AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 82 - Alasan di Balik Pertengkaran



"Dua-duanya keras, Kak. Jadi susah mau bantuin juga. Ini udah sekian hari lho," ujar Charemon yang siang ini sengaja janjian mengobrol dengan Egidia untuk membahas tentang pertengkaran Amber dan Gian yang berujung pada perang dingin diantara keduanya keduanya. "Lo tau sendiri juga kan, Kak, sekarang dua-duanya bahkan enggak pernah nongol di group chat Savam. Jadi sepi tauk itu group chat. Kita mau rame ngobrol juga suasananya awkward banget."


"Emang sebenernya masalahnya apa sih, Dek sampe mereka berdua kayak gitu? Gue ama Gian baru sama-sama sibuk ngurusin persiapan pameran akhir semester jadi belom sempat ngobrol serius. Ketemu juga cuma bentar-bentar doang," kata Egidia.


"Enggak gampang ya, Kak, jadi pacar seorang Giandra tuh. Bahkan dari sejak Amber sama Kak Gian baru deket doang adaaa aja masalahnya," celetuk Charemon diakhiri dengan sebuah helaan napas. Dalam hati, ia merasa kasihan pada sahabat dekatnya itu. Kisah cinta pertamanya kenapa seolah selalu penuh dengan persoalan yang sebenarnya datang dari pihak luar bukan dari diri mereka sendiri.


"Maksud lo apaan, Dek?" Egidia penasaran dengan ucapan Charemon barusan.


"Jadi lagi-lagi permasalahan mereka datengnya dari luar, Kak. Awalnya Amber enggak mau cerita, tapi gue maksa terus dan akhirnya dia mau ngomong," ungkap Charemon. "Katanya Kak Gian nerima banyak foto Amber yang seolah-olah deketan sama Andre. Itu bikin Kak Gian marah." Charemon menjelaskan. "Nah, waktu Amber enggak terima dan merasa kalau Kak Gian udah nuduh yang enggak-enggak, Kak Gian malah tambah marah, dikiranya Amber ngebelain Andre."


"Andre? Itu bukannya temen sekelas dan seangkatan Amber ya?" Egidia memastikan.


"Iya, Kak. Itu lho yang orangnya ganteng dan enggak banyak ngomong. Cool banget dia," Charemon malah bercerita tentang seperti apa Andre pembawaan dan penampilan itu.


"Oh, inget gue, Dek. Bimo pernah cerita sedikit tuh soal Andre," kata Egidia yang akhirnya mengingat nama yang sepertinya memang pernah ia dengar sebelumnya.


"Lah, kok malah Kak Bimo?" Charemon malah menjadi heran. Apa hubungannya Bimo dengan Andre?


"Iya, Bimo cerita ke gue kalau dulu Gian pernah ketemu bahkan kenalan sama Andre di kantin. Waktu itu dia liat Andre sama Amber baru ngopi berdua aja. Makanya Gian nyamperin. Udah lama itu. Pas Amber sama Gian belum jadian kayaknya. Gian kan udah suka sama Amber tuh. Nah, si Andre ini malah kayak enggak ngegubris Gian dan ngajak pergi Amber pas Gian belom lama nyampe. Alesannya karena bentar lagi kelas masuk," Egidia menceritakan hal yang ia tahu.


"Oh! Gue kasih tau deh, Kak. Itu sebenernya mereka awalnya enggak mau ke kantin berdua aja lho. Awalnya gue mau ikut juga tapi gue harus ngerjain tugas. Mungkin karena udah tanggung jadinya mereka berdua aja ke kantinnya," Charemon menjelaskan.


"Kayaknya Gian nangkepnya lain deh, Dek. Mungkin dikiranya Andre baru deketin Amber juga waktu itu," Egidia masih mencoba menarik benang merah kenapa Gian sampai sedemikian marahnya hanya karena menerima foto yang tak jelas dari mana datangnya.


"Jadi maksud Kak Egi, kemarahan Kak Gian saat ini juga masih ada hubungannya sama itu, Kak?" Charemon paham ke mana arah pembicaraan Egidia.


