AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 50 - Berita



Charemon berlari tergopoh-gopoh menghampiri Amber yang baru saja keluar dari kelasnya. Tak seperti biasanya, ia tak berteriak-teriak memanggil Amber.


"Ayok ikut gue," katanya sambil buru-buru mengajak Amber menepi ke bagian koridor yang sedikit sepi.


"Apaan sih, Mon?" Amber heran melihat tingkah sahabatnya yang tak seperti biasanya.


Charemon tak langsung menjawab tapi malah mengeluarkan ponselnya. Ia seperti sedang mencari sesuatu.


"Coba lo liat ini, Mber. Video dan foto pas lo bareng sama Gian banyak beredar," Charemon menunjukkan hasil penelusuran mesin pencari internet.


Amber melihat ada cukup banyak foto dan videonya saat berusaha menghindar dari kerumunan di pasar tradisional saat mereka hunting foto tempo hari beredar di internet. Kala itu, ia memang sempat melihat beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka, namun ia tak menyangka jika semuanya akan menyebar secepat dan sebanyak ini, bahkan dengan headlines yang berbeda-beda.


"Padahal Gian udah pake sunglasses sama masker gitu, masih aja ketahuan," kata Charemon.


"Ada ibu-ibu yang ngenalin dia terus heboh manggilin semua orang, Mon, bilang kalau ada Giandra. Langsung pada dateng," Amber mencoba menjelaskan.


Sebenarnya, peristiwa kala itu tersimpan sebagai sesuatu yang lucu di dalam memori Amber. Namun jika berujung seperti ini, bisa jadi merepotkan juga.


"Liat … liat, banyak yang mulai nanyain siapa lo sebenernya. Mana muka lo lumayan keliatan lagi," Charemon mulai heboh sendiri.


"Kalau sampe lo dikejar-kejar wartawan kan ga asik banget," lanjutnya lagi.


Amber pun sebenernya juga mengkhawatirkan hal yang sama, mengingat bahwa Gian adalah seorang penyanyi yang cukup tinggi popularitasnya. Selain itu, pencari berita di masa sekarang ini bisa sangat jeli saat mereka penasaran akan suatu topik panas yang pasti akan menarik perhatian banyak orang. Jika Amber tidak berhati-hati, mungkin identitas dirinya akan dengan mudah diketahui dan itu akan membuatnya merasa tak nyaman.


"Paling nggak pihak kampus nggak bakal ngijinin mereka masuk kalau cuma buat urusan beginian, Mon," Amber berusaha untuk berpikir logis.


"Iya sih. Tapi wartawan bukan satu-satunya masalah. Lo nggak inget gimana tadi kita diliatin dan diomongin sepanjang jalan pas baru dateng ke kampus? Fans Gian di sini nggak kalah banyak, Amber," Charemon mengatakan itu dengan raut wajah khawatir.


Masalah loker tempo hari saja masih belum selesai. Sekarang sudah ada masalah baru lagi yang mungkin juga akan membuat Amber kesusahan.


Walaupun belum ada hal buruk yang terjadi, Charemon tetap saja merasa panik. Ia takut jika akan ada semakin banyak orang yang berubah tidak menyukai Amber di kampus ini sehingga kejadian teror loker kala itu sangat mungkin akan berulang, bahkan dalam bentuk yang lain.


Amber merasa apa yang dikatakan oleh Charemon memang ada benarnya. Hanya saja, ia sadar betul jika ia tak melakukan kesalahan apapun.


"Aku nggak salah apa-apa, Mon, jadi nggak perlu merasa takut. Kalau ada yang bertindak berlebihan, aku akan kumpulin bukti dan nggak segan untuk lapor ke pihak kampus. Biar kampus yang selesein," tegas Amber.


Walau masih merasa was-was akan apa yang mungkin terjadi setelahnya, Charemon pun akhirnya membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Amber.


"Lo janji sama gue ya, kalau ada apa-apa lo harus bilang, harus cerita ke gue," kata Charemon.


"Iya, aku janji," jawab Amber sambil berusaha menutupi rasa khawatirnya supaya Charemon tak lagi was-was dan panik.


***


Sementara itu di kantin, Nadine tiba-tiba ikut duduk di meja tempat Samantha dan gerombolannya sedang berkumpul.


"Ngapain lo? Mau cari masalah?" sapaan Samantha yang begitu ketus menyambut kehadiran Nadine yang tiba-tiba.


Berbeda dengan Nadine, Samantha mempunyai cukup banyak orang yang mengekor dibelakangnya karena berbagai alasan. Yang pasti, mereka semua menghormatinya layaknya seorang ketua. Wajar saja jika kehadiran Nadine di tengah mereka kali ini juga langsung membuat mereka memasang wajah tak suka. Beberapa bahkan sampai berdiri dari duduknya, berjaga-jaga, siapa tahu Nadine akan melakukan suatu hal yang tidak menyenangkan kepada Samantha.


