngomong-ngomong siapa aja yang kamu undang? Katanya tempatnya terbatas?"


"Cuma temen-temen kampus dan luar kampus yang kenal deket aja. Tadi aku sempet cek sebentar ke barnya sekalian ngasih konfirmasi jamnya biar mereka lebih enak siapin semuanya. Kecil emang tempatnya, tapi keren. Aku baru tau ada bar seunik itu enggak jauh dari kampus," ujar Gian yang tak pernah meragukan selera ayahnya.


"Baguslah kalau kamu suka tempatnya," kata Amber lega. "Ada yang perlu aku bantuin enggak?"


"Enggak ada kok, My Amber. Semua sebenernya udah disiapin sama Ayah. Jadi aku cuma tinggal ngabarin temen-temen aja."


"Tapi mendadak gini emang pada bisa dateng?" tanya Amner khawatir.


"Sebagian besar bisa kok. Cuma emang ada beberapa yang enggak bisa dateng karena udah terlanjur ada acara. Sebagian yang lain lagi bilang bakal dateng tapi telat."


"Lho, emang partynya sampe jam berapa nanti?"


"Sampe jam tutup barnya. Udah disewa sama Ayah seharian jadi aman. Lagian enggak bakalan ada urutan acara kok. Beneran cuma acara bebas aja, kumpul-kumpul, makan, dengerin musik. Yang ngisi musik Dj Ali dari manajemen Ayah juga," Gian menjelaskan.


"Ahaha. Om Adi keren diem-diem nyiapin party buat kamu."


"Iya tuh. Padahal aku udah bilang enggak usah kasih apa-apa," kaya Gian.


"Enggak papa. Om cuma pengen kamu seneng," kata Amber. "Ya udah sana kalau masih ada yang mau dikerjain. Sampai ketemu nanti ya. Happy birthday, My Gian."


"Makasih, Amberku." Ia lalu menutup teleponnya. Hatinya tak sabar ingin segera bertemu Amber malam nanti.


***


Malam hari pun tiba. Teman-teman Gian sudah mulai bermunculan di bar yang sudah Adipramana sewa untuk anak sulungnya. Walau tanpa dekorasi ulang tahun, desain interior tempat itu sudah cukup ciamik dengan perpaduan gaya vintage dan industrial yang sangat Gian sukai.


Tak lama, Gian melihat Egidia, Bimo, dan Charemon datang. Tak nampak Amber bersama mereka.


"Cieee, yang ulang tahun!" goda Bimo sambil melayangkan fist bump yang disambut oleh Gian.


"Thank you, Bro," sahut Gian.


"Makasih, Gi," jawab Gian.


"Selamat, Kak Gian! Nih," kata Charemon sambil menyodorkan 3 kotak berwarna merah jambu yang diikat dengan pita hitam .


"Apa ini, Mon?" tanya Gian heran.


"Mini cupcakes, Kak. Gue sengaja bikin cepet-cepet tadi pagi abis dikabarin sama Kak Gian kalau ada party."


"Wah, makasih banget, Mon. Padahal gue bilang enggak usah bawa apa-apa," kata Gian.


"Sengaja bikin banyak biar bisa disajiin sekalian pas party, Kak. Boleh, kan?" tanya Charemon.


"Boleh banget lah. Mending sekarang kamu bawa ke dalem, terus kamu kasihin sama bartender yang jaga tuh biar mereka yang nata," jelas Gian.


"Oke, Kak!" Charemon pun masuk dan bergegas ke arah tengah bar untuk menghampiri bartender yang tengah bertugas menyiapkan berbagai jenis minuman untuk para tamu.


"By the way, kalian enggak bareng sama Amber?" Gian sedari tadi heran mengapa Amber tidak terlihat bersama ketiga sahabatnya itu.


"Tadinya dia mau bareng Momon tapi enggak jadi. Makanya Momon kita jemput," kata Bimo.


"Lha? Kenapa?" tanya Gian.


"Kata Momon tadi tiba-tiba Om sama Tantenya Amber dateng jadi Amber nemenin dulu bentar baru nanti ke sini," jelas Egidia.


"Oh gitu. Gue enggak tau soalnya," kata Gian.


"Dia tadi telpon lo berkali-kali katanya, tapi enggak lo angkat," kata Bimo.


"Ah! Hape gue kan ada di dalem dibawain sama Dhika tuh. Ya udah enggak papa, yang penting nanti tetep ke sini dia," Ujar Gian. "Kalian masuk aja gih. Bantuin gue ngehost partynya. Gue masih mau di sini nyambut yang pada dateng."


Egidia dan Bimo pun masuk. Pesta sudah dimulai namun Gian masih ingin di depan menunggu Amber sambil menyambut sendiri satu persatu teman yang datang dan mulai membuat suasana di dalam private bar itu riuh akan suara kegembiraan. Alunan musik bertempo cepat dari Dj Ali semakin membuat suasana menjadi meriah.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam namun Amber belum juga tiba. Gian mulai gelisah menunggu kekasihnya itu. Wajahnya terkejut saat ia malah melihat Zefanya datang dengan mengenakan dress ketat berwarna hitam yang membuatnya terkesan seksi namun tidak murahan.


"Happy birthday, Gian," kata gadis itu sambil menyodorkan tubuhnya untuk memeluk Gian nun Gian mundur untuk menghindar.


"Ngapain kamu di sini?" dengan dingin Gian bertanya. Kehadiran gadis itu sungguh tak ia harapkan dan membuatnya merasa khawatir. "Dari mana dia tau ada party? Gimana kalau Amber tau soal ini? Dia pasti kecewa banget," Gian membatin.


"Aku cuma pengen ngucapin selamat ulang tahun dan ngobrol sebentar sama kamu, Gian," kata Zefanya dengan nada manja.


"Apa lagi sih yang mau kamu omongin? Mending kamu pergi aja. Aku mau masuk!" Gian mulai kesal.


"Sebentaaaar aja. Kalau kamu enggak ngebolehin aku enggak akan pergi dan akan ikut masuk sama kamu ketemu orang-orang. Toh beberapa dari mereka kenal aku juga," Zefanya terus merengek. "Cuma ngobrol sebentar aja, Gian. Untuk yang terakhir kalinya. Abis itu aku pergi."


Situasinya sungguh tak menguntungkan bagi Gian. Jika ia tak menuruti keinginan Zefanya maka gadis itu tidak akan lekas pergi dan mungkin malah akan bertemu dengan Amber. Selain itu, kehadirannya pun pasti akan menimbulkan tanda tanya besar di benak teman-temannya. Yang ada di pikiran Gian saat ini hanyalah bagaimana caranya membuat Zefanya cepat pergi dari tempat itu sebelum Amber datang.


"Ya udah! Aku kasih kamu waktu 10 menit aja. Abis itu kamu harus pergi dan berhenti ganggu aku!" kata Gian dengan kesal.


"Iya aku janji. Tapi enggak bisa di sini, Gian," Zefanya mulai melancarkan rencananya. "Apapun bakal gue lakuin biar lo balik sama gue, Gian," ia membatin.


"Ngeselin banget sih! Ya udah!" Gian lalu mengajak Zefanya ke lantai dua bar itu.


Di sana ada sebuah ruangan luas yang lebih mirip seperti sebuah ruang pertemuan. Mereka berdua pun mulai menaiki anak tangga menuju ke ruangan itu.


Satu hal yang Gian tidak tahu, sedari tadi Amber melihat percakapan mereka dari kejauhan. Dan kini gadis itu pun melihat Gian naik bersama Zefanya dengan perasaan marah dan kecewa.