AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 40 - Curahan Hati



"Cie … abang ganteng kenapa manyun gitu?" goda Egidia yang baru saja tiba di kantin.


"Itu, Gi, ada yang kesel soalnya Amber ngopi berduaan sama temennya," Bimo pun ikut menimpali.


Egidia hanya tertawa kecil mendengar laporan dari Bimo. Sementara Gian masih pura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia sedang malas digodai oleh kedua teman karibnya itu.


Egidia menaruh tas dan beberapa barang bawaannya di bangku, lalu pergi untuk membeli minuman dingin. Teriknya siang ini membuat tenggorokannya ingin sekali diguyur dengan sesuatu yang segar.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia lalu kembali untuk duduk bersama Gian dan Bimo.


"Gian, Gian. Lo tu kenapa?" Egidia berbasa-basi menanyakan apa yang terjadi pada Gian.


Kenyataannya, sudah cukup lama ia tahu bahwa Gian menaruh hati pada Amber. Pikirnya, wajar saja jika Gian merasa kesal melihat Amber bersama lelaki lain. Ya, walaupun kebersamaannya itu mungkin bukanlah berarti apa-apa. Hanya saja, Egidia paham, orang yang sedang jatuh cinta terkadang tak bisa berpikir sampai ke sana.


"Kaga," jawab Gian singkat, matanya masih saja tertuju pada layar ponsel yang sedari tadi ia sentuh-sentuh itu.


"Masa iya harus gue yang bilang lo kenapa?" Egidia berkata lagi sambil tersenyum mencibir lalu meneguk kembali minumannya.


Gian seperti tersentak mendengar apa yang Egidia katakan barusan.


"Jangan sotoy deh lo, Gi," Gian menjawab sembari menebar senyum yang seolah meragukan apa yang baru saja Egidia katakan.


Egidia lalu sedikit mendekat ke arah Gian lalu berkata dengan suara pelan hampir berbisik, "lo suka sama Amber, kan?"


Gian tak langsung menanggapi teman wanitanya itu. Hanya saja, wajah hingga telinganya langsung berubah memerah layaknya udang yang baru saja matang direbus.


Hal tersebut tentu saja langsung terbaca oleh Bimo dan Egidia. Mereka pun lalu tergelak bersamaan.


"Kenapa lo bisa ngomong gitu?" Gian ingin memastikan bahwa temannya itu tidak sedang bercanda atau hanya menggodainya saja.


"Kaya gue nggak hapal aja sama lo. Lo nggak inget dulu waktu lo pertama kali suka sama Zefanya kaya gimana?" Egidia bertanya lagi.


Ah, nama mantan kekasih Gian kembali meluncur dalam obrolannya bersama Egidia dan Bimo. Gian malah jadi teringat masa-masa di mana ia masih merasakan hatinya sakit setiap kali nama Zefanya terdengar olehnya. Kali ini nampaknya lain. Entah kenapa ia sudah tak mendapati hatinya berdesir perih saat mendengar nama itu. Ia jadi berpikir lagi, "sejak kapan kaya gini?"


"Emang gue waktu itu kaya gimana?" Gian penasaran dengan sudut pandang sahabatnya itu.


"Kita masih bocah waktu itu yak?" Bimo malah tertawa ketika memori masa remaja mereka bertiga seolah dibangkitkan oleh obrolan siang ini.


"Lo dulu modelnya tiap hari yang diomongin Fanyaaaa mulu. Sampe kuping gue pekak dengernya," lanjut Bimo.


"Iya. Terus lo inget nggak waktu Fanya dipasangin sama Tomi buat maju lomba debat, terus mereka sering latihan bareng berdua? Si abang ganteng ini udah kaya cacing kepanasan, tiap hari uring-uringan," Egidia menimpali.


Kedua teman Gian itu tak bisa menahan tawa lebar mereka jika mengingat kembali semua kenangan itu. Gian pun juga akhirnya jadi ikut tertawa. Benar, hatinya tak lagi merasakan sakit.


Setelah puas menggoda Gian, Egidia pun lanjut berkata, "sekarang udah nggak labil-labil amat kaya gitu sih, Bim. Tapi gue yakin, Gian pasti suka sama Amber."


"Gue yang rada-rada lemot soal percintaan aja akhirnya juga mikir gitu kok," Bimo mengaku.


"Lo emang nggak ngomongin Amber tiap hari kaya lo ngomongin Zefanya pas jaman SMP dulu. Tapi masa lo nggak sadar kalau lo tu bawaannya usil mulu sama si Amber, sampe-sampe kemaren ada salah paham gitu?" tambah Egidia.


Gian sedikit kaget mengetahui bahwa kedua temannya itu diam-diam sudah mencium sesuatu yang lain terjadi pada dirinya. Padahal, Gian sendiri baru benar-benar tersadar akan rasa sukanya pada Amber siang ini saat ia merasa gusar membiarkan Amber kembali ke kelas berdua dengan Andre tadi.


