
"Siang, Den Gian," sapa Bik Nem setelah membukakan gerbang rumah Tarachandra untuk mempersilahkan Gian memarkir mobil Amber di halaman.
Sejak kemarin, mobil Amber memang Gian bawa dan hari ini ia datang bukan semata-mata ingin mengembalikan mobil tersebut. Ia ingin menyampaikan berita gembira yang sudah ia ketahui sejak pagi tadi kepada Amber dan Tarachandra.
"Siang, Bik. Amber sama Om Tara ada?" tanya Gian.
"Non Amber ada, Den. Tapi Tuan Tara sedang ada keperluan sebentar," jawab Bik Nem.
"Oh ya udah, aku ketemu sama Amber aja kalau gitu, Bik," ujar Gian.
"Mmm … anu, Den," Bik Nem sedikit tergagap.
Gian melihat Bik Nem yang seperti sedang merasa resah. "Kenapa, Bik?"
"Sejak pulang semalam Non Amber enggak mau keluar kamar. Tadi sudah dibujuk juga sama Tuan tapi tetep enggak mau, Den. Tuan bener-bener ada acara penting hari ini jadi Tuan tetep pergi. Tuan cuma pesen, kalau Non sudah mau keluar jangan lupa diingetin suruh makan, soalnya Non belum makan apa-apa," Bik Nem menjelaskan. Terlihat betul jika ia mengkhawatirkan Amber.
"Biar aku yang coba bujuk ya, Bik," kata Gian. Walau sedikit menyayangkan pilihan Amber untuk mengurung diri, Gian tahu bahwa reaksi seperti ini wajar.
"Iya, Den. Ayo silahkan masuk." Tentu saja Bik Nem tidak menolak penawaran Gian. Ia bahkan berharap jika bujukan Gian akan membuat Amber mau keluar kamar dan makan.
"O iya, Bik. Ini tolong dibawa ke dalem ya," kata Gian sambil menyerahkan sekotak kue yang tadi ia beli di toko Langit Senja.
"Oh, iya, Den," jawab Bik Nem. Ia lalu mengantarkan Gian masuk menuju ke kamar Amber.
Gian pun mengetuk pelan pintu kamar Amber. "My Amber …" sapanya.
Amber terkejut karena Gian datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Yang ia tahu, hari ini ada yang harus Gian kerjakan. Tanpa pikir panjang, Amber langsung keluar dan memeluk Gian yang berdiri di luar kamarnya. Cuma Gian yang bisa membuatnya merasa nyaman di saat seperti ini.
"Non Amber pasti sayang banget sama Den Gian," batin Bik Nem yang merasa tersentuh setelah melihat Amber langsung keluar kamar hanya dengan satu sapaan dari mulut Gian saja. Ia lalu bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan seperti pesan Tarachandra.
"Hey, look at me," kata Gian sembari mendongakkan kepala Amber dengan lembut. Ia melihat kedua mata gadis itu merah dan sembap. "Temenin aku makan ya? Aku belum makan apa-apa sejak pagi tadi," Gian mengeluarkan taktiknya supaya Amber mau makan. Ia tahu Amber tidak akan tega membiarkannya kelaparan.
Amber hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Ia masih belum mengatakan sepatah katapun.
"Makasih ya, Bik," ucap Gian kepada Bik Nem yang sudah dengan sengaja memasak berbagai menu kesukaan Amber supaya gadis itu mau mengisi perutnya.
"Iya, Den. Udah, silahkan dimakan. Mumpung masih hangat," kata Bik Nem yang lalu meninggalkan ruang makan dengan perasaan tenang.
Dengan telaten Gian mengambilkan nasi dan lauk untuk Amber. "Mau aku suapin?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Amber masih belum mau bicara. Ia hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Gian. Ia pun mulai menyendok makanannya dengan malas.
Seusai makan, Gian bermaksud untuk mengajak Amber pergi keluar. "Kamu mandi dan siap-siap gih, abis itu ikut aku pergi," katanya dengan lembut sambil mengusap kepala Amber.
"Lain kali aja ya, Gian. Aku baru enggak mau pergi ke mana-mana sekarang," jawab Amber tanpa melihat ke arah Gian. Karena peristiwa kemarin, Amber seperti kehilangan semangat untuk melakukan apapun.
