AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 22 - Untuk Amber



Ingar-bingar malam inagurasi sudah berakhir kemarin malam sekitar pukul 00.10. Kala itu, seluruh mahasiswa baru begitu larut dalam suasana haru dan emosional ketika akhirnya mereka resmi menjadi bagian dari universitas itu. Pertunjukkan kembang api yang menutup seluruh rangkaian acara inisiasi pun menambah haru suasana. Beberapa orang bahkan sampai menangis di buatnya.


Apakah Amber juga seperti mereka? Dia juga merasa gembira dalam hatinya. Hanya saja, ia tak pernah mengijinkan diri dan hatinya untuk merasakan suatu hal secara meluap-luap. Ia hanya tak ingin terlalu terikat dan larut.


Sudah hampir waktunya makan siang sekarang dan Amber masih belum juga terlihat keluar dari kamarnya. Tarachandra pun mengetuk pelan pintu kamar tersebut, sedikit khawatir karena putrinya juga sudah melewatkan sarapan tadi.


"Nak, sudah hampir makan siang loh. Bangun yuk." Terdengar suara Tarachandra dari balik pintu berwarna putih itu.


Amber tak menjawab tapi malah buru-buru membuka kunci pintu kamarnya.


"Hehehe, maaf, Yah. Amber udah bangun dari tadi tapi mager makanya nggak keluar dari kamar," kata Amber sambil merapikan rambutnya yang masih acak-acakan khas orang yang baru beranjak dari tempat tidur.


"Mager?" Nampaknya Tarachandra tak begitu paham dengan bahasa anak muda jaman sekarang.


"Iya, mager. Males gerak, Ayah," jawab Amber sambil tertawa.


"Bahasamu itu lho, Nak." Tarachandra terkekeh sambil mengusap kepala putrinya.


"Sudah sana cuci muka terus makan siang," lanjutnya lagi.


"Iya, Ayah," jawab Amber yang lalu bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Di dalam hati, Tarachandra merasa lega melihat putrinya sekarang. Semenjak ia memulai kegiatannya sebagai mahasiswa, ada banyak perubahan dalam dirinya. Ia terlihat lebih ceria dari biasanya. Bahkan, Tarachandra juga mengetahui bahwa Amber sudah mulai terbuka soal pertemanan. Semua itu sungguh membuat Tarachandra merasa tenang.


Selepas kepergian Ayu, Amber sempat berada di titik paling bawah di usianya yang masih cukup muda. Ia berubah drastis menjadi seorang anak yang tertutup dan pendiam


Setelah lulus dari tingkatan sekolah dasar, Tarachandra sempat berpikir untuk memilih metode homeschooling saja supaya Amber bisa belajar dengan lebih nyaman, tapi ternyata Amber tidak menginginkannya. Amber tetap ingin menimba ilmu di sekolah reguler saja. Ia tak ingin terlalu lama berada di rumah karena itu hanya akan membuatnya teringat pada Ayu.


Amber adalah anak yang dikaruniai kepintaran sejak ia kecil. Sayangnya, ia menjadi anak yang tertutup dan tidak mudah berteman selepas kepergian Ayu. Mungkin, jauh di dalam hatinya ia takut jika suatu saat harus mengalami kehilangan lagi. Karena itulah, ia tak pernah benar-benar mempunyai teman dekat selama menjalani pendidikan hingga SLTA.


Tarachandra memang sedikit khawatir akan hal ini. Namun di sisi lain ia tahu bahwa ia tak boleh memaksa Amber.


Yang paling penting, Amber mampu terus bersekolah dan melanjutkan pendidikannya. Itu salah satu dari sekian banyak cara yang Tarachandra lakukan untuk menjalankan wasiat Ayu.


Selain soal sekolah dan pertemanan, Tarachandra juga cukup merasa khawatir akan kondisi psikologis Amber setelah ditinggal pergi Ayu. Ia sering mendapati Amber mengigau saat tidur di malam hari. Bahkan, terkadang ia sampai berteriak memanggil ibunya dan terbangun.


Tarachandra berpikir, itu semua adalah efek samping dari rasa kehilangan yang dialami Amber dan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tarachandra terus mengingat bagaimana Ayu yang terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan perasaan sepi yang cukup besar hingga akhirnya ia tak bisa membendungnya lagi.


Beruntung Tarachandra mempunyai teman dekat sebaik Ria dan Panca. Mereka memang belum dikaruniai anak meskipun pernikahan mereka sudah berusia lebih dari 10 tahun. Tak heran jika saat Amber hadir ke dunia pun mereka juga ikut merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Amber sudah layaknya anak yang mereka cintai dengan tulus. Karena itulah, di saat Amber terpuruk pun mereka dengan sepenuh hati ikhlas membantu.


Setiap kali ada waktu luang, Ria dan Panca pasti menyempatkan diri untuk menemui Amber dan Tarachandra. Terutama Ria, yang memang tidak terikat pekerjaan di mana pun. Ia punya lebih banyak waktu untuk diluangkan bersama Amber. Tentu, semua itu ia lakukan seijin Panca juga Tarachandra.


