AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 49 - Apa Yang Salah?



Hari sudah malam ketika Amber dan Tarachandra sampai di rumah. Sepulang dari kediaman Adipramana tadi, mereka mampir dulu ke sebuah restoran untuk mengisi perut.


Setiap kali makan di luar seperti ini, sudah menjadi kebiasaan Tarachandra untuk mengajak serta Pak No untuk makan semeja bersama. Ia juga selalu memesankan makanan untuk dibawa pulang, supaya Bik Nem juga bisa ikut merasakan. Memang seperti itu cara Tarachandra berterima kasih pada kedua orang yang sudah setia mengabdi kepadanya selama bertahun-tahun.


"Ayah, Amber mau mandi terus langsung istirahat ya. Besok ada kuliah pagi, Yah," kata Amber berpamitan kepada Tarachandra.


"Okay. Ayah masih ada yang mau dikerjain sebentar," jawab Tarachandra yang lalu mencium kepala putri tercintanya.


Sebenarnya, Tarachandra ingin sedikit mengobrol, namun Amber sudah tampak lelah. Ia ingin menanyakan apakah semua baik-baik saja. Pasalnya, sepanjang perjalanan pulang Amber lebih banyak diam. Bahkan, Tarachandra pun bisa membaca raut mukanya yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ayah jangan lupa istirahat," kata Amber sambil tersenyum dan berlalu ke dalam kamarnya. Senyum tulus yang membuat Tarachandra sedikit lebih tenang. Ia yakin bahwa putrinya baik-baik saja. Mungkin hanya lelah.


***


Selepas mandi, Amber meraih ponselnya. Ia lalu merebahkan badannya di atas tempat tidur.


Dilihatnya di layar ponsel ada notifikasi beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Gian yang sepertinya menanyakan apakah ia sudah sampai di rumah dengan selamat.


Amber hanya membaca pesan tersebut, tapi merasa enggan untuk membalasnya. Ia malah mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja kecil di dekat tempat tidur.


Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang nampak seperti layar putih besar yang memprojeksikan semua memori yang tersimpan di kepalanya tentang Gian.


"Dulu kesel banget kalau inget Gian. Bisa-bisanya ada orang yang marah karna menganggap spot parkirnya udah dicuri? Nggak jelas banget deh," Amber bergumam sendiri, pelan.


"Sekarang malah bisa ngobrol banyak, pergi bareng, bahkan main ke rumah ayahnya," Amber menyadari bahwa rasa kesalnya pada Gian berangsur hilang seiring berjalannya waktu.


Tiba-tiba Amber malah jadi teringat pada cerita Gian tadi siang. Nama Zefanya pun ikut mampir ke dalam pikirannya.


"Zefanya itu kayak apa sih orangnya?" Amber malah menjadi semakin penasaran.


Ia pun meraih ponselnya dan menyalakannya kembali. Ia membuka aplikasi mesin pencari internet lalu memasukkan nama Zefanya di sana. Tentu saja, hasil yang didapatkan terlalu melebar karena pastinya ada banyak orang dengan nama yang sama di dunia ini.


Amber mencoba mengingat nama lengkap Zefanya yang pernah diceritakan oleh Egidia namun sungguh ia lupa.


"Aha!" ia tiba-tiba teringat bahwa Gian adalah seorang penyanyi terkenal. Sifat Gian yang semaunya sendiri dan membuatnya kesal sering kali membuat Amber lupa bahwa Gian adalah orang yang cukup dikenal di negri ini.


Ia menghapus kata kunci di mesin pencari internet tadi lalu menggantinya dengan 'Zefanya Giandra'. Kali ini yang ia dapatkan lebih akurat. Ia mendapatkan banyak foto-foto Gian bersama dengan seorang gadis yang memang nampak sebaya dengannya.


Curiosity kills the cat. Mungkin itu adalah pepatah yang tepat untuk menggambarkan apa yang Amber rasakan saat ini.


Rasa penasarannya akan sosok Zefanya tidaklah berimbas baik pada dirinya. Hatinya menciut.


