
Sejak menjadi mahasiswa di jurusan Desain Komunikasi Visual, Gian memang sengaja memilih untuk vakum sementara dari karirnya sebagai seorang penyanyi muda. Berada di bawah naungan label dan manajemen perusahaan musik sang ayah membuatnya lebih leluasa dalam mengatur jadwalnya sebagai penyanyi. Terlebih lagi, Adipramana memang memberikan kebebasan kepada Gian soal itu dan kali ini Gian sedang memilih untuk lebih fokus pada studinya terlebih dahulu.
Walaupun begitu, sebagai seorang penyanyi yang sudah mempunyai banyak penggemar, Gian paham jika ia juga perlu memperhatikan mereka yang sudah mendukungnya selama ini. Karena itulah, sesekali Gian membagikan vlog tentang kegiatan-kegiatannya yang berhubungan dengan musik, mulai dari saat ia sedang menyanyikan lagu-lagunya secara akustik di rumah hingga saat ia berkunjung ke kediaman ayahnya untuk sekedar bergabung dalam kegiatan permusikan yang sedang berlangsung di kantor serta studio rekaman penyanyi legendaris itu.
Saat waktunya sedang cukup senggang, Gian, yang dibantu oleh sang manajer yang sebenarnya juga tergabung di dalam tim manajemen Adipramana, akan menerima undangan job menyanyi baik itu secara on air maupun off air. Sabtu ini pun begitu, karena ada sedikit waktu senggang Gian menerima undangan untuk tampil di beberapa stasiun televisi dalam satu hari. Ia akan sibuk dari pagi hingga petang nanti. Karena itulah ia tak bisa menemani kegiatan Amber untuk mengerjakan tugas sketsa bersama teman-temannya.
"Enggak papa, jadwal manggung kamu kan emang udah diatur sejak lama. Lagian aku sama temen-temen kok jadi enggak bakalan sepi," kata Amber saat berbincang dengan Gian melalui sambungan telepon.
"Masih kurang 6 sketsa ya?" tanya Gian sambil bersiap di rumah sang ayah sebelum berangkat menuju ke stasiun televisi yang pertama. Semalam Gian memang memutuskan untuk menginap di rumah ayahnya supaya pagi ini akan lebih mudah baginya dan tim untuk bersiap serta berkoordinasi.
"Enggak kok. Aku sempet bikin sendiri kemaren, jadi tinggal 3 aja," jawab Amber sambil menikmati sarapan paginya.
"Cepet kelar dong nanti?" Ada satu bagian kecil di hati Gian yang berharap Amber akan cepat menyelesaikan sketsanya lalu pulang sehingga ia tak perlu berlama-lama dengan Andre. Terkesan egois memang, hanya saja, Gian masihlah seorang anak muda yang sedang kasmaran. Rasa cemburu yang muncul, walau tak ia sampaikan kepada Amber, itu wajar.
"Nggak tau juga sih," jawab Amber. "Tergantung anak-anak nanti. Mereka emang enggak berangkat bareng aku kali ini, tapi ini hari pertama ngumpul sejak tercetus ide soal komunitas sketching itu. Mungkin kalaupun aku udah kelar duluan tetep bakal stay dulu biar bisa sharing."
Gian menghela napas pelan. Ia sadar betul bahwa yang sedang dikerjakan Amber adalah hal yang bersifat positif. "Amber enggak semudah itu jatuh cinta kali. Ngapain juga lo mikirin sampe segitunya. Ati-ati lo, jangan sampe rasa enggak percaya lo ke Andre malah berubah jadi rasa enggak percaya lo ke Amber. Emangnya Amber udah ngapain coba?" panjang lebar batin Gian bergumam sendiri.
"Halo? Kamu masih di sana?" celetuk Amber yang sesaat tak mendengar lagi suara Gian.
"Masih-masih, tadi baru fokus sama ini nih, persiapan," dengan sedikit tergagap Gian pun menanggapi.
"Ya udah telponnya nanti malem lagi aja kalau kamu enggak capek. Sekarang lanjut siap-siap aja. Aku juga mau siap-siap terus berangkat," kata Amber.
