AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 37 - Awal



5 menit sudah berlalu sejak Gian duduk di sebelah Amber. Kursi taman itu tak cukup besar untuk mereka bisa duduk berjauhan.


Egidia, Nadine, dan Saskia pun sudah tak nampak di pandangan setelah tadi sempat membuat sedikit keributan. Suasana masih hening. Belum ada satu kata pun yang terucap dari bibir kedua sejoli itu.


"Sorry," kata maaf dari Amber memecah sepinya suasana.


Gian sedikit tersentak dan langsung menoleh. Harusnya ia masih merasa kesal karena sudah dituduh oleh Amber tempo hari. Tapi ini tidak. Hatinya malah merasa tenang karena ia yakin Amber akhirnya tahu bahwa bukan dialah yang sudah mengerjai Amber kali ini.


"Kenapa?" tanya Gian.


Rasa gengsi yang ada pada dirinya membuatnya tak semudah itu menunjukkan bahwa kata maaf dari Amber saja sebenarnya sudah cukup.


"Sorry waktu itu aku udah marah dan nuduh kamu," kata Amber pelan, masih tanpa melihat ke arah Gian.


Hati Gian semakin puas. Keinginan untuk usil pada Amber sekelibat muncul setelah melihat wajah gadis itu yang sedikit tertunduk seolah benar-benar merasa bersalah. Hanya saja, ia urungkan. Nampaknya Gian tak mau kejadian salah sasaran menimpanya lagi hanya karena keusilannya pada Amber.


"Hmmm … Jadi lo akhirnya percaya kalau bukan gue yang ngotorin loker lo?" tanya Gian dengan nada mencibir sambil menahan senyum.


"Iya … iya, maaf. Aku ngaku salah. Tadi Kak Egi udah cerita kalau kamu udah beberapa hari di luar kota jadi nggak mungkin kalau kamu yang ngelakuin itu semua," jelas Amber, kali ini dengan menggeser sedikit posisi duduknya sehingga ia bisa melihat ke arah Gian.


"Hmmm … Jadi kalau Egi yang ngomong lo percaya. Kalau gue yang ngomong lo malah marah-marah? Gitu?" Gian mencibir lagi.


"Iya … iya. Nggak usah nyibir gitu napa? Aku kan udah ngaku salah," bibir Amber mengerucut karena ia mulai kesal dengan ulah Gian yang terus meledeknya.


"Minta maaf yang bener!" gertak Gian sambil berusaha keras supaya tidak tertawa.


Amber tersentak. Ia lalu membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Nih," katanya singkat sambil menyodorkan sebuah energy bar rasa stroberi pada Gian.


Ia lalu membuka binder gambarnya dan melepas selembar kertas bergambar serigala hitam lengkap dengan bubuhan tanda tangannya di salah satu sudut. Ia pun menyodorkan gambar buatannya itu pada Gian.


"Emang gue serem banget apa, lo kasih gambar serigala begini?" protes Gian.


"Itu salah satu karyaku yang paling aku suka. Kalau kamu nggak mau, sini balikin," kata Amber sambil mencoba meraih gambar itu dari tangan Gian.


Walaupun Gian merasa bahwa meminta maaf dengan cara memberikan gambar seperti ini adalah hal yang lucu, entah kenapa ia malah sedikit tersentuh saat tahu bahwa itu bukanlah gambar sembarangan. Itu adalah salah satu gambar favorit Amber.


Di sisi lain, Gian kembali berpikir bahwa dugaannya memang tak salah. Amber memang berbeda dengan gadis yang lain. Dia unik.


"Udah dikasihin mau diminta lagi. Dasar lo nggak iklas ya?" kata Gian sambil menyelipkan gambar itu di salah satu modul kuliah di dalam tasnya.


Tingkah Gian yang menyebalkan di mata Amber mulai muncul. Itu membuatnya sedikit cemberut karena sebal.


"Mau marah lagi kan lo?" tanya Gian dengan senyumnya yang selalu membuat Amber jengkel itu.


Amber tak menjawab dan hanya menghela napas. Ia tak bisa marah karena kali ini ialah yang ada di posisi bersalah.


Tiba-tiba, Amber teringat akan satu hal. Ia lalu menyodorkan tangan kanannya pada Gian.


"Kenalin. Aku Amberley Senja, Prodi Seni Murni angkatan 2019."


Tingkah Amber barusan kembali membuat Gian merasa geli.


"Apaan sih lo? Nggak usah norak deh. Udah kenal juga," kata Gian mencibir lagi.


