AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 36 - Putri Nadine



Mata Nadine berbinar saat menemukan bahwa Gian benar-benar sedang berada di kantin seperti dugaan Saskia. Ia tak mau membuang waktu lagi untuk segera bertemu dengan lelaki pujaan hatinya.


Ia bahkan sampai meninggalkan Saskia yang akhirnya memilih untuk mengobrol dengan temannya yang kebetulan juga sedang ada di kantin. Agaknya, Saskia pun enggan untuk mengikuti Nadine karena tahu meja Gian saat ini pun sudah penuh dengan sekitar tujuh orang yang berkumpul di sana.


Nadine lalu mengambil sebuah bangku kosong yang ada di dekatnya, lalu dibawanya ke meja Gian yang waktu itu hanya dikelilingi para pria saja. Ia lalu secara serampangan menaruh bangkunya tepat di sebelah Gian dan itu membuat salah satu teman Gian terpaksa bergeser sedikit.


"Hai, Gian. Baru ngobrolin apa nih?" dengan tak merasa sungkan sedikit pun, Nadine bertanya sambil menatap ke wajah Gian. Tentu saja, seperti yang sudah-sudah, hal itu membuat Gian merasa tak nyaman.


Hal yang serupa pun juga dirasakan oleh teman Gian yang lain yang saat itu berada di meja yang sama. Bukan hanya karena saat itu hanya ada para pria yang sedang asyik membahas game online yang biasa mereka mainkan bersama, tetapi juga karena setiap kali Nadine mendekati Gian, ia seolah menganggap bahwa tak ada orang lain di sana. Hal itu terasa cukup menyebalkan dan terus saja berulang.


"Obrolan cowok. Anak cewek nggak usah ikut-ikutan," jawab salah seorang dari mereka sambil cengengesan.


"Gue nggak nanya sama lo ya. Gue nanyanya sama Gian," jawab Nadine dengan ketus, berbeda dengan saat ia berbicara dengan Gian dengan nada yang selalu dimanis-maniskan.


"Cih! Ketengilan banget sih lo. Nggak liat apa muka Gian sampe eneg gitu," kata seorang yang lain diikuti dengan tawa semua orang yang berkumpul di meja itu.


Semua teman lelaki Gian pun sudah tahu bahwa Nadine memang sedang gencar mendekati Gian. Tanpa ada obrolan sebelumnya pun, mereka juga paham bahwa Gian tak menyukai Nadine.


Tak bisa dipungkiri. Putri Nadine memanglah seorang gadis yang berparas cantik. Hanya saja, sifatnya yang sering seenaknya sendiri membuat orang-orang di sekitarnya kurang menyukainya.


Nadine juga bukanlah gadis sembarangan. Ia adalah anak tunggal dari salah seorang penyumbang dana terbesar di yayasan universitas itu. Wajar saja jika tak semua lelaki mempunyai nyali yang cukup besar untuk mendekatinya, apalagi sampai mengajaknya berpacaran.


Nadine pun terkenal dengan seleranya yang tak main-main jika ini adalah soal tipe pria yang disukainya. Terbukti saat ini pun yang ia inginkan adalah Gian yang juga bukanlah seorang pria sembarangan. Sayangnya, hingga saat ini usahanya untuk menarik hati Gian sama sekali belum menunjukkan hasil.


"Enak aja lo ngomong. Nggak gitu kan ya, Gian?" tanya Nadine sambil bermanja-manja dan merangkulkan tangannya pada lengan Gian.


Di saat yang bersamaan, nada pesan pada ponsel Gian berbunyi. Ia jadi punya alasan untuk melepaskan diri dari rangkulan Nadine yang sebenarnya sangat membuatnya merasa risih.


"Sorry," kata Gian singkat lalu melepaskan tangan Nadine dan membaca pesan yang ia terima.


Ke kolam belakang sekarang ya. Cepetan gue tunggu, isi pesan Egidia untuk Gian.


Ogah ah. Ngapain gue ke sono. Gue baru kongkow di kantin sama anak-anak, balas Gian.


Serah lo. Bakalan nyesel lo nggak kemari, kata Egidia mengakhiri pesannya pada Gian.


Walaupun enggan, Gian akhirnya merasa penasaran juga mengapa Egidia menyuruhnya untuk lekas pergi ke kolam belakang. Berbeda dengan Bimo yang sering bercanda bahkan sampai memberikan prank pada Gian, Egidia adalah teman Gian yang cenderung serius.


Gian pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yang dikatakan oleh Egidia. Ia mengambil tasnya lalu lekas beranjak.


