AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 104 - Menginap



Setelah kepergian Zefanya. Gian dan yang lain dibuat bingung oleh tingkah Amber. Gadis itu terduduk di lantai sambil menangis.


"Gian bohong! Katanya enggak akan ketemu sama Zefanya? Kok ini malah dua-duaan? Huhuhu."


Gian awalnya merasa sangat bersalah dan menganggap serius tangisan Amber. Tetapi setelah ia berjongkok dan melihat wajah kekasihnya itu ia menjadi bingung karena tak ada air mata sama sekali yang keluar dari mata indahnya, seolah Amber hanya merajuk saja.


Amber pun terus meracau, "kenapa aku terus yang dijahatin? Kenapa enggak kamu aja yang dijahatin sih? Eh jangan deh! Aku bakalan sedih banget kalau ada yang jahat sama kamu. Huhuhu." Gadis itu kemudian memeluk erat Gian.


Gian semakin curiga. Ia pun memegang wajah Amber dengan kedua tangannya lalu mendekatan wajahnya dan mengendus mulut Amber. Ia kemudian terkekeh. "Ini anak mabok?" tanyanya pada teman-temannya.


"Iya kah?" Charemon yang penasaran pun mendekat. "Amber, lo minum apaan tadi?"


"Momooon! Kamu ke mana aja? Aku dijahatin sama mantannya Giaaaan," rajuknya.


"Isssh! Gue tanya dijawab napa? Lo tadi minum apaan?" Charemon kembali bertanya.


"Apa sih, Mon? Aku tadi cuma minum es teh dua gelas, punyanya abang-abang yang jaga bar. Enggak enak. Enakan es teh bikinan Mang Dadang." Celotehannya ini membuat semua yang ada di sana terbahak.


"Dia nyomot Long Island kayaknya, Bro," kata Bimo.


"Kayaknya sih gitu," kata Gian sambil memapah Amber untuk duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan karena Amber malah terlihat mengantuk sekarang. "Mon, Gi, gue titip Amber bentar ya. Gue enggak enak sama temen-temen di bawah kalau ngilang gini, gue yang udah undang mereka. Maksimal sejam lah," pinta Gian kepada Charemon dan Egidia.


"Mending sampe acaranya kelar aja sekalian. Amber juga udah tepar gini. Palingan dia tidur doang. Biar gue sama Momon yang jagain," Egidia menyarankan.


"Ya udah kalau gitu. Makasih ya," kata Gian yang kemudian mengajak Bimo untuk kembali ke bawah.


***


Sekitar pukul 11.30 tamu terakhir di pesta ulang tahun Gian sudah pamit pulang. Gian pun kembali ke atas untuk melihat kondisi Amber. Gadis itu sudah tertidur pulas, berselimutkan jaket yang tadi sempat Gian serahkan kepada Egidia.


"Kayaknya Amber enggak mungkin pulang deh, Kak Gian. Gue enggak tau gimana reaksi Om Tara kalau tau Amber tepar begini. Kalau Om Tara marah kan Kak Gian yang berabe," ujar Charemon.


"Iya. Gue juga mikirnya gitu, Mon." kata Gian.


"Kalau nginep di tempat gue gimana?" dengan ragu Charemon bertanya.


"Enggak enak sama mama lo lah, Mon. Entar dikiranya lo temenan enggak bener lagi. Kan ga semua nyokap bisa baek-baek aja liat anak cewek tepar begini," Egidia berpendapat.


"Udah biar nginep dulu di rumah Gian aja napa sih, jelas aman dari komentar para ortu," celetuk Bimo.


"Tapi kalau Om Tara nyariin gimana?" tanya Charemon.


"Kirim pesen aja pake hape Amber. Bilang kalau dia nginep di rumah lo, Mon. Mau gimana lagi. Itu alasan paling aman kayaknya," Egidia menyarankan lagi.


"Bener … bener, Kak," Charemon menyetujui ide tersebut.


"Wah … lo pada ngibul semua nih," ucap Gian.


"Dari pada lo dicap sama Om Tara jadi cowok enggak bener. Hayo … pilih mana lo?" Bimo menakut-nakuti Gian.


Dhika hanya bisa terkekeh mendengarkan percakapan ini. Sedangkan Gian, akhirnya setuju karena memang tidak ada ide lain yang dirasa lebih bagus. "Ya udahlah gitu aja. Buruan balik. Keburu capek gue. Dhik, lo bawa mobil gue ya. Biar Gue ama Amber pake mobil dia."


"Oke, Kak."


"Aman. Gue cuma minum dikit tadi," jawab Gian.