"Hah …" Gian menghela napas panjang.


"Mungkin lo bener, Gi, Bim. Kayanya gue udah suka ama tu bocah ngeselin."


Di saat gadis lain seolah tergila-gila dengannya, terutama karena ia memanglah bukan orang biasa, Amber malah terlihat enggan dan tak mau berurusan dengannya di awal masa pertemuan mereka. Sampai-sampai ia menyangka bahwa mungkin saja Amber bahkan tidak mengetahui bahwa dia adalah Gian Putra Adipramana, anak pertama dari penyanyi legendaris Adipramana.


Semenjak perpisahannya dengan Zefanya, Amber seolah menjadi gadis pertama yang bersikap biasa saja pada Gian. Hal itu justru membuat Gian merasa nyaman dan tertarik. Berbeda dengan perasaan risihnya pada gadis lain yang sering kali berlaku layaknya penggemar, bukan teman.


"Gue bukannya mau nyuruh lo buru-buru atau gimana ya, Gian. Cuma yang namanya perasaan suka itu ada baiknya ditunjukkan dengan cara yang bener, bukannya malah lo usil terus sama dia," Egidia menyampaikan sudut pandangnya sebagai seorang gadis.


"Gue udah akur ya sama Amber. Kapok gue dituduh kaya kemaren," jelas Gian.


"Satu lagi, Bro. Amber itu manis lho. Udah gitu dia ga tengil kaya cewek-cewek kebanyakan," Bimo teringat akan pembawaan Amber yang memang lebih terkesan cuek dan tomboy.


"Cewek kaya gitu menarik buat sebagian cowok. Kalau lo nggak gercep, bisa-bisa keduluan sama yang lain malah nyesel lo entar," lanjutnya lagi.


"Nah … gue setuju sama Bimo," Egidia menambahi sambil mengajak Bimo untuk tos.


"Terus gue kudu gimana?" Gian serius bertanya pada kedua temannya.


Fakta bahwa selama ini hanya ada satu gadis yang pernah menjadi kekasihnya sejak masa remaja ternyata membuat Gian sedikit canggung untuk memulai sebuah hubungan lagi.


"Lo jangan sengak mulu napa kalau ada Amber," kata Egidia.


"Lah emang gue sengak?" tanya Gian.


"Nggak terlalu sih, tapi iya. Usil terus juga sih lo. Kalau lo gitu terus yang ada Amber malah ogah," kata Egidia lagi.


"Jangan terlalu menye-menye juga tapi. Malah bikin ilfil. Brrrrr …" tambah Bimo bergidik.


"Ogah juga gue menye-menye," jawab Gian.


"Bikin kesempatan biar Amber bisa kenal siapa lo, Gian. Entah kenapa gue ngerasa kalau Amber nggak bakal semudah itu bisa lo deketin buat jadi pacar," Egidia berkata lagi.


Mendengar kata 'pacar' membuat wajah dan telinga Gian kembali memerah. Setelah cukup lama, akhirnya ia merasakan perasaan seperti ini lagi.


"Ajakin jalan. Kali aja mau," Bimo menimpali dengan santai sambil memakan cemilannya.


"Bisa tuh. Coba aja," Egidia ikut mencoba menyemangati Gian. Ia bahagia karena Gian sudah tak merasakan sakit hati karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Zefanya di awal tahun ini yang sungguh-sungguh sudah menghancurkan hatinya.


"Ah … Gue baru inget sesuatu. Gue nggak punya nomer Amber," kata Gian dengan wajah yang sangat serius seolah nomor telepon Amber adalah sesuatu yang sangat penting dan berharga dan betapa bodohnya ia belum memilikinya hingga saat ini.


"Kaya lo nggak tau dia kuliah di mana aja. Mobilnya aja lo juga udah apal banget kan diem-diem?" goda Bimo.


Sesaat Gian diam dalam pikirnya. Lalu, seperti kebiasaan yang sudah-sudah, Gian tiba-tiba memberesi barang-barangnya lalu beranjak pergi tanpa penjelasan.


"Lah, ke mana tu bocah?" tanya Bimo yang matanya masih terarah pada Gian yang mulai menghilang di kejauhan. Ia nampak tergesa.


"Palingan juga nyariin dedek Amber," Egidia tersenyum menanggapi pertanyaan Bimo.


**Huhuhu...Maaf baru up...Semalem ceritanya aku ngetik pake hape, terus ketiduran 😅


Kerjaan nulis, hobi juga nulis. Hari-hari mantengin layar terus. Malem hari sering kalah sama ngantuk. Mungkin lelah 😆


Jangan lupa like dan komen yang banyak ya, biar aku semangat 😉


Kalian keren, pembacaku yang setia 😍**