
Deru ombak di kejauhan terdengar begitu merdu memberikan sensasi menenangkan di telinga dan pikiran. Sepoi angin yang bebas masuk melalui sebuah pintu kaca yang dibuka lebar menghempaskan bau cat yang menguap ke udara. Sore itu, setelah kurang lebih sebulan lamanya, Amber akhirnya menyelesaikan sebuah lukisan hiper-realis berukuran besar yang nantinya akan ia pamerkan sebagai karya tugas akhirnya sebagai seorang mahasiswa jurusan seni murni.
Dua tahun yang lalu, Amber menerima hadiah yang sungguh tak ia sangka-sangka dari kedua orang tuanya. Sebuah studio lukis dua lantai bergaya industrial dengan pemandangan laut yang menjadi favorit calon pelukis ternama ini. Tarachandra sangat mengerti bahwa Amber bisa menuangkan jiwa pada setiap lukisannya dengan baik jika ia membuatnya di tempat yang memberinya ketenangan batin. Karena itulah ia sengaja mendesain studio ini untuk Amber, lengkap dengan tempat tinggal minimalis yang terletak di lantai dua. Selama lebih dari sebulan ini Amber benar-benar menjauhkan dirinya dari keramaian. Ia memilih untuk tinggal sendiri di rumah studionya supaya bisa fokus mengerjakan tugas akhirnya.
Amber berdiri di balkon rumahnya, menikmati pemandangan laut sembari menyesap secangkir kopi hangat sebagai penghilang lelah. Rasanya begitu melegakan ketika hasil lukisan yang ia kerjakan sesuai dengan harapannya.
"Tega banget kamu ya enggak ngebolehin aku nengok barang sebentar aja. Sebulan itu lama banget lho. Kamu enggak takut aku hilang?"
Gian yang tiba-tiba datang dan memeluk Amber dari belakang membuat gadis itu terkejut dan menumpahkan sedikit kopinya. Tadi pagi, Amber sudah mengabarkan kepada Gian bahwa ia sudah boleh datang ke rumahnya. Ia tak menyangka bahwa Gian akan datang hari ini juga. Amber pun berbalik, meletakkan cangkirnya dan merangkulkan kedua tangannya pada leher belakang Gian. "Kamu enggak akan pernah hilang kalau benang merahmu sudah terikat kuat di jariku," kata Amber yang merasa menang. "Aku kangen." Amber melayangkan kecupan manis yang mendarat di bibir Gian.
"Kalau kangen kenapa aku enggak boleh ke sini sejak kemarin-kemarin?" rajuk Gian.
"Kita sudah sering membahas soal ini jadi aku enggak akan menjawab, okay?" kata Amber dengan senyum yang selalu membuat hati Gian luluh.
"Iya … iya. Kamu beruntung aku begitu mencintaimu," kata Gian sembari mengeratkan pelukannya dan mengecup pundak Amber. "Kenapa kamu begitu kurus? Harusnya aku setiap hari mengutus orang untuk mengantarkan makanan ke sini."
"Aku akan mengantuk kalau terlalu banyak makan. Bukankah kamu ingin aku menyelesaikan tugasku dengan cepat?" ujar Amber.
"Aku akan rajin mengajakmu makan makanan enak setelah ini, okay?"
"Kamu enggak takut aku akan membulat?" Amber bertanya dengan pandangan mata yang selalu membuat Gian merasa gemas.
"Enggak tuh. Mau kayak apa juga aku udah terlanjur jatuh cinta," jawab Gian.
Amber tersenyum senang. "Kamu sudah terima desain yang aku kirim tempo hari ke email Ambergian?" Amber menanyakan tentang bisnis yang kini ia kelola bersama Gian. Nama Ambergian mereka pilih sebagai mereknya.
"Udah kok. Maaf aku lupa bilang. Sudah di tangan tim produksi. Mungkin dalam waktu dekat akan dikerjakan," jawab Gian. "Aku kangen. Jangan membahas soal kerjaan dulu," ia pun merajuk.
"Kamu mau liat lukisan yang aku buat?" Amber menawarkan kepada Gian. "Kamu pasti menyukainya."
"Mau," jawab Gian.
Amber menggandeng tangan Gian dan mengajaknya masuk ke dalam studio sambil berjingkat senang. "Masih belum benar-benar kering. Baru selesai sore ini," Amber menjelaskan.
