AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 107 - Siap Atau Tidak



Amber sudah di rumah ketika Tarachandra tiba. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 malam.


"Lho? Kamu sudah pulang, Nak?" Tarachandra pikir Amber akan lama bersama Gian hari ini.


"Iya, Yah. Tadi jam 6 udah sampe," kata Amber. Ia sedang menonton siaran televisi.


Walau Amber setuju dengan apa yang Gian katakan, di dalam benaknya masih tersimpan tanya tentang kedekatan Tarachandra dan Ratih. Itu yang masih membuatnya terdengar tak seperti biasanya saat bercakap dengan Tarachandra dan lelaki itu menyadarinya. Terlebih hal ini sudah berlangsung selama beberapa hari.


Ketimbang membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Tarachandra lebih memilih untuk duduk di sebelah Amber terlebih dahulu. Ia tak bisa lagi menahan suasana yang tak biasa seperti ini. "Nak, boleh Ayah tanya sesuatu?"


Amber yang sedari tadi terfokus pada siaran di televisi kini berpindah memperhatikan Tarachandra. "Iya boleh, Yah. Ada apa?"


"Kamu beneran enggak ada hal yang mau diomongin ke Ayah?" tanya Tarachandra dengan lembut.


Amber tak langsung menjawab. Ia bingung harus berkata apa pada Tarachandra hingga yang keluar dari bibirnya malah, "Amber kangen sama Bunda, Yah."


Tarachandra menghela napasnya lalu tersenyum. "Apa kamu yakin cuma mau bilang itu ke Ayah? Kita dulu udah berjanji lho, apapun itu kita harus cerita ke satu sama lain."


Amber teringat akan janji itu. Janji yang membuatnya selalu terbuka pada sang ayah akan semua yang ia rasakan. Janji yang membuatnya mampu melalui masa sulit saat kehilangan ibunya dulu.


"Amber udah dewasa, Yah. Amber sadar kalau mungkin suatu saat akan ada yang berubah. Mungkin Ayah akan bertemu seseorang yang bisa mengisi hati Ayah lagi. Amber enggak boleh menolak tanpa alasan. Apalagi kalau alasannya hanya karena Amber enggak terbiasa dengan itu."


"Oh. Aku tahu sekarang. Jadi ini soal Ratih," kata Tarachandra di dalam hatinya.


"Hanya saja," Amber melanjutkan penuturannya, "Amber jadi kangen banget sama Bunda yah. Amber takut bilang sama Ayah, takut kalau Ayah jadi kepikiran."


Sambil memeluk pundak Amber, Tarachandra berkata, "anak Ayah memang sudah dewasa."


"Ayah enggak marah sama Amber?" tanya gadis itu.


"Enggak ada alasan untuk marah sama kamu, Nak," Tarachandra terkekeh mendengar pertanyaan Amber. "Besok kamu ada waktu enggak?"


"Besok? Ada, Yah. Amber enggak ada rencana apa-apa kok," jawab Amber sambil tersenyum. Ia mencoba mengikuti nasehat Gian siang tadi.


"Kalau gitu, mau ya ikut Ayah ke padepokan Tante Ratih besok pagi?" untuk kesekian kalinya Tarachandra mengajak Amber pergi ke tempat itu.


Walau di dalam hati Amber tetap saja merasa heran mengapa Tarachandra sering sekali bertemu dengan Ratih, ia memutuskan untuk mengiyakan ajakan ayahnya itu. "Iya, Yah. Boleh."


Jawaban Amber membuahkan senyuman lebar di bibir Tarachandra. "Makasih ya, Sayang."


***


Sesuai janjinya, Amber ikut bersama dengan Tarachandra pergi ke padepokan seni milik Ratih pagi ini. Tarachandra tak mengatakan sepatah katapun mengenai alasan mengapa mereka pergi ke sana atau mengapa hampir setiap hari ia pergi menemui Ratih. Yang Amber tahu, ayahnya terus saja tersenyum sejak sarapan tadi.


"Amber, apapun yang terjadi, kamu enggak boleh gegabah menolak tanpa alasan. Kenali dulu baru putuskan. Okay?" kata Amber di dalam hati kepada dirinya sendiri.


