AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 81 - Jangan Temui Aku!



"Kok lo enggak berangkat bareng Kak Gian kenapa?" tanya Charemon sesaat setelah ia dan Amber tiba di kampus. Semalam, Amber bilang akan menjemputnya hari ini, jadi pagi ini mereka berangkat kuliah bersama-sama.


"Enggak papa," jawab Amber singkat. Biasanya, kalau ditanya kenapa tak berangkat kuliah bersama Gian, Amber akan menjelaskan dengan ceria bahwa Gian sedang tak bisa menjemput atau bahwa Amber nanti akan berkegiatan bersama temannya sehingga ia lebih baik berangkat sendiri. Kali ini lain. Sejak bertemu pertama kali tadi pun Amber juga sama sekali tak membicarakan soal kekasihnya itu. Inilah yang membuat Charemon curiga bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Radar Ambergiannya selalu bekerja dengan baik di saat seperti ini.


"Ehem!" dengan sengaja Charemon berdehem keras sebelum mengawali kata-katanya. "Berantem lama-lama itu enggak baek lho. Kambing dipelihara bisa beranak. Kalau marah dipelihara bisa berabe."


Amber hanya melirik tajam pada sahabatnya itu, lalu membalas celetukannya, "iya, ibu guru Momon." Walau Amber menjawab dengan nada bercanda, ia rasa apa yang dikatakan oleh Charemon memang ada benarnya. Meskipun demikian, Amber tetap belum ingin berbicara duluan kepada Gian. Ia masih kesal atas tuduhan-tuduhan yang sudah Gian lontarkan kemarin.


***


Siang itu seusai kuliah, Amber sedang mengemasi beberapa buku yang tadi ia taruh di loker seperti biasanya. Tiba-tiba, Andre yang tadi juga mengikuti kelas perkuliahan yang sama berdiri di sebelahnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja Amber dan Andre mempunyai nomor mahasiswa yang berurutan sehingga letak loker mereka pun bersebelahan.


"Lo udah daftar makrab, Amber?" tanya Andre yang sudah terlebih dahulu selesai mengemasi barangnya dan mengunci lokernya. Ia berdiri menghadap ke arah Amber saat ini.


"Belom. Rencananya siang ini aku mau daftar, Ndre," jawab Amber seperlunya.


"Ya udah ayok gue anterin. Sekalian gue mau ke depan," ajak Andre dengan santainya.


"Eh … Enggak usah, Ndre," jawab Amber dengan sedikit canggung. "Aku masih mau nyari Momon dulu baru ke tempat pendaftaran entar. Tadi janjian soalnya," Amber mencoba beralasan. Walau ia tak suka dengan cara Gian yang dengan sembarangan sudah menuduhnya dekat dengan Andre, Amber mengerti bahwa untuk sementara tak seharusnya ia terlihat bersama Andre karena hal tersebut mungkin malah akan memperkeruh suasana di antara dirinya dan Gian.


Sayangnya, hal tak berjalan sesuai dengan apa yang Amber pikirkan. Entah kenapa, lagi-lagi loker itu menjadi tempat Amber mendapatkan kesialan untuk yang kesekian kalinya. Di kejauhan nampak Nadine yang dengan sengaja meluangkan waktunya untuk mengawasi Amber dengan harapan ia bisa memisahkan Amber dan Gian. Tentu saja, ia tak akan melewatkan momen Amber yang sedang mengobrol dengan Andre begitu saja. Dengan ponselnya, ia mengambil foto mereka berdua dari sudut yang sudah ia perkirakan sehingga keduanya nampak begitu dekat. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengirimkan foto tersebut kepada Gian dengan menyertakan pesan; bener kan kata gue?


Menerima pesan bergambar tersebut tentu saja membuat Gian semakin dilanda kegalauan. Ia berusaha menepiskan seluruh perasaan cemburunya. Namun, melihat reaksi Amber yang malah berbalik marah padanya kemarin sungguh membuat dirinya bimbang. Terlebih lagi, saat ini pun Amber masih terlihat bersama dengan Andre. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Amber.


