AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 13 - Maaf



Tarachandra terkulai lesu di tempat duduknya. Ia terdiam sejak mendengar cerita Ria tentang Ayu.


"Maafkan aku, Tara. Harusnya waktu itu aku cerita ke kamu soal ini. Aku menepati janjiku pada Ayu, tapi sekarang malah begini jadinya." Mata Ria mulai berkaca-kaca namun dia mencoba sekuat mungkin supaya tidak menangis di depan Tarachandra. Ia merasakan betul bahwa sang pelukis yang sudah seperti adiknya sendiri itu sedang hancur.


"Nggak, Ri. Kamu nggak salah apa-apa. Semua salahku, Ri. Aku yang salah." Nada ucapan Tarachandra terdengar gemetar. Pria dengan nama besar itu menitikkan air mata di depan kedua sahabat dekatnya.


"Bagaimana bisa aku melakukan kesalahan yang sama lagi untuk yang kedua kalinya? Kali ini bahkan lebih parah sehingga Ayu pergi meninggalkanku," ujarnya sambil tertunduk.


"Bagaimana bisa aku tak memahami bahwa Ayu sangat kesepian? Padahal dia selalu mendukungku di situasi apapun. Bagaimana bisa aku sebodoh ini?" sesalnya.


"Ri, Pan, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? Bagaimana kalau Ayu …" Lidah Tarachandra terasa kelu. Ia tak mampu melanjutkan perkataannya sendiri.


"Tara, kamu nggak boleh berpikir yang buruk-buruk. Kalau memang peristiwa yang aku ceritakan tadi adalah alasan di balik semua ini, menurutku Ayu akhirnya memilih untuk menyendiri dulu. Ia tak bisa mencintaimu dan Amber jika ia tak mampu mencintai dirinya sendiri, Tara." Ria mencoba mencoba untuk menenangkan temannya.


"Tara, coba lihat ini." Panca menemukan sesuatu di surat terakhir Ayu yang sedari tadi dipandangi oleh Tarachandra.


"Ayu menulis 'sampai bertemu lagi'. Bisa jadi Ria benar, Tara. Bisa jadi Ayu memang memutuskan untuk menyepi dan menyelesaikan kemelut di hati dan pikirannya. Berilah dia waktu. Kamu tahu kan apa artinya 'sampai bertemu lagi'?"


Walaupun mereka bertiga sebenarnya sangat dibingungkan dengan misteri perginya Ayu ini, bisa jadi yang dikatakan Panca memang benar bahwa suatu saat nanti Ayu akan kembali. Sayangnya, Tarachandra sudah terlanjur lelah secara fisik dan mental kala itu. Ia tak mampu membawa harapan-harapan positif untuk masuk ke dalam pikirannya. Yang ia tahu, wanita yang sangat ia cintai itu sudah tak berada di sisinya saat ini.


"Pan, maaf jika terus merepotkanmu, tapi tolong antar aku pulang sekarang. Aku ingin melihat Amber. Aku merindukannya."


Begitulah hari itu berlalu. Tarachandra pulang dengan membawa sebuah beban yang sangat berat di dalam hatinya.


★★★


Malam sudah larut ketika Tarachandra tiba di rumah. Ia lalu menuju ke kamar Amber.


Perlahan ia membuka pintu kamar itu. Amber sudah terlelap.


Hati Tarachandra hancur tercabik saat menyadari bahwa Amber tertidur sambil memegangi foto Ayu.


Ia lalu mendekat ke tempat tidur Amber, lalu duduk di lantai sambil memandangi wajah putri semata wayangnya. Tak terasa ia menangis lagi untuk kesekian kalinya hari itu.


Wibawanya runtuh berserakan dan ia sama sekali tak memikirkan soal itu. Hatinya terlalu sesak oleh rasa sedih dan kehilangan.


"Ayah …" Panggil Amber yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Sepertinya, Amber mendengar isak pelan ayahnya.


"Hei, Sayang. Maaf ayah buat kamu terbangun," katanya sambil buru-buru menghapus air matanya.


"Terima kasih ayah sudah pulang. Amber tenang kalau ada ayah," Amber bangun lalu duduk di tempat tidurnya.


"Bunda mana, Yah? Ayah ketemu sama bunda kan?" Amber celingukan saat ia sadar bahwa di sisinya hanya ada ayahnya.


"Amber, ayah mau bilang sesuatu. Amber dengarkan ayah baik-baik, ya?" Kata Tarachandra pelan. Otaknya berpikir keras memilih kata-kata yang tepat yang harus ia sampaikan kepada putrinya.


"Iya, Ayah," jawab Amber singkat.