"Gue duluan ya," kata Gian yang lalu buru-buru pergi meninggalkan teman-temannya dan juga Nadine yang raut wajahnya berubah masam.


"Duh … Kasian. Ada Putri yang ditinggal sama Gian, nggak dipamitin pula," goda salah seorang teman Gian.


Hal itu membuat Nadine semakin kesal. Ia pun langsung pergi menghampiri Siska yang sedari tadi tak ia gubris.


★★★


Tak butuh waktu lama untuk Gian sampai ke taman di bagian belakang kampus. Ia pun lalu mendekat ke kursi taman di dekat kolam saat tahu bahwa Egidia sedang duduk di sana bersama seseorang.


"Gimana gue bisa lupa sama bucket hat itu," kata Gian dalam hati saat meenyadari bahwa si pemakai bucket hat motif plaid warna merah itu tak lain adalah Amber.


Wajah Amber pun tak kalah terkejut saat mengetahui bahwa lelaki muda yang baru saja menjadi topik perbincangannya dengan Egidia kini ada di depan matanya. Jantungnya berdegup kencang mengingat kesalahan yang sudah ia buat.


Egidia berdiri dari duduknya lalu berkata, "duduk sini lo."


"Ngobrol baek-baek ya kalian. Nggak usah pake ribut lagi," lanjutnya sambil berlalu meninggalkan kedua orang yang kini nampak sama-sama kikuk itu.


Belum juga jauh Egidia melangkah, ia memergoki Nadine sedang berada di dekat area taman juga bersama Saskia. Melihat gelagatnya yang seolah sedang bersembunyi, Egidia pun menaruh curiga.


"Ngapain lo di sini?" tanya Egidia dengan nada ketus yang sama setiap kali ia berbicara dengan Nadine.


"Suka-suka gue lah. Orang gue juga kuliah di sini," jawab Nadine jengkel.


"Haa … Gue tau. Lo mbuntutin Gian, kan? Ngaku nggak lo?"


Nadine yang memang mudah merasa kesal saat ada hal yang tak sesuai dengan yang ia mau pun tersulut oleh tuduhan Egidia yang sejatinya memang benar adanya. Tanpa sadar ia jadi berteriak karena marah, "nggak tuh!"


Suaranya yang cukup keras pun sampai terdengar oleh Amber dan Gian yang langsung menoleh ke arah Nadine. Hal tersebut membuat Nadine sangat merasa malu lalu buru-buru mengajak Saskia pergi dari sana.


Sambil berjalan Nadine bertanya kepada Saskia, "Lo bilang mereka berdua berantem? Mana? Nyatanya itu malah ngobrol berdua gitu!"


"Lah … Mana gue tau. Kemaren emang berantem kok," jawab Saskia yang tak terima sudah disalahkan oleh Nadine.


"Ini pasti ulahnya si Egi ni," kata Nadine geram.


"Liat aja. Kalau sampai Gian sama si cewek tengil itu baikan lagi, gue bakal ngerjain si tengil itu lagi. Lebih parah dari yang kemaren," lanjutnya.


"Kok lo gitu banget sih, Dine? Lo kan cantik. Cari cowok lain juga pasti bisa, kan?" tanya Saskia yang heran mengapa Nadine masih juga belum mau berhenti berusaha untuk mendapatkan cinta Gian.


"Enak aja lo ngomong. Gue suka Gian udah sejak pertama ketemu dia di kampus ini. Tu cewek enak aja baru nongol langsung curi perhatian Gian. Gue aja nggak pernah tuh diperhatiin barang sedikit aja," kata Nadine dengan nada penuh amarah.


"Kalau ternyata Gian emang nggak suka sama lo gimana?" Saskia mencoba mengatakan secara tidak langsung kepada sahabatnya bahwa rasa suka, apalagi cinta, adalah hal yang tak bisa dipaksakan.


"Gue bakal bikin dia suka sama gue. Lo liat aja nanti," jawab Nadine dengan penuh keyakinan.


★★★


Hai, teman-temin pembacaku yang setia. Maafkan aku hari-hari kemarin aku sempat tersendat nggak rajin up. Jadi ceritanya aku abis tumbang selama 3 hari 😭


Begitu sembuh walau masih recovery langsung kangen nulis Amberley lagi. Makin semangat waktu denger ada yang nyariin Amber kok nggak ada up 😍


Doakan aku sehat selalu ya biar aku bisa rajin up setiap hari seperti biasanya 😊


Terima kasih banyak bagi siapa saja yang sudah menantikan kehadiran Amberley. Kalian sungguh keren! 💕💕💕