AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 95 - Memaafkan Masa Lalu



Selepas makan, Amber, Gian, dan Dhika menonton film bersama di ruang tengah. Dhika yang sedari tadi merebahkan diri di sofa panjang nampaknya tak sengaja tertidur.


"Enggak papa tuh Dhika tidur di situ?" tanya Amber yang baru saja menyadari bahwa Dhika telah tertidur.


"Enggak papa. Biarin aja. Dia emang suka-suka begitu," jawab Gian yang sedari tadi menempel memeluk Amber. "Kayaknya dia kecapekan nugas deh. Kelas 3 kan emang baru genting-gentingnya."


"Bentar lagi kuliah dong dia?"


"Iya. Enggak tau tu bocah pengennya kuliah di mana. Aku sama Ayah mah support aja asal emang sesuai dengan minatnya," ujar Gian.


"Baik banget sih pacar aku," goda Amber. "Ngomong-ngomong, kamar kamu di atas ya?"


"Iya. Kenapa?" tanya Gian heran.


"Boleh liat? Aku penasaran," kata Amber dengan nada antusias.


"Boleh aja sih. Tapi jangan berharap banyak. Kamarku cuma gitu-gitu aja." Gian berdiri, mengulurkan tangannya kepada Amber untuk mengajaknya ke lantai atas.


"Kalau diliat-liat lagi, desain rumah ini ada kemiripan dengan villa Om Adi ya?"


"Iya. Kan desainernya emang sama. Dulu aku beli ini kaveling doang terus dibangun," Gian pun sedikit bercerita. "Here we go," katanya sambil membuka pintu kamarnya.


Seketika Amber jatuh cinta dengan kamar tidur luas yang didominasi dengan warna hitam dan abu-abu itu. Focal point dari kamar itu adalah sebuah wall art besar bergambarkan salah satu band legendaris dunia yang menghiasi dinding di belakang sebuah platform bed. Sebuah rak built-in seukuran dinding menghiasi satu sisi dari kamar tersebut. Terdapat satu set komputer dengan kursi di depannya, sejumlah besar koleksi buku, dan beberapa dekorasi bertema musik di sana. Yang tak kalah menyita perhatian adalah dua buah gitar yang biasa Gian pakai saat ia manggung.


"Rapi," celetuk Amber ketika ia sudah puas mengedarkan pandangannya ke semua sisi kamar Gian.


Gian tersenyum mendengar celetukan kekasihnya, "aku enggak bisa tidur nyenyak kalau kamar enggak rapi." Gian yang sedari tadi masih menggandeng tangan Amber mengajaknya untuk duduk di atas tempat tidur.


"Aku juga punya perpustakaan mini di kamar," kata Amber.


"Buku apa yang kamu paling suka?" tanya Gian sambil menyelipkan rambut Amber ke belakangan telinga supaya tidak menutupi wajahnya dari pandangan Gian.


"Aku baca buku apa aja sih. Tapi koleksi paling banyak itu novel bertema fantasi atau fairy tale," Amber selalu bersemangat setiap kali membicarakan hal-hal yang ia suka.


"Kapan-kapan aku boleh dong liat-liat perpus kamu?"


"Boleh, asal berani minta ijin dulu sama ayah buat masuk kamarku," Amber tertawa geli setelah mengatakan itu.


"Ah iya." Bagaimana Gian bisa lupa kalau Amber tinggal bersama ayahnya. Mungkin ia terlalu terbawa suasana karena sedang berada di rumahnya sendiri.


"Becanda, Gian. Ayah juga pasti enggak akan ngelarang kok. Kan cuma liat koleksi buku," kata Amber dengan polosnya.


"Oh ya? Yakin cuma liatin koleksi buku aja?" perkataan Amber tadi malah menyulut Gian untuk menggodanya. Gian lalu mendekat dan mencium bibir Amber dengan lembut.


Amber sudah terbiasa dengan ciuman Gian. Mungkin sulit baginya untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya perasaan yang ia rasakan setiap kali bibir mereka beradu. Satu hal yang pasti, ada rasa tenang yang meliputi hatinya, ada rasa percaya di sana karena ini adalah satu hal yang hanya Gian lakukan bersamanya saja. Walaupun memang ketenangan itu sesekali masih ditemani oleh sensasi kembang api yang meledak-ledak di dalam hatinya.


Kali ini pun begitu. Amber yang sudah tak canggung lagi berciuman dengan Gian merasakan sensasi yang sama. Yang berbeda adalah, di kala napas mereka kian memburu Gian seperti tak ingin melepaskan Amber. Ia merengkuh gadis itu hingga terduduk dipangkuannya menghadap ke arahnya. Keduanya masih saling mengecup hingga Amber tiba-tiba berhenti.


"You may not like it but can I ask you something?" Amber pun bertanya tanpa turun dari pangkuan Gian.


"Of course," jawab Gian diiringi senyuman. Ia mempunyai firasat bahwa ini akan terhenti sampai di sini saja.


"It's a sensitive question though," Amber masih ragu untuk menanyakan pertanyaan yang ada di kepalanya pada Gian.


"It's okay. Aku udah janji sama diri sendiri untuk tidak menyimpan rahasia apapun darimu."


