AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 41 – Mau Kan?



Jam terakhir kuliah akan segera usai saat Gian meninggalkan Bimo dan Egidia di kantin. Harusnya Amber sebentar lagi pun akan keluar dari kampus. Paling tidak, begitu yang Gian harapkan.


Gian pun memutuskan untuk menunggu Amber di hall depan gedung Fakultas Seni yang merupakan jalan satu-satunya untuk menuju ke parkiran mobil khusus untuk mahasiswa fakultas tersebut. Tak lupa ia menenteng botol minum Amber yang tadi diberikan kepadanya.


Keberuntungan nampaknya sedang berpihak kepada Gian. Tanpa harus menunggu lama, dari kejauhan Amber nampak akan keluar gedung bersama dengan Charemon.


Gian pun langsung berdiri dari duduknya lalu menghampiri Amber.


“Amber, Gian tuh,” kata Charemon sambil sedikit cekikikan menggoda sahabatnya.


“Kamu ngapain?” tanya Amber pada Gian.


Ia sedikit heran karena yang terlihat seolah Gian sedang menunggunya. Memang begitu kenyataannya.


“Mau balikin botol lo,” Gian menjawab sambil mengulurkan botol air minum berwarna merah tua itu.


“Thanks,” lanjutnya.


“Kan bisa kapan-kapan aja pas ketemu.” Amber meraih botol minum tersebut.


“Nggak papa. Sekalian mau tanya sesuatu sama lo,” kata Gian.


Charemon berusaha keras menahan senyumnya. Sebagai penggemar rahasia Ambergian Couple, berada di situasi seperti ini tentu saja mengundang senyumnya. Pikirannya bahkan sudah ke mana-mana saat melihat Gian menunggu Amber di hall tadi.


Setelah mengetahui bahwa Gian akan menanyakan sesuatu, imajinasi Charemon pun menjadi semakin liar. Ia membayangkan bahwa Gian akan meminta Amber untuk menjadi kekasihnya. Seorang lelaki berwajah tampan akan ‘menembak’ sahabatnya yang berwajah manis dengan rambut hitam lurus itu. Entah kenapa ia malah merona sendiri.


“Ish … Ngaco banget sih lu, Mon. Nggak mungkin banget lah. Kecepetan,” sanggahnya sendiri di dalam hati.


Charemon pun kembali dalam diamnya namun tanpa meninggalkan tempat tersebut. Walaupun ia ingin sekali memberi ruang kepada sejoli itu untuk bercakap, namun rasa penasaran yang membuncah pada hal yang akan ditanyakan oleh Gian membuatnya bertahan di sebelah Amber.


“Mau tanya apaan?” Amber pun menjadi penasaran.


“Besok Sabtu lo free nggak?”


Teringat akan perkataan Bimo bahwa Amber adalah gadis yang manis dan sangat mungkin membuat lawan jenisnya merasa tertarik, membuat Gian tak mau berbasa-basi dan membuang waktu lagi. Ia bahkan tak mau merasa canggung menanyakan hal tadi walau ada Charemon di sana.


“Oh, aku ada janji sama Momon mau ke pameran sekalian mau hunting foto buat bahan karya Sabtu pagi besok,” jawab Amber.


“No no no no no, Amber dudul,” batin Charemon.


Ia paham bahwa Gian sepertinya ingin mengajak Amber pergi bersama Sabtu esok. Jika Amber tetap pergi dengan dirinya, maka kencan pertama Ambergian Couple akan gagal sebelum sempat dimulai.


Charemon lalu menemukan ide yang mungkin bisa menyelamatkan rencana kencan tersebut. Tanpa menunggu Gian menanggapi tiba-tiba Charemon mengatakan sesuatu.


“Duh, Amber. Gue baru inget kalau besok Sabtu harus bantuin Mama bikin kue. Dia ada banyak pesenan. Kayanya besok Sabtu pagi gue nggak jadi bisa pergi sama lo deh,” Charemon mencoba mengatakan semua itu dengan senatural mungkin supaya Amber tak mengetahui bahwa ia sedang mengada-ada.


“Gimana kalau besok Sabtu Kak Gian aja yang nemenin Amber ke pameran sama hunting?” Charemon langsung menanyakan hal ini pada Gian.


“Gue sih nggak masalah, tapi lo mau nggak gue temenin?” tanya Gian pada Amber yang sepertinya masih memproses apa yang dikatakan oleh Charemon tadi.


