AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 93 - Ciuman Pertama



Gian tinggal di sebuah perumahan elite yang kebanyakan warganya sibuk dengan urusannya masing-masing. Wajar saja jika hampir di setiap waktu gang-gang kompleks perumahan itu juga tampak lengang.


Rumah bergaya modern minimalis yang Gian miliki terdiri atas 3 lantai dengan garasi di lantai paling dasarnya. Halaman rumah itu tidaklah terlalu luas dan dibatasi dengan pagar penutup serta gerbang.


"Kok sepi?" tanya Amber.


"Dhika ada projek sama temennya katanya. Mungkin sore baru balik." jawab Gian sambil membuka pintu rumahnya.


"Sebelumnya belum pernah ketemu sama Dhika. Sekalinya ketemu dan kenalan malah di rumah sakit," keluh Amber.


"Udah enggak papa. Kapan-kapan kita hangout bareng sama dia," ujar Gian sambil menggandeng Amber untuk masuk ke dalam rumah. Gian lalu menjatuhkan dirinya di sofa untuk sebentar melepas penat setelah mengendarai mobil ditengah kemacetan jalanan siang itu. "Sini," Gian memanggil Amber yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja. Amber pun duduk di sebelah Gian yang malah disambut dengan pelukan erat Gian dari arah samping. "Punggungmu udah jauh lebih baik kan sekarang?" tanya Gian yang wajahnya tepat di sebelah Amber. Ia memberikan kecupan kecil pada pundak gadisnya.


Perlakuan Gian yang tak biasa membuat jantung Amber berdegup. Seketika ia mengingat apa yang dikatakan oleh Charemon tempo hari, bahwa sebuah pertengkaran hebat atau masalah yang besar biasanya akan membuat sepasang kekasih menjadi lebih mesra setelah kembali bersama. "Apa ini yang dimaksud sama Momon?" katanya dalam hati. "Iya, udah enggak sakit kok. Kata Bik Nem bekas memarnya juga udah enggak kelihatan," ia menjawab pertanyaan Gian dengan gugup.


Dengan suara lembut, Gian kembali berkata di dekat telinga Amber yang masih setia berada dalam pelukannya, "aku enggak bisa berhenti merasa bersalah. Bukan cuma karena kebodohanku yang udah marah enggak jelas sama kamu, tapi juga karena ini adalah kali kedua kamu ngalamin hal buruk yang penyebabnya adalah aku."


Amber langsung berbalik menghadap ke arah Gian yang tertunduk penuh sesal. "Hey, mau sampai kapan kamu menyalahkan diri sendiri? Sejak hari itu entah udah berapa kali kamu minta maaf. Enough, okay? Semua bukan salah kamu."


"Tapi kan-"


"Udah. Jangan dibahas lagi. Aku malah sedih jadinya. Yang paling penting sekarang kan aku udah baik-baik aja dan kita pun juga udah baikan." Amber melemparkan senyum manis kepada Gian. Senyuman yang selalu membuat hati Gian bergetar.


"Thank you, My Amber," Gian berkata sambil mengelus pipi Amber lembut. "You know what, kadang aku berharap bertemu dan jatuh cinta denganmu lebih awal. Tapi mungkin enggak akan sama kayak gini kali ya?" Gian terkekeh sendiri setelah mengatakan itu. Ia menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.


"Ya … Mungkin saja aku akan terus ketus karena sikapmu yang menyebalkan itu," Amber mengingat betapa menyebalkannya Gian di awal pertemuan mereka di kampus.


"Ahahaha … kamu masih aja inget itu." Sebuah cubitan gemas lalu melayang ke kedua pipi Amber. "Aku pikir aku enggak akan jatuh cinta lagi dalam waktu yang lama. Ternyata salah," ujar Gian.


"Aku pun enggak pernah terpikir untuk punya pacar. Ternyata sekarang punya," Amber masih saja tersenyum-senyum jika mengingat bahwa Gian adalah kekasih pertamanya.