"Iya deh, udah dipanggilin juga tuh sama Ayah. Have a good day ya, my Amber," pungkas Gian.
"You too, my Gian," Amber mencoba mengimbangi kebiasaan Gian yang akhirnya malah membuatnya malu sendiri lalu buru-buru mematikan sambungan teleponnya.
Sambil terkekeh, Gian buru-buru mengirimkan sebuat pesan melalui aplikasi chat kepada Amber. Kenapa buru-buru ditutup? Kan aku mau minta diulang lagi tadi kamu bilang apa.
Auk ah, Amber membalas dengan sangat singkat. Setelahnya keduanya bersiap untuk menjalankan kegiatan masing-masing.
Mendengar bagaimana Amber dengan malu-malu menyebutnya 'my Gian' tadi, hati Gian jauh lebih tenang. "Semua akan baik-baik saja," batinnya.
***
Amber tiba bersama Charemon di area parkir Taman Kota. Ya, kali ini kegiatan komunitas sketching yang akhirnya diberi nama Gores atas usulan beberapa teman itu, memilih Taman Kota sebagai lokasi selanjutnya.
"Yang di Nol Kilometer kemaren segini juga orang yang ikutan Gores, Amber?" tanya Charemon saat ia dan Amber berjalan memasuki area taman. Dari kejauhan, mereka sudah bisa melihat beberapa teman mereka berkumpul.
"Enggak sih. Kemaren cuma berenam aja. Sekarang lebih banyak soalnya Melati sama Tika bantuin nyebar info ke temen-temen lain termasuk yang di kelas kamu," Amber menjelaskan. "Bahkan katanya anak jurusan lain juga ada yang tertarik ikut lho."
"Pantes banyak yang ngikut. Asik jadinya. Seolah jadi jawaban atas kebingungan gue," kata Charemon dengan serius.
"Hah? Emang kamu bingung kenapa, Mon?" Amber malah heran mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Di kampus kita jenis UKMnya terbatas, dan jujur, enggak ada yang menarik buat gue, makanya sampe sekarang pun gue belom daftar satu pun. Untungnya kampus kayaknya paham kalau mahasiswa seni itu sibuk sama tugas dan karya, jadi enggak dibikin wajib ikut UKM. Hahaha," ujar Charemon. Ya, seluruh fakultas yang ada di kampus tempat Charemon dan Amber menimba ilmu memang hanya terfokus pada bidang kesenian saja.
"Iya juga sih, Mon. Gores bisa jadi jawaban buat mereka yang tertarik belajar nyeketsa," kata Amber.
"Siapa tau lama-lama bisa diajuin jadi UKM kan?" celetuk Charemon.
"Ahahaha. Ya … ya, siapa tau," Amber pun ikut menyeletuk.
Tak sampai 5 menit berjalan kaki, sudah nampak beberapa wajah yang mereka kenal berkumpul di salah satu sudut taman yang teduh karena rimbunnya daun hijau dari pepohonan besar yang tumbuh di sekitar sana.
"Ndre!" Charemon memanggil Andre yang nampak sedang mengobrol dengan beberapa teman di sana. Charemon memang ramah kepada siapa saja, termasuk teman-teman sekelas Amber.
"Yo!" jawab pemuda berpembawaan cool itu dengan singkat sambil melambaikan tangannya pada Charemon dan Amber.
"Masih ada yang mau join lagi, Ndre?" tanya Amber.
"Ada. Beberapa masih otw katanya," jawab Andre. "Nanti kalau udah jamnya kita mulai duluan aja enggak papa."
"Makin rame makin bagus!" kata Charemon bersemangat. "Tapi emangnya bener, Ndre, kalau ada anak dari jurusan lain yang join juga?"
"Ada tuh, beberapa anak Diskom. Infonya sampe sana juga," ujar Andre.
"Wah, dahsyat emang Melati sama Tika nyebar infonya," Charemon menanggapi dengan dihiasi senyuman lebar. Gadis ini memang selalu suka melebarkan sayap pertemanannya.
"Ngumpul yuk. Bentar lagi udah jamnya ni," ajak Amber.
Mereka semua pun lalu duduk melingkar, berbincang sebentar mengenai Gores sebelum memulai aktivitas menggambar masing-masing.