"Tenang aja, Kak Sam. Gue di sini nggak mau rusuh kok," Nadine dengan beraninya berkata sambil tersenyum.


"Selama ini kita bersaing fair-fair aja, kan? Ga pernah saling senggol," lanjutnya lagi.


"Terus mau lo apa?" Samantha memang tak pernah mau bercakap banyak dengan Nadine yang ia akui mempunyai paras yang cantik, yang mungkin saja bisa membuat usahanya untuk mendekati Gian selama ini gagal.


"Gue yakin Kak Sam juga udah liat foto dan video heboh tentang Gian di internet, kan? Gue tau Gian udah deket sama si bucket hat itu bahkan sebelum foto dan video itu beredar. Kakak nggak tau, kan? Maklum sih ya, mahasiswa tingkat atas kan emang biasanya sibuk sama tugas. Mana sempet ngurusin ginian," Nadine berkata dengan nada yang mencibir.


"Ngomong yang baek dong lo," salah satu dari gerombolan Samantha mulai tersulut emosinya, namun Samantha buru-buru menyuruhnya diam. Nampaknya, ia paham jika Nadine tahu akan suatu hal tentang Gian dan Amber yang mungkin tak ia ketahui.


Nadine yang merasa kata-katanya didengarkan oleh Samantha pun kembali melanjutkan bicaranya, "Kakak pasti nggak tau kan seberapa deket cewek ini sama Gian?"


"Emang mereka sedeket apa?" apapun soal Gian pasti langsung bisa menarik rasa penasaran Samantha.


"Ahahaha. Kakak penasaran ya? Tapi maaf, Kak. Gue nggak akan ngasih tau," Nadine sedikit terkekeh.


"Mulai resek lo ya," gadis yang tadi sempat tersulut emosinya pun kembali marah, merasa bahwa Nadine tidak menaruh hormat kepada Samantha.


Ia pun berjalan menghampiri Nadine dan itu sedikit membuat nyali Nadine menciut. Ia tahu pasti bagaimana sifat setiap 'pengikut' Samantha. Ia pun langsung berdiri dari duduknya dengan tetap berusaha memasang wajah percaya diri.


"Gue nggak cari rusuh ya. Gue cuma mau bilang satu hal sama Kak Sam, kita yang sama-sama satu kampus sama Gian tentu beda dengan ribuan fans dia yang ada di luar sana. Kita punya kesempatan untuk sedeket ini sama Gian," ia menjelaskan panjang lebar.


"Tapi cewek yang namanya Amber ini lain, Kak. Salah-salah, nggak ada satu pun dari kita berdua yang bisa ngedapetin Gian gara-gara dia," pungkasnya.


Nadine lalu pergi meninggalkan Samantha dan para 'pengikutnya' untuk berpikir. Nadine sama sekali tak menyuruh Samantha melakukan apapun, apalagi sampai memintanya untuk berkerja sama menyingkirkan Amber dari Gian.


Ia sudah paham, tanpa harus mengatakan hal semacam itu pun Samantha pasti akan bergerak dengan sendirinya. Sebagai mahasiswa tingkat atas, ia sudah tak punya banyak kesempatan untuk bisa menebar pesonanya kepada Gian. Ini bisa jadi kesempatan terakhirnya. Karena itulah, apa yang Nadine sampaikan tadi pastinya sudah menyulut api di dalam hati Samantha.


🍃🍃🍃


**Uwaaa...sudah sampai di episode 50. Itu artinya, aku sudah berhasil merangkai lebih dari 50.000 kata untuk menjadi aebuah cerita dan masih akan selalu bertambah 😍


Aku memang sudah terbiasa menulis, tapi bukan menulis cerita. Amberley adalah cerita pertama yang pernah aku tulis seumur-umur, and I'm amazed 🤣🤣🤣


awalnya ngebayangin Amberley cuma bakal sampai episode 40an. Ternyata seiring berjalannya waktu, ceritanya bisa aku kembangkan, jadilah sebanyak ini 😆


Karena garis besar cerita sudah aku buat sejak di awal, ke depannya bakal ada bagian-bagian cerita yang sebenernya udah ga sabar pengen kutulis, tapi jelas belom bisa sekarang. Amber, Gian, dan tokoh-tokoh lain masih harus melewati berbagai peristiwa dulu untuk sampai di sana 😄


Terima kasih banyak untuk semua pembaca setia Amberley, untuk semua teman yang sudah mendukungku dalam bentuk apapun supaya aku terus bisa melanjutkan kisah hidup Amber di sini. Kalian sungguh keren! 🥰


Special thanks for me laf Doni Agung Setiawan (Penulis novel 'Pendekar Batari Mahadewi') yang selalu setia mendukung karya pertamaku ini. Dia juga yang jadi editor dan quality control Amberley supaya ceritanya ga nyasar ke mana-mana. Terima kasih untukmu pokoknya 😍😘


Sampai jumpa di episode selanjutnya, teman-temin semua 😄**