
Di dalam dunia mahasiswa seni rupa, apapun jurusan yang mereka ambil, sketsa adalah hal mendasar yang harus mereka pelajari sejak awal. Tak heran, jika ada satu mata kuliah khusus yang membahas soal ini di semester satu.
Bagi Amber dan kawan-kawannya yang mengambil jurusan Seni Murni, sketsa juga sangat berperan penting dalam proses awal penciptaan sebuah karya seni. Kegunaannya pun mencakup semua bidang keahlian, termasuk seni lukis, seni patung, maupun seni grafis.
"Pak Dos kan mintanya kita bikin sketsa dengan tema 'Aktivitas di Keramaian', sedangkan di Nol Kilometer kan rame banget tuh. Gimana caranya kita bisa gambar sketsa satu objek dengan cepet coba? Baru gambar dikit pasti objeknya udah entah ke mana," ujar Ani, salah seorang teman satu kelas Amber yang sangat tertarik dengan bidang seni murni namun masih perlu banyak berlatih agar bakatnya lebih terasah.
Ya, tak semua mahasiswa yang masuk ke jurusan tersebut sudah mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam hal menggambar dan melukis sejak awal seperti Amber. Beberapa memilih jurusan tersebut dengan kemampuan minim namun niat yang membara. Karena itulah kemampuan yang mereka miliki saat ini harus diasah lebih tajam lagi.
"Inget, Ni, sketsa itu kayak wujud dari rekaman yang ada di memori kita. Kalau objeknya manusia atau benda bergerak lainnya ya lo kudu observasi bener-bener terus simpen key featuresnya dipikiran lo, abis itu lo tuangin di kertas dalam bentuk sketsa," ujar Andre dengan nada bicara datarnya yang khas.
"Kenapa nggak hunting foto dulu aja sih baru abis itu kita bikin sketsanya liat dari hasil foto?" Ani bertanya lagi.
"Kalau kayak gitu namanya bukan bikin sketsa, Ni," celetuk Andre sambil memutar matanya ke atas karena gemas dengan pertanyaan Ani.
"Ahahaha. Jangan sewot, Ndre. Ani niat belajar tuh," kata Tika yang juga ikut di dalam mobil Amber.
"Iya ni, si Andre mah!" keluh Ani sambil menjitak kepala Andre. "Gue serius nanya tauk."
Amber yang sedari tadi fokus mengemudi akhirnya ikut berbicara, "Memang di situlah seninya, Ni. Sketsa itu bahasa gampangnya quick drawing, gambar spontan yang dikerjakan dalam waktu yang biasanya singkat, gambaran kasar yang nanti bisa dikembangin lagi jadi karya yang lebih bagus atau tetap menjadi karya sketsa itu sendiri. Makanya di proses pembuatannya pun cuma menggunakan garis dan arsiran sederhana aja. Alat yang dipake juga sederhana." Jika menyangkut hal yang ia minati, Amber bisa dengan lugas dan serius memaparkan hal yang ia pahami atau bahkan sudut pandangnya sendiri.
"Ada semua tuh di buku. Bahasanya aja yang beda. Mungkin tulisan yang di buku susah dipahami sama kapasitas otaknya Ani," Dion yang duduk di belakang bersama Andre pun ikut menggoda Ani yang memang terkenal sebagai 'si Lemot' di kalangan teman satu angkatannya.
"Hiiiih! Iye entar gue baca lagi!" sahut Ani kesal.
"Tapi ngomong-ngomong, koleksi gambar sketsa lo bagus-bagus lho, Amber. Lo suka gambar dari dulu ya?" tanya Melati yang duduk di kabin depan bersama Amber. Ia penasaran dengan koleksi sketsa Amber yang ada di dalam sketch book yang selalu Amber bawa ke mana-mana.
"Iya, hobi dari kecil," jawab Amber singkat sambil menyunggingkan senyum. "Kalau rajin latihan gambar siapapun pasti jadi makin bagus."