"Cantik banget," gumamnya dengan bibir yang sedikit mengerucut mengomentari gadis muda dengan rambut lurus berwarna cokelat itu.


Ya. Zefanya Tjokroatmodjo adalah gadis yang berparas cantik dengan gaya yang elegan. Jika dilihat dari foto yang Amber temukan, sepertinya Zefanya mempunyai tubuh langsing yang tidak setinggi Amber saat bersanding dengan Gian. Hanya saja, entah kenapa seolah ada kharisma yang terpancar di setiap penampilannya yang Amber lihat di setiap foto yang baru saja ia temukan.


"Pas banget jadi fashion designer. Pantes aja Gian jatuh cinta," Amber kembali bergumam, dengan hatinya yang seakan mengecil.


"Mana mungkin Gian suka sama aku kayak apa yang dibilang Momon." Amber pun menghela napas setelah berkata demikian.


Malam itu, Amber larut dalam pikirannya sendiri tentang Gian dan Zefanya, hingga dengan sendirinya ia terlelap dalam pelukan dinginnya malam kota itu.


***


Amber menjemput Charemon untuk berangkat ke kampus bersama pagi ini. Sebenarnya Charemon bilang ingin berangkat sendiri saja dan mereka bisa bertemu di kampus nanti, tapi Amber memaksa. Di saat suasana hatinya sedang tak menentu seperti sekarang ini, entah kenapa ia jadi merindukan sahabatnya itu.


Perjalanan mereka menuju kampus pun diwarnai oleh suara Charemon yang tak sabar ingin mendengar cerita tentang kebersamaan Amber dan Gian hari Sabtu lalu. Amber pun menceritakan semuanya, termasuk tentang kunjungannya ke rumah Adipramana kemarin.


"Tapi kenapa muka lo kayak murung gitu, Amberku?" Charemon sedari tadi memperhatikan ada yang berbeda di raut wajah Amber.


"Nggak papa," jawab Amber.


"Kamu tau nggak apa alasan Gian kuliah di diskom bukannya seni musik yang sudah jelas sesuai dengan bakatnya?" Amber melanjutkan kembali ceritanya.


"Ya mana gue tau. Lo tu lucu ya. Gue kan temennya aja bukan," Charemon malah jadi sedikit menggerutu.


"Dia ambil jurusan diskom karna pengen belajar soal desain biar kalau udah lulus dia bisa bikin clothing line bareng sama Zefanya," Amber bercerita.


"Zefanya bukannya mantan pacarnya Kak Gian ya?" Charemon bertanya saat teringat akan nama itu.


"Iya," jawab Amber singkat.


Mobil Amber sudah memasuki gerbang kampus. Charemon yang tadinya masih ingin bertanya pun urung.


"Lebih baik nanti saja," katanya dalam hati.


Mereka berdua pun lalu turun dari mobil dan masuk ke gedung Fakultas Seni. Baru juga sampai di hall depan, atmosfer yang aneh terasa.


"Mon, cuma perasaanku atau emang orang-orang pada liatin kita sambil bisik-bisik?" Amber pun menyadari ada sesuatu yang aneh dengan para mahasiswa yang mereka temui pagi ini.


"Iya bener. Pada kenapa sih? Ga ada yang aneh sama baju atau muka kita, kan?" Charemon menanggapi Amber sambil melihat ke sekeliling.


"Nggak ada yang aneh kok sama penampilan kita. Tapi kenapa pada begitu?" sungguh Amber merasa heran.


"Udahlah diemin aja. Keburu telat kelas kalau kita ngurusin yang nggak jelas gini. Dah, kuliah dulu aja gih," ujar Momon yang bersiap untuk pergi ke kelas kuliah paginya.


"Okay. Ketemu nanti ya. Aku anter pulang ntar," kata Amber.


Yang masih Amber rasakan aneh adalah semakin ia berjalan mendekati kelas yang ia tuju melewati koridor-koridor di area gedung prodi Seni Murni, semakin banyak mata yang tertuju padanya diiringi dengan bisikan-bisikan yang Amber tak tahu itu tentang apa.


"Apa yang salah sih?" katanya di dalam hati.