
Petang sudah hampir menjelang tapi pesan Gian untuk Amber tadi belum juga dibalas. Padahal tanda centang di pesan Gian sudah berubah biru, tak lagi abu-abu.
Sejak tiba di rumah, entah sudah berapa kali Gian mengecek apakah sudah ada balasan dari Amber atau belum. Semakin-lama, ia semakin terlihat gusar, hingga ia marah-marah sendiri, melempar hapenya ke atas sofa tapi tak lama kemudian mengambilnya kembali.
Sikap Gian ini tentu saja menarik perhatian Dhika, adik semata wayangnya yang lebih memilih tinggal di rumah Gian ketimbang di rumah ayahnya.
Di usianya yang masih cukup muda, Gian memang sudah berhasil membeli rumah dan mobil dari hasil jerih payahnya sendiri yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Sebagai seorang penyanyi berbakat, ia sudah berhasil menarik perhatian banyak orang. Bukan hanya suaranya yang khas dan berkarakter, namun juga karena kemampuannya untuk mempertahankan eksistensinya di dunia musik tanah air.
Gian bahkan tak hanya membawakan versi remake dari karya-karya legendaris sang ayah. Ia juga sudah berhasil menetaskan beberapa lagu yang ia ciptakan sendiri yang sukses membuat perasaan pendengarnya terbuai.
Karena popularitas dan bakatnya itulah, wajar jika ia sudah memiliki banyak sekali hal saat ini, selain semua yang sudah ia terima dari kedua orang tuanya. Walaupun sebagai imbasnya, saat sudah menjadi mahasiswa pun Gian tidak bisa menghindar dari berbagai macam ulah penggemar yang kebetulan menempuh pendidikan di kampus yang sama dengannya.
Berbeda dengan semua pengagum Gian itu, Amber sedari awal malah bersikap biasa saja, bahkan terkesan enggan dan cuek. Saat ini pun ia juga berhasil membuat Gian salah tingkah, menanti pesan yang tak kunjung dibaca.
"Ngapa sih lo, Kak?" tanya Dhika pada Gian yang kali ini sedang merebah di sofa depan TV.
"Nggak papa," jawabnya singkat dengan muka masam yang selalu dengan mudah ditebak oleh adiknya.
"Lo baru nungguin chat, ya?" Dhika yang semakin penasaran pun akhirnya duduk di sofa yang sama lalu menyalakan televisi.
"Hmm." Gian hanya menjawab dengan gumaman.
Hal itu semakin membuat Dhika penasaran. Ia hapal betul jika hanya ada satu hal yang bisa membuat kakaknya bersikap seaneh ini. Jatuh cinta.
"Senja, kah?" Dhika mencoba menduga-duga.
Gian langsung bangkit dan bertanya, "tau dari mana lo?"
"Noh gambar serigala di kamar. Kalau bukan dari orang spesial ngapain juga lo kasih bingkai, terus dipajang di deket tempat tidur gitu?" Sahut Dhika yang mengetahui inisial nama 'Senja' dari sketsa gambar yang pernah Amber berikan kepada Gian.
Dhika memang sosok yang selalu perhatian pada sang kakak. Kedekatan mereka yang terjalin dengan sangat baik semenjak kecil membuat Dhika paham betul akan kebiasaan-kebiasaan kakaknya.
"Haah," Gian menghela napas lalu menyandarkan dirinya pada punggung sofa.
"Tu bocah gue chat dari tadi siang nggak bales-bales," lanjutnya.
"Emang lo chat apaan? Sini liat," Dhika menyerobot ponsel yang layarnya sedari tadi dipandangi oleh Gian.
"Amber? Namanya Amber, Kak?" tanya Dhika setelah melihat nama kontak Amber di aplikasi pesan di ponsel Gian.
"Iya. Amberley Senja," jawab Gian.
"Wih, cakep gitu namanya. Orangnya cakep juga?" goda Dhika.
"Ish … Apa sih lo, Dhik," Gian kesal sendiri lali mengucek rambut sang adik.
Dhika tertawa lalu bangkit dari duduknya sambil tetap membawa ponsel Gian. Ia lalu menempelkan ponsel tersebut di telinganya, seolah sedang menelepon.
"Heh! Ngapain lo?!," Gian langsung berdiri dan berusaha mengambil ponsel tersebut.
