AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 75 - Perasaan Yang Campur Aduk



Hari ini, Amber dan beberapa temannya membuat janji untuk bersama-sama bertemu di area Nol Kilometer. Tujuannya? Apalagi kalau bukan mengerjakan tugas membuat sketsa yang hasilnya harus mereka kumpulkan di kelas minggu depan.


Setelah menyampaikan saran yang diberikan oleh Gian, teman-teman Amber pun akhirnya setuju untuk memilih area Nol Kilometer sebagai lokasi untuk membuat sketsa. Waktu menjelang sore adalah yang mereka pilih karena memang biasanya aktivitas orang di sekitar lokasi itu akan jauh lebih beragam saat petang menjelang. Dengan demikian, akan lebih mudab bagi mereka untuk menemukan scenes menarik untuk nantinya dituangkan dalam bentuk sketsa.


Amber sengaja untuk tidak pulang terlebih dahulu seusai kuliah. Ia tak ingin waktunya terbuang untuk bolak-balik dari kampus ke rumah dan kembali ke kampus lagi karena tentunya itu akan menguras energinya.


Jam 3 nanti ia akan berangkat ke lokasi. Mungkin akan ada beberapa teman yang menumpang di mobilnya.


Karena ingin menyelesaikan tugas kuliah ini pulalah Amber menolak untuk dijemput oleh Gian pagi tadi dan mereka hanya bertemu di kampus seusai kuliah. Gian sebenarnya merengek ingin tetap menjemput Amber. Ia bahkan menawarkan untuk mengantarnya ke Nol Kilometer, tapi Amber menolak.


"Beneran nggak mau aku aja yang nganterin nanti?" Gian masih saja merengek pada Amber. Siang ini sambil menunggu waktu mereka bercengkrama di kantin sambil menikmati makan siang.


"Enggak ah. Kalau ada kamu nanti aku enggak bisa fokus ngerjain sketsanya," jawab Amber sambil melahap bakso cabe rawit racikan Pak Pri lengkap dengan potongan-potongan ketupatnya.


"Kok gitu?" Gian cemberut, menganggap bahwa kehadirannya akan menjadi gangguan bagi Amber.


"Kalau ada kamu nanti malah sibuk ngobrol, nggak jadi ngerjain tugas. Lagian aku kalau baru bikin gambar atau lukisan harus tenang, diam," Amber mangatakan itu sambil tersenyum meringis ke arah Gian.


"Anterin doang deh nggak aku tungguin. Nanti kalau udah kelar aku jemput lagi. Mau ya?" Untuk terakhir kalinya Gian mencoba. Ia hanya ingin bersama Amber sedikit lebih lama di tiap harinya.


"Enggak mau ah, malah ribet. Aku kan bawa mobil. Lagian nanti kalau kamu yang anterin, terus ada temen-temenku yang nebeng mereka malah bakalan canggung, kan?" Amber menjawab lalu menyeruput jeruk hangatnya.


Gian hanya bisa menghela napas panjang. Dagunya ia letakkan di atas meja kantin. Ia tak mencoba lagi untuk membujuk Amber.


Amber yang melihat tingkah Gian yang kini terdiam dengan raut wajah yang seolah kecewa itu pun lalu tersenyum. Ia paham Gian masih ingin bersamanya, namun kali ini ia benar-benar harus mengerjakan tugasnya. Ada 10 sketsa yang harus dikumpulkan minggu depan. Belum lagi tugas kuliahnya yang lain. Karena inilah, Amber harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik.


"Nggak akan sampe terlalu malem, Giaaaan. Nanti begitu aku kelar, temen-temen kelar, langsung balik kampus anter mereka, terus pulang," Amber mengelus rambut Gian saat mengatakan hal ini.


Gian malah tiba-tiba mengangkat kepalanya saat mendengar bahwa Amber mungkin akan mengerjakan tugas sketsanya hingga malam nanti di Nol Kilometer. "Emang bakal sampe malem?" tanyanya.


"Mungkin. Tergantung sikon. Ada 10 sketsa yang harus dikumpulin pas kelas. Aku cuma pengen tugasnya cepet kelar aja. Nggak suka nunda. Jadi kalau nanti memungkinkan untuk kelar beberapa sketsa sekaligus kenapa nggak?" Amber pun menjelaskan.


"Haaa," Gian menghela napas, namun dengan tersenyum kali ini. "Pacar aku emang rajin," ia menepuk-nepuk kepala Amber pelan.