"Liat aku," kata Gian yang memegang dagu Amber agar gadis itu mau menoleh ke arahnya. "Kali ini aja, kamu harus nurutin permintaanku. Aku, dan bahkan kamu, pasti bakal nyesel kalau kita enggak pergi sekarang. Kali ini aja, percaya sama aku, okay?"
Amber menatap dalam kedua mata Gian. Ia tahu pandangan Gian sedang bersungguh-sungguh kali ini. Ia pun menghela napas panjang. Ia benar-benar tak ingin pergi ke manapun. Tapi untuk Gian, ia memilih untuk menurut. Dengan langkah malas, ia masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap.
***
Awalnya Amber tidak tahu ke mana Gian akan membawanya. Namun, semakin lama ia semakin bisa membaca ke arah mana mobil itu akan melaju.
"Gian, please. Aku enggak mau ke sana lagi. Enggak sekarang Gian. Aku belum siap kecewa lagi," pinta Amber.
"Inget kataku tadi. Percaya sama aku," kata Gian sambil terus melajukan mobil yang sesaat lagi akan tiba di toko kue Langit Senja.
Setibanya di sana, Gian memarkirkan mobil tersebut di tempat yang sama persis seperti kemarin. Sedangkan Amber terdiam dengan suasana hati yang mulai kesal. Ia merasa Gian terlalu memaksakan kehendaknya.
"Kamu marah?" tanya Gian.
Amber tetap diam. Matanya mulai terasa panas menahan tangis. Berada di tempat itu membuat rasa kecewa yang sedang ia coba untuk padamkan kembali menyeruak.
Perlahan Gian melepaskan sabuk pengaman Amber lalu mencium pipi kekasihnya itu. Hal itu membuat Amber semakin merasa kesal dan mendorong Gian untuk menjauh.
Bukannya marah, Gian malah tersenyum melihat tingkah laku Amber. Ia kembali mendekat ke wajah Amber hingga membuat gadis itu beringsut. "Apa yang kamu liat kemarin cuma salah paham. Anak kecil itu bukan anak Tante Ayu," bisiknya.
Amber pun tersentak dan berkata, "maksud kamu apa?!"
"Tante Ayu kesulitan nyariin kamu sama Om Tara. Dia menunggu kalian berdua yang menemukan dia. Kue dan nama toko itu adalah tanda yang ia coba kirimkan ke kalian. Sekarang, tandanya udah sampai ke kamu," kata Gian lagi.
Air mata Amber berjatuhan setelah mendengar apa yang Gian katakan. Tanpa pikir panjang, ia bergegas keluar dari mobil, disusul oleh Gian yang memastikan bahwa Amber menyeberang jalan dengan selamat.
Tanpa ragu Amber membuka pintu toko kue itu hingga meninggalkan suara bel yang berdenting cukup keras dan mengagetkan Ayu yang kala itu sedang berbincang dengan seorang wanita yang nampaknya berusia lebih tua darinya. Amber terpaku melihat wajah yang ia kenali. Walau penampilan Ayu sedikit berbeda karena beberapa helai rambutnya memutih termakan pikiran, Amber jelas mengenali wajah wanita yang selama ini selalu ia bawa di dalam doanya.
Ayu tercengang dan sontak berdiri setelah melihat kehadiran Amber dan Gian yang tiba-tiba. Walau Amber sudah tumbuh dewasa, Ayu tahu betul siapa gadis cantik yang berdiri di hadapannya sambil berurai air mata itu.
Melihat Ayu yang terpaku tak bisa bergerak, Amber pun menghampiri dan memeluknya dengan sangat erat. Getaran di tubuh Ayu yang kini terasa lebih kecil darinya itu bisa Amber rasakan dengan jelas. "Bunda jangan pergi lagi. Jangan tinggalin Amber sama Ayah lagi," ucapnya dengan suara yang bergetar. Air matanya membasahi punggung Ayu yang masih didekapnya, seolah ia tak mengijinkan wanita itu untuk pergi barang sejengkal saja.
Tangisan Ayu pecah setelah mendengar apa yang Amber katakan. Ia tak percaya bahwa putrinya sedang memeluknya saat ini. Tangannya kemudian tergerak dengan sendirinya untuk membalas pelukan Amber. "Anak Bunda … anak gadis Bunda."