Sayangnya gagal. Dhika berlari menjauh dan akhirnya membuat keduanya saling berkejaran, hingga tiba-tiba Dhika berhenti berlari.
"Halo," terdengar suara di seberang sana.
Dhika lalu menyerahkan ponsel tersebut pada Gian dan memberinya tanda supaya ia berbicara. Gian pun langsung mengecek apakah benar Dhika sudah menelepon Amber. Ternyata benar, sambungan telepon itu sudah tersambung selama beberapa detik.
Sambil mengeratkan gigi dan menunjukkan wajah kesal pada Dhika yang sudah bertindak semaunya, Gian pun mulai berbicara, "halo."
"Oh, lo udah simpen nomer gue?"
"Udah kok. Tadi begitu sampe di rumah Momon langsung aku simpen," jawab Amber.
"Oh, gue kira belom. Abisnya chat gue nggak lo bales." Gian duduk kembali di sofa.
"Oh, kamu nungguin balesan ya? Maaf aku kira nggak perlu dibales, jadi aku cuma save nomer aja tadi."
"Nggak. Gue nggak nungguin kok." Ucapan Gian ini langsung diledek oleh Dhika dengan cibiran karena ia tahu sedari tadi kakaknya sudah seperti cacing kepanasan menunggu balasan chat Amber.
"Baru ngapain lo?" Tanya Gian lagi.
"Ngerjain tugas nih. Bentar lagi kelar," jelas Amber.
"Tadi lama di tempat Momon?" Gian terus saja bertanya.
"Nggak, cuma makan siang aja. Baru sama-sama banyak tugas soalnya jadi nggak bisa main dan ngobrol lama-lama," Amber menjelaskan.
"Ish … Iya-iya gue tutup telponnya. Sono lanjutin nugasnya." Gian mengerti bahwa mungkin Amber kini sedang serius dengan tugasnya.
"Ahahaha … Tau aja kamu Gian." Jarang sekali Gian bisa mendengar tawa Amber yang seperti ini. Itu membuatnya secara otomatis tersenyum.
"Jangan lupa, lusa lo ada janji sama gue. Jum'at gue ada acara jadi ga bakal ke kampus. Nggak usah nyari-nyari ya," goda Gian.
"Kayanya aku nggak pernah nyari-nyari kamu deh, Gian,"
"Pernah. Waktu lo ngamuk tu?" Gian terkekeh sendiri jika ingat raut wajah Amber kala itu.
"Nggak usah dibahas lagi deh," jawab Amber kesal.
"Dah sono. Katanya mau ngerjain tugas. Gue tutup ya. Bye." Gian mengakhiri percakapan tersebut lalu menutup sambungan teleponnya.
Gian lalu mendekati Dhika, mengunci kepalanya dengan lengannya supaya ia bisa dengan leluasa memoles kepala adiknya itu.
"Ngasal lo ya," kata Gian yang kesal akan ulah Dhika yang sembarangan menelpon Amber.
"Hahaha … Ampun, Kak." Dhika berusaha melepaskan diri dan berhasil.
"Tapi lo seneng, kan? Ngaku aja deh," lanjutnya lagi.
"Mau gue poles lagi pala lo?" Gian bersiap menangkap Dhika kembali.
"Nggak … nggak. Rontok rambut gue nanti, Kak. Rusuh lo ah," Dhika sedikit menjauh dari Gian.
"Hari gini nggak usah pake gengsi kalau lo suka sama seseorang, Kak. Di luar sana ada banyak banget cowok yang punya berbagai cara yang mungkin bisa memikat hati Ambermu itu."
Entah kenapa Gian malah teringat akan obrolan kedua temannya di kantin tadi yang berbeda namun serupa dengan apa yang dikatakan oleh Dhika.
"Iye ... iye. Besok Sabtu pagi juga gue udah janjian mau pergi sama dia," Gian berkata sambil menjulurkan lidahnya pada Dhika.
Dalam hati, Gian sebenarnya sudah tak sabar menanti hari Sabtu segera tiba. Rasanya, menghabiskan waktu bersama Amber akan terasa berbeda, walau ia sendiri juga masih belum tahu akan seperti apa.
***
Sebenernya author yang belom tau akan seperti apa kencan pertama Gian dan Amber nanti 😅🤣