
Setelah selesai menyantap makan siang bersama sang ayah, Amber kembali ke kamarnya untuk mandi air hangat. Memang paling tepat, di saat merasa lelah, siraman air hangat di seluruh tubuh dan kepala adalah yang Amber butuhkan. Terbukti, ia kembali merasa rileks dan segar sekarang.
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih, Amber duduk di depan meja belajarnya. Ia berkirim pesan dengan sahabatnya, Charemon.
Mon, kamu udah bangun belum? Baru ngapain? Isi pesan Amber.
Baru nunggu kue kering mateng. Gue bikin tadi sama Mama. Napa? Balas Charemon.
Amber memang sudah melewati masa terpuruknya. Hanya saja, terkadang terbersit rasa sedih saat mengetahui seorang anak bisa menghabiskan waktu bersama dengan ibunya, seperti yang sedang dilakukan Charemon bersama mamanya saat ini.
Setiap kali Amber merasa seperti ini, ia langsung teringat akan pesan Ria. Maka ia pun lalu membatin sebuah doa sederhana yang cukup sering ia ucapkan di dalam hati.
"Di mana pun Bunda berada saat ini, Amber berharap Bunda dalam keadaan baik dan sehat," ucapnya di dalam hati.
Setelah sempat tertunda beberapa saat, ia kembali membalas pesan Charemon.
Hari ini main di rumahku ya? Aku jemput, pesan Amber lagi.
Boleh-boleh. Gue tunggu. Ati-ati di jalan, ga usah ngebut-ngebut, balas Charemon.
Iya, Bawel, pungkas Amber.
Walaupun Charemon lebih seperti seorang adik bagi Amber, dialah yang justru sering mengingatkan Amber tentang ini dan itu. Amber menerima semua itu dengan senang hati, jika tidak, pasti Amber sudah menjauhi Charemon sejak awal.
Setelah selesai mengirim pesan pada Charemon, Amber pun bersiap lalu berpamitan pada ayahnya.
"Ayah nggak usah nungguin ya. Amber nggak tau mau main dulu apa nggak di rumah Momon. Nggak akan sampe malem kok, Yah," ujar Amber.
"Iya, Nak. Kamu hati-hati di jalan ya. Nggak usah ngebut," pesan Ayah.
"Iya, Ayah," sahut Amber sambil mengecup kecil pipi sang ayah.
★★★
Ketukan Amber di daun pintu rumah Charemon disambut oleh seorang wanita paruh baya yang tak lebih tinggi dari Charemon namun sangat mirip dengannya. Dalam hati, Amber langsung berpikir bahwa beliau pasti ibunya.
Selama ini Amber memang sering kali mengantar Charemon pulang. Namun, ia belum pernah mampir ke rumahnya. Pantas saja kalau ibu Charemon pun belum familiar dengan Amber. Ia pun terlihat sedikit kaget saat melihat mobil yang Amber gunakan.
"Permisi, Tante. Momonnya ada?" sapa Amber dengan sopan.
"Iya, ada. Kamu siapa ya, Nak?" wanita itu balik bertanya, masih dengan wajah herannya.
"Saya Amber, Tante. Teman kampus Momon, tapi kami beda kelas," Amber manjawab sembari menyodorkan tangan untuk berjabat.
"Tante familiar dengan mobil kamu karna sering anter Momon pulang, kan? Tapi Tante kira selama ini yang anter Momon itu anak cowok. Sampai bolak-balik Tante tanyain terus lho, tapi Momon selalu bilang bukan," ujar ibu Charemon sambil sedikit terkekeh. Mungkin ia malu selama ini sudah salah sangka terhadap putrinya.
"Hehehe. Maaf, Tante, Amber selama ini nggak pernah mampir dan selalu langsung pulang," kata Amber.
"Nggak papa, Nak. Ini sekarang akhirnya kamu mampir, kan? Ayo masuk," ia mempersilahkan Amber untuk masuk diiringi dengan senyuman teduh di bibirnya.
"Ditunggu sebentar ya. Momonnya baru mandi. Kumel dia kena tepung, tadi abis bantuin tante bikin kue kering," kata wanita itu sambil ikut duduk di ruang tamu.
