
"Ya udah, Ayah istirahat aja. Udah malem juga. Besok aku telpon lagi. Night, Ayah," Amber tampak mengakhiri panggilan teleponnya. Ia lalu melihat ke arah Gian dan tersenyum.
"Ngapain senyum-senyum? Pasti mau godain soal yang tadi," Gian berprasangka dan mengerucutkan bibirnya.
Melihat tingkah Gian yang seperti itu Amber malah menjadi gemas sendiri. "Cowok pemberani kayak Gian bisa merajuk juga ternyata?" batinnya.
"Semua orang juga pasti punya ketakutannya sendiri. Asal berani mengakui atau bahkan sampai berani mengatasinya, aku rasa nggak perlu merasa malu soal itu," Amber malah terdengar mengatakan hal yang serius dan itu menarik perhatian Gian.
"Kamu nggak ilfeel liat aku ketakutan sama hantu sampe kayak gitu?" Gian yang merasa penasaran pun menyeletukkan pertanyaan itu kepada Amber sambil terus melayangkan pandangannya pada laut di kejauhan yang tentunya tak nampak dan hanya terdengar suara deru ombaknya.
"Emang aku keliatan kayak ilfeel gitu?" Amber menoleh ke arah Gian. Bahkan di bawah cahaya temaram seperti sekarang ini, di mata Amber Gian tetaplah Gian, pemuda yang sudah membuatnya benar-benar tertarik untuk pertama kalinya, pemuda yang sudah membuatnya merindu.
Jawaban Amber membuat Gian menoleh ke arahnya. Gadis itu masih menatap Gian, ia tak tiba-tiba mengalih pandangannya seperti biasanya.
Jantung Gian tiba-tiba berdegup semakin cepat dan cepat. Memori akan ucapan Bimo yang mengatakan bahwa Amber adalah gadis yang menarik dan jika Gian tidak cepat mungkin suatu saat ia akan menyesal karena Amber memilih untuk bersama pemuda lain kembali terngiang dan berputar-putar di dalam kepalanya.
"Kamu masih pengen tau nggak soal cewek yang aku sukai?" Gian mencoba mengingatkan Amber pada percakapan mereka tadi siang.
Deg! Seketika, Amber merasa harus menyiapkan hatinya jika ternyata benar ada gadis lain yang disukai oleh Gian, jika selama ini kebaikan Gian padanya hanyalah sebuah wujud kebaikan semata dan bukan karena Gian menyukainya seperti kata Charemon. Dia tak boleh kecewa karena dia jugalah yang sudah memutuskan untuk membuka hatinya untuk Gian.
Dengan ragu, Amber pun menjawab, "emang aku kenal?"
"Kenal lah. Bentar, aku kasih liat." Gian mengambil ponselnya lalu memperlihatkannya kepada Amber.
Dengan malas Amber melihat ke layar ponsel Gian. Namun, yang terlihat olehnya adalah wajahnya sendiri yang terpampang di layar tersebut karena aplikasi kamera yang menyala.
"Gian kamu salah pencet ya?" tanya Amber heran.
Gian lalu melihat ke layar ponselnya dan berkata, "enggak kok. Coba liat lagi. Itu cewek yang aku suka." Ia tersenyum manis saat mengatakan itu pada Amber.
Amber masih saja melihat wajahnya sendiri yang tertangkap oleh kamera depan ponsel Gian. Tentu saja ia semakin heran.
Wajah kebingungan yang Amber tunjukkan tentu saja terbaca oleh Gian. "Siapa yang kamu liat?" ia bertanya kepada Amber.
"Aku," jawab Amber polos sambil menoleh ke arah Gian.
"Iya, aku suka sama kamu," kata Gian lagi. Ia yakin bahwa Amber memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia ingat bagaimana reaksi Amber yang seolah tak suka dengan pembahasan soal cita-cita Gian dan Zefanya.
Perasaan Amber campur aduk. Ia senang sekali atas pengakuan Gian barusan, namun di saat yang sama ia juga cukup terkejut. Ternyata yang dikatakan oleh Charemon selama ini memang benar, Gian memang menyukainya.