"Iya, bisa jadi kan? Siapa tau Gian udah terlanjur sensi sama si Andre," pikir Egidia. "Eh, tapi ada satu hal lagi yang menurut gue bikin semua jadi lebih make sense, walau emang sih, kekanakan kalau Gian sampe marah kaya gini sama Amber," kata Egidia.


"Pengkhianatan itu topik yang sangat sensitif buat Gian, Dek. Ibunya pergi ninggalin ayahnya, dia, dan juga Dhika demi bersama dengan laki-laki lain. Mantannya juga berkhianat, pacaran sama cowok lain. Parahnya, waktu itu kepergok langsung sama Gian yang jauh-jauh ngedatengin dia ke Paris cuma buat nengokin dan ngasih surprise," Egidia akhirnya menceritakan hal yang tak banyak orang tahu kepastian dan kebenarannya kepada Charemon. Ia menganggap Charemon sudah menjadi bagian dari lingkaran pertemanannya dengan Gian dan Bimo. Terlebih, Charemon adalah sahabat dekat Amber, yang tak lain adalah kekasih Gian saat ini.


"Oh, gue jadi paham sekarang, Kak. Kak Gian merasa enggak aman dengan kehadiran Andre kan?" Charemon memastikan kebenaran asumsinya.


"Kayaknya sih gitu, Dek," ucap Egidia. "Entar deh gue coba ngomong sama Gian."


"Iya, Kak. Siapa tau bisa bantu semuanya jadi clear. Sayang tauk. Di mataku Ambergian itu dream couple banget," ujar Charemon dengan wajah murung.


"Ahahaha, tenang, Dek. Gue pastiin Gian enggak akan ninggalin Amber gitu aja. Dia juga enggak mudah jatuh cinta, jadi gue yakin kalau perasaan dia ke Amber tuh enggak main-main. Dia cuma butuh mikir aja biar otaknya jernih. Kesel juga gue sama sikap dia yang enggak jelas gini," kata Egidia.


"By the way, Kak Egi, Kak Bimo, sama Kak Gian ikutan jadi panitia makrab enggak?" tanya Charemon. "Kalau Kak Gian juga ikut, bukannya bakal canggung ya ketemu sama Amber kalau urusan mereka belom kelar?"


"Gue sama Bimo ikutan, Dek. Gian enggak soalnya katanya pas Sabtu itu dia ada jadwal manggung siangnya. Makrab kan udah sejak Sabtu pagi. Makanya dia enggak ikutan jadi panitia. Males juga dia katanya jadi panitia acara kampus. Terakhir ya pas inisiasi. Itu aja gue ama Bimo yang ngisengin daftarin dia jadi panitia. Hahaha," Egidia merasa geli ketika mengingat bagaimana marahnya Gian saat mengetahui namanya tiba-tiba tercantum di daftar panitia inisiasi kala itu.


"Asiiiik. Tenang deh jadinya kalau ada Kak Egi sama Kak Bimo. Kalau ada peloncoan ke maba kan tinggal bilang ke Kakak. Hihihi," Charemon bergurau setengah serius.


"Tenang aja, Dek. Udah sejak beberapa tahun yang lalu enggak pernah ada makrab yang disisipin peloncoan lagi semenjak ada kasus maba yang sampe masuk rumah sakit gara-gara itu. Katanya jaman dulu makrab juga lamaan. Tiga hari kalau enggak salah. Sekarang sih cuma Sabtu aja, minggu siang udah balik," Egidia menceritakan.


"Wah! Baru tau gue kalau ada cerita kayak gini, Kak. Kayak gimana coba itu ceritanya sampe ada maba masuk rumah sakit," Charemon malah jadi penasaran.


"Udah ah enggak usah dibahas. Kalau kedengeran sama pihak kampus malah berabe entar. Mana gue juga panitia lagi," Egidia pun enggan untuk melanjutkan ceritanya.


"Hihihi. Iya deh, Kak. Entar aja gue japri Kakak biar Kakak bagi ceritanya ke gue." Bukan Charemon namanya kalau tidak memburu berita yang sudah terlanjur ia tahu sedikit ceritanya seperti ini.


"Dasar lo ya," Egidia terkekeh sembari menjitak pelan kepala Charemon.