AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 115 - Belahan Jiwa



Setelah sempat kesulitan mencari letak toko kue Langit Senja, Tarachandra yang diantar oleh Pak No akhirnya berhasil menemukannya juga. Hanya saja, toko tersebut sudah tutup, lampu di dalamnya pun mati. Rumah Cornelia memang tak langsung nampak karena lokasinya yang berada di belakang toko. Gerbangnya pun baru bisa terlihat jika kita berjalan melalui sebuah gang kecil yang ada tepat di samping toko.


Tarachandra yang kebingungan benar-benar sudah tak bisa menanti lagi. Cepat-cepat ia menelepon Gian. "Kamu di mana, Nak?" suaranya terdengar tergesa saat bertanya.


Gian yang merasa bahwa Tarachandra sudah tiba, memutuskan untuk pamit keluar sebentar. Ia tak mengatakan bahwa ia akan menjemput Tarachandra. "Sebentar, Om," jawabnya singkat sambil terus melangkah. Setelah melihat Tarachandra berdiri di depan toko ditemani Pak No, Gian lalu mematikan teleponnya. "Lewat sini, Om," ajaknya.


Tanpa banyak bicara keduanya mengikuti Gian memasuki gerbang sebuah rumah berhalaman kecil yang tertata dengan indah. Jantung Tarachandra berdegup kencang ketika mendengar suara yang selama ini ia rindukan. Seperti tak percaya pada apa yang ia lihat, Tarachandra berdiri mematung di ambang pintu. Diliriknya tangan kanan Ayu. Keberadaan cincin bermata hitam yang dulu ia berikan ketika melamar Ayu meyakinkannya bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.


Ayu yang tadinya sedang asyik mengobrol bersama Amber dan Cornelia pun tak kalah terkejut. Tubuhnya berdiri dan berjalan perlahan menghampiri Tarachandra tanpa diperintah. Air mata yang tadi sudah terhenti kembali menetes satu per satu dari kedua bola mata yang sudah beradu pandang dengan Tarachandra.


Tarachandra bergegas mendekat, mengatup wajah mungil Ayu dengan kedua tangannya lalu mencium bibir, pipi, dan kening Ayu bertubi-tubi tanpa memedulikan semua yang ada di sana. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," ucapnya dalam isak tangis bahagia.


"Ampuni aku, Mas. Aku bersalah," kata Ayu.


"Shhh … aku juga bersalah padamu. Tolong maafkan aku," ucap Tarachandra yang kemudian memeluk Ayu dengan begitu erat.


Pemandangan itu menebarkan perasaan haru kepada siapa saja yang menyaksikan, terutama Amber. Ia yang dari tadi dipeluk oleh Gian adalah saksi dari kerinduan Tarachandra yang tak pernah putus untuk Ayu. Ia yang seringkali menyaksikan sang ayah diam-diam tertunduk dalam tangisnya. Ia juga yang paling mengetahui bahwa Tarachandra tak pernah berhenti membuat lukisan wajah Ayu karena takut tak lagi bisa mengingat rupa satu-satunya wanita yang ia cintai dengan seluruh napas dan detak jantungnya.


"Sayang, sini," pinta Ayu sembari merentangkan tangannya, meminta Amber untuk mendekat.


Amber pun menuruti permintaan ibunya. Dalam pelukan, jiwa-jiwa yang saling merindukan akhirnya bersatu kembali.


"Jangan berpisah lagi. Amber mohon," kata gadis yang selama ini berusaha kuat demi sang ayah, demi harapannya yang percaya bahwa suatu saat ia akan kembali dipertemukan dengan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.


"Iya, Sayang. Bunda janji," ucap Ayu sembari memberikan kecupan di pipi Amber.


***


Malam itu, Tarachandra memutuskan untuk menginap di rumah Cornelia, begitu pun dengan Pak No. Karena ukuran rumah yang kecil dan hanya mempunyai dua kamar saja, maka Amber bersedia mengalah dan pulang bersama Gian setelah menikmati makan malam sederhana di rumah Cornelia.


"Besok Bunda pulang kan?" tanya Amber yang sebenarnya masih enggan berpisah dengan ibunya.


"Iya, Sayang. Besok Bunda pulang bareng Ayah sama Pak No," Ayu tersenyum merasakan aura manja yang sudah lama tak ia temui.


"Janji ya?" rajuk Amber sembari menyodorkan jari kelingkingnya seperti anak kecil.


"Iya, janji," kata Ayu sambil mengaitkan jari kelingkingnya. "Besok biar Ayah ngabarin kalau udah mau pulang."


"Iya, Bunda," kata Amber. Ia lalu melayangkan pandangannya kepada Cornelia, menghampirinya, lalu bergegas memeluk wanita ramah itu. "Terima kasih banyak Oma Cornel sudah bantu Bunda selama ini."


"Sama-sama, Sayang," Jawab Cornelia. Ia lalu mendekat ke telinga Amber dan berbisik, "Oma bisa lihat, Gian itu anak yang baik."