"Amberley Senja, maukah kamu jadi pacarku?" Gian bertanya sambil menyodorkan kedua tangannya yang menghadap ke atas kepada Amber, berharap Amber akan meraihnya.
Amber yang masih dalam keadaan syok karena terlalu senang tak mampu mengatakan apapun. Ia hanya terdiam beberapa saat hingga akhirnya menjawab pertanyaan Gian dengan anggukan. Amber sudah yakin akan perasaannya terhadap Gian jauh sebelum Gian memintanya untuk menjadi kekasih barusan. Karena itulah, tak butuh waktu terlalu lama untuknya menjawab pertanyaan Gian.
"Hah? Kamu mau?!" dengan sangat bersemangat Gian kembali bertanya untuk memastikan.
"Tangan," kata Gian singkat. Tangannya yang sedari tadi ia sodorkan masih belum juga diraih oleh Amber.
"Oh," Amber yang akhirnya mengerti maksud Gian lalu memberikan kedua tangannya yang kemudian digenggam dengan erat oleh Gian.
"Makasih ya. Mulai sekarang kita pacaran. Aku bakal jagain kamu baik-baik."
Gian tak pernah sembarangan soal cinta. Begitulah ia diajarkan oleh ayahnya. Lelaki sejati tak pernah mengucapkan janji yang tak bisa ia tepati. Maka kali ini pun sama. Ia benar-benar akan menjaga Amber dengan baik. Bahkan sebelum ia mengatakan ini kepada Amber pun ia sudah melakukannya.
"Eh … lupa. Aku ada sesuatu buat kamu. Coba tutup mata bentar," ujar Gian.
"Apaan sih? Nggak aneh-aneh kan?" Amber malah curiga pada Gian yang kini sudah berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Ish … Percaya aja sama aku," tangannya lalu menyentuh wajah Amber supaya ia menutup matanya. Setelahnya, ia merogoh kantong celananya, mengambil kalung berbandul music box locket berukuran mini yang sedari tadi ada di sana, dan memakaikannya di leher Amber.
Sebelum meminta Amber untuk membuka matanya, Gian memutar tuas pas bagian belakang music box itu hingga terdengar penggalan lagu cinta tahun 80an. Bunyi tersebut langsung membuat Amber membuka matanya.
"Suka?" tanya Gian.
"Iya, suka," Amber menjawab sambil memegangi bandul music box yang ukurannya selebar uang koin besar itu.
"Jaga baik-baik ya," kata Gian sambil menepuk-nepuk kepala Amber.
"Hu um," jawab Amber.
Malam semakin larut. Jantung yang berdegup kencang membuat kedua sejoli itu seolah tak merasakan dinginnya hembusan angin laut.
"Udah malem, tidur sana biar besok nggak kesiangan," kata Gian pada Amber.
"Iya deh. Yok masuk ke dalem," kata Amber.
Mereka berdua pun lalu berdiri dari duduknya dan menuju ke dalam villa. Saat hampir tiba di ambang pintu, Gian yang sedari tadi berjalan di belakang Amber tiba-tiba menarik tangan Amber dan membuat Amber membalikkan badannya. Gian lalu menarik Amber hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Ini buat ganti rugi," bisik Gian pada Amber yang nampaknya tak menunjukkan perlawanan itu.
"Ganti rugi apaan?" kembali, Amber dibuat bingung oleh Gian.
"Ganti rugi karena kamu udah seenaknya meluk-meluk aku di mobil tadi pagi. Harusnya aku gantian nyetir sama Bimo, tapi ga bisa karena kamu peluk kenceng banget," goda Gian.
Amber kembali merasa malu mengingat peristiwa itu. Ia lalu membenamkan wajahnya pada dada Gian.
Pelukan Gian terasa hangat dan nyaman bagi Amber. Ingin rasanya ia berlama-lama seperti ini. Amber yang awalnya masih canggung dengan status baru mereka secara natural melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gian untuk membalas pelukannya.
Aroma tubuh Gian juga entah kenapa membuat Amber merasa tenang. Nampaknya malam ini ia akan bisa tidur dengan nyenyak sambil berharap supaya pagi segera tiba dan ia bisa lekas bersama dengan Gian lagi.