Amber memang sudah terbiasa menggambar sejak ia kecil saat ia mulai memahami kegiatan melukis ayahnya, hingga akhirnya ia jatuh cinta pada jenis gambar sketsa realis di masa remajanya. Terlepas dari siapapun ayahnya, Amber seolah terlahir dengan bakat tersebut. Beruntung ia terlahir sebagai putri dari Tarachandra. Ialah yang menjadi guru menggambar dan melukis pertama bagi Amber.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, sampailah Amber dan teman-temannya di area Nol Kilometer. Sebuah perempatan jalan raya besar.
Di sebelah selatan sisi timur perempatan terdapat sebuah bank milik negara yang bangunannya masih menggunakan bangunan peninggalan zaman kolonial. Di sisi barat, sebuah kantor pos besar berdiri gagah dengan gaya arsitektur yang serupa.
Di sebelah utara perempatan baik itu sisi timur maupun barat merupakan ruang terbuka umum dan sering dijadikan sebagai tujuan rekreasi murah meriah bagi siapa saja yang ingin menikmati sore dan malam hari bersama teman, keluarga, atau kekasih. Yang membuat tempat ini nyaman adalah keberadaan banyak bangku taman yang terbuat dari cor-coran semen dengan tanaman merambat sebagai peneduhnya, serta beberapa penjual makanan yang berjajar rapi di tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah daerah.
Setelah memarkirkan mobilnya di lapangan parkir yang letaknya tak jauh dari area Nol Kilometer, Amber dan kelima temannya pun berjalan menuju ke bangku semen yang tersedia. Mereka memilih untuk berpencar dalam mengerjakan sketsa masing-masing. Amber memilih untuk duduk di bangku yang letaknya paling jauh dari perempatan besar tersebut. Ia melakukan ini supaya wilayah observasi uang bisa tertangkap oleh kedua bola matanya menjadi lebih luas.
"Gue ikutan duduk di sini boleh?" kata-kata Andre sedikit mengejutkan Amber yang sedang fokus menyiapkan sketch book dan pensil gambarnya.
"Boleh lah. Bebas. Tapi aku enggak ngobrol kalau baru bikin gambar enggak papa, kan?" tanyan Amber sambil tetap menyiapkan peralatannya.
"Santai. Gue juga lebih suka diem," ujar Andre yang tak lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Amber.
"Hihihi, biasanya juga kamu banyakan diem, Ndre," Amber bergumam di dalam hatinya.
Dengan tempat seluas dan seramai ini, tak sulit bagi Amber untuk menemukan objek untuk sketsanya. Pilihan pertama jatuh pada seorang bapak tua yang sedang menjajakan nira yang ia simpan dalam wadah dari bambu pada beberapa anak muda yang nampak penasaran.
Dengan lincah, jari-jari Amber menari di atas kertas beralaskan papan gambar yang ia pangku. Wajahnya serius berulang kali melihat ke arah sang penjual nira dan pembelinya seolah menangkap momen yang sedang terjadi sebelum semua itu berlalu.
Setelah mendapatkan garis besar yang ia butuhkan, mulailah ia menambahkan detail di sana-sini untuk membuat sketsa tersebut lebih enak dipandang. Kemampuan menggambar sketsa yang sudah ia dapatkan sejak lama membuat pengerjaan satu buah sketsa tak butuh waktu lama.
Yang menarik adalah bahwa gambar Amber sudah mempunyai ciri khas tersendiri yang membuatnya lain dari yang lain. Hal ini menarik perhatian Andre yang duduk agak berjauhan di sebelah kanan Amber. Ia lalu mendekat saat mengetahui bahwa Amber sudah selesai dengan sketsa pertamanya. Mereka berdua lalu bercakap sebentar, berbagi saran serta komentar tentang karya yang baru saja mereka buat.
Di saat yang bersamaan, entah dari mana, secara kebetulan Nadine yang sedang mengemudikan mobilnya pelan melihat sosok Amber yang sangat mudah ia kenali saking bencinya ia pada si penyuka bucket hat itu. Sengaja ia tepikan mobilnya sebentar untuk mengambil foto Amber dan Andre dengan sedemikian rupa menggunakan kamera ponselnya. Ia cepat-cepat berlalu sebelum ada petugas yang mengusirnya karena sudah parkir sembarangan di sana.