
Penyusuran rute Jerit Malam untuk mencari Amber dilakukan dari dua arah yang berbeda, titik awal dan finis. Seperti yang sudah dikomandokan oleh Arvin, hanya panitia lelaki saja yang ikut dalam proses pencarian. Malam yang sudah larut membuat proses pencarian cukup sulit untuk di lakukan, mengingat bahwa rute tersebut adalah jalan setapak yang tak dilengkapi dengan lampu penerangan.
"Cari ke segala arah! Dia pake kemeja kotak-kotak warna biru tua sama headlamp!" Arvin terus mengingatkan anggotanya.
Arvin yang berjalan dari titik finis bersama kelompoknya dibuat heran karena mereka pada akhirnya malah bertemu dengan kelompok pencari yang satu lagi di tengah-tengan rute. "Ketemu?!" itulah kata pertama yang Arvin ucapkan.
"Enggak ada, Vin!" Bimo menjawab dengan napas yang terengah-engah. Di dalam hatinya ia sungguh mengkhawatirkan kekasih sahabatnya yang belum juga ditemukan itu. Bagaimanapun, Amber sudah menjadi sahabat untuknya pula.
"Jangan-jangan jatoh, Bang?!" tanya salah seorang di antara mereka.
"Ada pager bambu di hampir sepanjang rute lho. Masak jatoh?" Arvin sebenarnya menanyakan ini karena ia mencoba menepis kemungkinan terburuk yang memang bisa saja terjadi.
"Cari aja, Vin! Jangan kelamaan! Tambah malem tambah dingin! Bahaya!" Bimo pun mulai tak sabar.
"Ya udah! Nyebar lagi!" perintah Arvin.
Mereja semua pun berbalik ke arah yang berlawanan. Kini pencarian difokuskan pada area lereng. Minimnya pencahayaan sunggung memaksa mereka semua untuk berusaha lebih ekstra dalam mencari Amber.
Tak lama kemudian, "Bang! Sini, Bang!" Salah seorang dari mereka terdengar berteriak di kejauhan. Semua yang mendengar pun langsung menuju ke arah suara itu.
"Apaan?!" tanya Arvin setelah berlari secepatnya.
"Liat tu, Bang! Kayak lampu senter!" kata pemuda itu sambil mengarahkan cahaya senternya sendiri pada sesuatu yang terlihat di lereng. Secercah cahaya kecil dari LED headlamp milik Amber yang masih dalam keadaan menyala pun akhirnya terlihat walau sempat tak teramati sebelumnya.
"Beberapa orang turun! Ati-ati! Yang lain bantu nyenterin dan terus nyari dari atas!" teriak Arvin yang kemudian juga turun ikut menyusuri lereng.
Bimo yang tak bisa jika hanya melihat saja langsung bergegas mendahului yang lain menuju ke arah pijar kecil itu. Sesampainya di sana, diambilnya benda itu. Benar saja, cahaya itu berasal dari headlamp yang tadi Amber kenakan. Bimo mengetahui hal itu karena tadi ia sendiri pun melihat Amber memakainya.
"Amber!" sama seperti yang lain, Bimo pun meneriakkan nama
Amber, berharap bahwa ia akan menyahut. Sayangnya, tak terdengar sama sekali jawaban dari Amber.
Mereka pun memutuskan untuk terus menyusur area lereng di tengah udara yang semakin dingin seiring berlalunya waktu. Perlahan namun pasti mereka semakin turun ke bawah, hingga akhirnya seseorang menemukan Amber yang masih dalam keadaan pingsan dalam posisi yang juga masih menelungkup. "Ketemu, Bang!"
"Tandu! Cepet bawa turun!" seketika Arvin meminta tandu yang memang sejak awal sudah disiapkan, siapa tahu dibutuhkan.
Dengan hati-hati, mereka memindahkan Amber ke atas tandu dan mengencangkan tali pengamannya. "Badannya dingin banget, Vin!" kata Bimo yang lalu melepas jaketnya sendiri untuk menyelimuti Amber. Tubuh gadis itu tak hanya dingin namun jelas menggigil. Ia masih belum sadarkan diri.
Setelah semua siap, empat orang termasuk Bimo menggotong tandu tersebut. Yang lain menerangi dan menjaga supaya semua bisa sampai kembali di atas lereng dengan aman dan selamat. Begitu mereka berhasil menaiki lereng dengan susah payah dan berada kembali di jalan setapak, mereka pun mempercepat langkahnya menuju wisma. Mereka semua tahu bahwa Amber harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu di wisma, Charemon sudah bisa menguasai perasaannya setelah ditenangkan oleh Egidia. Kini ia bersama Egidia dan Andre dengan cemas menunggu kembalinya tim pencari yang sudah lebih dari 15 menit pergi mencari Amber.
"Mudah-mudahan Amber enggak kenapa-kenapa ya, Kak," kata Charemon yang sebenarnya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Iya. Berdoa aja, Dek," jawab Egidia. Hatinya juga merasa tak tenang.
Tak lama setelahnya. Mereka bertiga mulai melihat pancaran cahaya senter menyorot dari kejauhan ke arah titik finis rute Jerit Malam. Ketiganya pun sontak berlari mendekat dan menemukan pemandangan yang sungguh tak mereka harapkan. Mereka melihat Amber yang digotong dengan menggunakan tandu. Tubuhnya menggigil dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia terlihat lusuh penuh debu dan ada goresan luka yang mengeluarkan darah pada pelipisnya.
"Amber!" Charemon berteriak. Tangisnya pecah seketika.
"Mobil! Siapin mobil!" Arvin langsung berteriak. Si pemilik mobil sudah berlari duluan untuk menyiapkan mobilnya bahkan sebelum Arvin memintanya.
