
"Lo ngalah aja kenapa sih? Gue tau lo tu suka banget sama Amber kan?" Egidia sengaja menelepon Gian di sela-sela kesibukannya. Sampai hari ini, sahabatnya itu masih belum juga berbaikan dengan Amber.
"Gue cuma enggak suka dia malah ngebelain Andre kayak gitu. Padahal yang gue minta simple, enggak usah terlalu deket sama Andre. Gimanapun kan dia udah cewek gue, Gi," Gian menyampaikan apa yang ia rasakan.
"Lo yakin kalau Amber itu ngebelain Andre? Gimana kalau ternyata dia cuma enggak suka sama cara lo yang tau-tau nyuekin dia terus marah-marah gara-gara foto yang lo terima itu? Kesannya lo tu lebih percaya banget sama orang lain ketimbang cewek lo sendiri. Ini gue ngomong karena gue juga cewek lho, Gian. Gue paham kenapa Amber marah," Egidia mencoba memberikan sudut pandang yang lain dengan harapan Gian bisa sedikit melunak kepada Amber.
Gian terdiam mendengar penuturan Egidia. Selama hampir seminggu ini dia bertengkar dengan Amber dan sama sekali tak berkomunikasi dengannya. Saat tak sengaja berpapasan pun Amber lebih memilih untuk berbalik arah, mungkin karena enggan. Jika ditanya rindu atau tidak, tentu saja Gian merindukan gadisnya. Belum juga lama mereka menjadi sepasang kekasih namun sudah ada pertengkaran seperti ini. Dalam hati Gian berpikir, mungkin apa yang Egidia katakan ada benarnya. Bagaimana jika dirinya lah yang terlalu keras pada Amber?
"Gian, lo tau kan kalau lo itu cowok pertamanya Amber? Lo tau enggak apa itu artinya?" kembali Egidia mencoba menyadarkan Gian. "Itu artinya lo tuh spesial. Itu artinya cuma lo cowok yang bisa bikin dia membuka hatinya setelah sekian lama. Kalau kayak gitu buat apa juga lo merasa terancam dengan kehadiran Andre di sekitar Amber? Bagaimanapun Andre itu temen sekelas Amber. Wajar lah kalau mereka berinteraksi dan sering ketemu. Lo gimana sih, Gian?"
Ucapan Egidia barusan seolah membuat Gian tersontak dan tersadar. Tak semestinya ia ketakutan seperti ini. Seketika itu juga ego yang beberapa hari ini ia pertahankan seolah runtuh begitu saja. Sayangnya, saat ini ia tak bisa langsung menemui Amber untuk berbicara karena ia memang masih disibukkan dengan persiapan penampilannya esok hari.
"Heh! Gian! Lo masih di sana kagak sih?" Egidia akhirnya kesal dan setengah berteriak karena Gian tak juga menanggapi apa yang ia katakan.
"Iya … iya, masih," Gian akhirnya menyahut. "Gue rasa lo bener, Gi. Tapi gue beneran baru enggak bisa kalau enggak ketemu langsung sama Amber buat ngomongin ini. Gue telepon juga pasti enggak bakal diangkat, keras banget sifat dia. Minimal gue baru bisa ketemu Minggu besok nunggu dia kelar makrab."
"Gue rasa dia keras karena emang dia merasa enggak salah, Gian. Emang Amber enggak salah kan?" Di dalam hati, Egidia merasa lega karena sepertinya ia sudah berhasil menyadarkan Gian. Mungkin memang waktu juga lah yang tepat, mereka berdua mengobrol saat Gian tak sedang dalam keadaan emosi.
"Lo jadi panitia makrab kan, Gi?" tanya Gian.
"Iya. Kenapa?"
"Gue titip Amber ya. Kalau ada apa-apa pas makrab lo kabarin gue," kata Gian.
"Kalau soal itu enggak usah lo minta juga bakalan gue lakuin. Tenang aja," ujar Egidia.
***
Pagi tadi, Amber diantarkan oleh Pak No menuju kampus. Tak lupa mereka mampir dulu untuk menjemput Charemon. Amber merasa sedikit enggan untuk berangkat sendirian jadi ia ingin bersama dengan Charemon.