Setelah menemukan Amber, dilihatnya bahwa kekasihnya itu tak sedang bersama dengan Andre melainkan Charemon. Walaupun begitu, ia tetap saja menghampiri Amber.


"We need to talk," katanya pada Amber. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Amber sedikit terkejut.


"Bentar ya, Mon. Enggak lama kok," kata Amber tanpa menanggapi ajakan Gian terlebih dahulu.


"Iya. Gih sana," Charemon yang paham bahwa pasangan baru itu butuh berbicara berdua pun mengiyakan tanpa banyak bertanya. Setelah keduanya berlalu, "Hadeeeh, sama-sama keras rupanya," gumamnya setelah melihat ekspresi wajah Gian barusan. Ia lalu menunggu Amber yang tadi memang minta ditemani ke meja panitia pendaftaran makrab Jurusan Seni Murni yang berada di hall depan.


"Mau ke mana sama Momon?" tanya Gian dengan nada dingin. Tentu saja, Amber tak menyukai jika Gian bersikap seperti ini.


"Mau daftar makrab," kata Amber dengan nada dingin yang serupa. Amber memanglah gadis yang keras hati dan kemauannya, apalagi jika ia tahu tak ada kesalahan yang ia perbuat.


"Makrab?" batin Gian. Ia langsung berpikir bahwa acara makrab berarti Amber akan berada dalam satu tempat yang sama dengan Andre seharian, semalaman.


"Enggak usah ikut makrab!" kata Gian begitu saja.


"Kenapa? Kamu kan tau makrab itu wajib," Amber menjawab dengan kesal hingga tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, "soal Andre lagi?"


Gian tak mau mengakui kalau tebakan Amber memanglah benar. "Emang sesusah itu ya untuk bilang: iya maaf aku udah terlalu deket sama Andre?" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Gian.


"Astaga … Jadi kamu ngajak ngobrol cuma mau bahas soal ini lagi?" sahut Amber dengan malas.


"Kenapa harus marah kalau memang kamu enggak salah?" Gian masih saja memburu.


"Denger ya, Gian. Aku emang baru pertama kali pacaran-" Amber menghentikan sendiri ucapannya. Matanya mulai terasa panas. "Aku tau mana yang boleh dan mana yang enggak. Aku marah karena kesel sama sikap kamu yang enggak bisa aku mengerti. Kamu nuduh aku bolak-balik emang aku udah ngapain?"


"Kalau emang kamu enggak deket sama Andre ini apa lagi?" Gian kembali menunjukkan foto kepada Amber. Itu adalah foto saat ia mengobrol dengan Andre di dekat loker tadi.


Amber sampai tak bisa lagi berkata-kata melihat foto tersebut. Bukan karena ia merasa ketahuan. Tetapi karena sikap Gian yang lebih memilih percaya pada si pengambil foto tersebut daripada Amber, kekasihnya sendiri. Ada sakit yang Amber rasakan di dalam hatinya. Ia tak mengerti kenapa Gian terus saja bersikap seperti ini.


Setelah terdiam sejenak, Amber akhirnya berbicara kembali. "Jangan temui aku lagi sebelum kami bisa mikir dengan bener!!" Ia lalu pergi meninggalkan Gian yang sama sekali tak mengejarnya.


Jauh di dalam lubuk hatinya, Amber sangat merindukan Gian. Ia rindu kebiasaan Gian yang selalu manja dan menepuk-nepuk kepalanya dengan penuh rasa sayang. Ke mana perginya Gian yang itu? Kenapa hanya karena Andre dan foto-foto yang tak jelas asal-usulnya itu Gian menjadi sesensitif ini? Hal-hal itulah yang sungguh Amber tak bisa mengerti.


Bagaimanapun perasaan rindu yang ia alami saat ini, Amber tak bisa mengalah begitu saja. Ia tak akan menyerah kalau memang ia tidak bersalah.