"Makasih ya, Amberku, kamu udah bikin aku bener-bener jatuh cinta," sambil menatap dengan pandangan teduh ke mata Amber.


"Dih! Kenapa tau-tau malah melengos ke sana? Kan aku baru serius." Karena kesal bercampur gemas Gian menggelitik pinggang Amber dan membuat gadis itu sungguh kegelian.


"Aaa … Enggak mau. Aku enggak suka dikelitik!" Amber otomatis berdiri menghindari kelitikan Gian.


"Mana ada orang yang suka dikelitikin," Gian terkekeh dan menarik tangan Amber hingga ia jatuh terduduk di pangkuannya.


"Udah ah. Aku ngambek lho nanti." Amber berusaha bangkit karena sungguh ia merasa canggung duduk di pangkuan Gian. Tak pernah ada lelaki yang memangkunya kecuali sang ayah. Itupun sudah lama sekali ketika Amber masih kecil. Kali ini rasanya jauh berbeda. Jantung Amber berpacu dengan kencangnya.


"Stay," kata Gian. Ia menahan Amber supaya tak beranjak dan tetap duduk di pangkuannya. "Always be My Amber, okay?" dengan tatapan yang bersungguh-sungguh Gian melontarkan pertanyaan itu.


"Okay," jawab Amber lirih. Ia seperti tersihir dan tak bisa melepaskan pandangannya dari Gian.


Gian pun begitu, matanya terus saja menatap ke wajah manis kekasihnya. Ia terpaku pada bibir mungil Amber yang selalu tampak natural tanpa polesan warna yang mencolok. Tangannya tergerak untuk memegang lembut pipi halus Amber dan perlahan mengalir begitu saja ke leher belakang Amber, memberikan sensasi yang terasa di seluruh tubuh gadis itu dari ujung kaki hingga kepala yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Dengan sangat pelan Gian mendekatkan wajahnya pada wajah Amber. Perlahan namun pasti semakin dekat. Tak nampak penolakan dari Amber, mungkin karena mereka memang saling mencintai dan sudah sama-sama dewasa. Tubuh mereka masing-masing seolah paham ke arah mana ini akan berujung.


Amber memejamkan kedua matanya saat wajah Gian sudah semakin mendekat. Ini terbaca sebagai sebuah persetujuan oleh Gian. Maka dengan lembut dan tak ragu ia mencium bibir Amber yang tak pernah sekalipun tersentuh oleh bibir lelaki lain sebelumnya.


Sensasi yang Amber rasakan sebelumnya terasa lebih hebat di seluruh tubuhnya sekarang. Ia tak pernah menyangka bahwa sebuah ciuman saja bisa membuatnya merasa seperti ini. Dan di dalam hatinya, seolah ada ribuan kembang api yang terus meledak-ledak. Ia menyukai perasaan ini.


Berulang kali Gian mengecup bibir Amber dan si empunya pun belajar mengimbangi kecupan Gian dengan mata yang masih terpejam. Anak muda pun juga manusia biasa yang mempunyai hasrat. Bahkan, hasrat jiwa muda biasanya jauh lebih menggelora. Kecupan kedua sejoli itu kini dihiasi dengan suara napas yang terengah. Kedua tangan Amber memegang pundak Gian. Sementara tangan Gian bergerak dengan natural tanpa diperintah dan mengelus punggung Amber.


Di saat itu, mata Amber tiba-tiba terbuka. "No!" batinnya. Sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal, ia berkata kepada Gian, "Minum. Aku butuh minum."


Tingkah laku Amber sontak membuat Gian tersenyum. "Okay. Tidak boleh lebih dari ini. Beri dia waktu," katanya di dalam hati. Ia lalu mengecup dahi Amber dengan penuh sayang, meminta Amber untuk berpindah, lalu berdiri mengambilkan minuman untuk kekasihnya.


Sementara Amber duduk terdiam dengan wajah yang merona merah. Ia mengipasi wajahnya yang terasa panas itu dengan kedua tangannya.