Setelah sampai di kampus, sudah ada banyak mahasiswa Fakultas Seni Rupa yang berkumpul di lapangan utama kampus. Ada sekitar 240 mahasiswa yang mengikuti acara makrab di akhir pekan ini dan mereka semua dibagi ke dalam 16 kelompok dan masing-masing beranggotakan 15 orang dari 3 jurusan yang berbeda. Beruntung, secara kebetulan Amber berada dalam satu kelompok bersama Charemon. Yang membuat situasi sedikit canggung, ia juga berada dalam satu kelompok yang sama dengan Andre.
Sebenarnya, walaupun Andre bisa dibilang sebagai alasan utama dibalik kecemburuan dan kemarahan Gian pada Amber, sama sekali Amber tak mengubah sikapnya pada teman sekelasnya itu. Ia juga tak serta-merta menjauh karena ia tahu bahwa Gian hanya salah paham saja. Hanya saja, Amber tak bisa memungkiri bahwa ada keluhan yang begitu saja muncul di dalam hatinya saat mengetahui bahwa dirinya berada dalam satu kelompok yang sama dengan Andre. "Kenapa pas banget?! Kalau Gian tau pasti tambah marah." Amber pun menghela napas panjang.
Charemon yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu seolah paham akan helaan napas Amber barusan. "Udah enggak usah berat-berat mikirnya. Sayang makrab kaya gini kan cuma sekali seumur hidup. Let's have some fun, okay?" ucapnya sambil memeluk Amber pada bagian pundak.
Amber sedikit terkejut dengan apa yang Charemon ucapkan barusan. "Iya," jawab Amber singkat sambil tersenyum, walau senyumannya tak semanis biasanya.
Satu hal yang Amber tidak tahu, Charemon sebenarnya sudah mendengar cerita dari Egidia bahwa Gian sudah melunak dan ingin berbaikan dengan Amber namun masih menunggu saat mereka bisa bertemu dan berbicara secara langsung. Karena itulah, Charemon berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu Amber agar bisa bersenang-senang selama acara makrab berlangsung. Ia berharap mood Amber akan membaik sehingga bisa mengobrol dengan kepala dingin saat bertemu dengan Gian nanti.
Tak lama kemudian sudah tiba saatnya bagi seluruh peserta dan panitia untuk berangkat menuju tempat di mana makrab akan dilaksanakan, sebuah wisma besar milik kampus yang terletak di lereng pegunungan pada bagian utara kota itu. Udara yang sejuk dan lahan terbuka yang cukup luas di sana membuatnya sempurna sebagai tempat untuk menggelar malam keakraban.
Bersama-sama, seluruh mahasiswa baru dan juga panitia berangkat dengan menggunakan beberapa bus yang sudah disewa secara khusus untuk acara tersebut. Beberapa orang panitia sengaja mengendarai motor dan juga mobil untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu kendaraan tersebut dibutuhkan saat acara sedang berlangsung.
Di dalam bus yang riuh dengan sukacita penumpangnya itu, Amber duduk bersebelahan dengan Charemon. Sepanjang perjalanan , ia banyak mengobrol dengan Charemon sambil sesekali memandang hamparan hijau pepohonan yang nampak sangat menyejukkan mata dan membuatnya sejenak lupa akan semua kepenatan yang akhir-akhir ini ia rasakan.
Sementara itu di salah satu mobil panitia yang sudah mendahului bus-bus peserta makrab, Saskia merasa heran dengan Nadine yang tiba-tiba tertarik untuk menjadi panitia makrab sebagai bagian dari seksi dokumentasi. "Tumben banget sih lo?"
"Sssttt … enggak usah bawel deh lo, Sas. Emang ada yang salah kalau gue jadi panitia?" Nadine balik bertanya dengan nada seenaknya. Ia lalu teraenyum sinis.
Saskia tak lagi menanggapi ucapan Nadine, takut membuat gadis itu merasa kesal. Hanya saja, di dalam hatinya, Saskia merasa ada sesuatu yang Nadine sembunyikan, entah apa itu.