
Akhir pekan. Tak ada jadwal kuliah membuat Amber bermalas-malasan. Ia sedikit melepas penat dengan bersantai di kamarnya sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya.
Matanya terasa begitu lelah karena semalaman ia gagal tidur dengan nyenyak setelah mengobrol melalui telepon bersama Charemon.
"Gue denger lo berantem sama Gian di kantin?!" Charemon terdengar cukup heboh di seberang sana, mendengar kabar bahwa sahabatnya sudah berhasil menarik perhatian banyak orang karena pertengkaran singkatnya dengan Gian tempo hari.
Kamu denger kabar dari mana?" tanya Amber heran.
"Kamu lupa? Berita soal Gian kan ga butuh waktu lama untuk nyebar," jawab Charemon dengan entengnya.
Ucapan Charemon membuat Amber tersadar akan sesuatu. Ia lupa bahwa yang ia ajak bicara di depan umum kemarin adalah Giandra, seseorang yang memang sudah menjadi sorotan bahkan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kampus itu.
"Amber sayang, gue kan udah bilang sama lo. Jangan asal nuduh. Kalau ternyata terbukti bukan Gian pelakunya kan lo sendiri yang repot," nada bicara Charemon terdengar gemas sekali pada sahabatnya yang tidak mau menuruti sarannya.
"Udah terlanjur. Mau gimana lagi?" jawab Amber.
"Ih! Lo tuh nggak boleh santai gitu. Mending lo buru-buru minta maaf deh sama Gian sebelum telat," kata Charemon.
"Telat gimana?" tanya Amber bingung.
"Ya telat! Gian bisa marah sama lo. Kalau dia jadi nggak suka lagi sama lo gimana?" jawab Charemon, terdengar seperti sedang berpura-pura menangis.
"Ish ... ditanya serius malah becandaan jawabnya," jawab Amber kesal.
"Ih, yang becanda juga siapa. Gian kan emang keliatan suka sama lo. Kalau nggak suka ngapa—" kata-kata Charemon dipotong oleh Amber.
"Bodo ah, Bawel," katanya, lalu langsung menutup sambungan teleponnya.
Hingga siang ini pun sebenarnya Amber masih saja teringat akan hal yang Charemon katakan semalam. Bukan soal Gian yang Charemon curigai menyukainya, tapi soal bagaimana kalau ternyata dirinya sudah benar-benar salah tuduh. Di dalam hatinya, Amber sedikit menyesal sudah meluapkan kemarahannya tempo hari.
"Duh! Kenapa jadi kepikiran? Apa iya aku minta maaf aja sama Gian?" gumamnya lirih.
"Tapi gimana kalau ternyata beneran dia yang usil? Kan nyebelin banget," lanjutnya.
Lamunan Amber dibuyarkan oleh suara ketukan di pintu kamarnya.
“Ya?” Amber menjawab dari dalam kamar lalu berdiri dan berniat untuk membuka pintu tersebut.
Sebelum ia sampai, pintu sudah terbuka dari luar. Betapa senang dan terkejutnya Amber saat tahu bahwa Ria berdiri di sana.
“Tante Ria!” Amber langsung menghambur memeluk wanita yang sangat ia rindukan itu.
“Kapan Tante sampai? Sama Om Panca? Tante nginep kan?” lanjutnya, memberondong pertanyaan kepada Ria.
“Ih, kamu itu kebiasaan. Kalau tanya satu-satu kenapa?” Ria lalu mencubit gemas kedua pipi gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu.
“Iya, Tante ke sini sama Om. Tante kangen sama kamu dan ayahmu, jadi rencananya kami nginep weekend ini,” lanjutnya.
“Yey! Om mana, Tan? Amber kangen.”
Amber lalu mengajak Ria untuk keluar kamar supaya ia bisa menemui Panca yang saat ini sedang berbincang dengan Tarachandra di ruang tengah. Amber terlihat senang sekali. Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan Ria dan Panca. Tepatnya setelah ia dan sang ayah pindah ke kota yang selalu berhawa sejuk itu.