"Sorry gue enggak bisa ikut ke rumah sakit. Gue harus pimpin koordinasi di sini. Makrab kudu tetep jalan sampe kelar besok," Arvin kembali berkata sambil membantu melepaskan tali pengaman tandu karena tak mungkin untuk memasukkan Amber ke dalam mobil jika ia masih berada di tandu.
"Iya, enggak papa. Sana buruan berangkat. Mobil dah siap. Lo ikut enggak, Ndre?" tanya Arvin. Ia mengerti jika sedari tadi pun Andre sangat khawatir akan keadaan Amber.
"Iya, Bang!" dengan cepat Andre menjawab.
"Biar gue aja yang bopong Amber. Enggak papa ya?" Bimo sebenarnya merasa tak enak, tapi situasinya darurat saat ini.
"Udah enggak papa!" kata Egidia sambil membukakan pintu. "Mon, lo ama gue masuk duluan duduk di belakang. Andre, lo di depan nemenin Adit, ngasih tau jalan!" di saat panik seperti ini, Egidia selalu saja bisa berpikiran cepat dan tenang.
Setelah semua orang masuk, mobil yang dikendarai Adit pun melaju cepat menuju ke rumah sakit terdekat. Dengan Andre yang berada di sebelahnya sambil melihat ke arah mana mereka harus pergi melalui peta di ponsel pintarnya, perjalanan mereka pun lebih lancar. Beruntung jalanan cukup lengang karena waktu memang sudah menunjukkan sekitar pukul 23.00 malam.
"Badan Amber dingin banget sumpah. Dia nggigil terus," kata Bimo yang rela duduk tidak nyaman sepanjang perjalanan demi menjaga supaya Amber tetap dalam posisi nyaman. Bimo tak berani banyak bergerak karena ia khawatir jika ada bagian tubuh Amber yang cedera. Ia tak mau Amber semakin sakit.
Charemon dan Andre yang mendengar hal itu langsung melepas jaket mereka dan menyelimuti tubuh Amber. "Acnya kecil banget aja ya, Bang," kata Andre pada Adit.
"Iya nggak papa. Gue takut kalau Amber kena hipotermia. Dia cuma pake kemeja tadi, enggak pake jaket," Adit yang tadi juga ikut mencari Amber pun menjelaskan hal yang ia khawatirkan.
"Amber dipeluk, Bim. Biar badannya anget," pinta Egidia. "Gue mau telpon Gian dulu." Egidia lalu mencari nomor telepon Gian dan langsung menelepon sahabatnya itu.
"Halo, Gi. Kenapa?" beruntung Gian dengan cepat menjawab teleponnya.
"Lo belom tidur?" Egidia memastikan, sebelum ia menyampaikan berita tentang Amber kepada Gian.
"Belom, Gi. Masih ngobrol sama Dhika gue. Kenapa? Gian kembali bertanya.
" Coba lo loudspeaker sekalian aja biar Dhika denger ya," pinta Egidia.
Gian pun melakukannya walau ia heran sebenarnya ada apa, "udah nih. Kenapa sih?"
Suara Egidia yang kini terdengar melalui speaker ponsel pintar Gian pun langsung menarik perhatian Dhika yang duduk tak jauh dari Gian. "Dengerin gue baek-baek ya, Gian," Egidia mulai bercerita dengan nada yang setenang mungkin. "Sekarang mending lo siap-siap, ajak Dhika sekalian biar lo enggak pergi sendirian. Kalau perlu biar Dhika aja yang nyetirin, enggak usah lo. Dhika bisa nyetir kan?" Egidia berkata demikian karena ia tahu pasti bagaimana Gian saat ia sedang kalut.
"Bisa, Kak Egi. Kenapa?" Dhika ikut menyahut sambil mendekatkan diri ke ponsel Gian.
"Amber jatoh. Sampe sekarang dia belom sadar. Ini gue lagi otw bawa dia ke rumah sakit sama anak-anak," kata Egidia.
Penjelasan Egidia sontak membuat Gian terkejut. Rasa sesak dan khawatir seketika muncul di hatinya. "Jatoh gimana, Gi?!"
Dhika yang paham akan situasinya langsung berdiri dari duduknya dan bersiap. Tak lupa ia juga mengambil kunci mobil Gian.
"Gue juga belom paham pastinya gimana. Entar aja pas ketemu gue ceritain. Ini gue mau bantu jagain Amber dulu. Dia dipangku sama Bimo sekarang. Badannya nggigil terus. Gue takut dia hipotermia," Egidia kembali menjelaskan. "Gue bakal kasih tau nama rumah sakitnya abis ini. Lo ke sini sama Dhika ya."
"Iya, Gi. Bye."
Secepatnya Gian bersiap. Saat sedang mencari kunci mobil, ia melihat ternyata Dhika sudah siap di depan dan menyalakan mobil lalu mengeluarkannya dari garasi rumah Gian. Tanpa banyak berpikir lagi, Gian langsung mengunci rumah dan gerbang lalu masuk ke mobil.
"Ati-ati nyetirnya. Gue kalut gini enggak bakal bisa nyetir bener," kata Gian pada adiknya.
"Iya, Kak. Percaya sama gue." Dhika pun mulai melajukan mobil tersebut.
Selain saat memberitahukan arah kepada Dhika, Gian diam sepanjang perjalanan. Ia terus memegang erat ponselnya, khawatir jika tiba-tiba ada kabar datang dari Egidia.
Pikiran Gian menerawang jauh. Rasa sesal menyeruak dengan begitu dahsyatnya karena sudah mengabaikan Amber dan menuruti egonya selama seminggu ini. Ia sangat khawatir akan kondisi kekasihnya saat ini. "Please, Amber. Tunggu aku ya. Bentar lagi kita ketemu."