AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 55 - Menolong Charemon



Ponsel Amber berdering. Ia yang saat itu sedang bercengkrama dengan sang ayah pun meminta ijin untuk mengangkat panggilan telepon terlebih dahulu. Belum juga ia mengatakan 'halo', ia sudah dikejutkan oleh suara di seberang sana.


"Amber … Mama …!" Charemon berkata sambil terisak.


"Mama kenapa, Mon? Kamu tenang dulu. Ngomong pelan-pelan."


Jawaban Amber itu tentu saja menarik perhatian Tarachandra. Ia tahu, sesuatu yang tidak beres pasti sudah terjadi.


"Mama pingsan. Gue di IGD sekarang," Charemon hanya bisa menjawab singkat.


"Kamu tenang ya. Kirimin alamatnya. Aku ke sana sekarang," Amber menjawab sambil berjalan ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan tas.


"Yah, aku mau nemenin Momon dulu. Dia panik, mamanya pingsan, sekarang ada di IGD," Amber menjelaskan kepada Tarachandra yang memang sedari tadi nampak memperhatikan percakapannya dengan Charemon di telepon.


"Okay, Sayang. Kamu hati-hati. Nggak usah ngebut. Kalau ada apa-apa langsung kabari Ayah, ya?" pesan Tarachandra.


"Okay, Ayah. Bye," Amber mengecup pipi ayahnya, lalu pergi menuju alamat rumah sakit yang sudah diinfokan oleh Charemon.


***


Amber bergegas ke IGD sesampainya ia di rumah sakit. Neron, adik laki-laki Charemon yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, menunggu di bagian luar IGD karena memang biasanya di bagian ini tidak boleh ada terlalu banyak orang di dalam.


"Kakak!" teriak Neron memanggil Amber yang tampak berlari mendekat.


Melihat wajah Neron yang masih tampak khawatir, Amber mengusap rambut Neron. Kedekatakan Amber dengan Charemon juga membuatnya dekat dengan ibu serta adik satu-satunya dari sahabatnya itu.


"Mama gimana, Dek?" tanya Amber kepada Neron.


"Mama udah sadar tadi, Kak. Kata dokter Mama kecapekan. Sekarang baru one day care dulu. Kalau infusnya abis boleh pulang," Neron menjelaskan.


"Kakak kamu di dalem sama Mama?" tanya Amber.


"Iya, Kak," jawab Neron.


Amber terdiam sejenak seperti berpikir.


"Dah, tenang aja. Nanti kalian pulang Kakak yang anter. Okay?" Amber berusaha menenangkan Neron.


"Okay. Makasih banyak, Kak," sahut Neron.


"Kartu rumah sakit Mama kamu yang bawa?" Amber bertanya lagi.


"Iya, Kak. Ini," Neron menyerahkan kartu identitas pasien yang sedari tadi ia kantongi itu kepada Amber.


"Kakak pinjem dulu ya. Kakak ke dalem bentar baru nanti liat Mama sama Kak Momon," kata Amber.


"Iya, Kak," jawab Neron yang wajahnya kini sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Amber.


"O iya, Dek. Ini," Amber mengulurkan selembar uang seratus ribuan kepada Neron.


"Kamu sama Kak Momon pasti belum makan, kan? Itu di depan ada minimarket. Kamu beli makanan dan minuman buat kalian berdua ya. Kakak mau buru-buru ke dalem dulu. Gih sana," kata Amber sambil mulai melangkah ke bagian pendaftaran dan administrasi.


"Ah, iya, Kak."


Di dalam hatinya, Neron merasa bersyukur mengenal Amber. Di masa panik seperti ini, Amber begitu perhatian pada keluarganya. Wajar jika lambat laun Neron menganggap Amber yang memang cukup sering berkunjung ke rumahnya sudah seperti kakaknya sendiri.


***


"Baiklah, mohon tunggu sebentar," jawab wanita itu.


Tak lama kemudian, "Ini rinciannya. Tadi setelah memeriksa, dokter sudah sekalian memberikan resep obatnya jadi total biayanya sudah keluar."


"Lunasi pakai kartu debit bisa?" tanya Amber yang kebetulan tidak membawa uang cash sebanyak itu.


"Bisa, akan saya uruskan," kata sang petugas.