"Belum!" Amber langsung menyahut hingga Gian kaget dibuatnya.


"Kalau kita nggak kenalan dengan bener kaya gini, selamanya kamu bakalan jadi orang asing di mataku," lanjut Amber dengan wajah serius.


"Ish … Bisa bawel juga ini anak," Gian mengacak-acak gemas kepala Amber yang tertutup bucket hat itu.


Ia lalu menerima jabatan tangan Amber lalu berkata, "Gian Putra Adipramana bla bla bla bla. Nggak usah gue jelasin lo juga pasti udah tau kan gue dari prodi apa, angkatan berapa. Gue kan terkenal."


Amber buru-buru melepas tangannya dan memasang muka masam setelah mendengar Gian mengatakan itu. Ia lalu menyerobot energy bar yang tadi sudah ia berikan kepada Gian. Gian yang lengah tak bisa mencegahnya.


Amber pun membuka bungkus energy bar tersebut lalu membagi isinya menjadi dua.


"Nih," ia menyodorkan setengah dari energy bar itu kepada Gian dan memakan yang setengah lagi.


"Ih … Punya gue juga," kata Gian.


"Laper, belom makan siang. Tadinya mau makan sama Momon tapi ternyata dia diajakin pergi sama temen-temen sekelasnya," ujar Amber sambil terus memakan energy bar kesukaannya itu.


"Kantin yok. Egi pasti ada di sana juga," ajak Gian.


"Boleh lah," kata Amber.


"Tapi ngomong-ngomong lo nggak mau manggil gue 'Kak Gian' kaya yang lain," tanya Gian.


"Nggak. Udah kebiasaan," jawab Amber singkat sambil beranjak dari kursi taman menuju ke kantin.


"Emang ngeselin lo ya," Gian pun lalu berdiri dan menyusul Amber yang sudah mulai menjauh.


***


Kedatangan Amber dan Gian disambut dengan godaan dari beberapa teman Gian yang memang sedang berkumpul di kantin.


"Cieeee … Ada yang udah akur, Gaes," kata Bimo disambut dengan gelak tawa teman-temannya yang lain.


Keriuhan yang mereka buat sontak mengundang perhatian banyak orang yang juga berada di sana. Salah satunya adalah Nadine. Hatinya geram melihat Amber dan Gian yang berjalan bersama dan menjadi penyebab dari keriuhan itu.


Amber terlihat hendak duduk bersama di meja tempat teman-teman Gian berkumpul, di sana juga ada Egidia. Gian lalu cepat-cepat mencari dua buah bangku untuknya dan Amber. Bimo bahkan disuruhnya bergeser supaya mereka berdua bisa ikut duduk di sana.


"Cie … Disiapin bangku, Gaes," goda Bimo lagi yang akhirnya membuatnya menerima satu jitakan keras dari Gian.


"Bawel banget sih lo jadi orang, Bim. Jadi batu aja sono biar nggak bawel," kata Egidia sambil tertawa melihat ulah kedua sahabat baiknya.


"Malin Kundang dong gue?" Bimo menimpali sambil berpose menyembah layaknya tokoh cerita rakyat itu. Sontak hal tersebut membuat semua tertawa.


"Sssttt … Diem lo pada. Ada yang mau kenalan ini," Gian berkata sambil menyenggol-nyenggol lengan Amber.


"Apaan sih," kata Amber dengan kikuk.


"Kan biar nggak asing," goda Gian berbisik di dekat telinga Amber.


Melihat hal tersebut keriuhan pun kembali terjadi. Bagi teman-teman yang memang benar sudah mengenal Gian selama berkuliah, mereka sudah tahu betul bahwa kedekatan Gian dengan seorang gadis seperti ini adalah hal yang sangat jarang terjadi. Wajar saja jika tiba-tiba mereka seolah menjadi anggota dari tim Ambergian. Mungkin sebenarnya mereka turut merasa bahagia karena Gian tak lagi menutup dirinya setelah perpisahannya dengan Zefanya.


Semua perlakuan Gian kepada Amber di kantin siang ini tentu tak luput dari perhatian Nadine. Tentu saja hal itu membuatnya semakin kesal. Selama ini Gian selalu menghindar atau terlihat enggan jika ia dekati. Dengan Amber, Gian bahkan sampai mencarikan tempat duduk seperti itu.


Rasa iri dan benci pun kian membara di hatinya.


"Cih! Cewek tengil itu pasti kemaren cuma pura-pura marah biar dideketin sama Gian. Busuk banget caranya," batinnya.


"Liat aja. Gue nggak akan tinggal diam."