AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 65 - Lelaki Sejati



Setelah puas bermain di rumah Charemon, Gian pun mengantarkan Amber pulang. Sesuai janjinya, Gian memang ingin secara langsung meminta ijin kepada Tarachandra untuk mengajak Amber menginap di villa milik ayahnya bersama teman-teman selama akhir pekan.


"Jadi gitu, Om. Kalau boleh aku mau minta ijin ajak Amber ke sana. Kami berlima berangkat hari Sabtu pagi. Hari Minggu sebelum malam harusnya sudah sampe sini lagi," ujar Gian yang saat ini sedang menikmati makan malam bersama di rumah Amber karena Tarachandra mengajaknya.


Mata Amber berbinar menunggu jawaban dari sang ayah. Tentu, ia berharap ayahnya memberikan ijin. Ia sangat ingin menikmati suasana yang berbeda bersama teman-teman dekatnya, termasuk Gian.


"Berapa orang yang ikut, Gian?" dengan nada yang bersahabat, Tarachandra bertanya pada Gian.


"Berlima aja, Om. Aku, Amber, Charemon, Egi, sama Bimo. Rencananya mau naik mobilku aja," jawab Gian tanpa canggung. Sejak dulu, ia memang tak pernah canggung saat mengobrol dengan Tarachandra setiap kali mereka bertemu.


"Villanya jauh?" tanya Tarachandra lagi, sambil masih menikmati makan malamnya.


"Lumayan, Om. Jaraknya sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan. Nanti aku sama Bimo yang gantian nyetir," Gian menjelaskan sejelas-jelasnya.


Tarachandra lalu sengaja melirik ke arah Amber. Dilihatnya, putrinya tersebut seperti sedang menunggu ijin darinya dengan tatapan penuh harap. Ia pun lalu berkata sambil tersenyum, "gih sana kalau kamu mau ikut, Sayang. Jangan lupa kabar-kabar sama Ayah ya."


"Yeay! Makasih, Ayah!"


Saking senangnya, Amber langsung berdiri, memberikan pelukan serta kecupan di kepala ayahnya. Hal itu membuat Gian terkekeh geli sekaligus kagum pada kedekatan antara ayah dan anak tersebut.


"Segitu senengnya. Pengen banget ikut ya?" Gian membatin sambil tersenyum-senyum sendiri.


Di mata sang pelukis, keberanian Gian ini perlu diacungi jempol. Di saat di luar sana banyak lelaki muda yang secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi mengajak kekasihnya menginap hanya untuk memenuhi rasa penasaran dan gejolak hasrat kaum muda, Gian malah secara gentleman menghadap Tarachandra. Ia bahkan berjanji akan menjaga Amber dengan baik selama bersamanya di akhir pekan ini. Hal ini membuatnya tenang, mengijinkan Amber untuk pergi bersama dengan anak sulung sahabatnya itu.


Gian beruntung. Tarachandra bukanlah seorang ayah yang kolot dan selalu mengekang putrinya. Sebaliknya, ia adalah seorang ayah yang berpikiran terbuka dan memberi kebebasan pada anaknya, selama itu disertai dengan tanggung jawab. Hal itu justru membuat Amber merasa dipercaya dan dengan sendirinya menjaga baik-baik kepercayaan yang sudah diberikan kepadanya.


"Tapi, Yah. Kayaknya malem ini aku mau nginep di rumah Charemon aja deh. Biar besok pagi Gian nggak perlu jauh-jauh jemput ke sini," kata Amber yang sudah kembali duduk di kursi makan.


"Oh … Iya, nggak papa, Nak. Malah bagus. Karena jaraknya lumayan jauh, baiknya kalian berangkat pagi-pagi betul jadi nggak akan kemaleman sampe ke sananya," Tarachandra memberikan saran.


"Iya, Om. Pengennya juga gitu," kata Gian yang kini lega hatinya karena Amber akan ikut dalam rencana akhir pekannya bersama teman-teman.


"Mmm … mending nanti aku anterin aja ke rumah Charemon. Dari pada kamu harus bawa mobil nitip di sana," Gian memberikan tawaran kepada Amber.


"Lah? Kamu bolak-balik anterin aku nggak papa, Gian?" Amber langsung bertanya kepada Gian.


"Sans," jawab Gian singkat.


"Ckckck … sejoli ini ada sesuatu rupanya," Tarachandra hanya tersenyum-senyum sendiri menyaksikan tingkah Amber dan Gian.


Di dalam hatinya, Tarachandra semakin yakin bahwa kedua memang saling menyukai. Tentu, hatinya juga merasa bahagia akan hal ini. Ia tahu bahwa Amber sudah mulai membuka dirinya.


***


Seusai makan malam, Amber pergi ke kamarnya untuk mandi dan menyiapkan barang-barang yang perlu ia bawa. Setelahnya, ia dan Gian berpamitan kepada Tarachandra untuk kembali ke rumah Charemon.


"Gara-gara abis ketemu sama Om Tara aku jadi inget sesuatu," kata Gian saat mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju ke rumah Charemon.


