
Gian masih berdiri terdiam dalam kejutnya. Ia mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia bahkan tak dapat merasakan apakah ia marah atau cemburu. Yang ia tahu, ada rasa perih yang teramat sangat dalam hatinya.
Ia akhirnya memutuskan untuk melangkah menghampiri Fanya yang masih menggelayut mesra dalam pelukan pria asing itu.
“A bouquet for you, Miss.”
Sapaannya itu tentu saja membuat kedua sejoli itu terkejut. Terlebih lagi Fanya yang secara spontan langsung melepaskan pelukannya lalu sedikit mendorong pria di hadapannya.
“We didn’t order one,” kata pria yang wajahnya nampak tak nyaman dengan kehadiran Gian yang tiba-tiba.
“it’s free, Man. For your girlfriend,” kata Gian sambil menatap sinis kepada Fanya yang sepertinya masih mencoba memproses apa yang sedang terjadi.
“Hey, who the hell are you?” tanya pria tersebut dengan nada yang mulai meninggi hingga membuat beberapa orang yang sedang menikmati makan malam di restoran itu menoleh kepada mereka.
Pria asing itu nampaknya benar-benar tak tahu siapa Gian. Itu juga berarti bahwa ia juga tak tahu bahwa sebenarnya Fanya sudah mempunyai kekasih.
“I’m no one, Man,” kata Gian yang lalu meletakkan buket bunga mawar di atas meja karena tak segera diterima oleh Fanya.
Ia lalu mengajak Dhika pergi dari tempat itu.
“Gian, tunggu!”
Seiring dengan mereka berdua pergi menjauh, terdengar Fanya sempat memanggil namanya. Ia pun seperti di tahan oleh pria asing tadi yang terus menanyakan siapa Gian. Entah apa yang akan dijelaskan Fanya pada pria itu tentang Gian. Gian sudah tak bisa lagi peduli. Ia hanya ingin cepat beranjak dari tempat yang telah memberinya salah satu kenangan terburuk itu.
Gian meninggalkan restoran tersebut dengan langkah yang cukup tergesa. Mungkin ia enggan jika harus berurusan lagi dengan Fanya atau pria yang saat ini sedang bersamanya.
Dhika mengikutinya tanpa berkata apapun. Ia belum bisa membaca apa yang sedang ada di pikiran kakaknya. Ia hanya khawatir jika Gian akan marah besar dan berpikir bagaimana ia bisa meredakan kemarahan kakaknya nanti karena saat ini mereka sedang di luar negri dan hanya berdua saja.
“Dhik, lo balik duluan ke hotel. Pesen makan kalau lo laper. Gue pergi bentar,” kata Gian yang mulai terlihat gusar saat mereka mulai semakin menjauh dari restoran tadi.
“Lo mau ke mana, Kak? Gue temenin,” kata Dhika yang khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya di saat seperti ini.
“Udah lo balik aja duluan. Gue nggak lama.” Gian pun pergi tanpa menunggu adiknya mengatakan sesuatu lagi.
Dhika tak lagi bisa membantah. Selama ini, hubungannya sangatlah dekat dengan Gian. Yang ia sangat tahu, Gian adalah laki-laki yang tak pernah berbohong. Ia tak pernah mengingkari kata-katanya sendiri. Saat ini Dhika hanya bisa berpegang pada hal tersebut sambil terus berharap bahwa kakaknya memang akan segera kembali ke hotel tanpa terjadi hal buruk apapun.
★★★
Sudah satu jam berlalu sejak Dhika berpisah dengan Gian tadi. Dua porsi makan malam yang sudah ia pesan dari pihak hotel pun sudah datang sejak tadi, namun Gian belum juga kembali.
Dhika pun mulai khawatir dan mencoba menghubungi sang kakak tapi tidak diangkat. Ia memutuskan untuk keluar dan mencoba mencari ke mana kakaknya pergi walau ia sendiri bingung ke mana harus mulai mencarinya.
Belum juga ia keluar dari kamar hotel, terdengar suara bel pintu berdering. Cepat-cepat Dhika membuka pintu kamar tersebut dan ternyata benar, itu Gian.
Bau alkohol tercium jelas dari hembusan napasnya. Dia pun masih menenteng tas kecil yang berisi beberapa botol alkohol.
