
Paris, Prancis, awal bulan Januari.
Kota Paris harusnya menjadi kota kota yang bisa menciptakan kenangan romantis bagi setiap pasangan yang menghabiskan waktu bersama di sana. Sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Gian.
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih 18 jam, Gian akhirnya tiba di kota Paris. Ia ditemani oleh sang adik, Dhika Putra Adipramana, yang umurnya selisih 2 tahun dengannya.
Sesampainya di kota yang terkenal dengan Menara Eifel yang konon sudah menjadi saksi bisu momen penuh cinta banyak sekali orang itu, Gian dan Dhika bergegas menuju hotel yang memang sudah ia reservasi sebelumnya. Gian pun langsung mengajak adiknya bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
"Harus banget ya sekarang? Gue capek tau, Kak," keluh Dhika yang masih merasa lelah setelah berada cukup lama di dalam pesawat.
"Tadi lo bilang pengen ikutan ketemu Fanya. Jadi kaga?" tanya Gian yang tengah sibuk mengirim pesan kepada Fanya , kekasihnya.
"Baby, kamu baru ngapain?" begitu isinya.
Tak lama, balasan dari Fanya pun tiba, "baru dinner ini, Baby."
"Di mana?" Gian bertanya lagi lewat pesan.
"Di sini, Baby. Lihat, Eifel keliatan jelas dari sini. Lampu-lampunya romantis banget ya? Coba ada kamu di sini."
Fanya membalas dengan menyertakan foto nama restoran yang menyediakan tempat duduk di area roof top sehingga para pengunjungnya bisa makan malam dengan menikmati pemandangan Menara Eifel di malam hari yang dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu.
Gian tak lagi membalas pesan Fanya. Dalam hati ia merasa beruntung karena bisa dengan semudah itu mengetahui di mana kekasihnya berada saat ini. Terlebih lagi, restoran tersebut ternyata sangatlah dekat dengan hotel tempat ia menginap saat ini.
Ya, Gian memang datang ke Paris tanpa memberitahu Fanya terlebih dahulu. Ia berniat untuk memberikan kejutan pada kekasihnya, yang kebetulan di liburan semester kali ini memang tidak bisa pulang ke Indonesia.
Zefanya Tjokroatmodjo adalah wanita yang sudah menarik perhatian Gian saat mereka sama-sama masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bisa dibilang, ia adalah cinta pertama Gian.
Gian menyatakan perasaannya pada Fanya saat mereka duduk di kelas dua. Bak gayung bersambut, Fanya pun menerimanya. Sejak itu, mereka berpacaran hingga kini mereka sudah sama-sama menempuh pendidikan sebagai mahasiswa, walaupun di negara yang berbeda.
Fanya memang memiliki ketertarikan dan bakat di bidang merancang busana sejak lama. Karena itulah ia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di salah satu universitas fashion ternama dunia yang terletak di kota Paris sebagai wujud keseriusannya.
Janjinya pada Gian, liburan semester kali ini ia akan pulang ke Indonesia untuk melepas rindu. Namun sayang, nyatanya ia tak bisa pulang karena ada proyek di semester depan yang harus mulai ia cicil bersama teman-temannya mulai sekarang.
Itulah alasan mengapa Gian sampai rela datang ke Paris. Ia tak tega membiarkan Fanya kesepian dalam rindunya.
“Dhika, buruan. Lama banget sih lo siap-siapnya,” kata Gian yang sudah duluan siap sejak tadi.
“Iya, bawel banget sih lu, Kak. Ini juga udah kelar,” sungut Dhika yang kini sudah Nampak lebih segar.
Mereka pun lalu keluar hotel dan berjalan menuju ke restoran di mana Fanya berada.
“Kita jalan?” tanya Dhika yang sedikit kaget karena Gian tak tampak akan naik ke dalam salah satu taksi yang terparkir berjajar di depan hotel.
“Deket doang. 5 menit juga sampe. Lagian gue mau mampir beli bunga dulu di depan situ.”
Gian lalu memesan sebuah buket bunga mawar merah yang bisa dirangkai dengan sangat cepat oleh tangan terampil sang pemilik toko. Tak butuh waktu lama untuk Gian menerima buket tersebut lalu bergegas menuju ke restoran yang ia tuju.
