
Siang ini Gian, Bimo dan beberapa teman satu angkatannya sedang berkumpul di salah sudut kampus. Di sana terletak dua buah meja besar dan beberapa kursi yang memang biasa digunakan sebagai tempat berdiskusi, bertukar pikiran, dan mengerjakan tugas. Kali ini pun begitu, Gian bersama teman-temannya sedang berkumpul untuk membahas tugas yang nantinya juga akan digunakan sebagai materi pameran untuk kelas Typografi.
Tugas ini sebenarnya adalah tugas individu dan bukan kelompok. Hanya saja, membahas berbagai macam hal yang berkaitan bersama-sama dengan rekan mahasiswa lain sering kali membantu dalam hal eksplorasi ide atau bahkan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Selain itu, rencana dan pelaksanaan pameran yang umumnya dilakukan di tiap akhir semester memang biasanya dikerjakan langsung oleh para mahasiswa, sedangkan dosen mata kuliah hanya akan memberi arahan dan saran saja. Karena itulah, mengerjakan tugas bersama seperti ini juga bisa menjadi ajang diskusi untuk persiapan pelaksanaan pameran kelak.
Di saat Gian dan teman-temannya sedang serius dengan tugasnya, Nadine muncul lalu berdiri di belakang Gian dan meletakkan kedua tangannya di pundak pemuda tampan tersebut.
"Pada bahas typografi ya?" dengan sok ramah, Nadine menyapa.
Gian yang risih dengan Nadine yang nenempel pada punggungnya itu langsung memajukan duduknya. Ia memang tak pernah suka dengan kebiasaan Nadine yang sering tiba-tiba menempel padanya, padahal mereka hanya sebatas teman satu angkatan yang bahkan menurut Gian tidaklah dekat.
"Ngape? Mau ikutan lo, Nad? Bukannya biasanya lo diskusi ama kelompok lain ya?" celetuk Mia, salah seorang teman wanita Gian yang sedari tadi memang ikut berdiskusi di sana.
"Nimbrung doang nggak papa dong?" kata Nadine ketus sambil mengangkat tas Gian yang sedari tadi tergeletak di sebuah kursi kosong yang ada di sebelahnya lalu duduk di sana.
"Sorry, Nad. Kursi itu ada yang pake," kata Gian yang memang sengaja menandai kursi itu dengan tasnya karena nanti Amber akan datang. Teman-temannya yang lain di sana pun sudah tahu soal itu.
"Mana? Nggak ada orang lain gitu kok, Gian. Nggak papa ya aku duduk di sini?," sahut Nadine tak peduli. Ia hanya ingin berdekatan dengan Gian saja.
"Orangnya belom dateng kali. Bentar lagi juga nongol," sahut Bimo yang selalu sama dengan Egidia, yang tak menyukai sifat lenjeh Nadine yang hanya ia munculkan saat ada Gian.
"Entar dia dateng gue minggir! Bawel banget sih lo jadi cowok, Bim!" dengan sewot Nadine menanggapi kata-kata Bimo.
Dengan berat hati, Gian mengambil tasnya yang masih dipegangi oleh Nadine dan membiarkan gadis itu duduk di sana walau ia harus menggeser sedikit duduknya supaya tidak terlalu berdekatan.
Tak lama kemudian, Amber terlihat di kejauhan. Gian tadi memang sudah memberitahukan di mana ia berada lewat sebuah pesan, jadi setelah kuliah selesai, Amber langsung menuju ke sana.
"Minggir sono, Nad. Yang punya kursi udah dateng noh," celetuk Bimo yang memang ingin Nadine segera pergi dari sana. Ia memang sama sekali tidak membantu proses diskusi. Yang ada ia malah membuat suasana menjadi tidak nyaman karena selalu berusaha bermanja pada Gian.
Tanpa menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa si pemilik kursi yang dikatakan oleh Bimo, dengan kesal Nadine menimpali, "iya! Gue juga mau cabut. Bawel!" Ia lalu berdiri dari duduknya.