★★★
Selepas makan malam, Tarachandra dan Panca menghabiskan waktu di studio kecil yang letaknya di halaman belakang rumah. Sedangkan, Amber dan Ria mengobrol di kamar Amber sambil duduk dengan santai di loveseat merah kesayangan Amber.
Amber menceritakan semua yang ia alami selama ia menjadi mahasiswa sampai saat ini. Termasuk juga, soal ia marah pada Gian tempo hari.
“Sayang,” kata Ria sambil mengusap pelan rambut Amber yang lembut.
“Nggak seharusnya kamu marah sama Gian gitu loh. Kalau ternyata bukan Gian gimana hayo?” lanjutnya.
“Iya sih, Tan. Setelah aku udah nggak emosi lagi aku juga mikir kalau mungkin aku udah salah nuduh Gian. Mungkin sebenernya aku cuma kesel karna dia gangguin terus, akhirnya dia yang jadi sasaran kemarahanku soal loker,” kata Amber pelan.
“Harusnya yang kamu bilang barusan kamu sampaikan juga ke Gian, Amber. Nggak enak loh kena tuduh kalau kita sebenernya nggak salah. Kalau ada sesuatu, ada baiknya kamu cari tau dulu kebenarannya ya, Sayang. Jangan mudah terhasut apalagi sampai sembarangan menuduh,” kata Ria dengan penuh kesabaran.
“Iya, Tan. Besok Senin aku coba cari Gian,” kata Amber sambil tersenyum.
Walaupun Amber masih belum tahu apakah benar Gian atau orang lain yang sudah mengusili lokernya, ia sadar bahwa ia sudah secara sembarangan meluapkan kekesalannya pada Gian.
“Nah, gitu dong, Sayangnya tante.” Ria lalu memeluk erat gadis manis itu.
“Makasih ya, Tan. Tante selalu datang di saat yang tepat,” kata Amber sambil mengeratkan pelukannya pada wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu.
“Halah apa sih. Cuma kebetulan, Amber,” kata Ria sambil terkekeh.
Mereka lalu menghabiskan waktu bersama hingga larut. Berbagi banyak sekali kisah yang sudah mereka alami masing-masing ketika tak bertemu.
★★★
Larut malam ketika semua orang sudah tertidur, Amber masih terjaga. Mengalami masalah sulit tidur seperti ini bukanlah hal yang baru bagi Amber, hanya saja kali ini penyebabnya lain.
Ia ingin beristirahat namun pikirannya seolah tak mengijinkan. Otaknya terus-menerus berpikir tentang bagaimana ia akan menemui Gian di hari Senin esok.
“Kenapa harus terus-terusan berurusan sama Gian, ya?” keluhnya pelan saat ia sudah merebahkan badan di tempat tidurnya.
“Tapi kali ini emang salahku sendiri sih. Harusnya aku nggak usah nyari-nyari dia tempo hari. Jadi panjang kan urusannya, Amber dodol,” lanjutnya lagi.
Hingga saat ini, sebenarnya Amber dan Gian bahkan belum secara resmi berkenalan. Hanya saja, semua hal yang terjadi membuat mereka selalu berurusan satu sama lain walau itu bukanlah sesuatu yang mereka rencanakan sebelumnya. Semua seolah berjalan begitu saja.
“Ish … Kenapa malah jadi keinget mukanya Gian sih? Nyebelin banget,” sungut Amber yang sedang mencoba untuk memejamkan matanya.
“Besok Senin harus kelar ini, kalau nggak malah bakal kepikiran terus,” pungkasnya.
Ia pun lalu menarik selimutnya, berharap rasa lembut dan hangat yang terasa akan membuatnya lebih mudah tertidur.
Malam ini sepi. Riuh suara jangkrik yang biasanya terdengar di halaman depan dan belakang rumah itu tak begitu terdengar.
Atau mungkin, sebenarnya masih terdengar. Hanya saja, isi kepala Amber terlalu riuh dengan banyak hal yang akhir-akhir ini sungguh mengganggunya.