AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 60 - Tangkap!



Di hari berikutnya, Charemon berangkat ke kampus bersama Amber. Sahabatnya itu sudah merasa lebih baik dan menawarkan untuk menjemputnya.


Kemarin, Charemon tak hanya menceritakan semua yang ia tahu pada Gian, Egidia, dan Bimo. Ia juga meminta nomor telepon mereka masing-masing, supaya ia bisa membuat group chat. Dengan begitu, mereka berempat bisa lebih mudah berkomunikasi dalam menjalankan rencana yang sudah mereka bahas kemarin.


"Pagi-pagi udah sibuk banget, Mon?" tanya Amber yang masih menyetir dan heran melihat sahabatnya itu sedari tadi berkutat dengan ponselnya.


"Hehehe … Iya, group keluarga Mama nih," karena bingung Charemon hanya menjawab seperti itu. Padahal sebenarnya, ia sedang mengirimkan pesan ke dalam group chat yang ia beri nama SAVAM itu, singkatan dari SAVe AMber.


Gue sama Amber bentar lagi udah nyampe kampus, Kak. Semoga hari ini berjalan sesuai rencana...


Begitulah pesan yang baru saja Charemon kirimkan ke group chat SAVAM. Tak lama kemudian, mobil Amber sudah memasuki area parkir Fakultas Seni.


Amber dan Charemon pun segera turun dan masuk karena memang kelas mereka masing-masing akan segera dimulai. Amber sedikit terkejut ketika mengetahui Gian sedang duduk di kursi yang terletak di salah satu sudut area hall. Begitu melihat Amber dan Charemon, Gian pun mendekati mereka dan ikut berjalan menyusuri koridor kampus menuju ke kelas masing-masing.


"Hey, Mon," sapa Gian pada Charemon.


"Hey, Kak Gian," Charemon membalas sapaan Gian sambil tersenyum. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang kelas masing-masing dan kebetulan, koridor yang harus dilewati untuk sampai di sana sama.


"Momon doang yang disapa? Kayaknya Gian masih marah sama aku," kata Amber di dalam hatinya.


Tentu saja Amber dibuat heran dengan kelakuan Gian saat ini. Ia seolah mengangap Amber tidak ada di sana. Walau memang Amber masih berencana untuk tidak dekat-dekat dengan Gian dulu, hal ini tetap saja membuatnya sedikit kesal dan sedih dalam waktu yang bersamaan.


Sesaat, ia jadi teringat akan sikap menyebalkan Gian di saat-saat awal mereka bertemu di kampus ini. Kala itu Amber merasa kesal bukan kepalang terhadap setiap keusilan yang Gian tujukan padanya.


Kali ini pun terasa seperti itu. Amber merasa bahwa Gian sengaja menunggu dan berjalan bersama dengannya dan Charemon hanya untuk membuatnya merasa kesal. Bedanya, perasaan Amber sudah tak seperti dulu. Dulu ia sama sekali tak suka pada Gian yang masih ia anggap sebagai orang asing. Kali ini, Amber sudah menyadari perasaan sukanya kepada Gian, walau mungkin itu sedikit terlambat.


Tak banyak yang bisa Amber lakukan saat ini. Paling tidak, sebelum masalah yang saat ini sedang ia hadapi selesai.


Saat tiba di persimpangan, Gian pun berjalan ke arah yang berlawanan, menuju kelas yang memang biasa dipakai oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Lagi-lagi, Gian hanya berpamitan dengan Charemon. Amber hanya bisa menghela napas panjang.


Perpisahan mereka di persimpangan ini ternyata disaksikan oleh Rara, saat itu kebetulan sedang bercengkrama dengan beberapa temannya di depan sebuah ruang kelas. Tentu saja, hal ini terlihat seperti tabuhan genderang perang di matanya.


"Oh … Si Ember masih berani jalan bareng Gian rupanya? Omongan gue waktu itu nggak digubris berarti! Okay … Okay …! Siap-siap aja lo entar!" katanya dalam hati sambil terus mengawasi Amber yang mulai menjauh dari pandangannya.


***


Hari ini terasa begitu lambat berlalu bagi Charemon. Sepanjang kelas-kelas yang ia ikuti, ia tak bisa merasa tenang. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada Amber karena tadi pagi, walaupun tak bercakap, ia terlihat berjalan bersama dengan Gian di koridor.


"Duh … lama amat ini kelas nggak kelar-kelar," gumam Charemon di dalam hati.


Ia terus saja melihat jam tangannya. Sebenarnya, kelas hari ini berjalan sesuai jadwal seperti biasa. Hanya saja, memang Charemon yang terus merasa tak tenang.


Begitu dosen selesai memberikan kuliahnya, Charemon pun langsung berlari keluar untuk menuju ke kelas Amber, bahkan sebelum sang dosen menginggalkan kelas. Ia lalu bergegas menuju ke kelas Amber.