Saat akhirnya melihat ke belakang, ia akhirnya tahu bahwa yang dimaksud oleh Bimo adalah Amber. "Sialan!" batinnya.
Seketika, Nadine berniat untuk berpamitan dengan manja kepada Gian dengan maksud untuk memanas-manasi Amber. Namun, sebelum ia sempat melakukannya, salah seorang teman Gian sudah terlebih dahulu menyeletuk, "ecieee yang disamperin pacar!" Sontak hal tersebut membuat Nadine terkejut. "Pacar?!"
Ya, setelah sekitar satu minggu Amber menjadi kekasih Gian, sedikit demi sedikit teman-teman mereka pun akhirnya tahu bahwa mereka kini mempunyai hubungan khusus. Sial bagi Nadine yang malah baru saja mengetahui itu.
Amber yang akhirnya sampai pun mendekat pada Gian dan meletakkan tangannya di masing-masing pundak Gian. Berbeda dengan perlakuan Gian kepada Nadine tadi, kali ini Gian malah menggengam kedua tangan Amber dan meletakkannya di depan dadanya. Perlakuan Gian pada Amber sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan perlakuannya pada Nadine tadi.
"Kuliah lancar?" tanya Gian pada Amber yang kini sudah duduk berdekatan di sebelahnya.
"Hmm. Ada tugas bikin beberapa sketsa. Kayaknya bakal ngerjain bareng sama temen-temen. Mau nyari lokasi dulu," Amber menjelaskan.
"Oh, mata kuliah Sketsa ya? Semua mahasiswa fakultas Seni Rupa kayaknya dapet mata kuliah itu deh," kata Mia.
"Iya bener," Bimo ikut menyahut.
"Dikasih tema nggak sama dosennya?" Gian bertanya dengan maksud ingin membantu Amber dalam mengerjakan tugas kuliahnya.
"Iya ngasih. Temanya Aktivitas di Keramaian," jawab Amber.
"Pasar!" Bimo langsung saja berkata.
"Ish! Keramaian bukan melulu berarti pasar kali, Bim," kata Mia sambil menjitak kepala Bimo.
"Bener, Mi," Gian menyahut. "Kalau mau kamu bisa coba bikin sketsa di area Nol Kilometer. Di sana enggak cuma rame orang dengan berbagai aktivitas tapi banyak juga bangunan-bangunan kayak bank sama kantor pos besar yang bisa dijadiin objek sketsa. Jadi nggak cuma belajar bikin sketsa manusia tapi juga bangunan," lanjut Gian menyarankan.
"Ah! Ide bagus! Makasih ya, Gian!" kata Amber sambil mencubit pipi Gian dengan gemas.
"Lah?! Kok manggilnya masih Gian sih? Emang nggak ada panggilan sayang apa gitu?" tanya Mia yang penasaran kenapa Amber masih memanggil Gian dengan nama seperti biasanya.
Pertanyaan Mia tersebut membuat Amber tersadar. Benar juga, walaupun sudah menjadi kekasih Gian, Amber tak pernah terpikir untuk menggunakan panggilan kesayangan pada kekasihnya itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, nama 'Gian' sudah sangat spesial. Terlebih lagi, Gian adalah orang pertama yang sudah membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Seolah mampu membaca pikiran Amber, Gian tiba-tiba berkata, "buat gue, nama 'Amber' udah yang paling spesial. Kalau enggak, ngapain gua taroh baek- baek di hati gue?"
Ucapan Gian tersebut membuat Amber terkekeh. Sementara teman-temannya yang lain terbahak-bahak sambil melemparinya dengan bola-bola dari gumpalan kertas.
"Sa ae lu, Pangeran Bergitar," Bimo menggoda dengan sebutan yang selalu ia berikan kepada Gian saat ia sedang bernyanyi di panggung.
"Bener kan tapi, Amber?" tanya Gian pada kekasihnya.
"Iya … iya, bener aja deh. Biar kamu senang, Gian," jawab Amber bercanda sambil tersenyum, yang otomatis membuat semua orang yang berkumpul di meja itu tergelak.