
Seorang gadis tiba-tiba duduk di dekat Amber ketika ia sedang menunggu Charemon yang tengah memesan minuman di salah satu kios di kantin. Tentu saja, wajah gadis itu tak asing diingatan Amber. Ia adalah gadis berambut pendek yang sudah memberinya ancaman waktu itu. Yang Amber masih belum tahu, gadis itu bernama Rara.
Rara tersenyum dan menyapa Amber, "ikut gue yuk, Amber."
Bagi orang lain di sana yang tidak tahu apa-apa, mereka mungkin akan mengira bahwa Rara adalah salah satu teman Amber. Karena memang cara dia menyapa dan tersenyum terlihat biasa saja.
"Sorry, aku baru nungguin temenku," jawab Amber dengan was-was, namun tak mau begitu memperlihatkan apa yang ia rasakan pada Rara.
Rara pun lalu berdiri. Ia menggandeng Amber di lengan dan kemudian mengajaknya berdiri untuk mengikuti kemauannya. Sambil tetap tersenyum gadis itu berbisik kepada Amber, "udah. Nggak usah membantah ya. Lo nggak liat gue bawa temen?"
Memang, Rara tidaklah sendirian. Jika kala itu ia bersama dua orang gadis lain, kali ini berbeda. Ada dua lelaki muda yang menemaninya. Jika dilihat dari penampilannya, nampaknya mereka juga merupakan mahasiswa di kampus itu.
"Udah lah. Aku turutin aja. Aku cuma perlu cari bukti yang kuat buat ngancem balik biar mereka bisa berhenti ganggu orang-orang yang aku kenal," hal inilah yang Amber pikirkan di dalam kepalanya.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, kali ini pun Amber juga membawa serta alat perekam peninggalan ibunya. Ia berharap, kali ini ia bisa berhasil mendapatkan bukti yang ia butuhkan. Sedari tadi, ia mencoba menekan tombol 'Rekam' pada alat tersebut namun belum berhasil. Maka saat ini, ia hanya bisa mengikuti gadis itu dan melihat apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Aku mau di bawa ke mana sih?" tanya Amber yang mulai khawatir karena nampaknya ia akan di bawa ke salah satu sudut sepi di kampus itu. Entah apa yang orang-orang ini akan lakukan padanya.
Amber sebenarnya bukanlah gadis yang lemah. Ini bukan hanya soal postur tubuhnya yang memang cukup tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan Rara. Amber sendiri sedikit banyak mempunyai kemampuan bela diri yang ia dapatkan dari kelas ekstrakulikuler taekwondo saat ia masih duduk bangku sekolah menengah atas, yang bisa ia gunakan dalam keadaan mendesak.
Hanya saja, situasinya sedikit sulit saat ini. Pasalnya Rara ditemani oleh dua lelaki muda yang tentunya tak akan semudah itu Amber hadapi sendirian. Hal inilah yang membuatnya semakin khawatir. Apalagi, nampaknya Amber akhirnya tahu ia akan dibawa ke mana.
***
Sementara itu, Charemon dan Egidia sudah berpencar untuk mencari Amber. Mereka tentu saja merasa khawatir jika akan terjadi hal yang buruk pada teman mereka itu.
Charemon berpikir, tak mungkin Amber akan dibawa keluar kampus. Pastinya ia masih berada tak jauh dari kantin karena menurut info yang ia dapatkan dari orang yang duduk di sebelah mereka tadi, Amber pergi tak lama sebelum Charemon datang membawa minuman pesanan mereka berdua.
"Amber, please kamu di mana. Please Amber, kasih gue tanda," batin Charemon yang masih berjalan cepat sedikit berlari, berharap ia bisa segera menemukan sahabatnya.
Beruntung, Charemon pun akhirnya melihat Amber di kejauhan. Bucket hat berwarna biru tua yang ia kenakan membuatnya mudah dikenali. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh orang yang tadi Charemon tanyai. Amber tak hanya bersama dengan seorang gadis berambut pendek itu tetapi juga dua lelaki muda yang berjalan tepat di belakang mereka berdua.
Jantung Charemon langsung berdegup kencang karena ia saat itu sendiri. Egidia entah ada di mana. Akhirnya Charemon memutuskan untuk menelepon Egidia sambil terus membuntuti Amber dari kejauhan.
"Ketemu, Kak Egi! Amber di bawa ke area gudang belakang aula," Charemon memberikan informasi kepada Egidia. Tentu saja, suaranya ia pelankan supaya tidak ketahuan.
Gudang belakang sebenarnya bukanlah sebuah ruangan, melainkan satu area terbuka dengan atap galvalum yang memang jarang disinggahi dan biasa digunakan untuk menaruh kayu atau bahan-bahan lain sisa dekorasi atau projek mahasiswa yang sudah tidak terpakai. Nantinya, semua benda-benda itu akan disingkirkan atau dimanfaatkan untuk keperluan lain oleh petugas kebersihan kampus.
"Okay, gue secepatnya ke sana, Dek. Kalau memungkinkan lo rekam video mereka buat bukti. Ati-ati tapi, jangan sampe ketahuan. Gue ke sana sekarang!" jawab Egidia yang langsung menuju ke sana sambil menghubungi Gian.