Gian bukanlah seorang pemabuk. Ayahnya memang tak melarangnya minum setelah ia beranjak dewasa asalkan itu semua dilakukan dengan tanggung jawab, bukannya malah sembarangan.
Gian tak pernah semabuk ini sebelumnya. Dhika tak tahu berapa banyak alkohol yang sudah ia minum tadi.
Biasanya, Gian akan mengungkapkan kemarahannya lewat kata-kata, sama seperti saat ia mengetahui bahwa ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai beberapa tahun yang lalu. Nampaknya kali ini lain.
“Lo nggak perlu kaya gini, Kak,” Dhika mencoba mencegah Gian yang sudah berniat membuka satu botol alkohol lagi.
Gian nampak terdiam sejenak, lalu menanggapi perkataan adiknya, “dia cinta pertama gue, Dhik. Cuma dia satu-satunya.
Sedikit pun tak terdengar amarah dalam setiap kata yang ia ucapkan. Dhika yang sudah layaknya sahabat bagi Gian pun mengetahui, pertama kali Gian merasakan cinta adalah saat ia bertemu dengan Fanya. Cinta remaja yang perlahan menjadi sesuatu yang serius, paling tidak di mata Gian.
Dhika bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Gian saat ini. Ia pun memutuskan untuk tak lagi menahan kakaknya yang sudah mulai menenggak alkohol yang ada di hadapannya.
“Gue percaya banget sama Fanya, Dhik. Ga pernah sekali pun gue nggak percaya ama apa yang dia bilang,” kata Gian dengan kondisi kesadaran yang sudah mulai hilang karena efek minuman yang ditenggaknya.
Dhika hanya diam dan mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan Gian. Yang Dhika tahu, ia harus menjaga kakaknya malam ini.
“Bisa nggak ya gue, Dhik, kalau harus tanpa dia?” Gian menatap Dhika saat menanyakan hal tersebut.
“Bisa. Lo nggak usah menye-menye gitu deh, Kak. Lo bukan cowok lemah. Inget kata Ayah kalau cowok itu nggak boleh nangis,” Dhika mencoba menyemangati kakaknya sebisanya.
“Gue nggak nangis, Sialan!” Gian tak terima dengan kata-kata Dhika.
“Nggak usah teriak-teriak juga kali. Diusir dari hotel baru tau rasa lo, Kak.” Dhika tak marah walau sudah dikata-katai oleh Gian.
“Hahaha. Iya juga ya, tumben lo ngomongnya bener,” kata Gian yang sudah semakin meracau.
“Mulai besok, gue nggak akan menye-menye lagi gara-gara Fanya. Kayanya cewek yang udah berkhianat kaya gitu nggak pantes kalau gue tangisin,” lanjutnya lagi.
“Jadi sekarang lo ngaku kalau menye-menye dan udah nangis?” goda Dhika yang paham kalau kakaknya sudah dalam keadaan mabuk berat.
“Sial lu, ah. Siapa juga yang menye-menye? Gue kagak!”
Akhirnya Dhika memilih untuk diam daripada Gian terus-terusan berteriak dan mereka diusir karena sudah menyebabkan ketidak-nyamanan di hotel tersebut.
Ia terus mendengarkan ocehan Gian hingga akhirnya Gian pun tertidur dengan sendirinya di sofa.
Setelah kakaknya tidur, Dhika baru bisa mengisi perutnya yang sebenarnya sudah merasa lapar sejak tadi. Dilihatnya sang kakak yang sesekali masih meracau dalam tidurnya. Ia tahu pasti bahwa Gian sangatlah tersakiti.
Di matanya, Gian adalah sosok pria panutan yang kesetiaannya tak perlu lagi dipertanyakan. Wajar saja hatinya hancur melihat wanita yang sangat ia cintai berciuman dengan pria lain tepat di depan matanya.
Rasa benci terhadap Fanya pun tak bisa Dhika hindari. Kenangan indah apapun yang pernah mereka lalui bersama layaknya adik dan kakak seketika hilang. Yang ia ingat saat ini, Fanya adalah wanita yang telah menghancurkan hati kakak yang sangat ia hormati dan cintai.