AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 70 - Hantu?



"Kok lo lari sih, Bim? Gian mana?" tanya Egidia.


Ia, Amber, dan Charemon tadi hanya mendengar suara teriakan. Mereka tak mengetahui apa penyebabnya. Yang mereka tahu, Bimo tiba-tiba berlari masuk ke dalam villa namun tanpa Gian yang mengikutinya.


"Ha …hhaantu!" ucap Bimo tergagap sambil bersembunyi di balik punggung Egidia.


"Hantu apaan, Kak Bim?" tanya Charemon yang penasaran namun tetap merasa takut hingga detak jantungnya pun menjadi semakin cepat.


Belum juga Bimo sempat menjelaskan apa yang terjadi, kembali terdengar suara teriakan Gian yang membuat Amber bergegas menghampirinya. Entah hantu atau bukan, yang Amber tahu ia harus segera menghampiri dan menolong Gian yang terdengar sangat ketakutan.


"Den … Aden … Ini saya, bukan hantu!"


"Hah? Aden? Sejak kapan hantu manggil Gian dengan sebutan 'aden'?" batin Amber yang sempat mendengar sosok itu berbicara pada Gian. Amber bahkan melihatnya menggenggam sebuah ponsel di tangannya.


"Masa hantu bawa handphone?" Amber semakin keheranan.


Ia lalu menghampiri Gian yang masih kalut dan tersungkur di tanah. Ia terus berteriak hingga tak bisa mendengarnya penjelasan pria yang berkalung sarung putih yang kini sudah berjongkok di hadapannya itu. Amber pun secepatnya menghampiri Gian.


"Hey … hey, Gian. Tenang! Bukan hantu! Coba kamu liat dulu yang bener!" Amber terpaksa berteriak supaya Gian bisa mendengarnya. Ia berjongkok sambil memeluk Gian dari belakang supaya ia tak lagi ketakutan.


Sambil memegangi tangan Amber yang memeluknya itu, perlahan Gian menyadari bahwa yang ada di hadapannya memang bukanlah hantu. Ia adalah Pak Surip, pria paruh baya yang memang dipekerjakan oleh Adipramana untuk menjaga dan merawat villa.


"Duh! Maaf, Den. Saya udah bikin Aden kaget sampe jatuh begini," kata Pak Surip sambil membantu Gian untuk berdiri.


Dengan napas yang masih ngos-ngosan, Gian akhirnya berdiri. Sambil membersihkan debu-debu tanah dari tubuhnya, dengan kesal ia pun berkata, "Pak Surip kenapa nggak bilang kalau ke sini?!"


"Duh! Maaf sekali lagi, Den. Tadinya saya mau bilang, tapi nggak jadi. Takut ngeganggu Den Gian sama temen-temen. Jadi saya masuk aja tadi, terus mau ngeronda di situ sambil liat-liat vidio lagu campur sari. Saya pake headset dari tadi, makanya nggak denger suara Aden yang nyamperin," dengan panjang lebar Pak Surip menjelaskan.


Amber yang sedari tadi ikut menepuk-nepuk punggung dan lengan Gian supaya bersih dari debu pun tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan dari Pak Surip. Ia lalu berkata, "lagian pak surip pake sarung warna putih gitu. Emang nggak ada warna yang lain, Pak?"


"Yang putih ini yang bahannya paling tebel, Neng. Pas buat ngeronda malem-malem dingin gini. Kalau dipake begini jadi serem ya, Neng?" canda pak Surip sambil mengerudungi kepalanya sendiri dengan sarung putihnya seperti tadi.


Saat Amber tertawa melihat tingkah Pak Surip, Gian malah teringat akan kengerian yang ia alami tadi. Ia pun buru-buru pamit ke dalam, "tinggal masuk dulu ya, Pak Surip. Mau mandi."


"Aku juga masuk ya, Pak Surip. Nanti aku kirimin makanan sama kopi. Selamat ngeronda, Pak," kata Amber dengan ramah.