Lewat percakapan mereka yang tentunya lebih intens setelah mereka berpacaran, Gian tahu bahwa sejak awal kuliah cita-cita Amber adalah ingin bisa segera lulus, dengan hasil yang baik tentunya. Karena itulah, Gian pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengganggu kuliah Amber.


"Kalau nganterin ke depan doang enggak papa, kan?" ucap Gian dengan mata berbinar memohon supaya permintaannya dikabulkan oleh kekasihnya.


"Boleh. Kelarin dulu makannya. Abis ini kamu juga masih ada rapat buat pameran typografi kan? Jangan sampe kelaperan, entar sakit," tanya Amber.


"Iya!" Lekas-lekas Gian menghabiskan makan siangnya setelah mendengarkan kata-kata penuh perhatian yang meluncur dari mulut Amber. Setelahnya mereka berdua berjalan bergandengan menuju ke area parkir, tempat Amber dan teman-temannya janjian untuk berkumpul.


Setibanya di sana, Amber memutuskan untuk menanti temannya di dalam mobil. "Udah sana, rapatnya bentar lagi mulai kan? Kasian yang lain nanti nungguin," ujar Amber kepada Gian.


"Kamu enggak papa sendirian nunggunya?" kata Gian yang sebenarnya masih ingin menemani Amber. Walaupun begitu, kata-kata Amber memang ada benarnya. Rapat untuk persiapan pameran di akhir semester adalah sesuatu yang tidak boleh ia abaikan. Ini bukan hanya soal usaha untuk mendapatkan nilai yang baik, tapi juga soal pengalaman dan tanggung jawab.


"Enggak papa. Bentar lagi juga pada dateng ke sini. Gih sana," ujar Amber, menyuruh Gian untuk menuju ke tempat rapat. Ia lalu masuk ke mobil dan duduk di balik kemudi. Sementara Gian masih berdiri di luar.


"Iya deh kalau gitu. Kamu hati-hati ya. Kalau udah kelar nanti buruan pulang. Kasih kabar kalau udah sempet," Ucap Gian. "Chunya mana?" lanjutnya dengan nada manja sambil menyodorkan pipinya pada Amber.


Walau ini masih merupakan hal yang baru bagi Amber, lama kelamaan ia terbiasa juga. Dilayangkannya sebuah kecupan kecil di pipi Gian yang kemudian dibalas dengan sebuah kecupan yang diberikan Gian di dahinya. Amber pun kembali merona. Interaksi semacam ini selalu saja berhasil membuat semangat dalam dirinya melonjak. Tak pernah ia duga sebelumnya bahwa mempunyai kekasih bisa memberinya dampak positif seperti ini.


Gian pun berlalu, meninggalkan Amber. Saat sudah hampir memasuki area hall depan Fakultas Seni, ia berpapasan dengan beberapa mahasiswa baru yang merupakan teman satu kelas Amber.


"Hai, Kak Gian," sapa salah seorang diantara mereka.


"Hei," sahut Gian. "Amber udah diparkiran tuh," lanjutnya.


"Iya, Kak. Berangkat dulu ya."


Satu hal yang menarik perhatian Gian sedari tadi. Di antara semua teman Amber yang ikut serta, ada salah seorang yang ia kenali. Ia adalah Andre, teman satu angkatan Amber yang pernah tak sengaja berkenalan dengannya di kantin dulu.


Perasaan Gian langsung berubah tak menentu. Sejak awal berkenalan dengan Andre pun ia merasa bahwa pemuda ini berbeda. Walau seperti tak beralasan, ada perasaan tak suka dalam hati Gian terhadap Andre. Mungkin perasaan ini muncul karena dulu Andre memang tak terkesan bersahabat saat berkenalan dengan Gian. Terlebih lagi, ia juga langsung mengajak Amber pergi, padahal kala itu Gian baru saja datang dan mengobrol dengan Amber.


Bukan Gian namanya jika tidak cemburuan. Saat masih belum menjadi kekasih Amber saja ia sudah merasa kesal melihat Amber berjalan berdua bersama Andre. Apalagi sekarang?


Perasaan itu jugalah yang membuat Gian menghentikan langkahnya sejenak untuk melihat ke belakang. Benar saja, Andre memang akan ikut bersama Amber dan teman-temannya untuk mengerjakan tugas sketsa di area Nol Kilometer. Dengan perasaan yang campur aduk, Gian pun melihat Andre juga masuk ke mobil Amber.