Walau tak sepenuhnya mengerti, ucapan Cornelia barusan cukup membuat wajah Amber merona. Ia lalu berjalan ke arah Gian dan menggandeng tangan pemuda itu lalu berpamitan.


Gian tidak menjawab dan malah memberikan kecupan di bibir Amber. "Malam ini pulang ke rumahku," katanya. Ia lalu melajukan mobilnya.


Perlahan namun pasti, irama detak jantung Amber menyepat. Ia seperti tersihir dan tidak menolak ajakan Gian untuk bermalam di rumahnya. Rasa bahagia yang membuncah setelah apa yang ia alami hari ini membuatnya enggan pulang. Ia masih ingin bersama dengan pemuda yang ia cintai, yang juga telah membuatnya berkumpul kembali dengan ibunya.


***


Malam sudah sangat larut saat Amber dan Gian tiba di rumah. Suasana rumah begitu sepi. Dhika juga sudah pasti terlelap.


"Kamu masih mau makan atau ngemil enggak?" Gian begitu perhatian. Ia tahu bahwa Amber biasanya makan banyak saat hatinya sedang merasa senang.


"Enggak ah. Tadi udah makan banyak di rumah Oma Cornel," jawab Amber.


"Tumben," ledek Gian yang lalu mengacak rambut Amber. "Ya udah. Ayo naik," ajak Gian. Ia lalu menggandeng Amber menuju ke kamarnya di lantai dua. Sesampainya di sana, Gian menyiapkan sebuah kaos dan celana pendeknya dan menyodorkannya kepada Amber. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi sebentar lalu keluar lagi. "Mandi sana biar segeran. Heaternya udah aku nyalain biar kamu enggak kedinginan. Ada handuk bersih di rak di dalem kamar mandi," dengan begitu perhatian Gian menyiapkan semuanya untuk Amber.


"Makasih, My Gian," kata Amber. Ia lalu memberikan kecupan kecil di pipi Gian dan berlari kecil menuju ke kamar mandi.


Saat sudah selesai membasuh tubuhnya dan berganti pakaian, Amber tidak menemukan Gian. "Mungkin ke bawah," gumamnya.


Ternyata benar, Gian mandi di kamar mandi yang ada di lantai satu rumahnya. Ia masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.


Amber yang sedang duduk di tepi tempat tidur langsung memalingkan wajahnya beberapa detik setelah Gian masuk. Gian hanya mengenakan celana panjang kain berwarna hitam. Tubuh atletis pemuda itu bisa ia lihat dengan jelas. Itulah yang membuatnya merasa malu sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Gian sembari berjongkok di depan Amber. Ia terkekeh saat mengetahui kedua pipi Amber memerah. "Yakin enggak mau lihat pacarmu yang ganteng ini?" goda Gian.


Amber menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia yakin kalau wajahnya memerah saat ini. "Amber bodoh! Jangan sampe Gian ngira kamu cewek mesum ya! Please deh!" batinnya mengomeli dirinya sendiri.


"Coba liat. Aku punya sesuatu buat kamu," kata Gian dengan suara lembut.


Pikiran Amber malah melayang entah ke mana saat mendengar Gian mengatakan itu. "Gian mau kasih liat apa coba?" batinnya lagi.


Walau ragu, Amber akhirnya tetap membuka perlahan tangan yang menutupi wajahnya. Ia terkejut melihat Gian memegang sebuah kotak kecil berisikan sebuah cincin bermata hitam. "Apa ini?" tanyanya pelan.


"Tadinya aku mau kasihin pas kamu ulang tahun. Tapi ternyata tertunda sampe sekarang. Mungkin kamu berpikir bahwa ini terlalu cepat. Mungkin kamu bertanya-tanya apakah aku serius dengan tindakanku. Satu hal yang perlu kamu tau, aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Semesta yang jadi saksi bahwa aku sungguh mencintaimu," ucap Gian. Ia lalu membenarkan posisinya, berdehem sedikit lalu melanjutkan perkataannya. "Amberley Senja, maukah kamu bertunangan denganku?"


Amber menutupi mulutnya dengan kedua tangannya karena merasa tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Gian akan melakukan semua ini dengan sederhana namun sangat menyentuh hatinya. Gian adalah seseorang yang sangat Amber syukuri kehadirannya. Berbagai kesulitan pernah mereka lalui bersama. Ke depannya pun Amber yakin bahwa mereka berdua bisa melalui apapun jalan kehidupan yang sudah Tuhan takdirkan untuk mereka. Dengan suara pelan karena menahan tangis, Amber menjawab, "iya, aku mau."


Seketika perasaan bahagia meliputi hati Gian. Berhias senyum yang merekah, ia mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis Amber.


Rasa bahagia juga Amber rasakan meluap di dalam hatinya. "I love you, My Gian," ucapnya lembut.


"I love you too, My Amber."