Sekitar satu jam perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Pak No dengan membawa Tarachandra dan Amber tiba di padepokan seni milik Ratih. Tempat itu berada di lokasi yang sedikit jauh dari pemukiman penduduk dan dikelilingi oleh pepohonan hijau yang membuat suasanya sejuk dan menenangkan.


"Hei, Amber! Kenapa baru sampai ke sini sekarang? Ayahmu sudah bolak-balik lho," dengan begitu ramah, Ratih menyambut kehadiran Amber dan Tarachandra.


"Iya, Tante. Kemarin-kemarin Amber ada yang dikerjakan," jawab Amber, masih dengan sedikit kecanggungan di dalam kata-katanya.


"Pak No, duduk santai dulu. Nanti saya bikinin kopi seperti biasanya," Ratih bahkan sudah nampak akrab dengan Pak No.


"Iya, Non. Makasih," jawab Pak No dengan ramah pula.


Pemandangan ini menyita perhatian Amber. "Tante Ratih memang ramah banget orangnya," kembali gadis itu membatin.


"Amber, Ayahmu Tante pinjam dulu ya? Enggak lama kok," kata Ratih.


"Ah … Iya, Tante," jawab Amber dengan sedikit tergagap karena pertanyaan Ratih yang tiba-tiba.


Ratih pun kemudian mengajak Tarachandra masuk ke dalam ruangan yang letaknya tak jauh dari pendopo. Amber tidak tahu ruangan apa itu, juga tak tahu mengapa Ratih mengajak Tarachandra masuk ke sana.


Amber pun memutuskan untuk berkeliling dan melihat-lihat kawasan padepokan yang cukup luas itu. Suasana masih cukup sepi di sana. Mungkin karena ini masih pagi. Rasa tertariknya tertuju pada sepasang kursi taman yang mengapit sebuah meja bunda. Kursi tersebut ditata menghadap ke arah pepohonan yang lebih mirip seperti hutan itu.


Amber pun memutuskan untuk duduk dan menunggu di sana sambil menikmati suasana sejuk yang sungguh menenangkan pikirannya. Ia mengeluarkan earphone yang kemudian ia pasang dikedua telinganya. Kombinasi pemandangan hijau dan musik favorit menciptakan kenyamanan tersendiri bagi Amber. Ia bersandar pada punggung kursi dan memejamkan matanya sejenak.


Amber sedikit terkejut ketika merasakan sebuah tepukan di pundak kirinya. Ternyata Ratih. Buru-buru Amber mematikan musik yang sedari tadi ia dengarkan dari ponselnya.


"Tante," sapanya.


Ratih menyodorkan secangkir teh hangat kepada Amber dan kemudian ikut duduk di sana. "Enak kan suasananya di sini?"


"Iya, Tante. Amber suka suasananya," Amber memutuskan untuk mulai membuka diri dan mengobrol dengan wanita nan anggun yang ada di hadapannya itu.


"Sering-seringlah datang ke sini. Rumah Tante juga enggak jauh dari sini. Kapan-kapan Tante ajak kamu main ke sana," kata Ratih.


Bukannya menanggapi, pikiran Amber malah mulai melayang ke mana-mana. "Ayah pasti udah pernah main ke sana," katanya di dalam hati. Tanpa disadari, Amber menghela napasnya.


Ratih yang menyadari hal itu kemudian tersenyum. "Ayah kamu cerita sesuatu ke Tante lho," ucapnya.


Amber yang sedang menyeruput tehnya hampir saja tersedak mendengar pengakuan Ratih. "Memangnya Ayah cerita apa ke Tante?" tanya Amber.


"Tentang kamu, ayah kamu, dan Tante," jawab wanita itu sembari tersenyum dan menatap hangat ke arah Amber.


Amber terdiam sesaat. Ia tahu, cepat atau lambat obrolan semacam ini pasti akan mencuat ke permukaan. Ia mengingat pesan yang sudah Gian berikan padanya kala itu. Maka, siap ataupun tidak, ia akan mendengarkan penuturan Ratih walau dengan jantung yang berdegup dengan kencangnya.