Kedekatan tiga sahabat yang sudah layaknya saudara itu membuat tak ada seorang pun yang berkeberatan akan hal ini. Terlebih lagi sepertinya bukan keputusan yang tepat untuk membawa Amber berkonsultasi pada psikolog anak untuk menyalurkan semua perasaannya. Yang Amber butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, dan kala itu yang paling dekat dengannya adalah Tarachandra, Ria, dan juga Panca.


Selain sering datang berkunjung ke kediaman Tarachandra, Ria juga sering kali mengajak Amber pergi keluar untuk berkegiatan. Kadang-kadang mereka memasak bersama di rumah Ria maupun Tara. Di waktu lain, mereka pergi ke toko buku untuk menambah koleksi bacaan Amber. Di kesempatan yang lain lagi mereka pergi menemani Panca dan Tarachandra melepas penat dengan cara memancing di pinggir danau.


Apapun itu, setiap kali Amber terlihat tertarik atau bahkan saat ia sendiri yang meminta untuk pergi ke suatu tempat atau melakukan satu kegiatan, Tarachandra, Ria, dan juga Panca pasti akan menemaninya selama itu bersifat positif. Semua dilakukan untuk 'menyembuhkan' hati Amber yang terluka tanpa menghapus memori Ayu dari kepalanya. Mereka bertiga tentu juga tak ingin Amber lupa atau bahkan benci pada bundanya.


"Tentu, Amber juga boleh meminta suatu saat Bunda akan pulang kembali ke Amber dan Ayah jika Amber mau," lanjutnya lagi.


Nasehat tersebut terasa begitu mengena di hati Amber. Dari kebiasaan membatin doa setiap kali ia merasa sedih akan kepergian ibunya, ia sedikit demi sedikit bisa ikhlas walau mungkin memang nama Ayu tak akan pernah bisa hilang dari hati dan pikirannya.


Kesabaran Ria dalam memberi dukungan kepada Amber nyatanya memang membuahkan hasil. Ria, dengan segala sifat lemah lembut dan bijak, membuat Amber merasa mempunyai tempat yang tepat untuk menumpahkan segala keluh kesahnya. Tak heran jika Amber menjadi cukup dekat dengan Ria.


★★★


Saat ini, di mata Tarachandra, Amber sudah sangat berbeda. Kondisinya sudah jauh lebih baik.


Saat Amber mengatakan bahwa ia ingin melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas ternama yang letaknya di luar kota, tak sekalipun Tarachandra menanyakan atau bahkan menolak permintaannya. Malahan, Tarachandra merasa sangat bahagia karena itu berarti Amber sudah tak lagi enggan untuk berada di sekitar orang banyak, walau mungkin ia belum benar-benar menjadi pribadi yang terbuka.


Tarachandra sampai rela untuk pindah rumah supaya ia bisa terus berada dekat dengan putri semata wayangnya. Ia tak ingin Amber merasa kesepian. Walaupun karena kepindahannya, sesekali ia harus menempuh perjalanan jauh ke kota asalnya saat perlu mengurus hal-hal yang berkaitan dengan profesinya sebagai seniman lukis kawakan.


Kebahagiannya menjadi semakin membuncah saat ternyata Amber menjadi semakin periang saat sudah mulai berkegiatan di kampus. Nama Charemon pun sempat tersimpan di memori Tarachandra karena Amber terlihat cukup antusias setiap kali bercerita tentang sahabatnya itu.


"Sini, Nak," kata Tarachandra yang mengajak Amber untuk makan siang bersama selepas ia mencuci mukanya.


"Wah, ikan goreng sama sambel. Bik Nem tau aja kalau Amber pengen ini dari kemarin." Amber lalu mengambil nasi secukupnya, seekor ikan goreng dengan warna keemasan yang pas, dan juga sesendok sambal terasi khas buatan Bik Nem.


Bik Nem tahu betul jika Amber memang menyukai makanan pedas. Karena itulah, ia tak pernah lupa untuk menyertakan sambal di tiap hidangan yang ia siapkan.


"Kamu nggak mau ajak Momon main ke sini, Nak?" tanya Tarachandra yang juga tengah menikmati makan siangnya.


"Boleh, Yah?" Amber balik bertanya sambil masih terus mengunyah.


"Boleh lah. Dia kan sahabatmu, Nak," jawab Tarachandra.


"Hari ini boleh?" Amber bertanya lagi.


"Boleh…boleh. Ayah juga kebetulan nggak ada rencana pergi kok. Biar nanti Ayah juga kenalan sama sahabatmu itu," ujar Tarachandra.


"Kalau gitu nanti Amber jemput Momon ya, Yah? Amber ajak nginep aja sekalian biar besok berangkat kuliah barengan."


Amber terlihat santai sekali saat mengungkapkan keinginannya itu. Bagi Tarachandra, ini adalah peristiwa besar.


Bayangkan, selama 6 tahun terakhir Amber seolah enggan berteman dekat dengan siapapun. Kali ini lain.


"Boleh. Nanti Ayah minta tolong sama Bik Nem untuk siapkan makanan," jawab Tarachandra dengan senyum merekah di bibirnya.


"It's gonna be fun, Ayah," kata Amber sambil menyunggingkan senyum usil di bibirnya.


Di dalam hatinya, ia sangat penasaran. Bagaimana reaksi Charemon kalau tahu bahwa ayahnya adalah Laksmana Tarachandra, pelukis aliran surealis yang sangat Charemon idolakan.