
Sepanjang perjalanan menuju ke area parkir, banyak mata yang menatap. Gian tak peduli, ia tetap menggandeng tangan Amber.
Sementara Amber, berjalan di sebelahnya. Ia tak meronta atau sedikit saja berusaha melepaskan genggaman tangan Gian. Ia masih terkejut karena hal yang baru saja terjadi. Jantungnya masih berdegup kencang. Bersama Gian seperti ini, ia merasa aman.
Sesampainya di area parkir, Gian bukannya mengantar Amber ke mobilnya, namun malah mengajaknya menuju ke mobilnya sendiri.
"Tunggu sini bentar," kata Gian, menyuruh Amber untuk menunggu di luar mobil sementara Gian sendiri masuk ke kabin penumpang.
Ia menutup semua tirai yang memang sudah dipasang di tiap kaca jendela mobil. Ia lalu mengambil setelan seragam sepak bola yang sebenarnya akan ia kenakan sore ini untuk bermain futsal bersama beberapa temannya.
"Masuk ke dalem. Ganti kaos sama celana lo …"
Perkataan Gian terhenti setelah ia menyerahkan setelan seragam bola tadi kepada Amber. Ia sadar bahwa guyuran air tadi membasahi Amber hingga ke dalam.
"Mmmm ... Mungkin tetep bakalan tetep basah dikit. Tapi paling nggak, lo nggak akan terlalu kedinginan pas pulang. Kasian Om Tara juga, pasti khawatir kalau liat lo basah kuyub begini," lanjutnya lagi.
Amber masih belum bergerak.
"Malu banget! Kenapa Gian harus liat aku dalam keadaan kaya gini? Mana disuruh ganti baju di dalem mobilnya lagi. Malu!" batin Amber berkecamuk dengan berbagai hal.
"Kenapa malah diem aja? Buruan sana," kata-kata Gian membuyarkan lamunan Amber.
"Mmm …" Amber masih tampak ragu.
"Udah nggak usah mikir yang macem-macem. Gue nggak bakal ngintip. Ganti di kursi paling belakang. Tirainya udah gue tutup rapet semua. Gue jagain di sini," Gian berkata sambil mendorong pelan Amber supaya lekas masuk ke mobil dan mengganti bajunya. Ia khawatir Amber akan terkena flu atau demam jika masih dalam keadaan basah seperti ini.
Amber pun masuk, menutup pintu mobil, dan buru-buru mengganti baju dan celananya di bagian belakang seperti yang Gian katakan tadi. Baju seragam bola berwarna hitam itu sedikit kebesaran untuk Amber. Celananya pun juga sama. Tapi untungnya, celana itu dilengkapi dengan tali yang bisa Amber kencangkan.
Setelah selesai, Amber pun keluar dengan bertelanjang kaki. Sepatunya yang basah tidak nyaman jika dikenakan.
"Bentar." Gian lalu membuka bagian bagasi dan mengambil sepasang sandal yang emang biasa ia tinggalkan di sana, jadi sewaktu-waktu perlu ia tinggal menggunakannya.
Gian lalu membungkuk, meletakkan sepasang sandal supaya Amber bisa menggunakannya.
"Pake," kata Gian singkat.
Amber pun langsung menggunakannya dan berkata pada Gian, "Makasih, Gian".
"Udah, santai aja. Ayok gue anterin lo ke mobil." Gian mengunci mobilnya dan membawakan tas Amber karena melihat Amber sedikit repot membawa pakaian serta sepatunya yang basah.
Tak ada percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan mereka menuju ke mobil Amber. Di dalam hatinya, Amber merasa bersalah pada Gian karena sudah mengabaikan pesannya hanya karena hatinya yang merasa kecil setelah mengetahui cerita akan cita-cita Gian serta paras cantik penuh kharisma Zefanya.
Hatinya semakin merasa tak enak karena Gian malah banyak membantunya hari ini.
"Lo bisa balik sendiri, kan?" Gian memastikan kembali.
"Bisa." Sedari tadi Amber tak berani menatap ke mata Gian saat berbicara. Ia kini sudah duduk dibelakang kemudi, bersiap untuk pulang ke rumah.
"Hey," Gian mendekatkan wajahnya kepada Amber. Ia ingin Amber mendengarkan apa yang akan ia katakan.