“Kalau aku pergi sama Gian kamu gimana, Mon?” tanya Amber sambil menoleh ke arah Charemon.


“Jadi gimana?” Gian masih menunggu jawaban dari Amber.


Amber berpikir; pergi berdua nampaknya lebih baik daripada pergi sendiri. Gian juga termasuk salah satu orang yang cukup sering berinteraksi dengan Amber diantara segelintir orang yang lain. Terlebih lagi, mereka sudah berbaikan setelah insiden salah tuduh kala itu.


“Nggak ada salahnya memulai pertemanan yang baik sama Gian,” begitu pikir Amber di dalam hati.


“Boleh lah,” Amber menjawab sambil menyunggingkan senyum kecil yang salah-salah bisa membuat Gian merona seketika.


Senyum lebar pun tergambar pula di wajah Gian saat mendengar jawaban dari Amber.


“Gue jemput lo di mana?” tanya Gian lagi.


“Ga bawa mobil sendiri-sendiri aja?” Amber malah balik bertanya. Ia masih malas dan belum ingin teman-teman kampusnya, kecuali Charemon, mengetahui siapa ayahnya. Ia hanya ingin menjalani masa kuliahnya seperti yang lain tanpa bayang-bayang nama besar sang ayah.


“Dih! Emang kita mau konvoi apa?” kata Gian dengan sedikit kesal.


“Lagian entar kalau kena macet malah repot lho,” Charemon ikut-ikutan mengompori supaya Amber mau dijemput oleh Gian saja. Apapun yang terjadi, Charemon adalah pendukung Ambergian Couple sejak awal.


“Ya udah, entar aku shareloc,” Amber pun akhirnya setuju.


“Gimana mau shareloc? Lo kan nggak punya nomer gue.” Gian menepuk pelan kepala Amber.


“OMG!” batin Charemon menjerit kegirangan melihat dengan mulusnya Gian beralasan untuk mendapatkan nomor telepon Amber.


“Siniin hape kamu.” Amber mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel Gian supaya ia bisa mengetik nomornya di sana.


Gian merogoh sakunya lalu memberikan ponselnya kepada Amber. Dalam sekejap, nomor kontak Amber sudah tersimpan di sana.


“Lo mau ke mana sekarang?” tanya Gian sambil menerima kembali ponselnya.


“Diajak makan siang di rumahnya Momon. Mau ikut?” dengan santainya Amber menanyakan itu.


Gian ingin sekali mengiyakan ajakan Amber barusan. Ia memang ingin segera bisa lebih dekat dengan gadis yang kini menjadi pujaan hatinya itu. Hanya saja, ia masih tahu batas dan tidak mau semuanya berjalan terlalu cepat atau dipaksakan. Pikirnya, pergi berdua dengan Amber di hari Sabtu esok lah yang lebih utama. Lagi pula, ia masih belum begitu mengenal Charemon untuk secara tiba-tiba berkunjung ke rumahnya. Pasti akan sangat canggung jadinya.


“Nggak. Ketemu besok Sabtu aja. Entar gue kasih nomer gue ke lo,” jawab Gian.


Mereka bertiga pun lalu berjalan bersama ke arah area parkir fakultas.


“Ya udah sono kalau mau berangkat. Ati-ati di jalan ya,” lanjutnya lagi sambil menepuk lembut kepala Amber lalu beranjak pergi menuju ke mobilnya sendiri.


"Kenapa sih suka banget nepuk kepala?" tanya Amber di dalam hati.


Kebiasaan itu tertangkap oleh mata Charemon. Dengan semua cerita tentang Gian yang sudah pernah Charemon dengar, nampaknya dia bukanlah orang yang secara sembarangan memberikan tepukan lembut semacam itu pada orang-orang yang ia kenal di kampus. Hal itu membuat Charemon gemas sendiri karena ia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang spesial.


Sementara Gian diam-diam merasakan jantungnya berdegup kencang mengingat Amber mengiyakan ajakannya. Perasaan semacam ini sudah cukup lama tak ia rasakan hingga ia lupa bahwa sensasinya ternyata bisa sedahsyat ini.


Setelah duduk di balik kemudi, ia pun menyempatkan untuk mengirim pesan kepada Amber melalui aplikasi yang ada di ponselnya.


Nomer gue. Simpen ya, begitu isi pesannya.