Leher Tarachandra terasa tercekat saat mengatakan ini. Hanya saja, Amber sudah terbiasa dididik untuk selalu jujur. Kali ini pun ia harus jujur pada putrinya walau tetap saja ia harus memilih kata yang tepat untuk mengatakannya.


"Memangnya bunda kenapa, Yah? Kapan bunda akan pulang?" Mata Amber mulai terlihat berkaca-kaca.


"Keadaan bunda sedang tidak baik sekarang. Bunda sangat membutuhkan waktu untuk sendiri dulu tanpa kita. Dan … maaf, ayah tidak tahu kapan bunda akan pulang, Nak."


Tarachandra mulai menyadari air mata yang berjatuhan di pipi Amber.


"Kenapa bunda harus pergi?! Bunda kan tinggal bilang kalau Amber jangan ganggu bunda dulu, Amber pasti nurut. Amber salah apa sama bunda sampai bunda harus pergi begini?! Amber kan selalu jadi anak baik. Amber anak pintar. Tapi, kenapa bunda pergi ninggalin Amber sama Ayah?! Kenapa, Yah?!"


Suara teriakan pilu Amber memecah keheningan malam. Bik Nem dan Pak No sampai bergegas datang pula ke kamar Amber karena kaget mendengarnya. Mereka berdua yang sudah paham akan apa yang sedang terjadi hanya bisa menatap sedih pada gadis kecil itu.


"Ssshhh … No, Amber. Jangan marah sama bunda. Bunda nggak salah, Nak. Bunda nggak salah." Tarachandra lalu memeluk dan mencoba menenangkan putrinya.


"Terus kenapa Bunda pergi ninggalin Amber?! Bunda jahat! Bunda nggak sayang lagi sama Amber!"


Tangisan Amber membuat semua yang menyaksikannya ikut menangis. Mereka ikut merasakan rasa sakit dan kesedihan yang dialaminya. Di saat yang sama, tak banyak yang mereka bisa lakukan dan itu terasa sangat menyakitkan.


"No, jangan bilang begitu, nak. Bunda adalah orang yang paling sayang sama Amber. Jangan marah sama bunda, Nak. Jangan benci bunda. Ayah yang salah. Ayah yang salah."


Tarachandra sudah tak bisa menahan lagi tangisnya. Semuanya tumpah ruah di saat yang sama ia mencoba menenangkan Amber.


Ia merasa sangat kehilangan Ayu. Ia tak tahu bagaimana ia bisa melewati hari-harinya setelah malam ini.


Hanya saja, satu hal terpampang jelas di depan matanya. Amber adalah orang yang mengalami kehilangan terbesar saat ini. Jika Tarachandra tumbang karena peristiwa ini, lalu bagaimana nasib Amber?


Itulah alasan terkuat Tarachandra untuk tetap tegar dan kuat. Demi Amber, satu-satunya yang paling berharga yang ia miliki saat ini, ia harus bisa. Ia akan menjalankan pesan Ayu untuk menjaga Amber dengan baik.


Rasa perih di hati Tarachandra kembali mencuat saat ia teringat betapa ia lebih sering berada di luar rumah sewaktu Ayu masih di sana. Ia teringat akan cerita Ria tentang kesepian dan kerinduan Ayu padanya.


Rasanya, semua sudah terlambat sekarang. Berapa kali pun ia mengucap maaf di dalam hati, ia tahu itu tak akan merubah apapun.


Malam itu, Tarachandra terus memeluk Amber hingga gadis kecil itu tertidur karena lelah menangis mencari bundanya. Ia lalu meletakkan Amber supaya ia bisa tidur dengan nyaman.


Setelah menutup pelan pintu kamar Amber. Tarachandra tersadar bahwa sedari tadi pasangan suami istri yang sudah sejak lama bekerja padanya itu masih terjaga dan menunggu di sana.


"Pak No, Bik Nem, bantu saya menjaga dan membesarkan Amber sesuai pesan Ayu."


Kedua pekerja yang sudah menjadi bagian dari keluarganya itu hanya mengangguk dengan tatapan sedih. Mereka tak tahu harus berkata apa kepada majikannya yang sedang sangat terpukul itu.


Tarachandra pun berlalu menuju ke kamarnya, tempat di mana ia biasanya menghabiskan setiap malamnya bersama Ayu yang selalu setia menunggunya pulang.


"Sayang…pulanglah…" bisiknya sambil memeluk erat bantal yang biasa dipakai Ayu.


Sekali lagi setelah entah berapa kali di hari yang sama Tarachandra menangis dalam rasa sesal terbesar yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya sebelumnya.