AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 59 - Rencana Egidia



"Bim! Gian! Ngapain sih lo nyuruh gue buru-buru ke sini. Capek tauk. Gue lari-lari dari depan," Egidia berkata sambil mencoba mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


"Udah nggak papa. Sekalian lo olah raga biar bohay," goda Bimo yang kini mengipasi wajah Egidia dengan kedua tangannya supaya sahabatnya itu merasa segar.


"Loh, Dek, kok lo di sini? Amber mana? Egidia akhirnya menyadari bahwa Charemon ada di sana.


" Amber hari ini nggak berangkat kuliah, Kak. Dia bilang baru nggak enak badan pengen tidur aja di rumah katanya," sahut Charemon.


Gian yang tadinya masih merasa sangat kesal dengan Amber yang sudah mengabaikannya tersentak dan sedikit melunak. Tak bisa dipungkiri, hatinya merasa khawatir mendengar bahwa Amber sedang sakit. Walaupun begitu, ia masih belum mau menunjukkannya di depan teman-temannya. Ya, Egidia dan Bimo memang sudah tahu bahwa kemarin Gian marah pada Amber.


"Sakit apaan dia, Mon?" tanya Bimo.


"Nggak tau, Kak Bim. Dia nggak cerita. Tapi gue pikir dia nggak bener-bener sakit, dia kebanyakan mikir, Kak," Charemon mencoba menjelaskan.


"Hah? Maksud lo gimana, Dek? Gue nggak ngerti," Egidia bertanya.


"Gini deh, Kakak semua dengerin dulu cerita gue ya. Sebenernya Amber nggak ngebolehin gue cerita soal ini ke siapa-siapa, cuma gue nggak bisa ngebiarin temen gue ditindas kaya gitu. Gue nggak tau musti minta bantuan sama siapa lagi kalau bukan sama Kakak bertiga," wajah Charemon nampak begitu memelas saat mengatakan hal ini.


"Maksud lo apa, Mon??" Gian akhirnya ikut bicara.


"Kak Gian mau tau nggak kenapa kemaren tiba-tiba banget Amber cuek abis sama Kak Gian, padahal sebelumnya kalian baik-baik aja kan?" Charemon memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan yang ia lontarkan langsung kepada Gian.


Gian memang merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Amber saat ia bertemu dengannya kemarin karena sebelumnya memang tak ada yang salah. Hanya saja, Gian sungguh-sungguh tak tahu apa penyebabnya.


"Iya, gue nggak ada masalah apa-apa sama Amber tapi udah beberapa hari gue dicuekin, chat nggak dibales, telpon nggak diangkat. Ya gue bingung lah. Orang gue nggak ngelakuin kesalahan apa-apa. Makanya gue akhirnya marah kemaren," Gian menjelaskan sudut pandangnya.


"Amber kayak gitu bukan karena dia emang mau kayak gitu, Kak. Dia terpaksa," ujar Charemon.


"Terpaksa gimana?" Bimo pun menjadi semakin penasaran pada cerita Charemon yang belum juga sampai pada intinya.


"Pas di rumah gue kemaren gue nggak sengaja nemuin recorder yang ternyata selalu Amber bawa-bawa ke mana-mana. Kayaknya setelah berbagai peristiwa yang menimpa dia di kampus ini dia akhirnya memutuskan untuk pake recorder buat cari bukti," Charemon mulai menjelaskan. Ketiga orang itu mendengarkannya dengan seksama.


"Nah, gue kan penasaran tuh, Kak, terus gue nyalain dan gue dengerin rekamannya. Cuma ada satu file aja di sana. Ternyata isinya kaya obrolan Amber sama cewek gitu, Kak. Bagian depan rekamannya agak kepotong, tapi jelas banget, intinya cewek itu ngancem kalau Amber tetep deket-deket sama Kak Gian dia nggak bakal segan-segan untuk macem-macem sama orang-orang di sekitar Amber," lanjut Charemon.


"Apa?!" Egidia cukup terkejut mendengar cerita Charemon barusan.


"Jangan-jangan orang yang sama yang udah nyiram Amber di toilet waktu itu," lanjut Egidia.


Sementara Gian, masih terdiam dan menunggu Charemon melanjutkan ceritanya. Emosinya mulai naik perlahan-lahan ke ujung kepalanya saat mengetahui bahwa Amber lagi-lagi menjadi target akibat kedekatannya dengan dirinya.


"Itu yang Amber belum tau dan masih coba mencari tau, Kak. Makanya dia pengen banget dapet bukti lebih. Tapi nggak tau gimana caranya," ujar Charemon.


"Sebenernya ada kejadian, Kak," dengan pelan Charemon berkata.


"Kejadian apaan, Dek?" tanya Egidia.