Gian tak menjawab karena ia masih terkesima melihat wajahnya terpampang sebagai objek dalam lukisan hiper-realis karya Amber. "Kamu enggak pernah bilang mau bikin ini," kata Gian. Hatinya tersentuh karena penggambaran di dalam lukisan itu benar-benar sama seperti aslinya. Batinnya mengakui bahwa kerja keras Amber mempelajari aliran seni lukis ini sudah layak dikatakan terbayar.
"Bukan kejutan namanya kalau aku sudah bilang sejak awal. Tugas akhir ini begitu spesial buatku. Aku ingin menuangkan banyak cinta di dalamnya. Mau bagaimana lagi, cintaku saat ini cuma buat kamu." Setelah menjadi tunangan Gian selama kurang lebih 3 tahun, Amber tak lagi merasa canggung untuk mengungkapkan perasaan cintanya.
"Kenapa kamu memberiku kejutan?" rasa penasaran Gian mencuat.
"Aku tau kamu menunggu. Sekarang kuliahku akan benar-benar selesai, tinggal sedikit lagi," kata Amber.
"Lalu?" tanya Gian tak mengerti.
Gian terkejut bahwa hal yang ia nantikan sejak lama ternyata akan ia dapatkan hari ini. "Dasar bodoh," katanya sambil menjitak pelan kepala Amber.
"Kok malah dikatain bodoh sih!" kata Amber kesal.
"Kalau mau melamar lakukan dengan benar," kata Gian. Ia berlutut di hadapan Amber lalu merogoh saku celananya.
Pemandangan ini tak lagi asing di kepala Amber. Ia teringat saat Gian memintanya untuk menjadi tunangannya kala itu.
Benar saja. Gian mengeluarkan sebuah kotak dengan cincin berlian di dalamnya, "Amberley Senja, maukah kau menikah denganku?"
Bukannya menjawab, Amber juga malah mengeluarkan sebuah kotak serupa dari kantong celananya. "Terus ini gimana?" tanyanya yang sudah terlanjur menyiapkan sepasang cincin pernikahan untuknya dan Gian.
Melihat itu, Gian tertawa terbahak-bahak. "Kamu beneran berniat melamarku?"
"Udah deh ketawanya. Kamu enggak mau aku lamar?" Amber menggerutu.
"Mau lah! Jelas mau!" jawab Gian dengan cepat. Ia tak mau kalau tiba-tiba Amber berubah pikiran. "Cuma … Hahahaha!" Sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya akan dilamar oleh wanita yang ia cintai.
"Hiiih! Bodo ah!" Amber bermaksud memasukkan kembali cincin yang sudah ia siapkan ke dalam saku celananya.
Gian segera mencegahnya. Ia berdiri dan mendekap Amber. "Maaf … maaf. Aku ketawa bukan karena apa-apa. Aku terlalu senang. You are one and only, My Amber and I like that."
"Good," jawab Amber yang lalu membalas pelukan Gian, menyandarkan kepalanya pada dada bidang pemuda itu.
"Mana sini kotak cincin kamu?" Gian meminta. "Mending Gini aja, aku pakai cincin pilihan kamu, dan kamu pakai cincin pilihanku. Gimana? Fair kan?" Gian menyarankan. Dengan begitu, semuanya tetap akan terasa spesial.
"Fair enough." Senyum Amber merekah mendengar saran yang diberikan oleh Gian.
"Jadi …" kata Gian sembari menatap ke kedua bola mata yang selalu membuatnya jatuh cinta, "kita akan segera menikah kan?" lanjutnya.
"Ya. Setelah aku dinyatakan lulus kita bisa mulai menyusun rencananya. Tak perlu menunggu sampai aku diwisuda. Bagaimana menurutmu? tanya Amber.
"Setuju," jawab Gian dengan lembut. "My Amber," ia memanggil nama kekasihnya.
"Hmm?" Amber pun menanggapi dan mendongak supaya bisa melihat wajah Gian.
"I love you. I really do." Ia lalu mencium bibir Amber.
Walau sudah sekian lama bersama, Amber masih saja merasakan sensasi yang sama setiap kali Gian seperti ini. Kembang api kecil meledak-ledak di dalam hatinya. "Terima kasih sudah datang ke hidupku. Aku tak tau akan seperti apa jika bukan denganmu," kata Amber di dalam hati. "I love you too, My one and only Gian."