Tampak ia masih menggunakan celemek. Mungkin kegiatannya membuat kue masih belum selesai. Itu membuat Amber merasa tak enak.
"Tante masih bikin kue ya?" tanya Amber memastikan.
"Iya, Tante masih nunggu satu kloter lagi. Sambil ngemas yang udah dingin ke dalam toples," ujarnya.
"Ayok, dilanjutin aja, Tante. Amber bantuin sambil nunggu Momon."
Entah kenapa, Amber bisa langsung merasa dekat dengan ibu Charemon. Wanita itu begitu ramah dan mirip dengan Charemon. Mungkin itulah alasannya.
"Boleh-boleh. Yuk."
Tanpa disangka, wanita itu mengiyakan tawaran Amber. Istilah 'like mother like daughter' mungkin memang benar dalam situasi ini. Tak sulit bagi Amber untuk merasa nyaman berada di dekat wanita ini. Mungkin, tanpa ia sadari kehadiran Charemon memang telah membawa pengaruh baik dalam kehidupannya.
"Duduk sini, Nak," kata wanita itu sambil menepuk sebuah bangku kecil yang ada di dekat meja dapur.
Bau wangi berbagai macam kue kering memenuhi seluruh ruangan. Amber tak menyangka bahwa akan ada begitu banyak kue yang sudah selesai dikemas dalam toples yang sudah ditumpuk rapi di sebuah meja yang terletak di sudut ruangan.
Saat Charemon mengatakan bahwa ia sedang membuat kue kering tadi, Amber berpikir bahwa itu hanya kegiatan hari Minggu biasa. Nyatanya bukan. Yang terpampang didepannya sekarang lebih mirip dengan sebuah usaha rumahan.
"Tante bikin pesenan, ya?" tanya Amber penasaran.
"Iya, Nak. Lumayan loh hasilnya bisa buat sekolah Momon dan adiknya," kata wanita itu sambil mulai melanjutkan proses pengemasan kue kering jenis nastar.
Amber terdiam sesaat sambil terus membantu ibu Charemon. Di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menanyakan tentang ayah Charemon. Namun, ia menghentikan niatnya, takut kalau ternyata ia salah berucap.
Wanita itu masih bisa tersenyum sambil menceritakan hal tersebut kepada Amber.
"Turut berduka, Tante," hanya itu kata-kata yang mampu keluar dari mulut Amber.
Wajahnya suram. Ia tahu rasanya kehilangan, hanya saja ini lain. Walaupun tak pasti, masih ada kemungkinan Amber untuk bisa bertemu dengan ibunya. Tapi Momon?
"Kami sudah melewati masa itu bersama-sama, Nak Amber. Sudah, nggak perlu ikut merasa sedih begitu. Amber juga bisa lihat sendiri lewat Charemon, dia bahagia, kan? Om pun juga pasti sudah jauh lebih baik sekarang, sudah nggak sakit lagi," kata wanita itu.
Kata-kata wanita itu begitu menyejukkan hati. Amber merasa bahwa pertemanannya dengan Charemon mungkin memanglah sesuatu yang sudah digariskan Tuhan.
Bahkan saat ini pun, melalui ucapan ibu Charemon, Amber kembali merasa disadarkan bahwa ia harus mensyukuri apa yang ia punya saat ini, tak perlu berlarut-larut ada di dalam rasa kehilangan.
"Iya, Tante. Amber bantu jagain Momon di kampus, biar dia nggak nakal," kata Amber yang mencoba kembali mencairkan suasana.
Keduanya pun tertawa bersama, membuat Charemon yang baru saja turun dari lantai atas heran dibuatnya. Terlebih lagi, Amber tampak sudah cukup akrab dengan ibu Charemon.
"Hayo pada ngomongin apaan? Ngomong aku ya?" tanyanya dengan nada ceria seperti biasanya.
"Aku?" goda Amber yang tahu bahwa biasanya Charemon menggunakan kata 'gue' dan 'lo' di setiao percakapannya dengan teman-teman di kampus, bahkan dengan Amber.