Mendengar perkataan Gian barusan, Amber pun tak lagi ragu, "Seberapa jauh kamu dengan Zefanya dulu?"


Sesaat Gian tercengang. Ia tahu, cepat atau lambat pertanyaan ini pasti akan muncul ke permukaan. Hanya saja, ia tak menyangka Amber akan menanyakannya secepat ini. Ia masih terdiam, menatap kedua bola mata Amber dalam-dalam. Ia memikirkan kata yang tepat untuk disampaikan kepadaa gadisnya.


"Jauh," akhirnya ia menjawab dengan singkat.


"Ih! Aku pengen tau. Sejauh apa, Gian?" Amber memaksa ingin tahu lebih jauh.


"Amber, you are digging your own grave now. Kamu pasti akan kesal atau bahkan marah denganku setelah mendengarnya," Gian mengingatkan.


Mendengar ini, Amber semakin merasa bahwa yang akhir-akhir ini ia pikirkan benar adanya. "Ini penting buatku, Gian. Aku harus tau semua tentangmu. Semua! Tak ada yang ditutupi!"


"Okay. Kamu yang minta ya?" tanya Gian memastikan, yang dijawab oleh sebuah anggukan oleh Amber. "Aku tahu dalam hati kamu pasti berharap aku tak pernah melakukan apapun bersamanya, bahkan jika itu hanyalah sebuah ciuman saja. Aku paham yang kamu rasain dan pikirin. Tapi aku dulu bersamanya selama lima tahun. Itu waktu yang cukup lama. Aku akui sudah banyak yang kami lakukan bersama. Suka atau tidak memang itu kenyataannya. Jika kamu bertanya kami sudah sejauh apa, aku jawab; jauh. I slept with her, okay?"


Amber diam seribu bahasa setelah mendapatkan jawaban dari Gian. "Gian bener. I dug my own grave. Aku pikir aku akan merasa biasa saja. Ternyata tetap saja ada rasa kecewa dan entah kenapa aku juga merasa cemburu."


"Tuh kan. Kamu jadi aneh setelah denger jawabanku," Gian akhirnya berkata terlebih dahulu karena melihat Amber yang malah seperti melamun. "Listen, aku tau masa laluku mungkin tidak seperti yang kamu harapkan. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah terlanjur menjadi bagian dari sejarah kehidupanku yang tidak bisa dihilangkan. Atas masa laluku yang tidak sesuai dengan harapanmu, yang juga mungkin membuatmu marah saat ini, aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku yang tak sempurna ini."


Amber tersentuh dengan apa yang baru saja. Hatinya bisa merasakan bahwa Gian bersungguh-sungguh. "Kapan? Berapa kali?"


Gian sungguh tak menyangka Amber masih saja memburunya dengan pertanyaan di saat raut resah jelas tergambar di wajahnya. "Sekali. Sebelum dia berangkat ke Paris. Dia yang memintanya padaku. Dia bilang sebagai lambang cinta kami berdua. Nyatanya tetap saja aku diselingkuhi," Gian bercerita singkat. Ia sebenarnya tak ingin mengingat hal itu lagi karena itu semua sudah tak penting. Namun, ia menepati janjinya untuk selalu jujur kepada Amber.


"Kamu melakukannya karena mencintainya?" Amber melanjutkan pertanyaannya.


"Ya. Dulu aku mencintainya. Bagaimana bisa aku melakukan itu jika tidak mencintainya? Aku bukan lelaki yang sembarangan mengumbar nafsu. Kamu dengar sendiri ceritaku kan? Setelah sekitar 5 tahun aku hanya sekali saja melakukannya, bukannya berkali-kali."


"Kalau sekarang?" dengan lirih dan penuh keraguan Amber menanyakan tentang dirinya di mata pemuda yang sudah membuatnya dimabuk kepayang itu.


"Apa maksudmu dengan sekarang? Sudah sejak awal tahu dia bersama lelaki lain aku sudah memupus semuanya. Urusan perasaanku dengannya sudah selesai jauh sebelum aku bertemu denganmu," Gian berusaha meyakinkan Amber. "Yang aku cintai sekarang cuma kamu dan itu yang terpenting buatku saat ini. Ada rasa cinta tiap kali memelukmu, menciummu, menyentuhmu. Bagaimana bisa aku melakukan itu semua jika aku tidak mencintaimu? Rasanya hampir gila saat kita bertengkar dan tak pernah bicara lagi waktu itu."


"Hapuskan semua memori dikepalamu tentang dia," Amber tak lagi ingin ada gadis lain yang menjauhkan dirinya dari Gian seperti yang sudah-sudah. Ia mencintai Gian dan tak mau mengalah lagi.


"Aku sudah melakukannya sejak lama, tapi kamu memintaku menceritakannya," keluh Gian dengan tatapan mata sendu dan suara lirih yang entah mengapa memberikan sensasi seperti ada angin lembut yang mengalir di seluruh permukaan kulit Amber.


"You are mine, Gian." Untuk pertama kalinya, Amber duluan yang mengecup bibir kekasihnya. Ia melakukannya lagi dan lagi. Ia ingin memori tentang Zefanya di ingatan Gian benar-benar terhapus dan berganti dengan kenangan-kenangan indah yang diukir bersamanya.