Gian lalu mencoba mencari kunci mobil di dalam tas kecil milik Amber. Ketemu!


"Bantuin Gue sini. Biar Amber gue gendong sampe mobil," kata Gian lagi.


Amber sama sekali tak terbangun. Bahkan sepanjang perjalanan menuju ke rumah Gian pun ia malah nampak semakin pulas tertidur di kursi depan. Sesampainya di rumah Gian, pemuda itu kembali menggendong Amber dan membiarkannya tidur dengan nyaman di kamarnya.


***


Amber perlahan terbangun. Rasa pening yang masih tersisa membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya. Dilihatnya jam tangan yang sudah menunjuk pukul 8.30 pagi.


"Kenapa masih pakai jam tangan?" kata Amber lirih. Ia heran karena memang biasanya ia selalu melepas jam tangannya setelah tiba di rumah. Masih dalam posisi merebah, ia mulai menyadari ada yang berbeda dengan kamarnya. "Hah?! Bukannya ini kamar Gian?!" kesadarannya seolah kembali seketika setelah melihat poster musik yang ia kenal. Yang lebih membuatnya terkejut, Gian terlelap di sebelahnya. Amber sontak menutup mulut dengan kedua tangannya, takut bersuara dan membangunkan kekasihnya itu. Ia bermaksud untuk bangun namun gagal karena tiba-tiba Gian melingkarkan tangannya pada perut Amber.


"Mau ke mana?" tanya Gian dengan suara parau dan mata yang masih terpejam.


"Mmm … Mau bangun," kata Amber. Degup jantungnya mulai terpacu.


"Enggak boleh. Di sini aja," kata Gian lagi. "Siapa yang ngijinin kamu minum?" Mata pemuda itu kini terbuka walau tak lebar.


"Mmm … Emang udah dapet ijin minum dari Ayah kok, kan aku udah gede," jawab Amber polos. "Kalau semalem aku enggak sengaja minum soalnya-" ia diam dan tak melanjutkan kata-katanya. Ia baru sadar bahwa sepertinya semalam ia mabuk berat hingga berakhir tidur di kamar Gian seperti ini.


"Soalnya apa?" tanya Gian sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku haus. Engap liat kamu pergi ke atas berduaan sama Zefanya," mulut Amber mengerucut setelah mengatakan ini.


"Sssshhh," Gian menyuruh Amber diam dengan menaruh telunjuknya di bibir gadis itu. "Enggak usah bahas-bahas dia lagi. Dia udah diusir sama Dhika dan enggak bakal balik lagi. Lagian mana berani dia balik setelah kamu ngamuk semalam."


"Astaga! Aku ngamuk?" Amber membatin. Rasa malu membuat ia reflek menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Sikapnya itu sungguh membuat Gian merasa gemas sampai-sampai ia merapatkan pelukannya hingga wajah Amber menempel pada dada bidangnya. Ia pun mengecup kepala gadisnya lalu berkata, "percaya sama aku ya. Cuma ada kamu. Enggak bakal ada yang lain."


Wajah Amber merona dan mulai terasa panas. Mungkin Gian pun bisa merasakan peningkatan suhunya. Ia diam dan tak menanggapi perkataan Gian.


"Hadiah! Aku mau hadiah!" kata Gian tiba-tiba.


Amber tersadar bahwa ia belum sempat memberikan hadiah karena insiden salah minum semalam. Ia lalu menatap wajah Gian yang ternyata sedari tadi juga melihat ke arahnya. Dengan lembut ia memberikan kecupan di bibir Gian. "Happy birthday, My Gian," katanya, lalu kembali mengecup bibir Gian.


"Udah? Cuma ini aja hadiahnya?" Goda Gian. Sebenarnya, Amber menjadi kekasihnya saja sudah menjadi hadiah yang sangat Gian syukuri.


"Tunggu sebentar," kata Amber. Ia celingukan mencari tas kecilnya dan menemukannya tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. "Nih," Amber menyodorkan sebuah kotak hitam kecil berbahan kulit kepada Gian.


Gian langsung terduduk karena senangnya. Ia kemudian membuka kotak yang ternyata isinya adalah gelang yang dibeli Amber kala itu.


Amber mengambil gelang tersebut dan memakaikannya di pergelangan tangan kanan Gian. "Coba liat tulisannya," Amber meminta Gian untuk melihat ukiran yang sudah ia pesan secara khusus.


Amber's


Gian sontak memeluk Amber hingga keduanya kembali terbaring di atas ranjang. "Makasih, My Amber. Aku suka," bisik Gian yang kembali melayangkan ciuman mesra pada gadisnya.