"Ssst, bawel. Nggak usah komentar. Ini namanya sopan tauk!" katanya sambil mencubit pundak Amber.
Amber mengusap pundaknya yang sakit dan itu membuat ibu Charemon tertawa. Dalam hatinya ia merasa tenang dan bersyukur, Charemon bisa menemukan sahabat yang sebaik dan sedekat ini.
Amber pun lalu meminta ijin kepada ibu Charemon untuk mengajak Charemon main dan menginap di rumahnya.
"Lho? Nginep?" tanya Charemon yang memang tidak tahu bahwa ia akan diajak menginap di rumah Amber.
"Iya, biar sekalian besok berangkat kuliah bareng. Ada kelas kan besok?" Amber balik bertanya.
"Ada sih," Charemon tampak ragu karena tadinya ia pikir hanya akan main sebentar.
Amber membaca hal itu di wajah Charemon.
"Tenang, kita bantuin Tante dulu sampai selesai. Kasihan Tante nggak ada yang bantuin. Masih siang juga kan ini. Nanti yang pesen mau ambil atau Tante yang anter?" tanya Amber.
"Tante yang biasa anterin naik taksi online kok, Nak," jawab wanita itu lembut.
"Nggak usah, Tante. Nanti biar Amber sama Momon aja yang anterin sekalian berangkat. Tante tinggal kasih tau alamatnya aja," Amber begitu bersemangat ingin membantu keluarga sahabatnya tersebut.
"Apa nggak merepotkan?" ibu Charemon nampak sungkan menerima tawaran dari Amber.
"Nggak lah, Tante. Lagian kan ini Momon yang nganterin," celetuk Amber sambil melihat ke arah Charemon yang tersenyum ke arahnya.
"Baiklah. Terima kasih banyak ya, Nak Amber. Kamu teman yang baik," wanita itu pun juga tersenyum pada Amber.
"Sama-sama, Tante," jawab Amber.
Walau memang bantuan yang diberikan Amber tidak seberapa, hatinya merasa bahagia mampu sedikit berkontribusi dalam kerepotan yang dialami oleh keluarga Charemon.
Di dalam lubuk hatinya, ia berjanji untuk menjaga persahabatan ini dengan baik. Dengan begitu, ia yakin bisa terus bersahabat dengan gadis periang yang sedikit demi sedikit sudah mengembalikan keceriaannya itu.
★★★
Pengepakan seluruh kue kering buatan ibu Charemon selesai jam 4 sore. Datangnya Amber membuat semuanya lebih cepat selesai.
Seluruh kue yang sudah rapi terkemas di dalam toples lalu ditata di dalam kardus-kardus untuk menjaga kualitas dan bentuknya. Setelahnya, semua dimasukkan ke bagian kabin belakang mobil Amber yang memang cukup luas.
Setelahnya, Amber berpamitan pada ibu Charemon.
"Kami jalan dulu ya, Tante. Kapan-kapan Amber main lagi," katanya sambil menjabat tangan wanita tersebut.
"Iya, Nak Amber. Kapan pun kamu mau main ke sini, silahkan datang. Terima kasih sekali lagi, kamu udah bantuin Tante hari ini," kata wanita itu sembari mengusap pelan pundak Amber.
"Bukan apa-apa kok, Tante."
Amber lalu menganggukan sedikit kepalanya pada ibu Charemon, pertanda ia sudah siap berangkat. Ia lalu masuk ke dalam mobil lalu duduk di balik kemudi dan menunggu Charemon yang masih berpamitan dengan ibunya. Nampak wanita itu mengambil sesuatu dari dalam rumah lalu memberikannya pada Charemon untuk ia bawa.
Mereka pun lalu melaju menuju ke tempat si pemesan kue. Beruntung alamatnya tak sulit untuk dicari sehingga tak butuh waktu lama untuk menemukannya.
Si pemesan pun merasa senang karena menerima kuenya lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Hal itu pun memberikan rasa gembira tersendiri bagi Amber dan Charemon.
Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Amber. Tanpa Charemon ketahui, sebuah kejutan besar sudah menantinya di sana.