"Halo, Gi. Gue baru mau ke kantin. Tadi diajak ngobrol sama dosen," kata Gian yang masih belum tahu situasi terakhirnya.
"Nggak usah ke kantin! Amber dibawa sama cewek itu ke gudang belakang aula," jawab Egidia yang terdengar terengah-engah karena ia tengah berlari menyusul Charemon.
Gian tak menjawab informasi dari Egidia namun langsung menutup teleponnya dan mengajak Bimo untuk pergi ke sana. Ia tahu, jika ia terlambat mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi pada Amber, entah apa itu.
Saat bertemu, keduanya seolah saling sepakat untuk tidak bersuara dan tetap melanjutkan untuk mengambil video menggunakan ponsel milik Charemon. Untuk berjaga-jaga, Egidia pun juga menggunakan ponselnya untuk merekam peristiwa yang terjadi di hadapan mereka itu.
Amber dipojokkan dengan punggungnya bersandar pada dinding. Salah seorang dari kedua lelaki muda tadi berdiri di sebelah kanan Amber sedangkan yang satunya ada di sebelah kiri. Sementara Rara berada tepat di hadapan Amber.
"Bukannya lo udah gue peringatin jangan deket-deket lagi sama Gian ya? Kenapa masih ngeyel?!!" bentak Rara.
"Siapa juga yang ngeyel!" Amber melawan. Dalam hatinya, sejak awal ia memang tak terima diperlakukan seperti ini. Jikaa bukan karena alasan keselamatan orang-orang yang ia kenal, mungkin sejak awal ia tak akan segan untuk melakukan perlawanan.
Di saat yang sama, Amber juga mencoba untuk meraih alat perekam yang ada di kantong jaketnya.
Klik!
Suasana yang saat itu cukup sepi membuat suara tombol 'Rekam' yang dipencet oleh Amber terdengar cukup jelas.
"Sial!" batin Amber.
Rara yang menyadari hal tersebut pun langsung menggeledah kantong jaket Amber.
"Ooooh … pinter lo ya. Mau cari bukti buat ngelawan gue lo?!" ia berteriak sambil melempar alat perekam tersebut ke lantai.
Yang ia lakukan selanjutnya adalah mengeluarkan sebuah pisau lipat serbaguna seperti yang biasa digunakan oleh mahasiswa pecinta alam saat sedang melakukan kegiatan seperti pendakian gunung. Walau kecil, pisau semacam ini tentunya bisa melukai.
Hal tersebut sontak membuat Charemon dan Egidia terkejut. Terlebih Charemon, yang seketika ingin berdiri dan menolong sahabatnya namun ditahan oleh Egidia. Egidia yakin Rara tidak akan berbuat senekat itu. Ia yakin, Rara hanya menggertak saja. Dan yang terpenting, bukti yang mereka dapatkan belum cukup kuat.
"Kesel banget gue sama lo. Gara-gara lo gue jadi kena marah Samantha tauk! Gue dipermaluin di depan anggota Samantra yang lain ngerti nggak lo?! Semua gara-gara lo dan usaha kue kering temen lo si Monyet itu!" Rara yang sudah dibutakan oleh amarah meluapkan semua kekesalannya dengan berteriak tepat di wajah Amber yang jelas tak paham siapa itu Samantha.
Pastinya, Rara sudah lupa bahwa tujuan utamanya adalah membantu Samantha supaya bisa mendapatkan Gian. Ia lupa bahwa seharusnya ia hanya menggertak Amber saja bukannya melakukan hal yang bisa dianggap sebagai tindak kriminal seperti ini. Yang ia tahu, saat ini ia merasa sangat kesal dan marah pada Amber.
"Astaga! Jadi semua ini ada hubungannya sama Samantha? Berarti selama ini dugaan gue bener kalau Samantha emang ngejar Gian," batin Egidia yang memang terkejut mendengar nama Samantha di sebut-sebut oleh Rara.
"Udah, kerjain aja, Ra. Biar tau rasa ni anak," kata salah seorang dari kedua lelaki muda tadi. Sementara yang satunya tersenyum sangat licik, seolah ia tahu apa maksudnya 'mengerjai' Amber.
"Sini lo!" kata Rara yang menyuruh lelaki tersebut untuk bertukar posisi dengannya. Sementara ia dan lelaki yang satunya memegangi Amber yang sudah mulai memberontak berusaha menyelamatkan diri.
"Kak Egi, Amber mau diapain itu, Kak? Ayo tolongin Amber, Kak!" Charemon hampir menangis saat berbisik-bisik pada Egidia.
"Heh! Mau ngapain kalian?!" teriak Amber.
Lelaki yang berada di depan Amber tadi memegang wajah Amber dengan kedua tangannya lalu menyeringai dan berkata, "cantik juga kok. Gue bungkem aja mulutnya biar nggak berisik."
Ia lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya pada Amber. Sedangkan Amber berusaha keras untuk memberontak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap ia bisa menghindar.