Sementara itu, Bimo, Egidia, dan Charemon terheran-heran melihat Gian yang masuk ke dalam villa dengan wajah kesal dan tubuh yang dipenuhi debu. Mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sebelum naik ke kamar atas untuk mandi dan mengganti pakaiannya, Gian menghampiri Bimo dan memberikan jentikan jari keras tepat di dahinya yang sontak membuat Bimo berteriak, "Aw!"


"Ninggalin gue tadi lo ya!" tanpa mengatakan apa-apa lagi, Gian berlalu ke kamar atas.


Sementara itu, Amber yang masuk ke dalam villa sambil terkekeh, menceritakan semuanya kepada tiga sahabatnya. Egidia dan Charemon pun akhirnya tertawa bersama. Sedangkan Bimo, ia hanya mampu tersenyum masam karena merasa malu sudah ketakutan hingga lari terbirit-birit tadi.


Di kamar mandi yang terletak di lantai dua, Gian sedang membasuh dirinya. Siraman air hangat yang keluar dari shower sungguh membuat tubuhnya merasa lebih rileks.


Selesai mandi, ia duduk di dekat meja kecil yang ada di sebelah tempat tidur. Dibukanya laci meja tersebut dan diraihnya sebuah kalung berbahan perak dengan bandul sebuah music box locket berbentuk bulat. Music box itu juga terbuat dari bahan perak yang sama. Bagian depannya berhiaskan ukiran yang menambah kesan vintage pada benda itu. Di bagian tengah, ada sebuah batu kristal berwarna hitam.


Music box itu berukuran sangat kecil. Walaupun begitu, benda itu benar-benar bisa memutarkan sebuah lagu pendek jika tuas mungil pada bagian belakangnya diputar. Bagian depan dari music box itu juga bisa dibuka sehingga terlihatlah sebuah alat pemutar musik yang sangat kecil didalamnya.


Gian sudah membeli benda tersebut sejak lama. Rencananya, ia akan memberikan benda itu kepada Amber malam ini.


"Sial! Gue tadi pasti keliatan penakut banget di depan Amber," batin Gian sambil terus memegang kalung perak tadi. "Kalau kaya gini kejadiannya, gimana gue bisa kasihin ini ke dia?"


Gian memang berencana untuk memberikan kalung itu sebagai hadiah untuk Amber. Ia bahkan sudah mempunyai rencana untuk meminta Amber menjadi kekasihnya malam ini.


Kalung itu pun tidak semudah itu Gian dapatkan. Ia bahkan sengaja dengan susah payah memohon kepada si pengerajin supaya hiasan batu kristal pada bagian depan bandul music box itu diganti dengan yang berwarna hitam. Ia memperhatikan dengan baik bahwa Amber lebih sering terlihat memakai barang-barang berwarna hitam atau merah di kesehariannya dibandingkan dengan warna lain. Ia ingin benda kecil itu memberikan kesan spesial di mata Amber.


Sambil menghela napas panjang, Gian mengantongi kalung perak itu dan akhirnya memilih untuk kembali ke lantai satu. Walau masih ada perasaan malu terutama jika ia harus bertatap muka dengan Amber, ia tak boleh menjadi pengecut dan terus bersembunyi.


"Laki-laki nggak boleh pengecut!" batin Gian sambil mengepalkan tangan untuk memberikan semangat pada dirinya sendiri.


Saat menuruni tangga, Gian berpapasan dengan Bimo yang hendak menuju ke atas. "Ke mana lo?" tanya Gian.


"Ngantuk gue, mau tidur dulu," Bimo menjawab tanpa menghentikan langkahnya. Nampaknya, ia kelelahan setelah main di pantai bersama Egidia siang tadi.


Gian pun melanjutkan langkahnya. Sesampainya di bawah, suasana sudah sepi karena memang sudah cukup larut. Saat ia masih di kamar tadi, ia juga mendengar suara Egidia dan Charemon masuk ke kamar. Gian pikir, mereka juga pasti kelelahan setelah seharian beraktifitas.


Gian pun lalu menuju ke sliding doors di dekat area dapur, bermaksud untuk menutup dan menguncinya. Ternyata Amber masih duduk di kursi yang ada di area deck. Ia tampak sedang menelepon seseorang. Gian pun tak jadi menutup pintu dan malah menghampiri Amber. Ia lalu duduk di sebelahnya.