Betapa tenangnya Charemon melihat Amber keluar dari kelasnya dan nampaknya memang tak ada sesuatu yang terjadi. Charemon memang berusaha keras untuk menjalankan saran Egidia untuk tidak terlalu mengungkung Amber walaupun mereka akan terus mengawasinya. Harapannya, semua akan terlihat normal seperti hari-hari biasanya. Dengan begitu, celah untuk si pelaku muncul tetaplah ada.


Walaupun begitu, Charemon sungguh tak bisa memungkiri rasa khawatir di dalam hatinya. Karena itu, ia ingin segera bertemu dengan Amber setelah semua kelas di hari itu selesai ia ikuti.


"Kenapa sih lari-larian, Mon? Nggak capek apa?" tanya Amber yang memang heran melihat sahabatnya itu menghampirinya sambil berlari.


"Capek. Ayok ke kantin cari minum," jawab Charemon dengan napas yang masih ngos-ngosan.


Sebenarnya, pergi ke kantin adalah bagian dari rencana Egidia. Ia berpikir, jika peristiwa penyiraman di toilet itu terjadi saat Amber sedang berada di kantin bersama Charemon, maka ada kemungkinan si pelaku akan muncul juga kali ini. Jika ternyata tidak, rencananya, Gian akan datang ke kantin juga dan duduk di meja yang sama dengan Amber untuk melemparkan 'umpan' kedua yang mungkin akan membuat si pelaku terpancing.


"Sana kamu pesen minum dulu," kata Amber yang sudah duduk di bangku kantin.


"Lo mau minum juga nggak? Gue beliin ya," Charemon menawarkan.


"Terserah kamu aja, Mon," kata Amber.


"Okay," jawab Charemon singkat. Ia lalu mengambil ponselnya dan berlalu memesankan minuman untuk dirinya dan Amber.


"Kesempatan buat ngabarin ke SAVAM kalau gue sama Amber udah ada di kantin," batin Charemon. Ia lalu mengetik pesan untuk dikirimkan ke group chat SAVAM sambil menunggu pesanannya selesai di buat.


Egidia mengabarkan kalau ia baru akan menuju ke kantin karena tadi ia tengah membahas tugas dengan teman sekelompoknya. Sedangkan Gian dan Bimo masih belum memberi kabar.


Betapa terkejutnya Charemon. Saat ia membawa dua gelas minuman yang ia pesan dan kembali ke mejanya, Amber sudah tak ada di sana. Bahkan tasnya pun juga tak ada.


"Amber, lo kemana sih kok nggak bilang-bilang. Jangan bikin gue khawatir deh," batin Charemon yang melihat ke sana ke mari, siapa tahu Amber sedang membeli sesuatu di salah satu kios di kantin itu. Sayangnya, sahabatnya itu memang tak ada di sana.


Akhirnya Charemon memberanikan diri untuk bertanya kepada beberapa mahasiswa yang ada di meja sebelah, "sorry, lo liat temen gue yang tadi duduk di sini nggak?"


"Yang pake topi ya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Iya, dia pake topi biru tua tadi," dengan cepat Charemon menjawab.


"Tadi belom lama kayaknya dia pergi sama temennya tuh ke sana," kata orang itu sambil menunjuk ke arah mana Amber pergi.


"Temen? Cewek apa cowok?" jantung Charemon mulai berdegup lebih kencang saat mengetahui hal ini.


"Ada cewek satu rambut pendek sama dua cowok," jawab orang itu lagi.


"Oh, okay. Makasih banyak ya," Charemon menjawab sambil berlalu dari sana meninggalkan minuman yang sama sekali belum ia sentuh. Mendengar gambaran tentang siapa yang mengajak Amber pergi langsung membuat Charemon khawatir. Terlebih lagi, ada dua orang pria yang bersama pula dengan gadis itu.


Sebelum Charemon pergi terlalu jauh, ia berpapasan dengan Egidia yang baru saja tiba di kantin.


"Kak Egi! Kayaknya Amber diajak pergi sama cewek itu deh! Ayo buruan kita cari, Kak!" kata Charemon terburu-buru.


"Hah?! Kok bisa?!" Egidia tersentak.


"Udah, ceritanya ntar aja, Kak. Katanya mereka ke arah sana, cuma nggak tau pastinya ke mana," Charemon mulai panik karena Amber sudah tak terlihat dari pandangannya.


"Ya udah. Kita mencar aja nyarinya. Pegang hape lo. Yang udah nemu duluan telpon. Okay?" beruntung, di saat seperti ini Egidia selalu bisa berpikir cepat.


"Okay, Kak," kata Egidia singkat.


"Inget, kalau ada apa-apa jangan gegabah," pesan Egidia.


Mereka pun berpisah. Masing-masing dari mereka berharap supaya tak terjadi hal yang buruk pada Amber.