Setelah melayani pelunasan biaya rumah sakit, sang petugas pun menyerahkan dua kertas rincian yang berbeda, "yang ini tolong diserahkan kepada suster jaga di IGD sebagai tanda pasien boleh pulang setelah one day care selesai nanti. Yang ini, bisa ditunjukkan ke apoteker di sebelah sana sebagai bukti obat sudah lunas dan bisa diambil. Masih ada yang bisa saya bantu?"


"Nggak. Terima kasih," jawab Amber. Ia lalu bergegas menemui Charemon yang mungkin sudah tahu kabar kedatangannya dari Neron.


"Hey," Amber menyapa lalu memeluk Charemon yang berada di luar ruang IGD. Ia bergantian dengan Neron yang sekarang berada di dalam, menjaga ibunya yang kini terlelap.


"Neron bilang lo udah sampe dari tadi. Ke mana?" tanya Charemon pada Amber.


"Nih," Amber menyerahkan dua lembar kertas yang tadi ia terima dari petugas administrasi kepada Charemon.


"Obatnya belum aku ambil. Tadi aku keburu pengen ke sini ketemu kamu," lanjutnya.


Charemon memegang kedua setruk itu dengan tangan yang gemetar. Air mata meleleh di kedua pipinya.


"Kalau gue udah ada uang gue bakal balikin, Amber." Air mata Charemon semakin deras kini.


"Hey … sshhh … Kamu nggak usah mikirin itu. Yang paling penting sekarang kesehatan mama kamu," kata Amber sambil mengusap pundak sahabatnya.


"Gimana keadaan Tante sekarang?" lanjutnya.


"Mama masih tidur. Kata dokter Mama kecapekan, jadi sekarang baru dikasih suplemen lewat infus. Nanti kalau infusnya abis boleh pulang," Charemon menjelaskan.


"Kenapa bisa sampe kecapekan gini? Biasanya Tante bikin kue juga nggak sampe begini, kan?" tanya Amber penasaran.


"Mama sebenernya baru nggak ada orderan agak lama. Terus kurang lebih 4 hari yang lalu ada telpon masuk, katanya tau usaha kue kering Mama dari sosmed gue. Orang itu mau pesen 100 toples kue buat acara syukuran di rumahnya. Ya udah pesenannya diterima sama Mama, langsung dikerjain dan minta bantuan juga sama 2 orang yang emang udah biasa bantu Mama karena emang banyak pesenannya. Nah, tadi gue yang nganterin pesenan ke alamat yang udah dikasih tau sebelumnya. Pas sampe sana_"


Cerita Charemon terhenti. Ia kembali menangis. Amber hanya bisa mengusap pelan punggung sahabatnya supaya ia lebih tenang.


"Pas sampe sana ternyata itu alamat rumah kosong yang udah lama banget nggak ditempatin. Nomernya yang pesen gue hubungi juga nggak bisa, katanya nomer itu tidak terdaftar. Gue sampe nanya-nanya ke orang sekitar sana juga nggak ada yang tau nama orang itu. Gue terpaksa bawa balik kue-kue itu ke rumah. Pas Mama tau Mama langsung pingsan, Amber." Charemon menjelaskan panjang lebar.


"Modal Mama udah ilang, Amber. Gimana Mama bisa bayar orang yang bantu Mama kemaren? Gimana Mama bisa ngelanjutin usaha kuenya?" Tangis Charemon kembali pecah.


"Yang telpon laki-laki apa perempuan, Mon?" Amber mencoba menggali lebih dalam.


"Cewek. Kebetulan gue yang angkat telponnya waktu itu. Kayanya masih muda. Nama ya Rasti," jawab Charemon.


Deg!


"Cewek? Masih muda?"


Hati Amber rasanya tersentak. Seketika ia mengingat perkataan gadis yang melabraknya waktu itu bahwa orang-orang disekitarnya lah yang harus menanggung akibatnya jika ia masih nekat berdekatan dengan Gian.


"Jangan-jangan ini maksudnya? Jangan-jangan cewek yang sama? Jadi dia itu bener-bener serius?" batin Amber.


Hatinya pedih mengetahui bahwa Charemon mungkin adalah orang pertama yang harus terkena imbas kedekatannya dengan Gian, sampai-sampai ibunya jatuh sakit seperti sekarang ini. Amber merasa sangat bersalah.


"Ssshhh … tenang ya, Mon. Everything's gonna be okay. Don't worry," bisik Amber sambil terus memeluk dan menenangkan Charemon yang masih menangis.