"Inget apa?" Amber yang penasaran pun menoleh pada Gian.


"Waktu itu Om Tara nggak curiga sama pipi kamu yang kena pukul kan?" Gia bertanya tanpa melihat Amber karena ia sedang fokus pada kemudinya.


"Oh … itu. Aman kok. Untungnya nggak ada bekas apa-apa jadi ayah juga nggak curiga," Amber menjelaskan.


Mobil berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, memberikan kesempatan untuk Gian menatap Amber walau sesaat.


"Lain kali, kalau ada apa-apa kamu jangan diem aja, okay?" Gian kembali bertanya.


"Okay," jawab Amber yang lalu memberikan senyum manis pada Gian.


Mereka terus saja bertatapan, hingga bunyi klakson mobil yang berhenti di belakang mobil Gian membuat keduanya tersadar. Lampu telah berubah hijau. Saatnya untuk melanjutkan perjalanan.


Deg … deg … deg! Jantung Amber berdebar dengan cukup kencang.


"Kenapa Gian makin perhatian? Bikin salah tingkah. Aku harus gimana??"


Amber kembali tersipu. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela samping. Ia tak mau Gian tahu bahwa mungkin wajahnya sudah semerah tomat.


"Duh! Gimana ini? Kenapa deg-degan kenceng banget?"


Amber yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya merasa kikuk sendiri. Ia khawatir jika ini malah akan membuatnya tak sengaja bertingkah aneh di depan Gian. Jika hal itu terjadi, tentu ia akan malu sekali.


Wajah Amber terasa panas, mungkin karena degup jantungnya yang terlalu kencang akibat perlakuan manis Gian padanya barusan. Ia pun secara refleks mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya.


"ACnya mau kubikin lebih dingin, Amber?" tanya Gian yang melihat Amber mengipas-ngipas wajahnya.


"Eh .. Nggak, nggak usah. Ini udah cukup dingin kok," jawab Amber sedikit tergagap dan langsung kembali menatap keluar jendela mobil.


"Dia malu? How cute!" Gian membatin sambil mencoba menyembunyikan senyumnya yang secara refleks muncul karena memergoki tingkah menggemaskan Amber. Ia pun tak tahan dan akhirnya menepuk-nepuk kepala Amber pelan.


***


Setelah sampai di rumah Charemon, Gian pun menepikan mobilnya di seberang rumah tersebut. Di sana tak ada rumah lain, melainkan sebuah kavling kosong yang hingga kini belum juga dibangun oleh pemiliknya.


Setelah mematikan mesin mobil, Gian tak langsung turun. Di dalam hatinya, ia masih ingin bersama dengan Amber, namun ia tahu, Amber mungkin sudah lelah dan perlu istirahat. Terlebih lagi, esok mereka harus bangun pagi-pagi supaya bisa menempuh perjalanan lebih awal menuju ke villa.


"Makasih ya hari ini, kamu udah bolak-balik nganterin aku," suara Amber yang lembut membuyarkan kehengingan.


Gian pun jadi memiliki alasan untuk melihat wajah Amber. Walau cahaya di dalam kabin depan mobil Gian tak cukup terang dan hanya disinari temaram lampu dari luar, ia masih bisa melihat sesungging senyum di wajah gadis yang sudah membuatnya jatuh hati itu.


"Sama-sama. Kapanpun aku sempet aku mau anter-jemput kamu," jawab Gian yang kini menyandarkan kepalanya ke setir mobil sambil tetap menatap ke arah Amber.


"Kenapa?" Amber melontarkan pertanyaan singkat yang sontak membuat Gian tersadar.


"Hah? Iya juga sih. Kenapa? Gue kan belom jadi siapa-siapanya Amber," batin Gian yang bingung sendiri harus bagaimana menanggapi pertanyaan Amber.


"Ahahaha … Becanda, Gian. Aku seneng kok kamu antar-jemput, selama itu nggak bikin kamu repot," ujar Amber yang kini balik menepuk-nepuk kepala Gian.


"Dah yok, udah makin malem. Nggak enak sama Mamanya Momon," kata Amber sambil bersiap untuk keluar dari mobil.


Tiba-tiba tangan kiri Gian meraih tangan kanan Amber dan menggenggamnya. Tentu saja, hal ini membuat Amber kaget. Serasa ada aliran listrik kecil yang menjalar dari tangannya ke seluruh tubuhnya. Ini kembali membuat jantungnya berdebar.


"Kenapa, Gian?" tanya Amber yang mencoba terlihat biasa saja padahal dirinya merasa sangat deg-degan sampai-sampai ia khawatir kalau suara degup jantungnya terdengar oleh Gian. Tentu, itu sangatlah tidak mungkin.


Gian sendiri pun heran akan apa yang baru saja ia lakukan. "Gile lu, Gian! Mau ngapain?!" katanya di dalam hati.


"Good night," akhirnya, hanya sebuah ucapan selamat malamnya yang bisa keluar dari mulutnya, menutupi tingkah hatinya yang sering menyuruh tubuhnya untuk bertindak semaunya sendiri jika ia berada di dekat gadis pujaan hatinya itu.