"Maaf, gara-gara gue lo jadi kaya gini."
"Nggak papa. Bukan salah kamu, Gian. Kamu nggak perlu minta maaf." Amber berusaha tetap bersikap biasa saja.
"Mulai sekarang gue bakal jagain lo baik-baik. Kalau gue pas nggak ada, lo harus janji lebih hati-hati. Kalau udah ada peristiwa kaya gini mungkin kedepannya nggak akan mudah. Kampus juga nggak akan menggubris kalau cuma masalah perselisihan antar mahasiswa kaya gini, jadi nggak usah mikir untuk lapor, percuma. Sampai semuanya jelas, lo harus lebih hati-hati dan jaga diri. Cuma orang nekat yang berani ngelakuin hal kaya gini," Gian menjelaskan dengan sejelas-jelasnya supaya Amber mengerti.
"Iya," Amber masih saja menjawab dengan singkat.
"Hey, liat gue," ia memegang dagu Amber dan mengarahkan wajah manis Amber supaya menatap matanya.
Gian sadar kalau Amber bersikap aneh sejak terakhir mereka bertemu di rumah ayahnya tempo hari.
"Kenapa chat gue nggak lo bales dari kemaren? Biasanya juga lo selalu bales chat walau cuma pendek."
Amber berusaha memalingkan wajahnya namun tangan Gian menahannya.
"Nggak mungkin kan kalau aku jawab karena aku kepikiran Zefanya? Kamu pasti masih cinta sama Zefanya kan, Gian? Kalau emang iya, kita nggak boleh sedeket ini," kata Amber di dalam hatinya.
"Gara-gara cerita soal cita-cita gue bareng Zefanya, kan? Gue mikir dari kemarin, kenapa lo jadi aneh. Sampe tadi pagi gue chat juga nggak lo bales. Gue mikir keras salah gue di mana. Gue inget lo jadi aneh setelah gue cerita soal Fanya. Gue bener kan?" kata Gian yang masih belum juga melepaskan pegangan lembutnya dari dagu Amber.
Amber menepis pelan tangan Gian. Walaupun ia kaget kenapa Gian seolah bisa membaca hatinya, lidahnya kelu tak bisa menjawab. Ia sendiri saja masih bingung kenapa ia bersikap seperti ini, kenapa ia malah mengabaikan Gian secara tiba-tiba. Ia akhirnya hanya bisa tertunduk.
Sifat Amber yang seperti ini malah membuat laju detak jantung Gian perlahan menjadi cepat dan lebih cepat.
"Dia suka sama gue?" ucapnya sendiri di dalam hatinya yang bersorak-sorai.
"Zefanya pasti bukan orang sembarangan. Kayaknya kamu cinta banget sama dia sampai bikin cita-cita bareng." Entah kenapa semua kata-kata itu akhirnya malah keluar dari mulut Amber.
"Gue harus jelasin!" batin Gian lagi.
"Hey, listen. Gu … Aku ama Zefanya udah berakhir. Dia melakukan kesalahan yang nggak bisa aku maafin sampe kapanpun. Kalaupun suatu saat aku tetep bikin clothing line dengan ilmu yang aku dapet dari kuliah di sini, alesannya udah bukan karena dia. Okay?"
"Gian pakai kata 'aku'?" Amber membatin.
"Okay," jawab Amber.
"Good," Gian tersenyum lalu mengusap rambut Amber yang masih basah.
"Dah sana. Hati-hati." Pungkasnya.
"Iya. Bye," jawab Amber yang lalu menutup pintu mobilnya dan berlalu dari sana.
Gian memang masih merasa geram akan peristiwa yang tadi menimpa Amber. Ia masih merasa tak terima.
Tapi, hatinya tak bisa berbohong. Ia merasakan bahagia karena sepertinya Amber pun menyukainya.
Gian tahu, untuk mengatakan ini sebagai sebuah awal pun juga belum bisa. Belum ada kesepakatan apapun antara dia dan Amber.
Hanya saja, reaksi Amber yang tak nyaman ketika membicarakan tentang Zefanya, menurut Gian merupakan tanda awal bahwa sebenarnya Amber juga tertarik kepadanya. Saat ini, hal itu sudah cukup baginya.