Restoran tersebut ternyata bukanlah sebuah fine dining restaurant, namun sebuah tempat dengan atmosfer yang lebih santai. Tak heran jika Gian bisa dengan mudah masuk ke sana tanpa harus melakukan reservasi terlebih dahulu.
“I’m here to surprise my girlfriend. She’s upstairs,” katanya pada seorang pelayan yang bertugas di bagian depan untuk menyambut setiap pengunjung yang datang.
“Okay, Sir. Good luck with the surprise,” kata pelayan itu dengan ramahnya.
Mungkin, kejutan semacam ini memang sering dilakukan di tempat ini. Atau, mungkin Gian hanya beruntung karena ia membawa sebuah buket besar sehingga sang pelayan pun percaya bahwa kedatangannya memanglah untuk mengejutkan kekasih hatinya.
“Lo tunggu di sini dulu, Kak. Biar gue yang coba nyari Kak Fanya dulu di atas jadi nanti lo nggak perlu celingukan lagi,” kata Dhika yang siap membantu supaya kejutan kakanya berhasil dengan mulus.
“Boleh. Buruan,” jawab Gian yang memang sudah tak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Ia pun menunggu Dhika yang sudah bergegas naik ke area roof top untuk mencari Fanya. Sembari menunggu, Gian mencoba untuk merapikan rambut dan bajunya. Ia juga mengecek apakah buket bunga mawar yang sedari tadi ia bawa dengan sangat hati-hati masih rapi. Ia hanya ingin semuanya tampak sempurna.
Tak lama kemudian, Dhika turun dari lantai atas dengan raut wajah yang nampak khawatir.
“Mending lo nggak usah naik deh, Kak,” kata Dhika dengan wajah serius.
“Ngomong apaan sih lo, Dhik. Gue kan ke sini mau ketemu sama Fanya,” Gian sedikit tertawa dan menganggap bahwa adiknya sedang bercanda.
“Gue nggak bercanda, Kak. Percaya ama gue. Lo nggak usah naik.”
Mendengar ucapan Dhika untuk yang kedua kalinya, Gian tahu bahwa adiknya tidak sedang bercanda. Hanya saja, ia jadi sangat ingin tahu alasan mengapa Dhika mengatakan hal tersebut dengan wajah yang sangat serius seperti itu. Ia pun tetap memaksa untuk naik.
“Kak!” sergah Dhika yang akhirnya tak mampu mencegah keinginan kakaknya untuk naik dan menemui kekasihnya. Ia lalu menyusul Gian ke lantai atas.
Mata Gian menyusur seluruh area roof top yang cukup luas itu. Ia hanya ingin segera mengetahui mengapa Dhika sampai melarangnya seperti itu.
Jangan-jangan, di saat ia akan memberikan kejutan kepada Fanya, justru malah ialah yang akan dikejutkan dengan prank yang sudah disiapkan Fanya dan Dhika. Pikirannya masih mencoba untuk memikirkan hal-hal yang baik saja walaupun ia paham bahwa Dhika tidak akan menunjukkan wajah seperti tadi jika tidak ada sesuatu yang salah.
Langkahnya terhenti saat ia akhirnya menemukan Fanya. Ia memang sangat terkejut, namun ini adalah kejutan yang tak pernah ia harapkan.
Fanya Nampak sudah menyelesaikan makan malamnya. Ia kini berdiri di dekat pagar roof top bersama dengan seorang pria asing yang sama sekali tak Gian kenali.
Yang lebih mengejutkan, mereka berciuman dengan mesranya di hadapan mata Gian. Nampak Fanya melingkarkan kedua tangannya pada leher pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Sedangkan si pria memeluk Fanya pada bagian pinggang seolah itu memang sudah biasa mereka lakukan.
Dhika yang akhirnya berhasil menyusul kakaknya pun ikut terkejut menyaksikan pemandangan tersebut. Ia sudah menduga ini akan terjadi dan itulah alasan mengapa ia tak ingin Gian ke atas tadi. Ia hafal betul bagaimana jika Gian sudah benar-benar marah.
Entah kenapa Dhika malah mengeluarkan ponselnya lalu memotret kedua sejoli tersebut. Ia merasa perlu untuk melakukan hal tersebut.
Gian tak sempat menggubris apa yang sedang dilakukan oleh adiknya. Ia masih berdiri mematung, terpaku oleh perasaan tak menentu melihat apa yang ada di hadapannya.