"Usaha kue kering Mama gue baru aja kena tipu, Kak. Ada orang pesen banyak banget lewat telpon. Pas dianter ternyata alamatnya palsu, rumahnya kosong nggak berpenghuni. Mana orangnya juga belom bayar sama sekali karna berbagai alasan. Mama syok sampe pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Amber yang udah bantuin gue ngatasin semuanya, Kak. Bantu pas Mama di rumah sakit sampe bantu susah-susah capek-capek jualin semua kue supaya Mama nggak rugi, Kak," Charemon berkaca-kaca, mengingat jasa sahabatnya.


"Setelah itu ternyata dia merasa bersalah banget sama gue dan Mama, Kak. Dia mikir kalau ini pasti ada hubungannya sama ancaman yang dia terima itu," cerita Charemon berhenti sejenak. Ia seolah sedang merangkai apa yang ada di pikirannya supaya bisa keluar dalam bentuk kata yang tepat.


"Gue rasa Amber juga ketakutan, Kak. Takut kalau orang-orang di sekitarnya bakal kena imbasnya lagi, termasuk Kak Gian. Dia merasa bersalah banget sampe-sampe dia malah nggak mikirin kalau sebenernya bisa aja dia juga kena imbasnya, bisa aja dia berada dalam bahaya karena hal ini, Kak. Kita harus bantu Amber, Kak," mata Charemon semakin berkaca-kaca. Air di matanya bisa jatuh kapan saja.


Mendengar semua yang sudah diungkapkan oleh Charemon, Gian tak bisa lagi menahan emosinya. Tangan kanannya mengerat kencang dan memukul sebuah pohon besar yang ada di dekat mereka hingga tercipta beberapa luka kecil berdarah pada bagian ujung genggamannya. Hal itu sontak membuat semua yang ada di sana merasa terkejut.


"Gian!" bentak Egidia.


"Gue tau banget lo pasti marah. Tapi saat ini yang terpenting kita mikir gimana caranya biar kita bisa bantu Amber lepas dari lingkaran kesialan ini," lanjutnya.


Gian memang selalu seperti itu setiap kali orang yang disayanginya mengalami hal buruk. Dalam hal ini, sudah jelas bahwa yang ia sayangi adalah Amber, seorang gadis yang sudah berhasil mencuri hati dan perhatiannya.


"Amber ada cerita nggak, cewek yang ngancem dia itu kaya gimana?" Bimo kembali fokus untuk menggali informasi dari hal-hal yang mungkin Charemon ketahui.


"Yang pasti Amber nggak kenal sama cewek itu, Kak. Dia nggak pernah notice cewek itu ada di sekitaran kelas-kelas Seni Murni. Mungkin bukan anak Seni Murni, Kak. Amber nggak bisa ngejar atau nuduh gimana-gimana termasuk soal peristiwa di toilet itu karena memang nggak ada bukti apa-apa. Soal kemungkinan kalau cewek itu juga yang udah nipu Mama juga Amber nggak bisa ngapa-ngapain, Kak. Makanya dia bingung banget, sampe-sampe kemaren dia bengong pas nyetir, hampir nabrak orang yang mau nyebrang, Kak," kata Charemon.


"Sebenernya waktu itu nggak cuma ada satu cewek kata Amber, Kak. Ada dua lagi. Nah, cewek yang ngomong sama Amber ini rambutnya pendek ada highlightnya, dia nggak lebih tinggi dari Amber." Charemon mencoba mengingat lagi apa yang disampaikan Amber padanya kemarin.


"Duh! Di Fakultas Seni juga banyak banget yang rambutnya model begitu," Bimo menjadi semakin bingung.


"Mending gini aja," Egidia sepertinya mendapatkan ide tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan setelah ia sejenak terdiam dan berpikir.


"Sekarang kan posisinya yang tau soal ini cuma Amber sama Momon aja, kan? Gue, Bimo, ama Gian baiknya tetep pura-pura nggak tau aja supaya semua terlihat seperti biasanya. Besok pas Amber udah masuk kuliah lo coba deketin Amber lagi, Gian. Terserah lo gimana caranya. Tujuannya biar si pelaku kepancing. Soalnya gue yakin dia cuma bakal bergerak kalau Amber deket sama lo,"


"Terus?" tanya Gian.


"Tugas gue, Bimo, sama Momon ya buat ngawasin, mbuntutin Amber ke mana-mana kalau-kalau tiba-tiba dia kena labrak lagi,"


"Ah … begitu pelakunya keluar, kita bisa pergokin, dengan gitu kita bisa dapet bukti yang bener-bener kuat!" sahut Charemon yang akhirnya paham akan rencana Egidia.


"Yes, tepat sekali," pungkas Egidia.